Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: DUSTA SANG PAHLAWAN
Fajar menyingsing di atas ibu kota, namun bukan kedamaian yang menyambut mereka.
Katedral Terlarang kini menjadi puing-puing berasap. Axel berdiri di tengah reruntuhan itu, dikelilingi oleh Reynarda, Elysia, dan Valeria yang tampak babak belur namun masih berdiri tegak.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari balik reruntuhan. Bukan tepuk tangan pujian, melainkan suara yang dingin dan merendahkan.
"Skenario yang luar biasa," suara itu menggema.
Seorang pria dengan jubah emas yang lebih mewah dari milik Uskup Agung muncul dari bayangan. Dia adalah Grand Inquisitor. Di belakangnya, barisan pasukan ksatria kerajaan—bukan Inquisitor gereja—berbaris rapi dengan senjata terhunus ke arah kelompok Axel.
"Kalian membunuh Uskup Agung, menghancurkan katedral suci, dan melumpuhkan sistem pertahanan kota," ujar Grand Inquisitor dengan wajah tanpa ekspresi. "Kalian benar-benar memenuhi kriteria sebagai teroris paling berbahaya dalam sejarah kekaisaran."
Reynarda melangkah maju, pedangnya sudah bergetar untuk menyerang. "Tutup mulutmu! Uskup Agung itu adalah dalang di balik Parasit Jiwa yang menggerogoti penduduk kota ini!"
"Bukti?" tanya sang Grand Inquisitor dengan nada mengejek. "Yang kulihat hanyalah seorang Ksatria Jatuh, Penyihir Pengkhianat, dan Ratu Kriminal yang membantai pimpinan gereja. Rakyat tidak butuh kebenaran, Reynarda. Mereka butuh kambing hitam untuk rasa takut mereka."
"Host," suara AI menggema dengan nada peringatan maksimal. "Analisis taktis: Ada tiga batalion ksatria kerajaan di sekitar katedral. Jika kita bertempur sekarang, probabilitas bertahan hidup mendekati 0%. Mereka tidak peduli dengan kebenaran, mereka hanya ingin menuntaskan narasi bahwa Andalah penjahatnya."
"Kita harus pergi," bisik Axel kepada yang lain.
"Tidak! Aku akan memenggal kepalanya sekarang!" Reynarda sudah kehilangan kendali.
Axel menarik tangan Reynarda. "Rey, dengarkan aku! Jika kau membunuhnya sekarang, kau membenarkan semua kebohongan mereka. Kita tidak bisa menang melawan opini publik dengan pedang."
Valeria menatap Axel, matanya memicing ke arah pasukan kerajaan yang semakin mendekat. "Dia benar, Rey. Kita harus mundur dan menyusun rencana baru. Kita sudah menang dalam memutus ritual itu, itu kemenangan kita."
Dengan berat hati, Reynarda menarik pedangnya. Elysia menciptakan kabut tebal yang menyelimuti area katedral dalam sekejap.
"Larilah," bisik Elysia. "Tapi ingat, ini belum berakhir."
Mereka menghilang ke dalam labirin lorong kota bawah tanah yang sudah mereka kuasai sebelum pasukan kerajaan sempat melepaskan anak panah pertama.
Satu jam kemudian, di sebuah rumah persembunyian di distrik terluar, Axel memantau siaran berita melalui proyeksi sihir.
Berita pagi itu mengguncang seluruh kerajaan: "Kelompok Teroris 'Pilar Hitam' dipimpin oleh staf akademi Axel telah menyerang katedral dan membunuh Uskup Agung. Rakyat dihimbau untuk tetap waspada."
"Pilar Hitam?" Axel mendengus geli. "Nama yang buruk."
"Mereka menghapus semua jejak keterlibatan gereja dalam ritual itu," kata Elysia dengan nada pahit. "Sekarang, kita bukan hanya buronan, kita adalah musuh negara."
Axel menatap ketiga wanitanya. Mereka tampak lelah, namun ada api yang berbeda di mata mereka. Bukan lagi sekadar rasa cinta obsesif, melainkan tekad untuk membalikkan keadaan.
"Host, ada kabar baik dan buruk," suara AI muncul. "Kabar buruknya, Anda kini diburu oleh seluruh pasukan elit kerajaan. Kabar baiknya, saya baru saja meretas arsip pusat gereja yang sempat terbuka saat ritual dihancurkan. Saya menemukan data tentang 'Proyek Kebangkitan' yang sebenarnya."
Axel terdiam. "Proyek apa itu?"
"Ritual tadi malam hanyalah awal. Mereka sebenarnya ingin memindahkan jiwa entitas kuno ke dalam tubuh kaisar. Jika kaisar menjadi wadah entitas itu, kekaisaran ini akan runtuh sepenuhnya."
Axel menoleh ke arah teman-temannya. "Mereka bukan sekadar ingin berkuasa. Mereka ingin mengganti kaisar dengan monster kuno."
Reynarda, yang tadinya menunduk lesu, langsung menegakkan kepalanya. "Itu artinya, kaisar saat ini mungkin sedang dalam bahaya besar."
"Kita tidak akan melawan kerajaan," Axel menatap mereka dengan tajam. "Kita akan melawan siapa pun yang mencoba mencuri kursi kaisar. Kita akan menjadi bayangan yang melindungi kerajaan dari dalam."
Valeria tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah Axel lihat. "Jadi, kita akan menjadi penyelamat yang tidak diinginkan, ya? Aku suka peran ini."
"Axel," panggil Reynarda, memegang tangan Axel dengan lembut. "Apa pun yang terjadi, kami akan berada di sisimu. Meskipun dunia memanggil kita monster."
Axel menatap tangan mereka yang saling bertautan. Dia sadar, kehidupan staf kebersihan yang tenang hanyalah masa lalu. Sekarang, dia adalah komandan dari tiga "monster" paling setia, dan dia akan memastikan bahwa kebenaran akan terungkap, tidak peduli berapa banyak darah yang harus tumpah.
"Peringatan, Host," AI menutup dengan nada sarkasnya. "Pasukan elit kerajaan baru saja mengepung blok rumah ini. Sepertinya 'penyelamat tidak diinginkan' harus segera pindah rumah lagi."
Axel berdiri, menyiapkan perlengkapannya. "Ayo. Mari tunjukkan pada mereka betapa merepotkannya seorang staf kebersihan."