Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 14 PD, Bandung, dan VC Heboh
*Jam 5:15 pagi. Kost Karawaci.*
Indry sebenarnya udah bangun dari jam 3, seperti biasa, Doa, baca Firman, bangun tanpa alarm.
tapi tidur lagi karna Udah 3 malam ini tidur nggak nyenyak. Bukan karena maag. Tapi karena kepala penuh. harusnya udah di dapur siapin sarapan, tapi beneran Indry lagi mager.
Zaki. Mauba & Dara. Meta yang pindah kost. VC 23 menit 2 hari lalu yang masih kebawa mimpi.
Dia ambil Alkitab kecil dari laci. Rosario nggak dia bawa. Cukup Alkitab. baca lagi,,
Indry duduk di lantai, sandar ke kasur. Nyalain lampu tidur biru. Kost sepi. Nggak ada suara Meta nyanyi dangdut pagi-pagi. Nggak ada suara Ogah ngorok. Cuma suara hujan kecil di luar.
Indry buka Matius 6:34.
_"Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."_
Dia baca 3 kali. Pelan.
Tuhan, aku nggak tau ini jalan atau bukan. Tapi aku nggak mau lari. Aku nggak mau nyakitin Zaki. Aku nggak mau nyakitin adik-adikku. Aku nggak mau nyakitin imanku.
Kalau ini bukan, tolong tutup pelan-pelan. Kalau ini iya, tolong buka tanpa bikin aku kecewa lagi.
Amin.
Indry pejam mata 2 menit. Dada adem.
Dia nggak minta Zaki jadi miliknya. Dia cuma minta kekuatan buat jaga batas.
*semalam. Gereja St. Laurensius Alam Sutera.*
PD remaja-dewasa.
Tema: “Kasih yang Menjaga Batas”.
Romo pas banget ngomong:
“Kasih bukan memaksa. Kasih adalah memilih untuk tetap tinggal, meski ada 100 alasan untuk pergi. Tapi kasih juga berani bilang ‘tidak’, kalau itu akan merusak iman dan diri sendiri.”
Indry duduk di bangku paling belakang. Di sampingnya ada mbak-mbak yang baru putus karena beda iman. Depannya ada mas-mas yang nikah beda agama tapi sekarang rajin ke Misa.
Indry denger semua. Dada sesak. Tapi tenang.
Selesai PD, ada sesi sharing.
Indry nggak angkat tangan. Tapi dia denger. Ada yang bilang: “Aku milih mundur. Sakit, tapi aku masih bisa Misa tiap Minggu.”
Ada yang bilang: “Aku tetap jalan. Kami janji jaga iman masing-masing. Susah, tapi Tuhan kuat.”
Indry pulang bawa 2 kata: “berani” dan “jaga”.
Berani jaga. Jaga berani.
*Jam 1:17 siang. Kost Karawaci.*
HP getar. Video call dari Meta.
Indry geser jawab. Layar nyala.
Meta rambut acak, muka belepotan masker, background kamar kos baru.
“DRY!!! AKU KANGEN!!!” teriak Meta pecah speaker.
Indry ketawa. “MET! PELAN! TELINGA GUE!”
Meta: “KANGEN DRY! KANGEN MASAKAN LU! KANGEN DICUCIIN BAJU! KANGEN GANGGUIN OGAH! KANGEN AROMA RAMBUT LU! KANGEN SUARA NGOROK LU MALAM-MALAM!”
Indry lempar bantal ke kamera. “MET! GUE DENGER YA! GUE NGOROK?!”
Meta: “IYA! KAYA KUCING KENA FLU! TAPI KANGEN!”
Mereka ketawa 2 menit nonstop.
Meta: “DRY… kost baru gue sepi banget. Nggak ada yang rebus air sampai gosong.
Nggak ada yang nyuri kerupuk gue. Nggak ada yang ngomel kalau gue pulang jam 1 malam.”
