Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14 pesan singkat di tengah malam
Malam ini sepulang dari acara jamuan makan malam di hotel Aston terlihat Dimas sedang rebahan di atas tempat tidurnya. Matanya menatap pada jam dinding yang tergantung di tembok kamarnya di atas kursi sofa yang terletak di sudut kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul dua tengah malam ini tapi sedari tadi mata Dimas tidak bisa di pejamkan. Pikirannya melayang terus pada Ratih saat di jamuan makan malam tadi.
"Oh ya sayang, kamu makan yang banyak ya biar gak kurus," ucap Regan sambil menuangkan sup daging ke piring Ratih saat mereka menyantap makan malam bersama dengan tamu undangan yang lain.
Terlihat Ratih tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan pada Regan.
Hati Dimas sakit melihat perhatian yang diberikan oleh Regan pada Ratih. Tapi dia harus sadar kalau posisinya saat ini adalah bukan siapa-siapa Ratih.
Dimas Anggara. Hatinya serasa ingin berontak saat melihat Regan merangkul pundak Ratih di hadapannya dan sepertinya Regan sengaja melakukan hal itu di depannya. Lagi-lagi dia harus bisa mengendalikan diri untuk tidak berbuat hal-hal yang membuat Ratih marah padanya.
Sebenernya Dimas tidak tahan melihat kemesraan Regan dan Ratih, jauh di dalam hatinya dia ingin sekali mengambil Ratih dari pelukan Regan saat itu.
Dimas meletakkan sendoknya agak kasar, dia berdiri dari kursinya dan berkata pada tamu yang berada semeja dengan dirinya. " Maaf bapak-bapak sekalian saya pamit pulang dulu ada sesuatu yang sangat mendesak yang harus saya kerjakan."
Kemudian Dimas pun pergi meninggalkan ruangan itu. Ratih menatap kepergian Dimas sampai menghilang di balik pintu . Ratih tahu dan sangat tahu kenapa Dimas pergi meninggalkan jamuan makan malam itu.
...---------------...
Di dalam kamar Dimas.
Dimas bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kursi sofa panjang yang ada di sudut kamar itu. Dia pun duduk di sana sambil mengutak-atik handphonenya, tiba-tiba saja dia melihat beberapa foto Ratih yang masih ada di dalam aplikasi foto di handphone nya itu.
Foto-foto itu sengaja Dimas simpan untuk melepas rindunya pada sosok wanita yang sangat dia cintai itu.
Sebuah foto yang menunjukkan kemesraan antara dirinya dan Ratih waktu itu, di mana saat itu mereka berdua sedang berada di taman menikmati indahnya pemandangan. Ratih menyandarkan kepalanya di pundak Dimas sementara tangan Dimas merangkul tubuh Ratih hingga tubuh mereka tidak berjarak dan suasana malam itu penuh kehangatan. Sehangat cinta mereka.
Dengan gerakan reflek jari Dimas, foto itu sudah terkirim ke nomor ponsel Ratih.
...----------------...
Malam ini di dalam kamar Ratih.
Pencahayaan di dalam kamar tidur Ratih terlihat sudah remang-remang akibat pantulan dari sinar lampu tidur. Tapi di balik selimutnya sepetinya Ratih juga tidak bisa memejamkan matanya malam ini sama seperti yang Dimas rasakan.
Ratih merasa sangat bersalah karena di acara jamuan makan malam tadi dia membiarkan Regan yang terus-menerus bersikap mesra pada dirinya dan hal itulah yang juga menyebabkan Dimas akhirnya keluar dari ruangan jamuan makan malam tadi.
"Ting."
Ratih menoleh pada ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Dia meraih ponsel itu dan membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Dimas." Ratih mengerutkan keningnya ketika di layar handphonenya tertulis nama Dimas yang mengirimkan pesan padanya. "Malam-malam begini ngapain Dimas WhatsApp aku?" Ratih bermonolog sebelum membuka pesan yang dikirimkan Dimas padanya.
Ratih terhenyak sejenak saat dia membuka pesan dari Dimas. Matanya nanar menatap foto dirinya dan Dimas di masa lalu itu.
Dulu mereka sangat mesra lebih mesra dari yang di tunjukan oleh Regan semalam.
"Dim, ternyata kamu masih menyimpan foto ini," Ratih mengusap foto itu dengan tatapan nanar." Sepuluh tahun yang lalu aku bersikeras untuk terus menunggu kamu tapi lambat laun semangat itupun pupus karena kamu tidak pernah memberi kabar berita apapun padaku sampai akhirnya Regan datang menjadi penyelamat keluarga ku yang hampir hancur." Ratih membiarkan air mata yang mulai menggenang di kedua pelupuk matanya itu.
...----------------...
Sementara itu di dalam kamar Dimas. Dia masih terpaku menatap foto dirinya dan Ratih yang tanpa sengaja sudah terkirim ke ponsel Ratih.
