NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Langit sore menggantung kelabu ketika Gita melangkah masuk ke kafe kecil di sudut kota. Tempat itu sengaja ia pilih karena tenang, tidak ramai, dan cukup jauh dari sorotan siapa pun. Di sudut ruangan, seorang wanita paruh baya duduk tegak dengan aura yang tak pernah berubah rapi, tegas, dan penuh kendali.

“Mama,” sapa Gita pelan.

Amara menoleh, menurunkan kacamata hitamnya sedikit.

“Duduk.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada senyum. Hanya jarak yang sejak lama terpelihara.

Gita duduk berhadapan. Ia sudah tahu, pertemuan ini bukan untuk basa-basi.

“Kamu kelihatan kurus,” kata Amara akhirnya.

Gita tersenyum tipis. “Lagi banyak pekerjaan.”

“Jangan bohong,” potong Amara.  “Mama mengenal wajah anak Mama sendiri.”

Hening sesaat.

Pelayan datang, mencatat pesanan, lalu pergi. Amara mencondongkan tubuh ke arah Gita.

“Mama ke rumahmu beberapa hari lalu,” katanya.

Gita menegang. “Ke rumah aku?”

“Kemana aja kamu gak ada dirumah. Kelayapan terus. Mama hanya bertemu pembantu barumu,” lanjut Amara tanpa berputar-putar. “Gadis itu berbahaya.”

Alis Gita berkerut. “Berbahaya bagaimana, Ma?”

“Tatapan matanya,” jawab Amara cepat. “Cara bicaranya. Sikapnya. Dia bukan gadis polos yang datang hanya untuk bekerja.”

Gita menyandarkan punggung ke kursi. “Mama terlalu curiga.”

“Tidak,” bantah Amara.

“Mama sudah hidup cukup lama untuk tahu perempuan mana yang hanya lewat dan mana yang datang dengan rencana.”

“Dan Mama juga terlalu suudzon,” balas Gita tenang.

“Mama tidak tinggal di rumah itu bersamaku. Bagaimana mama bisa berfikir begitu.”

Amara menatap tajam. “Gadis itu mengincar Haikal. Suami kamu.”

Gita tertawa kecil, getir. “Mama terlalu khawatir soal Mas Haikal.”

“Gita,” suara Amara mengeras, “Mama tidak akan diam kalau ada perempuan lain di rumah tanggamu.”

Gita menghela napas panjang. “Mama datang untuk memperingatkanku. Tapi Mama tidak tahu apa-apa tentang pernikahanku.”

Amara terdiam. “Apa maksudmu?”

Gita menunduk. Jarinya saling mengait, menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan.

“Mama bilang Laura bisa menghancurkan rumah tanggaku,” ucap Gita pelan. “Padahal rumah tangga itu sudah lama rapuh.”

Amara mengerutkan kening. “Jelaskan.”

“Empat tahun, Ma,” kata Gita. “Empat tahun menikah… dan Mas Haikal tidak pernah menyentuhku.”

Wajah Amara berubah seketika. “Tidak pernah…?”

“Tidak,” jawab Gita tegas.

“Bukan sekali. Bukan dua kali. Tidak pernah.”

Kata-kata itu menghantam keras.

“Gita…” suara Amara melemah.

“Aku menunggu,” lanjut Gita. “Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku pikir mungkin aku kurang menarik, kurang sabar, kurang ini dan itu.”

Amara menelan ludah.

“Setiap malam aku tidur di samping suamiku,” kata Gita lirih, “tapi rasanya seperti tidur di samping orang asing.”

“Kenapa kamu tidak bilang ke Mama?” tanya Amara, nyaris berbisik.

“Karena aku malu,” jawab Gita jujur. “Aku tidak ingin Mama melihat Mas Haikal sebagai pria gagal. Dan aku tidak ingin Mama melihatku sebagai perempuan yang tidak diinginkan.”

Amara memejamkan mata. Saat membukanya, matanya basah.

“Dokter?” tanyanya.

Gita mengangguk. “Sudah. Berkali-kali.”

“Dan hasilnya?”

“Tidak ada perubahan,” jawab Gita. “Kesimpulannya jelas.”

Amara menggenggam tangan putrinya. “Ya Tuhan… pantas saja kamu tidak hamil.”

“Bukan karena aku tidak bisa,” kata Gita pelan. “Tapi karena aku tidak pernah diberi kesempatan.”

Sunyi menelan mereka.

“Jadi…” Amara menarik napas berat. “Kamu tahu Mama menyelidikimu?”

Gita mengangguk. “Aku tahu.”

“Dan kamu tetap melakukannya,” suara Amara bergetar.

“Aku tidak bangga,” kata Gita. “Tapi aku juga tidak ingin mati pelan-pelan.”

“Kenapa kamu tidak pergi?” tanya Amara.

“Karena aku menjaga karir ku. Dan dia memberikan aku harta berlimpah,” jawab Gita tanpa ragu. “Dan karena aku masih berharap dia akan normal.”

Amara menggeleng pelan. “Anakku…”

“Aku tidak mencari kesenangan ma,” lanjut Gita tegas. “Aku hanya ingin merasa menjadi perempuan seutuhnya.”