Indry: “Lo juga Met. Nggak ada yang nyanyi dangdut jam 5 pagi.”
Meta diem 2 detik. “Jujur… gue nangis semalam. Kangen lu.”
Indry diem. Mata basah.
Indry: “Gue juga Met. Tapi lo harus bahagia ya. Kerjaan baru. Gaji naik. Nggak macet 2 jam.”
Meta: “Iya… tapi kangen.”
Obrolan jadi absurd.
Meta: “Dry… kalau gue nikah sama bule, lu jadi bridesmaid ya?”
Indry: “Kalau bule nya mau komuni dulu, gue mau.”
Meta: “KALAU SUAMI GUE NGGA MAU NYUCI PIRING GIMANA DRY?!”
Indry: “GUE DATANG! GUE CACI! SUAMI MALAS ITU DOSA!”
Meta ketawa. “TERUS KALAU SUAMI LU ZAKI GIMANA DRY?!”
Indry diem.
Meta: “WOY! JAWAB! KALAU ZAKI NGGAK MAU NYUCI PIRING?!”
Indry: “GUE SURUH DIA MARUT KELAPA! 20 KILO! Biar kapok!”
Meta ngak. “ROMANTIS BANGET! SUAMI ISTRI ADU MARUT KELAPA!”
Mereka ngomong ngalor-ngidul 40 menit. Soal suami istri, soal mertua, soal anak, soal “kalau gue jadi istri Zaki, gue nggak mau dia kebanyakan bikin martabak, nanti gue gendut”.
Meta heboh. Indry ketawa sampai perut sakit.
Obrolan yang 15 tahun nggak pernah ada: ngobrolin “kalau”.
*Jam 2:30 siang. Selesai VC.*
Indry taruh HP. Dada hangat.
HP getar lagi. Zaki.
Zaki: “Dry, Meta bilang kalian VC lama banget. Ketawa sampai gue denger dari Tegal.”
Indry ketawa kecil. “Meta heboh Zak. Dia kangen aku. Dia kangen dicuciin baju.”
Zaki: “Aku juga kangen denger kamu ketawa gitu.”
Indry diem 3 detik.
Zaki: “Eh maaf… keceplosan.”
Indry: “Nggak apa-apa Zak.Aku juga kangen denger suara mu.”
DUARR lagi.
Zaki: “Weekend ini kamu ada acara?”
Indry: “Nggak ada. Kenapa?”
Zaki: “Aku sama Bu Warti mau ke Bandung. Ada pameran jamu. Kalau kamu nggak sibuk, kita ketemuan di Bandung aja. 2 jam dari Karawaci. 3 jam dari Tegal.”
Indry diem. Jantung aneh.
Zaki: “Nggak maksa Dry. Cuma 2 jam. Ngopi. Ngobrol. Nggak perlu lama. Kalau kamu nggak nyaman, aku ngerti.”
Indry: "aku...aku pikir dulu ya Zak.”
Zaki: “Siap. aku tunggu.”
Indry matiin HP. Tangan gemetar.
Bandung. 2 jam. Ketemu. Ngopi. Ngobrol.
15 tahun nggak pernah.
Ini berani. Tapi juga bahaya.
*Malamnya. Jam 9:47 malam.*
Indry baru pulang kerja. Capek.
HP getar. Meta lagi.
Video call nyala.
Meta: “DRY! LU JAWAB ZAKI BELUM?!”
Indry: “Belum Met. Gue mikir.”
Meta: “MIKIR APA?! ITU ZAKI! YANG 15 TAHUN LU GHOSTING! 2 JAM DOANG DRY! NGOPi! BUKAN NIKAH!”
Indry: “MET! GUE TAKUT!”
Meta: “TAKUT APA DRY?! TAKUT JATUH CINTA LAGI? TAKUT KECEWA LAGI? TAKUT BAHAGIA LAGI?!”
Indry diem. Mata basah.
