NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 27: Surat Cerai di Dalam Laci

Serpihan kertas dokumen perwalian yang dihancurkan Adrian malam itu masih menyisakan keheningan yang membekas di ruang tengah.

Janji satu bulan yang tersisa—atau lebih tepatnya, dua puluh satu hari yang krusial—kini menjadi kompas baru bagi dinamika hubungan mereka.

Tidak ada lagi ancaman hukum medis, tidak ada lagi sangkar emas yang dipaksakan.

Yang tersisa hanyalah pertaruhan ego dan rasa yang murni antara sang profesor biokimia dan wanita yang membawa jiwa baru ke dalam rumah ini.

Rabu pagi datang dengan ketenangan yang lebih jujur.

 Sesuai kesepakatan baru mereka, Adrian melepaskan semua pengawasan ketatnya.

Namun, hal itu justru membuat pria itu bertingkah lebih... memperhatikan.

Di meja makan, saat Gisella sedang menuangkan teh krisan hangat ke cangkir porselennya, Adrian yang sudah rapi dengan kemeja flanel gelap dan kacamata peraknya tiba-tiba mengulurkan tangan.

Dia mengambil alih teko keramik itu dari genggaman Gisella, lalu menuangkan sisa tehnya dengan gerakan yang sangat lembut.

"Kau kurang tidur semalam, Gisella. Denyut nadimu mungkin stabil, tapi lingkaran hitam di bawah matamu menunjukkan penurunan efisiensi istirahat sebesar lima belas persen,"

ucap Adrian, nadanya sedatar biasanya, namun binar matanya memancarkan perhatian yang tak bisa disembunyikan.

Gisella tersenyum tipis, menerima cangkir tehnya.

"Terima kasih, Profesor. Menghadapi ledakan emosimu kemarin memang membutuhkan kalori mental yang cukup besar."

Valerie, yang baru saja duduk di seberang mereka, melirik keduanya bergantian dengan senyum penuh arti yang ditahan.

"Jika kalian terus seperti ini setiap pagi, aku mungkin harus pindah ke asrama universitas lebih cepat agar tidak menjadi polusi visual di ruang makan ini."

"Fokus pada kuliah senimu, Valerie,"

potong Adrian cepat, membetulkan letak kacamatanya demi menutupi rasa canggung yang mendadak muncul, sementara Gisella hanya bisa terkekeh renyah mendengarnya.

Pukul dua siang, kediaman Arthur kembali sunyi.

Adrian sudah berangkat ke laboratorium pusat untuk mengurus pembersihan data sisa kasus Julian, berjanji akan menyelesaikan masalah parasit masa lalu itu melalui jalur hukum yang bersih tanpa melibatkan Gisella lagi.

Gisella berada di kamar nomor dua, kamar otonomnya.

Dia sedang merapikan beberapa pakaian di dalam lemari besar ketika pandangannya tidak sengaja jatuh ke arah meja nakas di samping ranjang tempat tidur king size-nya.

Di sana terdapat sebuah laci kecil yang selama ini jarang dia buka.

Didorong oleh rasa ingin tahu yang mendadak, Gisella melangkah mendekat dan menarik laci tersebut.

 Di dalam laci yang dilapisi kain beludru merah itu, tidak banyak barang yang tersimpan.

 Hanya ada sebuah kotak perhiasan tua, sebotol kecil minyak esensial lavender, dan... selembar amplop putih panjang yang diletakkan di bagian paling dasar.

Gisella menarik amplop tersebut.

Begitu dia membaliknya, matanya menangkap tulisan tangan Gisella yang asli—tulisan yang agak ceroboh dan manja, sangat kontras dengan tulisan tangan geometris milik Adrian.

Di atas amplop itu tertulis satu kalimat pendek: Untuk Adrian, di hari ketiga puluh.

Jantung Gisella mendadak berdegup kencang.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia membuka segel amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas tebal di dalamnya.

Dokumen itu adalah Surat Perjanjian Cerai Mutlak yang asli, yang rupanya telah disiapkan oleh Gisella yang dulu bahkan sebelum insiden benturan kepala di rumah sakit terjadi.

Gisella membaca baris demi baris dokumen tersebut dengan saksama.

Lembaran kertas itu bukan sekadar draf perceraian biasa; itu adalah sebuah dokumen yang sah secara hukum, lengkap dengan tanda tangan Gisella asli di atas meterai resmi kota Aethelgard.

Di bagian bawah, terdapat kolom kosong yang disediakan untuk tanda tangan Adrian.

Namun, yang membuat napas Gisella tercekat bukan hanya keberadaan surat cerai itu, melainkan sebuah surat pribadi yang terselip di balik dokumen hukum tersebut.

