NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Diusir ke Titik Terendah

Andini berjuang untuk berdiri tegak meski kedua lututnya masih gemetar hebat. Gawai dalam genggamannya terasa sedingin es, persis seperti sorot mata Reno yang berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Tak ada guratan panik di wajah pria itu. Jangankan rasa takut karena tertangkap basah, binar penyesalan pun sama sekali tak tampak. Yang tersisa hanya ketenangan yang beku dan penuh keangkuhan.

"Kenapa, Mas? Kenapa kamu sampai hati melakukan ini padaku?" Suara Andini terdengar serak, seolah tertahan di pangkal tenggorokan. "Tiga tahun, Mas. Tiga tahun aku mengabdi di rumah ini, merelakan karier, menelan semua sindiran Ibumu... hanya untuk berakhir seperti ini?"

Reno mendengus sinis. Ia melangkah maju dan merampas ponsel itu dari tangan Andini dengan kasar. "Jangan berlagak seolah kamu korban paling malang di dunia, Andini. Tiga tahun aku bersabar menghadapi rahimmu yang mandul itu! Kamu tahu betapa malunya aku setiap kali ada pertemuan keluarga besar? Aku hanya bisa bungkam saat ditanya kapan punya anak, karena istriku tidak bisa memberi keturunan!"

"Kita bahkan belum pernah memeriksakan diri ke dokter spesialis bersama-sama, Mas! Kenapa selalu aku yang dipojokkan?" Tangis Andini akhirnya pecah. Benteng pertahanan yang ia bangun susah payah runtuh seketika malam ini.

"Buat apa? Siska sekali coba langsung hamil! Itu bukti kalau aku sehat, Andini! Jadi sudah jelas, kan, siapa yang bermasalah di sini?" Reno menuding wajah Andini dengan angkuh. "Sudahlah, aku tidak mau berdebat. Lagi pula, kamu sudah tahu semuanya. Siska sedang mengandung darah dagingku. Ibu juga sudah merestui kami. Jadi, sebaiknya kamu tahu diri."

Tahu diri. Dua kata itu menghantam ulu hati Andini, lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik mana pun.

Belum sempat ia meresapi rasa sakit itu, gedoran pintu depan yang keras mengejutkan mereka. Reno bergegas membukanya. Begitu daun pintu terbuka, sosok Ratna, ibu mertua Andini, merangsek masuk dengan wajah berapi-api. Di belakangnya, Siska mengekor dengan gaun hamil yang longgar, sengaja memasang raut wajah polos dan ketakutan yang tampak dibuat-buat.

"Ibu... Siska..." Reno terperanjat melihat kedatangan mereka.

"Baguslah kalau perempuan ini sudah tahu, Reno," cetus Ratna tanpa basa-basi. Tatapannya pada Andini penuh dengan kejijikan. "Ibu yang menyuruh Siska ke sini malam ini. Ibu tidak mau cucu Ibu lahir tanpa status yang jelas hanya karena kamu masih mempertahankan wanita mandul ini!"

Andini menatap ibu mertuanya dengan nanar. "Ibu... saya menantu Ibu. Selama ini saya selalu menghormati Ibu..."

"Menantu? Menantu yang tidak bisa memberikan penerus keluarga itu tidak ada gunanya di rumah ini!" potong Ratna dengan kejam. Ia melangkah ke kamar Andini dan Reno, lalu dalam sekejap kembali ke ruang tamu sambil mengempaskan sebuah koper tua milik Andini ke lantai. Koper itu ternganga, membuat pakaian-pakaian di dalamnya berhamburan.

"Ibu, apa-apaan ini?!" jerit Andini sembari berlutut memunguti pakaiannya dengan air mata yang menderu.

"Keluar dari rumah anakku sekarang juga! Besok Reno akan mengurus perceraian kalian. Rumah ini dibeli dengan uang anakku, semua fasilitas di sini miliknya. Kamu datang ke sini hanya modal baju di badan, jadi pergilah dengan cara yang sama. Jangan coba-coba membawa barang berharga milik Reno!" cerocos Ratna tanpa sedikit pun belas kasih.

Andini menoleh pada suaminya, mencari secercah kemanusiaan pada pria yang pernah mengucap janji setia di depan altar. "Mas... ini sudah tengah malam. Di luar hujan deras. Tolong, Mas..."

Reno memalingkan muka, lalu merangkul bahu Siska yang berpura-pura terisak. "Maaf, Ndin. Keputusan Ibu sudah bulat. Kehadiranmu di sini hanya akan membuat Siska stres dan mengganggu kandungan anak laki-lakiku. Pergilah dengan tenang, jangan buat keributan lagi."

Siska melirik Andini dari balik bahu Reno, menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis—sebuah ejekan atas kehancuran Andini.

Andini terdiam. Rasa perih yang menghunjam dadanya perlahan berubah menjadi rasa kebas yang dingin. Ia memandangi pakaiannya yang berserak, lalu menatap tiga orang di hadapannya. Mereka telah bersekongkol menghancurkan hidup dan harga dirinya hingga ke dasar bumi.

Dengan tangan yang gemetar namun perlahan menguat, Andini memasukkan kembali pakaiannya ke dalam koper. Ia tidak lagi mengemis. Ia tidak lagi menangis. Air matanya seolah menguap seiring sirnanya rasa hormat pada pria bernama Reno itu.

Andini berdiri tegak, menarik kopernya yang mulai rusak. Ia menatap Reno tajam, langsung ke matanya.

"Reno, demi Tuhan yang memegang takdirku... malam ini, di titik terendah hidupku, dengan disaksikan ibumu dan wanita ini... aku bersumpah," suara Andini terdengar tenang namun penuh penekanan. "Kalian telah membuangku seperti sampah. Maka suatu hari nanti, aku akan memastikan kamu, ibumu, dan semua kesombonganmu akan merangkak di bawah kakiku untuk memohon ampunan yang tak akan pernah kalian dapatkan."

Reno sempat bergidik ngeri mendengar nada dingin Andini, namun ia segera menepisnya dengan tawa hambar. "Sombong sekali kamu! Kita lihat saja, bagaimana cara janda miskin tanpa pekerjaan sepertimu bisa bertahan hidup setelah keluar dari pintu ini!"

Andini tak membalas. Ia berbalik, membuka pintu rumah, dan melangkah menembus kegelapan malam.

Guntur menggelegar membelah langit. Hujan lebat langsung mengguyur tubuh Andini dalam sekejap, menyamarkan sisa air mata yang kembali jatuh di pipinya. Ia berjalan menyusuri trotoar kompleks yang sepi, menyeret kopernya yang kian berat karena basah kuyup.

Angin malam menusuk hingga ke tulang, namun tak sedingin hatinya yang telah membeku. Andini berhenti di sebuah halte bus yang kosong. Ia terduduk di bangku semen, memeluk lututnya yang kedinginan sambil menatap jalan raya yang remang-remang.

Ia tak punya uang tunai yang cukup. Tabungannya selama ini berada di rekening bersama yang kartunya sudah disita Ratna sebelum ia melangkah keluar. Ia benar-benar berada di titik nadir kehidupannya. Hancur, terbuang, dan tak dianggap.

Andini memejamkan mata, membiarkan badai di luar bersatu dengan kemelut di dadanya. Di dalam hati, ia menanam tekad yang membara: Mulai detik ini, Andini yang lemah lembut telah mati. Aku akan bangkit, dan kupastikan mereka membayar setiap tetes air mata ini dengan kehancuran yang mutlak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!