Meta pelan: “Dry… lo berhak bahagia. Lo berhak dicinta. Lo berhak 2 jam ngopi di Bandung. Lo bukan robot BPJS.”
Indry angguk.
Meta: “Besok gue tambahin Zaki ke VC kita ya. Biar kita bertiga ngobrol. Biar gue jadi jembatan. Biar gue liat muka Zaki kalau ngomong ‘aku kangen’.”
Indry: “MET! GUE BELUM JAWAB ZAKI!”
Meta: “YA UDAH! GUE YANG JAWAB! ‘YA ZAK, KAMI DATANG!’”
Indry lempar bantal. “JANGAN MET!”
Mereka ketawa. Tapi Indry tau. Meta serius.
*Besoknya. Jam 8:12 malam.*
Indry lagi lipat baju. Tiba-tiba VC masuk. Meta + Zaki.
Indry kaget. “MET! APA-APAAN INI!”
Meta nyengir di layar. “SURPRISE! INI JEMBATAN CINTA! NGOBROL BERTIGA!”
Zaki di layar, pakai kaos polos, background dapur dengan deretan kuali kuali besar berisi Minyak kelapa yang hampir jadi.
Zaki: “Dry… maaf ya. Gue nggak maksa. Meta yang maksa.”
Indry: “MET! LU GILA YA!”
Meta: “IYA! GUE GILA KANGEN LIHAT KALIAN NGOBROL LANGSUNG!”
Mereka ngobrol 30 menit.
Zaki cerita soal pameran jamu di Bandung.
Meta heboh: “DRY! KITA BELI SERUM AJA! KITA BELI BUBUK KUNYIT! KITA FOTO-FOTO!”
Indry: “MET! GUE BELUM BILANG YA!”
Meta: “UDAH DRY! GUE YANG PESAN TIKET KRL! GUE YANG BAYAR!”
Indry: “MET!”
Zaki ketawa. “Udah Dry. Anggap aja ini PD lanjutan. Tema: ‘Kasih yang Menjaga Batas’. Ketemuan 2
jam. Ngopi. Pulang.”
Zaki, "aku yang bayar kereta kalian berdua pulang-pergi. "
Meta, "BENERAN, ZAK..ASYIIIKKKK BISA BELI SKINCARE UNTUK META NI,,,ZAK, . UDAH KAYA YA LU.... CALON LAKI IDAMAN KALU LU BANYAK DUIT!! "
Indry malu banget denger Meta keceplosan, "Metaaaa please donkkk filter dikit, malu maluin kamu"
Meta, "Biarin kan aku Doa, ya kan, Zak??? "
Zaki cuma senyum.... senyum tampan bagi Indry.
Indry diem. Lihat Meta yang nyengir. Lihat Zaki yang tenang.
Indry: “Jam berapa Zak?”
Zaki: “Sabtu jam 10 pagi. Stasiun Bandung.”
Indry: “Oke.”
DUARR.
Satu kata. Tapi 15 tahun ditahan.
*Sabtu pagi. Jam 7:30 pagi. Stasiun Karawaci.*
Indry pakai Kaos krem, celana panjang, rambut kepang satu. Bawa tote bag kecil. Isinya Alkitab, ventolin, uang secukupnya.
Tiket udah ditanggung Zaki pergi-pulang. Q
Hujan kecil.
Dia naik KRL. 2 jam ke Bandung.
Di perjalanan dia doa terus. Matius 6:34. “Jangan kuatir akan hari besok.”
Jam 9:50 pagi. Stasiun Bandung.
Indry turun. Lihat Zaki.
Zaki pakai kemeja coklat, celana bahan. Rambut rapi. Di sampingnya Bu Warti pakai kebaya.
Bu Warti langsung peluk Indry. “Indry… akhirnya ketemu. Zaki udah cerita banyak.”
Indry peluk balik. Mata basah. “Bu… sehat?”