Sebuah surat pengakuan dari pemilik tubuh asli.

> Adrian,

> Jika kau membaca surat ini, artinya waktu tiga puluh hari yang kuminta di rumah sakit telah habis. Aku tahu kau membenciku, dan aku tahu pernikahan enam bulan kita adalah neraka yang dingin bagimu.

> Benturan di kepalaku kemarin tidak membuatku amnesia, Adrian. Itu hanyalah sandiwara terakhirku agar kau bersedia menampungku selama tiga puluh hari lagi di rumah ini, sampai Julian berhasil mengurus paspor dan tiket kapal kita untuk pergi ke benua seberang.

> Aku tahu aku egois. Aku menggunakan risetmu dan uangmu untuk melunasi utang Julian karena aku mencintainya. Surat cerai ini adalah hadiah terakhirku untukmu. Begitu kau menandatanganinya, kau bebas dari wanita pembawa sial ini, dan kau bisa kembali ke laboratoriummu yang tenang.

> — Gisella.

>

Gisella terduduk di tepi ranjang, tangannya lemas memegang lembaran kertas yang seolah mendadak berubah menjadi bongkahan es yang membekukan darahnya.

"Jadi... sandiwara amnesia itu... awalnya adalah rencana Gisella yang asli untuk melarikan diri bersama Julian?"

bisik Gisella pada kesunyian kamarnya.

Fakta baru ini menghantam seluruh kesadarannya dengan telak.

Ketika dia pertama kali terbangun di rumah sakit dan mengklaim dirinya mengalami amnesia parsial, Adrian mengira itu adalah bagian dari taktik manipulasi Gisella yang asli untuk mengulur waktu.

Dan sekarang, setelah Gisella yang baru ini benar-benar jatuh cinta pada Adrian, dia justru menemukan bukti otentik bahwa tubuh yang dia tempati ini telah merencanakan pengkhianatan terbesar terhadap riset dan hati Adrian sejak awal.

Meskipun Julian kini sudah diatasi oleh Adrian, keberadaan surat cerai yang sudah bertanda tangan di dalam laci ini menjadi bom waktu yang siap menghancurkan sisa waktu dua puluh satu hari mereka.

Jika Adrian melihat surat ini, pria itu akan langsung menyimpulkan bahwa semua kebaikan, semua lagu piano, dan semua sup tomat yang dia berikan selama seminggu terakhir ini hanyalah kelanjutan dari sandiwara licik milik Gisella yang asli untuk melarikan diri setelah hari ketiga puluh.

"Aku harus menghancurkan surat ini,"

batin Gisella panik.

Dia bangkit berdiri, bersiap menuju mesin penghancur kertas di ruang kerja atau membakarnya di perapian.

Namun, takdir fiksi tampaknya menolak untuk

bekerja sama.

"Cklek."

Suara pintu kamar nomor dua terbuka tanpa ketukan yang keras. Gisella tersentak hebat dan berbalik.

Adrian berdiri di ambang pintu.

 Pria itu tampak baru saja kembali dari universitas; mantel parit hitamnya masih tersampir di lengan kirinya, dan kacamata peraknya sedikit berembun karena udara dingin di luar.

Wajahnya yang semula tampak santai mendadak berubah menegang ketika dia melihat kepanikan yang teramat sangat di wajah Gisella, serta lembaran kertas putih panjang yang sedang dicoba disembunyikan Gisella di balik punggungnya.

Mata elang Adrian beralih pada laci nakas yang terbuka lebar.

Sebagai seorang ilmuwan yang terlatih membaca detail terkecil, dia langsung menangkap adanya sebuah anomali besar di dalam kamar ini.

"Gisella,"

panggil Adrian, suaranya mendadak turun beberapa oktav, kembali memancarkan aura dingin yang mengintimidasi.

"Apa yang sedang kau pegang di belakang punggungmu?"

"Bukan apa-apa, Adrian. Hanya berkas lama milikku,"

 jawab Gisella cepat, suaranya sedikit bergetar karena kepanikan batin yang masif. Dia melangkah mundur, mencoba mendekati lemari untuk menyelipkan kertas itu.

"Jangan berbohong kepadaku,"

 ucap Adrian tegas. Dia melangkah masuk, menutup pintu kamar di belakangnya dengan rapat, lalu berjalan mendekati Gisella dengan langkah kaki yang ritmis dan mengancam.

"Kita sudah berjanji semalam untuk menjalani sisa waktu kita tanpa ada lagi rahasia atau dokumen terselubung. Serahkan kertas itu kepadaku."

"Adrian, kumohon... jangan lihat ini. Ini bukan apa yang kau pikirkan!"

seru Gisella dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

 Dia tahu, jika kertas ini berpindah tangan, seluruh pondasi kepercayaan yang baru mereka bangun semalam akan runtuh seketika.

