Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18: Rahasia di Balik Darah Adhitama
Episode 18: Rahasia di Balik Darah Adhitama
Suasana di ruang rapat perlahan menjadi tenang setelah Kirana dibawa pergi. Namun, ketenangan itu terasa berat, seolah ada awan gelap baru yang menggantung di atas kepala Arkan. Kata-kata terakhir Kirana—"Rahasia tentang siapa sebenarnya ayahmu..."—berdengung terus-menerus di telinganya, menusuk jauh ke dalam hatinya yang baru saja merasa lega. Semua orang di ruangan itu memandang Arkan dengan tatapan iba, penasaran, namun juga penuh tanda tanya.
Pak Wijaya mendekat, meletakkan tangan di bahu Arkan dengan lembut. "Tuan Muda, jangan dengarkan kata-kata penjahat itu. Dia hanya ingin membalas dendam, ingin membuatmu tersiksa bahkan saat dia sudah kalah. Itu semua hanya akal-akalannya saja."
Arkan mengangguk pelan, tapi hatinya tidak sepenuhnya setuju. Ia menatap Nara, wanita yang selalu ada di sisinya, dan menemukan kekuatan dalam tatapan tenang itu. "Mungkin kau benar, Pak. Tapi aku kenal Kirana. Dia tidak bicara sembarangan. Jika dia mengatakannya, berarti ada sesuatu... sesuatu yang bahkan lebih besar dari pembunuhan orang tuaku."
Nara menggenggam tangan Arkan lebih erat. "Apa pun itu, Arkan, kita akan cari tahu sama-sama. Sekarang, mari kita tinggalkan tempat ini. Banyak hal yang harus diurus, dan ada orang yang mungkin bisa menjelaskan lebih banyak tentang masa lalu yang tersembunyi ini."
Mereka pun meninggalkan gedung Adhitama Group. Di luar, puluhan wartawan sudah menunggu dengan kamera yang berkedip tak henti-henti, berteriak meminta penjelasan, meminta konfirmasi, dan ingin tahu kebenaran lengkap. Arkan berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan suara tegas yang terdengar jelas di tengah hiruk-pikuk.
"Hari ini kebenaran telah terungkap. Kirana Alvian bukanlah pahlawan seperti yang dia gambarkan, melainkan penjahat yang telah menghancurkan hidup keluarga saya demi ambisinya sendiri. Nama baik keluarga Adhitama telah dikembalikan, dan saya berjanji akan mengembalikan kejayaan perusahaan ini di jalan yang benar, jujur, dan adil. Terima kasih atas perhatian kalian, tapi untuk saat ini, saya butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu."
Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, Arkan masuk ke dalam mobil bersama Nara, Pak Wijaya, dan Bu Inah. Mobil melaju meninggalkan keramaian, menuju rumah sederhana tempat mereka berlindung selama ini. Namun, di dalam mobil, keheningan terasa mencekam. Semua orang teringat kata-kata terakhir Kirana.
Bu Inah yang sedari tadi diam, tiba-tiba menghela napas panjang, wajahnya pucat dan penuh kerinduan serta ketakutan. Arkan memperhatikan perubahan sikap wanita tua itu. Ia tahu Bu Inah sudah bekerja untuk keluarganya sejak ibunya masih muda. Ia adalah orang yang paling dekat dengan rahasia-rahasia keluarga.
"Bu Inah..." panggil Arkan pelan. "Ibu tahu sesuatu, bukan? Saat Kirana bicara soal rahasia darah dan siapa ayahku... wajah Ibu berubah. Ibu tahu apa yang dia maksudkan, kan?"
Bu Inah menunduk dalam, air mata mulai menetes di pipi keriputnya. Ia gemetar hebat, seolah sedang berperang melawan rasa takut dan kewajiban untuk berkata jujur.
"Bu, tolong katakan," desak Arkan lembut namun penuh harap. "Setelah semua yang terjadi, setelah semua kejahatan yang terbongkar... tidak ada lagi rahasia yang harus disimpan. Apa pun itu, aku harus tahu. Aku berhak tahu siapa diriku sebenarnya."
Dengan suara parau dan bergetar, Bu Inah mulai bercerita, membuka kotak pandora yang selama puluhan tahun terkunci rapat.
"Semuanya bermula sekitar 30 tahun yang lalu, Tuan Muda... waktu Ibu masih sangat muda dan baru saja mulai bekerja sebagai pembantu di keluarga besar Ibu Anda, Nyonya Marisa. Saat itu, Nyonya Marisa masih sangat muda, cantik, dan penuh semangat. Dia dijodohkan dengan Tuan Besar Adhitama, ayah yang selama ini Anda kenal—Tuan Dimas Adhitama. Pernikahan itu didasari kesepakatan bisnis antar dua keluarga besar, bukan cinta."
Arkan mendengarkan saksama, hatinya berdebar kencang. Nara dan Pak Wijaya pun menyimak dengan saksama.
"Nyonya Marisa sebenarnya sudah mencintai orang lain," lanjut Bu Inah, suaranya makin pelan. "Seorang pemuda sederhana, seorang arsitek berbakat yang sering bekerja sama dengan keluarga. Namanya... Bramantyo. Mereka saling mencintai dengan tulus, tapi perbedaan status sosial dan tekanan keluarga memisahkan mereka. Nyonya Marisa terpaksa menikah dengan Tuan Dimas demi nama baik keluarga dan harta kekayaan."