Kalimat itu membuat Amara terdiam lama.

Akhirnya Amara berkata, “Laura tetap berbahaya.”

Gita menatap ibunya. “Berbahaya bagi siapa, Ma?”

“Bagi kamu,” jawab Amara.

“Mama tidak akan diam. Mama punya rencana.”

“Apa?” tanya Gita.

“Mama akan mencarikan perempuan yang sudah matang,” kata Amara tegas. “Sebagai pembantu tambahan. Dia akan mengawasi Laura, supaya Haikal tidak jatuh ke pelukannya.”

Gita menggeleng. “Tidak perlu.”

“Perlu,” bantah Amara keras.

“Mama tidak mau Haikal tersesat.”

“Mama masih tidak mengerti,” kata Gita lembut tapi tegas. “Haikal bukan pria normal seperti yang Mama pikirkan.”

Amara membeku.

“Kalau Laura bisa membuat Haikal merasa hidup,” lanjut Gita, “Mama seharusnya bertanya siapa yang sebenarnya sedang diselamatkan?”

Amara duduk kembali, lemas. “Mama hanya ingin melindungimu.”

“Dulu aku ingin dilindungi,” jawab Gita pelan. “Sekarang aku menikmati hidup.”

Amara hanya bisa diam sembari menatap Gita.

Hujan turun di luar jendela.

Dan jauh dari kafe itu, tanpa mereka sadari, benang-benang permainan telah terikat dengan Laura berdiri tenang di pusatnya.

****

Pagi itu rumah terasa berbeda.

Bukan karena suara, bukan pula karena perubahan tata letak melainkan karena niat yang dibawa oleh salah satu penghuninya.

Laura sedang menata meja makan ketika mobil hitam berhenti di halaman. Ia tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang datang. Pola kedatangannya terlalu rapi. Terlalu terencana.

"Ibu mertua pak Haikal lagi," batinnya singkat.

Atau lebih tepatnya, pengawas.

Laura tersenyum kecil bukan senyum ramah, melainkan senyum seseorang yang sudah membaca bab berikutnya sebelum halaman dibuka.

Pintu diketuk. Satu kali. Tegas.

Laura membuka pintu.

“Selamat pagi, Bu Amara,” sapanya sopan. “Silakan masuk.”

Amara menatapnya lama, seolah mencari retakan di wajah Laura. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan.

“Kamu sendirian?” tanya Amara.

“Pak Haikal sudah berangkat ke kantor,” jawab Laura ringan. “Nyonya juga sudah pergi.”

Amara melangkah masuk. “Kamu selalu menjawab dengan rapi.”

“Itu bagian dari pekerjaan saya, Bu,” balas Laura, menutup pintu.

Amara duduk di ruang tamu, kali ini tidak langsung memerintah. Ia mengamati. Gerakan Laura saat berjalan. Cara ia menuang air. Cara ia menempatkan cangkir tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

“Kamu tidak terlihat gugup,” kata Amara tiba-tiba.

Laura tersenyum. “Kenapa saya harus gugup?”

“Kebanyakan orang gugup saat Aku datang, termasuk Asih yang dulu bertugas membersihkan rumah ini setiap pagi.” jawab Amara dingin.

Laura menatapnya lurus. “Mungkin karena mereka merasa punya sesuatu untuk disembunyikan.”

Amara menyipitkan mata.

“Kamu berani,” katanya.

“Tidak,” balas Laura halus.

“Saya hanya tidak terbiasa berpura-pura.”

Hening.

Amara menyandarkan punggung. “Aku ingin mengenalmu lebih jauh.”

“Tentu,” jawab Laura. “Selama tidak melewati batas pekerjaan.”

“Batas itu fleksibel,” kata Amara. “Tergantung niat.”

Laura mengangguk kecil. “Niat memang penting.”

Ujian Pertama, Tekanan.

Amara meletakkan tasnya di meja. “Aku berencana menambah satu pembantu di rumah ini.”

Laura tidak terkejut. Bahkan tidak mengangkat alis.

“Oh ya?” katanya ringan. “Rumah ini memang cukup besar.”

“Perempuan itu sudah matang,” lanjut Amara “Berpengalaman. Saya percaya ia akan membantu menjaga keseimbangan rumah ini.”

Laura tersenyum. “Keseimbangan seperti apa, Bu?”

Amara menatapnya tajam. “Keseimbangan yang tidak terganggu oleh kehadiran orang-orang yang… terlalu ambisius.”

Laura mengangguk pelan, seolah memahami. “Ambisi sering disalahpahami, Bu. Kadang itu hanya bentuk bertahan hidup.”

“Dan kadang itu bentuk ancaman,” potong Amara.

Laura menyesap air minumnya. Tenang.

“Ancaman hanya terasa bagi mereka yang takut kehilangan.”

Kalimat itu jatuh tepat sasaran.

Amara tersenyum tipis.

“Kamu pintar bermain kata.”

“Saya hanya menjawab dengan jujur,” balas Laura.

“Jujur tentang apa?” tanya Amara.

