Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.
Matahari mulai menyelinap dari balik perbukitan, memancarkan sinar keemasan yang menghangatkan Desa Sekar. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, menghadirkan kesejukan udara pagi yang menenangkan.
Usai menunaikan shalat Subuh berjamaah, Daniel dan Zeya langsung disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Daniel menyiapkan sarapan sederhana di dapur kecil mereka. Dia memanggang beberapa lembar roti dan membuat susu hangat. Sementara itu, Zeya turun ke bawah rumah untuk mencuci pakaian.
Awalnya, gadis itu sempat sedikit kesulitan, karena selama ini terbiasa menggunakan mesin cuci, tetapi sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah dilakukan. Baginya, semua ini adalah pengalaman baru yang mengajarkannya untuk lebih menghargai hal-hal sederhana dalam kehidupan.
Setelah sarapan selesai disiapkan, Daniel mengambil kanebo lalu mulai mengepel lantai kayu rumah hingga bersih.
"Ze...sudah selesai belum nyucinya?" tanya Daniel dari atas tangga. "Kita sarapan, yuk!"
"Iya, sebentar," sahut Zeya sembari menjemur pakaian terakhir.
Tak lama berselang, Zeya pun selesai dengan pekerjaannya. Ia segera naik ke atas. Keduanya kemudian duduk berhadapan di lantai, menikmati sarapan sederhana yang terasa begitu nikmat karena mereka menyantapnya bersama-sama.
Sesuai rencana yang telah mereka sepakati semalam, hari ini Daniel akan menghadiri seminar mengenai teknik pertanian modern yang dia dapatkan informasinya dari internet.
"Jam berapa nanti seminarnya, Niel?" tanya Zeya di sela-sela mengunyah roti.
"Jam sepuluh," jawab Daniel setelah meneguk susu hangat. "Yakin kamu nggak mau ikut?"
Zeya menggeleng pelan. "Kayaknya nggak usah, deh. Aku kan, punya misi sendiri hari ini. Nanti aku mau ke rumah Bu Kades, menyampaikan gagasanku. Semoga beliau menyambutnya dengan baik."
"Aamiin."
"Kamu juga doakan aku, ya. Semoga aku bisa memahami semua materi yang disampaikan, supaya nanti ilmunya bisa langsung aku terapkan di lahan Pak Hadi." ucap Daniel, lalu menyeruput susu dalam gelas di tangannya.
"Kalau soal itu sih, kamu nggak perlu khawatir. Aku akan selalu mendoakanmu," jawab Zeya mantap. "Kalau nanti ada materi yang masih kurang paham, kita bisa pelajari lagi sama-sama."
Daniel tersenyum hangat. "Makasih ya, Ze. Kamu selalu membuatku bersemangat."
Zeya membalas senyum suaminya. Namun, beberapa saat kemudian, ia seperti baru teringat sesuatu. "Oh ya, nanti kamu berangkat minta diantar sama siapa?"
"Aku pinjam motor Pak RT. Tadi pagi aku sudah kirim pesan ke beliau. Katanya nanti aku tinggal ambil saja motornya sebelum berangkat," jawab Daniel, sembari melanjutkan sarapannya.
"Syukurlah." Zeya mengembuskan napas lega. "Semoga seminarnya lancar, ya."
"Aamiin. Kamu juga semoga lancar menyampaikan idemu ke Bu Kades."
Selesai sarapan, Zeya membereskan piring bekas sarapan mereka. Sementara Daniel segera berganti pakaian bersiap untuk berangkat ke tempat seminar diselenggarakan.
"Aku berangkat, ya," pamit Daniel sambil mengulurkan tangannya.
Zeya menyambutnya lalu mencium punggung tangan besar itu dengan takzim.
"Hati-hati di jalan ya, Niel," pesan gadis itu tulus.
Daniel mengangguk lalu mencium kening istrinya sebelum turun, kemudian membawa langkahnya meninggalkan rumah panggung.
Zeya menatap kepergian suaminya sambil tersenyum dan melambaikan tangan sampai bayangannya tak lagi nampak. Kemudian ia segera masuk ke dalam rumah serta menguncinya.
Gadis itu mengambil ponsel di atas meja. Ia mencari kontak ibu mertuanya lalu melakukan panggilan.
Terdengar nada sambung beberapa kali, hingga akhirnya suara lembut Mami Mia terdengar dari seberang.
"Halo? Assalamualaikum, Sayang," sapa Mami Mia hangat.
"Waalaikumsalam, Mi," jawab Zeya sopan, tetapi agak sedikit gugup. "Mami sedang sibuk nggak? Maaf, Ze menelpon sepagi ini."
"Nggak sama sekali, Ze. Mami justru sangat senang mendengar suaramu. Apa kabar kamu sama Kakak di sana? Sehat semua, kan?" tanya Mami Mia penuh perhatian.
"Alhamdulillah, kami sehat-sehat saja, Mi," jelas Zeya singkat. "Sebenarnya Ze ingin minta tolong sesuatu sama Mami."
"Cerita saja, Sayang," ujar sang ibu mertua dengan senang hati. "Apa yang bisa mami bantu?"
Zeya pun mulai menceritakan gagasannya tentang pembentukan bank sampah, serta rencana mengajarkan para ibu desa mengolah sampah plastik menjadi kerajinan yang bernilai jual. Ia juga menyampaikan keraguannya karena hanya mengandalkan tutorial online dirasa belum cukup efektif tanpa bimbingan langsung.