Bu Inah berhenti sejenak, menyeka air matanya sebelum melanjutkan.
"Namun, meski sudah menikah, rasa cinta itu tidak hilang. Mereka diam-diam masih bertemu. Hingga akhirnya... Nyonya Marisa mengandung Anda, Tuan Arkan. Saat itu, semua orang mengira anak itu adalah milik Tuan Dimas. Tapi... kenyataannya... Bramantyo-lah ayah kandung Anda."
Dunia Arkan terasa berputar. Ia menatap Bu Inah dengan mata terbelalak, tak percaya namun di saat yang sama merasa ada bagian dari dirinya yang akhirnya terjawab.
"Jadi... Tuan Dimas tahu?" tanya Pak Wijaya yang sama terkejutnya.
"Dia tahu... sejak awal," jawab Bu Inah sedih. "Tapi Tuan Dimas mencintai Nyonya Marisa lebih dari apa pun. Dia rela menerima Anda sebagai anak kandungnya sendiri, menganggap Anda pewaris sejati Adhitama Group, dan menyimpan rahasia itu sampai mati. Dia tidak ingin kehilangan istrinya, dan dia tidak ingin nama besar Adhitama tercemar skandal. Dia membesarkan Anda dengan penuh kasih sayang, sama seperti anak kandungnya sendiri. Tidak ada yang tahu... kecuali Nyonya Marisa, Tuan Dimas, saya... dan satu orang lagi."
Bu Inah menelan ludah, menatap Arkan dengan pandangan sedih.
"Kirana... Kirana mengetahuinya. Dia diam-diam mendengar percakapan antara Nyonya Marisa dan Bramantyo bertahun-tahun lalu. Itulah sebabnya dia begitu yakin bisa menguasai segalanya. Dia berpikir... jika dia bisa membuktikan bahwa Anda bukan darah daging Adhitama, maka Anda tidak berhak atas apa pun. Dia berencana menggunakan rahasia ini sebagai senjata terakhir untuk meruntuhkan Anda sepenuhnya, membuat Anda kehilangan segalanya—nama baik, harta, dan tempat di keluarga ini."
Arkan terdiam kaku. Potongan teka-teki terakhir akhirnya menyatu. Rasa sakit, kecewa, bingung, dan rasa kehilangan bercampur aduk di dadanya. Selama ini ia merasa berhutang nyawa pada ayah yang dibunuh Kirana, dan ternyata ayah itu bukan ayah kandungnya. Namun, di saat yang sama, ia menyadari betapa besarnya cinta dan pengorbanan Tuan Dimas Adhitama yang mau menerima dan membesarkannya sebagai pewaris sejati.
"Jadi... semua kebaikan Ayah Dimas... itu tulus?" bisik Arkan, suaranya pecah.
"Sepenuh hati, Tuan Muda," jawab Bu Inah tegas. "Dia bilang, darah itu tidak menentukan siapa Anda. Kasih sayang dan didikanlah yang membuat Anda menjadi Arkan Adhitama yang dia banggakan. Dia tidak pernah menganggap Anda berbeda."
Mata Arkan berkaca-kaca. Beban berat yang bertumpuk di pundaknya selama bertahun-tahun tiba-tiba terasa berubah maknanya. Ia tidak lagi merasa bingung, melainkan merasa bangga. Bangga menjadi anak dari orang tua yang begitu hebat, baik itu Marisa maupun Dimas.
Nara merangkul bahu Arkan, memberikan kekuatan yang tak terukur. "Arkan... kau tetaplah Arkan Adhitama. Nama itu, nilai-nilai itu, kebaikan hatimu... itu semua warisan dari mereka berdua. Kirana salah besar jika dia pikir rahasia ini akan meruntuhkanmu. Justru ini membuktikan betapa berharganya kau bagi mereka, betapa mereka rela berkorban demi memelihara keberadaanmu."
Arkan mengangguk perlahan, menatap ke luar jendela mobil. Langit sudah cerah sepenuhnya, matahari bersinar terang menerangi jalan di depan mereka.
"Kau benar, Nara," kata Arkan tegas, senyum lembut kembali terukir di bibirnya. "Kirana berpikir dia memberiku pukulan terakhir. Tapi dia tidak tahu... dia justru memberiku alasan baru untuk berdiri lebih tegak. Aku adalah Arkan Adhitama, bukan karena darah yang mengalir di tubuhku, tapi karena cinta dan kepercayaan yang diberikan Ayah dan Ibu kepadaku. Dan demi nama mereka, demi kebenaran, aku akan melindungi warisan ini dengan segenap jiwa raga."
Mobil itu melaju terus, membawa mereka kembali ke rumah yang kini terasa lebih hangat dan penuh makna. Perjuangan melawan kejahatan Kirana sudah selesai, namun babak baru kehidupan Arkan baru saja dimulai—sebuah babak yang penuh kebenaran, kebanggaan, dan masa depan yang cerah, bersama orang-orang yang tulus mencintainya.
Di balik jeruji besi penjara, di sisi lain kota, Kirana duduk diam di sudut selnya. Meski kalah, ada kepuasan kecil yang tersisa di hatinya karena telah mengungkapkan rahasia itu. Namun, dia tidak tahu... kebenaran itu tidak menghancurkan Arkan, melainkan membuatnya menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Bersambung...