"Rat. Aku masih sangat mencintai kamu. Tapi kini kamu sudah menjadi milik orang lain, tidak adakah sedikit pun cinta di hatimu yang tersisa untukku Rat?" Dimas mengusap foto yang ada di layar handphonenya itu.
Tiba-tiba saja Dimas tersentak dengan bunyi notif pesan dari Ratih yang masuk ke handphone nya. Buru-buru Dimas membuka pesan itu dan membacanya.
"Dim. Apa maksud kamu mengirim foto ini?" bunyi pesan dari Ratih agak kesal.
Dimas mengetik di layar ponselnya membalas pertanyaan dari Ratih tadi," Aku hanya mengingat kenangan kita dulu yang sangat hangat dan manis."
"Udah deh Dim kamu gak usah mulai cari-cari alasan lagi. Aku gak terpengaruh Dim karena aku sudah lama membuang semua kenangan bersamamu, aku tidak ingin mengingatnya lagi karena itu akan semakin membuat hatiku hancur dan sakit. Tolong hargai keputusan ku untuk menjauh dari kamu," Ratih menarik nafas dalam-dalam setelah mengirim pesan ke Dimas.
Dimas terdiam setelah membaca pesan ratih hatinya terasa sakit dan tidak terima dengan keputusan yang Ratih ucapkan padanya.
Dimas menatap nanar rentetan kalimat di layar ponselnya. Kata-kata Ratih yang meminta agar kenangan mereka dibuang terasa seperti belati yang menghujam jantungnya.
Aku tidak ingin mengingatnya lagi karena itu akan semakin membuat hatiku hancur dan sakit.
Dimas tersenyum pahit, jemarinya bergetar di atas papan ketik ponsel. "Kamu bilang kamu udah membuang semua kenangan itu, Rat. Tapi kenapa kamu bilang ingatan itu bikin hatimu hancur dan sakit? Kalau kamu udah melupakan aku, harusnya kamu gak ngerasa sakit lagi," bisik Dimas pada kesunyian kamarnya.
Dimas tahu Ratih berbohong. Ratih hanya sedang membangun tembok pertahanan yang tinggi karena wanita itu ketakutan.
Dengan nekat, Dimas mengetik balasan terakhirnya malam itu: "Aku tahu kamu berbohong, Rat. Kamu gak bisa membohongi matamu sendiri saat kita di rooftop tempo hari. Tapi baiklah, kalau menutup mata dari kenyataan bisa bikin kamu merasa aman dari Regan, aku akan hancur sendirian malam ini. Tidurlah, maaf sudah mengganggu malammu."
Pesan terkirim. Dimas langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia benci kenyataan bahwa ia terlambat kembali. Ia benci melihat pria bajingan seperti Regan memamerkan kepemilikan atas Ratih di depan matanya sendiri.
Sementara itu, di kamarnya yang remang-remang, Ratih membaca pesan balasan dari Dimas dengan dada yang sesak. Kata-kata "aku akan hancur sendirian malam ini" benar-benar meremukkan sisa-sisa pertahanannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi bantal tempatnya bersandar.
Ratih memeluk ponselnya di dada, terisak dalam diam agar suaranya tidak terdengar keluar kamar.
"Maafkan aku, Dim... Aku harus ngomong kejam kayak gini supaya kamu menjauh. Aku gak mau Regan tahu dan nekat mencelakai kamu atau ayahku," batin Ratih menjerit pilu.
Malam itu berakhir dengan dua hati yang sama-sama terjaga, meratapi cinta yang sama, namun terpisahkan oleh kenyataan yang teramat kejam.
Keesokan paginya, suasana kantor terasa lebih sibuk dari biasanya. Ratih berjalan menyusuri koridor dengan kacamata hitam untuk menyembunyikan matanya yang sembap akibat menangis semalaman. Langkahnya terhenti tepat di depan meja kerjanya saat melihat sebuah buket bunga mawar merah besar sudah tergeletak di sana.
Ada sebuah kartu ucapan kecil berwarna hitam elegan di tengah buket itu. Ratih mengambilnya dengan perasaan tidak enak. saat membuka kartu itu, bulu kuduknya langsung meremajang membaca tulisan tangan yang sangat ia kenali.
"Selamat pagi, Calon Istriku. Semalam kamu terlihat sangat cantik di hotel Aston, meskipun pandangan matamu beberapa kali sempat teralih pada laki-laki payah itu. Jangan lupa pakai cincinmu hari ini, Sayang. Aku mengawasimu. Regan."
Jantung Ratih berdegup kencang, tangannya mendadak dingin. Regan tahu. Pria itu entah bagaimana tahu apa yang terjadi semalam di jamuan makan malam. Ratih menoleh panik ke sekeliling ruangan, merasa seolah-olah mata dingin Regan sedang mengintainya dari setiap sudut kegelapan kantor.