NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Surgawi

Warisan Mutiara Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.

"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Persimpangan

​Tian Hao tetap berdiri diam, tangannya berada di dalam lengan jubahnya. "Jalan setiap orang berat dengan caranya sendiri, Pengembara."

​Po Ling Zun tersenyum tipis. Ia turun dari batu besar itu dengan gerakan yang sangat ringan, hampir seperti helai daun yang jatuh. "Aku mencium bau darah dan abu dari arah belakangmu. Kau meninggalkan api yang besar, namun kau tidak membawa kehangatannya. Kau hanya membawa abunya."

​"Abu tidak akan membakar tanganku," jawab Tian Hao singkat.

​"Tapi abu tidak bisa menumbuhkan kehidupan," balas Po Ling Zun. Ia mengangkat serulingnya. "Dunia ini luas, dan Dataran Tengah jauh lebih kejam daripada perbatasan Nanling dan Tiancheng. Di sana, mereka yang berjalan sendirian sering kali ditelan oleh kegelapan yang mereka ciptakan sendiri. Kenapa tidak mencoba berjalan dengan sedikit cahaya di hatimu?"

​Tian Hao menatap pria itu dengan pandangan datar. "Cahaya hanya akan membuat posisiku terlihat jelas oleh musuh. Aku lebih suka berjalan dalam kegelapan, di mana aku adalah satu-satunya orang yang tahu ke mana aku melangkah."

​Po Ling Zun menghela napas pendek. Ia tidak merasa terhina. Sebagai praktisi yang sudah mencapai ranah tinggi, ia menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukan sedang sombong, melainkan sedang melindungi diri dengan nihilisme yang ekstrem.

​"Kau unik, Tian Hao," ucap Po Ling Zun, menyebutkan nama yang seharusnya tidak ia ketahui.

​Tian Hao sedikit menyipitkan mata, namun ia tidak terkejut. Orang seperti Po Ling Zun memiliki kemampuan ramalan atau indra spiritual yang melampaui logika biasa.

​"Jika kau terus berjalan dengan cara ini, kau mungkin akan mencapai keabadian," lanjut Po Ling Zun. "Tapi kau akan menemukan bahwa di puncak keabadian itu, tidak ada apa-apa selain kesunyian yang mencekam. Apakah itu yang kau cari?"

​Tian Hao mulai melangkah maju, melewati sang pemain seruling. "Kesunyian jauh lebih jujur daripada suara bising manusia yang penuh dengan kepalsuan. Selamat tinggal, Sang Penenang Badai."

​Po Ling Zun membiarkan Tian Hao berlalu. Ia kembali mengangkat serulingnya ke bibir. Saat melodi kembali mengalun, ia bergumam pelan di antara tiupannya.

​"Mungkin benar... kesunyian itu jujur. Tapi naga yang berjalan sendirian akan selalu merindukan langit yang pernah ia benci."

​Tian Hao terus berjalan menuju cakrawala Dataran Tengah. Pertemuannya dengan Po Ling Zun bukan hanya sebuah kebetulan; itu adalah peringatan bahwa di dunia yang lebih luas nanti, kekuatannya bukan satu-satunya hal yang akan diuji. Kepercayaannya atau ketiadaan kepercayaannya akan menjadi ujian yang jauh lebih berat.

​Di balik tudung jubahnya, Bai Kecil mendesis pelan, seolah merasakan ketegangan yang belum mereda. Tian Hao tetap diam, langkahnya mantap, menuju jantung dunia kultivasi yang sebenarnya.

​Langkah kaki itu akhirnya menyentuh tanah yang berbeda. Tekstur tanah di Zhongzhou (Dataran Tengah) terasa lebih padat, seolah-olah setiap butir pasirnya mengandung residu energi spiritual yang telah terakumulasi selama ribuan tahun.

Di sini, udara tidak lagi tipis dan kering seperti di wilayah perbatasan, udara di pusat dunia ini terasa berat, lembap oleh Qi yang melimpah namun tajam, seolah-olah setiap tarikan napas bisa mengiris paru-paru bagi mereka yang tidak memiliki basis kultivasi yang kuat.

​Tian Hao menarik tudung jubahnya lebih rendah saat ia melewati gerbang batu raksasa yang menandai perbatasan antara wilayah luar dan jantung benua Tianxu.

Di depannya terbentang dataran luas yang hijau namun menyimpan aura pemangsa.

Di kejauhan, puncak-puncak gunung yang menembus awan terlihat seperti pedang yang tertancap di bumi—markas dari sekte-sekte kuno yang memandang rendah seluruh dunia.

​"Inilah tempat di mana semua ambisi bermuara," batin Tian Hao.

1
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
tes ..🤔
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏🙏🙏
Leon: /Bye-Bye/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sat set sat set...
Leon: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikattttt...
Leon: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassddddd....
saniscara patriawuha.
kasihhh fahammm duluu lahhhh.....
saniscara patriawuha.
biasanya langsung masuk ke dentiannya untuk membantu kultivasinya...
Leon: Hehe, memang di dunia Tianxu sistem kultivasi nya begitu bang/Shy/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassssdd....
Leon: 🥲🙂🙂🙂🙂
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjuttttkeunnnnn
saniscara patriawuha.
gasssss...
saniscara patriawuha.
tapi bisakah nanti mang MC kembali lagi ke masa depan untuk membalaskan dendamnya....
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
aldo
lanjut thor
Leon: siaapp. jangan lupa kasih bintang 5 ya🙏🙏🙏
total 1 replies
y@y@
👍🏿🌟👍🏼🌟👍🏿
y@y@
🌟👍🏿👍🏼👍🏿🌟
Leon
ngopi lur/Coffee/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!