Bu Warti: “Sehat Nak. Gula stabil. Karena Zaki nggak boleh telat makan.”
Zaki di belakang cuma senyum. Nggak banyak ngomong.
Mereka jalan ke cafe kecil dekat stasiun. Ngopi. Ngobrol 2 jam.
Nggak ada yang romantis. Cuma tanya kabar. Tanya Bu Warti. Tanya Ogah. Tanya Meta. Tanya martabak.
Tapi Indry nggak bisa lupa cara Zaki lihat dia. Pelan. Hangat. Jaga.
Jam 12:05 siang.
Bu Warti: “Udah Nak. Kami harus balik. Pameran jam 1.”
Indry: “Iya Bu. Hati-hati.”
Bu Warti peluk Indry lagi. “Jaga diri ya Nak. Zaki titip.”
Zaki: “Dry… makasih udah mau datang.”
Indry: “Makasih Zak udah berani ajak.”
Zaki: “Hati-hati pulang ya.”
Indry: “Iya. Kamu juga.”
Meta gak bisa ikut karna ada kerjaan dadakan. Jadilah disini agak sepi tanpa suara teriak Meta.
Selesai. 2 jam. Ngopi. Pulang.
Tapi cukup buat bikin Indry nggak bisa tidur 3 malam.
*Malamnya. Jam 10:17 malam. Kost Karawaci.*
Indry baru pulang. Capek tapi senang.
HP getar. Meta.
VC nyala.
Meta: “GIMANA DRY?! GIMANA?! ZAKI KENAPA?! BU WARTI KENAPA?!”
Indry: “Baik Met. Semua baik.”
Meta: “KALIAN NGOBROL APA 2 JAM?!”
Indry: “Ngobrol biasa Met. Nggak ada yang romantis.”
Meta: “BOHONG! MATA LU BERKACA-KACA!”
Indry: “MET!”
Meta: “UDAH DRY. GUE SENANG LIHAT LU SENYUM GINI. BUKAN SENYUM KERJA. SENYUM BENERAN.”
Mereka ngobrol 20 menit. Soal Bandung. Soal Bu Warti. Soal Zaki yang nggak maksa. Soal Indry yang berani datang.
Meta: “Dry… lo hebat. Lo berani jaga batas. Lo berani jaga hati.”
Indry: “Makasih Met. Lo juga hebat. Lo berani pindah kost. Lo berani bahagia.”
Meta: “IYA! KITA HEBAT! KITA PEREMPUAN KUAT!”
Mereka ketawa.
Indry matiin HP. Pejam mata.
Di luar hujan kecil.
Di hati, ada hangat yang 15 tahun nggak berani disebut nama.
*Epilog. Grup WA “Keluarga AndreBetari” jam 12:30 malam.*
Meta kirim foto Indry, Zaki, Bu Warti di cafe Bandung. Caption: “BREAKING NEWS! KAK INDRY KETEMU ZAKI DI BANDUNG! 2 JAM! NGOPi! PULANG! ROMANTIS DIAM!”
Carel: “KAK! JANGAN BURU-BURU! KAK BERHAK DAPAT YANG LEBIH!”
Paul: “KAK, IMAN KAK JAGA YA! 2 JAM ITU BATAS YANG BAGUS!”
Mauba: “KAK, KAK JUGA HARUS BAHAGIA! DARA JUGA BILANG GITU!”
Ogah: “KAK ZAKI BAWA MARTABAK NGGAK KAK?!”
Indry baca semua. Nggak balas. Dia matiin HP.
Dia pejam mata.
Di Karawaci hujan kecil.
Di Tegal hujan kecil.
Di Bandung hujan kecil.
Tiga orang. Tiga kota.
Satu PD. Satu VC heboh. Satu janji 2 jam.
Satu keberanian yang pelan-pelan tumbuh.
Aku kangen, Zak.
Tapi Tuhan tau.