Mendengar penjelasan itu, Mami Mia terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar penuh antusiasme.
"Wah, ide yang sangat bagus dan mulia sekali, Ze! Kamu benar-benar hebat," puji Mami Mia tulus.
"Soal instruktur kamu tenang saja. Kebetulan Yayasan Sosial mami memang sering bekerja sama dengan pengrajin yang ahli di bidang daur ulang. Nanti mami akan hubungi mereka, minta tolong untuk datang ke sana memberikan pelatihan. Insya Allah nggak akan sulit."
Wajah Zeya seketika berbinar cerah, beban di dadanya perlahan luruh. "Benarkah...? Terima kasih banyak, Mi! Ze nggak tahu harus ngomong apa lagi," ucapnya penuh rasa syukur.
"Nggak perlu berterima kasih, Nak. Justru mami bangga sama kamu mau berbuat baik dan membawa manfaat bagi orang lain. Nanti mami kabari lagi ya, kapan waktunya," janji Mami Mia lembut.
Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali dan berpamitan, Zeya menutup sambungan telepon. Hatinya kini terasa jauh lebih tenang dan penuh semangat. Dengan keyakinan yang mantap, ia merapikan penampilannya, bersiap pergi menuju kediaman Bu Kades untuk menyampaikan rencana indah tersebut.
...
Setelah selesai menelpon ibu mertuanya, Zeya segera berangkat ke rumah Bu Kades dengan berjalan kaki. Kondisi pagi menjelang siang itu sangat sepi, membuatnya tak berjumpa dengan seorang pun di jalan. Sehingga dalam beberapa menit, ia pun sampai di rumah Bu Kades.
"Assalamualaikum, Bu," sapanya saat melihat wanita yang ingin ditemuinya ada di teras.
"Eh, Zeya. Ayo, sini masuk," sambutnya ramah.
"Ada apa nih, Zeya datang kemari?" tanya Bu Kades setelah Zeya duduk bersamanya.
"Begini, Bu..." Zeya mulai memaparkan gagasannya tentang pembentukan bank sampah di Desa Sekar. Dengan penuh semangat, ia menjelaskan konsep program yang telah dipersiapkannya, mulai dari tahap pelaksanaan hingga manfaat jangka panjang yang bisa dirasakan seluruh warga desa.
"Bu Kades menyimak penjelasan Zeya dengan saksama. Matanya perlahan membelalak. Tak disangka gadis muda itu memiliki gagasan yang begitu inspiratif. Wajahnya seketika berseri-seri."
"Wah... luar biasa sekali pemikiranmu, Zeya!" seru Bu Kades dengan penuh kekaguman. "Ini ide yang sangat mulia, cerdas, dan bermanfaat sekali untuk desa ini!"
Zeya tersenyum malu-malu. "Ze hanya ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat, Bu. Dan mengenai instrukturnya pun nanti sudah ada yang bersedia datang membantu. Tinggal dikoordinasikan kapan waktu yang tepat."
"Yang paling penting, kita harus memberi pemahaman dulu kepada warga agar terbiasa memilah sampah dari rumah. Sampah yang masih memiliki nilai jual nantinya bisa mereka setor ke bank sampah. Setelah ditimbang dan dicatat, hasilnya akan menjadi tabungan atau langsung dibeli sesuai kesepakatan. Sementara sampah plastik tertentu bisa kita olah menjadi berbagai kerajinan yang bernilai jual."
Mendengar penjelasan itu, senyum Bu Kades semakin mengembang. Ia menggenggam tangan Zeya dengan hangat.
"Kalau begitu, Ibu mendukung sepenuhnya! Semua sarana dan tempat akan Ibu siapkan. Nanti Ibu juga akan mengumpulkan ibu-ibu desa agar hadir mengikuti penyuluhan dan pelatihan ini."
Bu Kades tampak semakin bersemangat. "Selama ini sampah plastik memang menjadi masalah yang tak kunjung selesai di desa kita. Kalau bisa diolah menjadi barang bernilai jual, tentu ibu-ibu akan sangat senang. Desa menjadi lebih bersih, ekonomi warga pun ikut terbantu. Kamu benar-benar membawa angin segar untuk desa ini, Zeya."
Zeya pun tersenyum lega, mendapat sambutan hangat itu. "Terima kasih banyak atas dukungan Bu Kades."
...
Sementara itu, Daniel telah tiba di lokasi seminar tepat waktu. Sepanjang acara berlangsung, pemuda itu menyimak dengan perhatian penuh, mencatat setiap poin penting tentang teknik penanaman, pengelolaan air, hingga cara mencegah serangan hama secara alami. Materi yang disampaikan sangat mudah dia pahami, membuat semangatnya semakin berkobar.
Tak terasa waktu berlalu, seminar pun usai menjelang sore. Daniel bergegas menuju tempat motor milik Pak RT terparkir. Dia berniat segera pulang agar tidak membuat Zeya cemas.
Namun, saat melewati jalan sepi tepat di mana dia pernah hampir dibegal beberapa waktu lalu, tiba-tiba ada tiga orang pemuda bertubuh kekar berdiri tegak di tengah jalan, seolah sengaja menghadangnya. Dia pun terpaksa mengerem mendadak hingga motor itu berhenti dan nyaris terbalik. Daniel menurunkan kakinya ke jalan, menatap mereka dengan kewaspadaan tinggi.
"Kalian siapa? Kenapa menghalangi jalan?" tanyanya sambil menyipitkan mata.