“Bahwa Mama tidak datang ke sini untuk urusan rumah tangga,” jawab Laura. “Ibu datang untuk menguji saya.”

Sunyi.

Amara tidak menyangkal. “Dan menurutmu?”

“Saya rasa Ibu sudah membawa kesimpulan,” kata Laura. “Ibu hanya ingin memastikan apakah kesimpulan itu benar.”

Amara berdiri perlahan. “Saya tidak suka perempuan yang terlalu percaya diri.”

Laura ikut berdiri. “Dan saya tidak suka perempuan yang menganggap semua orang di bawahnya.”

Tatapan mereka bertaut. Tegang. Tidak ada senyum.

Ujian Kedua adalah Mengungkit Asal-Usul Laura.

“Kamu dari desa,” kata Amara tiba-tiba. “Bukan?”

“Iya,” jawab Laura mantap.

“Orang tuamu petani.”

“Betul.”

“Pendidikanmu biasa.”

“Cukup,” jawab Laura singkat.

“Lalu kenapa caramu berbicara tidak seperti orang desa?” tanya Amara tajam.

Laura tidak tersinggung. Ia justru tersenyum kecil.

“Karena desa mengajarkan saya mengamati, Bu,” katanya. “Dan kota mengajarkan saya untuk menghakimi.”

Amara tertawa pendek. “Kamu berani sekali.”

“Karena Ibu tidak datang sebagai atasan,” balas Laura.

“Saya datang sebagai ibu yang takut.”

Kalimat itu membuat Amara terdiam.

“Takut kehilangan apa?” tanya Laura lembut namun menusuk.

“Putri Ibu… atau kendali ibu atas hidupnya?”

Amara menarik napas panjang. “Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga kami.”

“Saya tidak perlu tahu segalanya,” jawab Laura. “Saya hanya perlu tahu peran saya.”

“Dan peranmu apa?” tanya Amara.

Laura menatap lurus. “Menjaga rumah ini berjalan apa adanya.”

“Dengan cara membuat tuan rumah bergantung padamu?” tuduh Amara.

Laura tidak menyangkal. Ia hanya berkata, “Ketergantungan emosional tidak bisa dipaksakan, Bu. Itu tumbuh karena kebutuhan yang tidak terpenuhi.”

Amara mengepalkan tangan.

Ujian Ketiga adalah Ancaman Halus.

“Dengar baik-baik,” kata Amara dingin. “Saya bisa membuatmu pergi kapan saja.”

Laura mengangguk. “Saya tahu.”

“Dan saya bisa memastikan kamu tidak bekerja di rumah mana pun yang setara setelah ini.”

“Saya juga tahu,” jawab Laura tenang.

“Lalu kenapa kamu tetap di sini?” tanya Amara.

Laura tersenyum, senyum yang kali ini tidak sepenuhnya sopan.

“Karena Ibu belum melakukannya,” katanya.

“Dan karena Ibu tahu… saya belum melakukan kesalahan.”

Amara terdiam.

“Dan satu hal lagi,” lanjut Laura. “Kalau Ibu memecat saya sekarang, Ibu harus menjelaskan alasannya pada Pak Haikal.”

Amara menatapnya tajam. “Kamu mengancam saya?”

“Tidak,” jawab Laura lembut. “Saya mengingatkan.”

Sunyi kembali menguasai ruangan.

Kesadaran yang Terlambat

Amara akhirnya duduk kembali. Wajahnya tidak lagi setegas tadi. Ada sesuatu yang berubah bukan kelemahan, melainkan kewaspadaan.

“Kamu bukan gadis bodoh,” kata Amara akhirnya.

Laura menunduk sopan.

“Saya tidak pernah bilang saya bodoh, Bu.”

“Dan kamu tahu saya sedang merencanakan sesuatu.”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak Ibu menatap saya pertama kali,” jawab Laura jujur. “Tatapan Ibu bukan tatapan penasaran. Itu tatapan penilaian.”

Amara menghela napas. “Kamu berbahaya.”

Laura mengangkat wajahnya. “Berbahaya hanya bagi mereka yang tidak mau jujur pada masalahnya sendiri.”

“Saya akan tetap mengawasi,” kata Amara.

Laura tersenyum. “Silakan.”

Amara berdiri, mengambil tasnya. “Permainan ini belum selesai.”

Laura membuka pintu. “Saya tidak menganggap ini permainan, Bu.”

“Lalu apa?”

“Ini konsekuensi.”

Amara berhenti sejenak di ambang pintu. Menoleh.

“Kamu tahu apa yang kamu hadapi?” tanyanya.

Laura menjawab tanpa ragu, “Seorang ibu yang takut putrinya terluka.”

Amara pergi tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup.

Laura berdiri sendirian di ruang tamu. Ia menghela napas pelan, bukan karena takut, melainkan karena sadar permainan telah naik tingkat.

“Sekarang kita setara,” gumamnya.

Di kejauhan, Haikal sedang menyetir menuju kantor, tanpa tahu bahwa dua perempuan terpenting dalam hidupnya baru saja saling mengukur kekuatan dan tidak satu pun berniat mundur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!