Namun, Adrian tidak mendengarkan.

Dengan satu gerakan yang cepat dan dominan, dia menangkap pergelangan tangan Gisella, menahannya dengan lembut namun tak terbantah, lalu mengambil lembaran kertas putih itu dari jemari Gisella yang mendadak lemas.

Adrian melangkah mundur, membuka lipatan kertas tersebut, dan mulai membaca.

Keheningan yang teramat pekat dan mencekik seketika menyelimuti kamar nomor dua.

Gisella hanya bisa berdiri terpaku, menatap bagaimana rahang tegas Adrian perlahan mengeras, dan bagaimana sepasang mata di balik lensa kacamata perak itu perlahan-lahan kehilangan seluruh kehangatan cair yang terpancar semalam.

Es kutub yang sempat menguap kini mendadak membeku kembali dengan ketebalan yang jauh lebih mengerikan.

Adrian membaca bagian surat pribadi dari Gisella asli, lalu matanya tertuju pada tanda tangan resmi di atas meterai pada Surat Perjanjian Cerai Mutlak tersebut.

Pria itu menurunkan tangannya, memegang kertas itu dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga kertas tebal itu berkerut kasar.

Dia mendongak, menatap Gisella dengan pandangan mata yang begitu dingin, begitu hancur, dan sarat akan rasa dikhianati yang teramat dalam.

"Jadi... ini adalah tujuan akhir dari semua perubahan menawanmu seminggu ini, Nyonya Arthur?"

bisik Adrian, suaranya terdengar sangat kering, pecah, dan tanpa emosi.

"Sandiwara amnesia di rumah sakit, sup sehat di dapur pagi hari, keanggunanmu di depan ibuku dan Valerie, dan lagu-lagu piano klasik yang kau mainkan setiap pukul lima sore untuk menenangkan sarafku..."

Adrian tertawa getir, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat menyakitkan.

"Semua itu hanyalah bagian dari skenario tiga puluh hari yang sudah kau susun bersama Julian agar aku lengah sebelum kau melarikan diri?"

"Bukan, Adrian! Itu bukan aku! Surat itu ditulis oleh Gisella yang dulu sebelum aku terbangun di tubuh ini!"

bantah Gisella dengan air mata yang kini mengalir deras membasahi pipinya. Dia maju, mencoba memegang lengan Adrian.

"Kau tahu aku bukan dia! Aku sudah mengatakannya kepadamu semalam!"

Adrian menarik lengannya menjauh, menolak sentuhan Gisella seolah sentuhan itu adalah racun yang paling mematikan bagi logikanya.

"Aku ingin memercayaimu semalam, Gisella. Aku bahkan menghancurkan dokumen perwalianku demi memberikanmu kebebasan yang adil,"

ucap Adrian, suaranya bergetar oleh luka emosional seorang pria yang telah menyerahkan seluruh egonya namun mendapati dirinya kembali dipermainkan.

"Tapi sains mengajariku bahwa data fisik tidak pernah berbohong. Surat cerai bertanda tangan ini ada di dalam lacimu,

disembunyikan dengan rapi. Kau meminta waktu satu bulan yang tersisa... karena kau tahu, persis di hari ketiga puluh, surat ini akan menjadi akhir dari permainanmu."

Adrian melemparkan dokumen surat cerai itu ke atas kasur dengan pandangan meremehkan.

Dia berbalik menuju pintu, memasang kembali topeng kaku sang profesor yang tak tersentuh.

 Sebelum memutar kenop pintu, dia berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Waktu dua puluh satu hari yang tersisa dalam kontrak kita tetap berjalan, Gisella,"

ucap Adrian dingin, suaranya terdengar seperti vonis mutlak dari hakim takdir.

"Tapi mulai detik ini... jangan pernah menyentuh dapurku lagi, jangan pernah menyentuh pianomu pada pukul lima sore, dan jangan pernah bertingkah seolah kau peduli pada rumah ini. Mari kita selesaikan sisa waktu ini sebagai dua orang asing yang sedang menunggu tanggal kedaluwarsa."

"Brak."

Pintu kamar nomor dua tertutup dengan keras, meninggalkan Gisella yang langsung luruh berlutut di atas lantai marmer yang dingin.

Di samping ranjang, surat cerai di dalam laci yang kini tergeletak di atas kasur telah berhasil mengembalikan mereka ke titik nol—sebuah titik di mana detak jantung yang salah arah kini harus menghadapi badai kesalahpahaman terbesar yang siap menghancurkan seluruh sisa takdir mereka di kota Aethelgard.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!