NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 – Garis yang Mulai Kabur

Sentuhan itu hanya terjadi beberapa detik.

Namun, setelah Raka menarik tangannya, Alya masih terpaku di tempatnya.

Jantungnya berdetak terlalu cepat.

Dan suasana di antara mereka terasa aneh, dengan cara yang sulit dijelaskan.

Raka tetap duduk di tepi kasur, menatapnya tanpa bicara.

Sementara Alya sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.

“Aku…” Alya buru-buru mengalihkan pandangan. “Kurasa kamu terlalu dekat.”

Kalimat itu terucap pelan dan sedikit gugup.

Namun, justru membuat suasana semakin canggung.

Raka terdiam sesaat sebelum akhirnya berdiri.

Dan anehnya, begitu pria itu beranjak pergi, Alya malah menyadari bahwa dia menahan napas sejak tadi.

“Kamu harus istirahat,” kata Raka, nadanya kembali datar seperti biasa.

Seolah beberapa detik sebelumnya tidak pernah terjadi.

Alya langsung sedikit mengerutkan kening.

Pria ini benar-benar menyebalkan.

Bagaimana bisa dia berubah sedemikian dinginnya dalam waktu sekejap?

“Ya,” jawab Alya singkat.

Raka berjalan menuju pintu.

Namun, sebelum keluar, pria itu berhenti sebentar.

“Besok operasi ibu Anda jam sembilan pagi.”

Alya langsung tersadar dari lamunannya.

“Iya.”

“Saya akan ikut.”

Alya sedikit terkejut.

“Kamu sibuk, kan?”

“Saya tetap ikut.”

Nada suaranya tidak dapat dibantah.

Dan entah mengapa, itu membuat hati Alya terasa menghangat.

Setelah pintu tertutup, Alya langsung merebahkan tubuhnya kembali ke kasur.

Lalu menutup wajah dengan bantal.

“Astaga…”

Dia memejamkan mata rapat.

Namun yang tergambar justru wajah Raka tadi.

Tatapan, nada suara, dan sentuhan singkat pria itu di pipinya.

Alya langsung mengacak rambut frustrasi.

“Ini bahaya…”

Karena perlahan, batasan antara pernikahan palsu dan perasaan asli mulai semakin samar.

---

Keesokan paginya, suasana rumah terasa lebih sibuk dari biasanya.

Mira sudah menyiapkan sarapan lebih awal, sementara beberapa staf rumah tampak mondar-mandir membawa berbagai keperluan.

Alya turun dengan wajah sedikit lelah karena kurang tidur.

Dan tentu saja, Raka sudah duduk di ruang makan sambil membaca dokumen.

“Pagi,” sapa Alya pelan.

Raka mengangkat pandangan sekilas.

“Pagi.”

Normal.

Sangat normal.

Seolah kejadian semalam tidak pernah ada.

Alya langsung duduk sambil mengambil roti dengan sedikit kesal.

Pria ini benar-benar sangat pandai membuat orang bingung.

“Mobil berangkat tiga puluh menit lagi,” kata Raka tenang.

“Iya.”

Hening lagi.

Dan Alya mulai merasa aneh sendiri.

Mengapa justru dirinya yang jadi canggung?

Padahal Raka terlihat biasa saja.

“Kenapa menatap saya seperti itu?” tanya Raka tiba-tiba.

Alya langsung tersedak kecil.

“Aku tidak menatapmu.”

“Kamu menatap saya sejak tadi.”

Alya buru-buru meminum air.

“Mungkin kamu terlalu percaya diri.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Raka bergerak tipis.

Dan Alya langsung membuang muka lagi.

Bahaya.

Sangat bahaya.

---

Rumah sakit pagi itu jauh lebih ramai.

Alya langsung menuju ruang operasi begitu mereka tiba.

Ibunya sudah dipindahkan dan sedang dipersiapkan oleh perawat.

Wajah wanita itu terlihat pucat, namun tetap berusaha tersenyum saat melihat Alya datang.

“Alya…”

Alya langsung menggenggam tangannya.

“Ibu harus kuat ya.”

Wanita itu mengangguk pelan.

Lalu matanya beralih ke Raka yang berdiri di belakang Alya.

“Kamu juga datang…”

Raka mendekat sedikit.

“Operasinya akan berjalan lancar, Bu.”

Nada suaranya tenang.

Dan entah mengapa, itu membuat suasana sedikit lebih menenangkan.

Ibunya tersenyum kecil.

“Kamu baik sekali sama anak saya.”

Alya langsung salah tingkah.

Sementara Raka tetap terlihat tenang seperti biasa.

Namun, beberapa detik kemudian, pria itu berkata pelan—

“Dia memang perlu dijaga.”

Kalimat itu langsung membuat Alya menoleh cepat.

Dan lagi-lagi, tatapan Raka sulit dibaca.

Sebelum Alya sempat memikirkan lebih jauh, dokter dan perawat mulai membawa ibunya masuk ke ruang operasi.

Alya langsung mundur perlahan.

Namun, saat pintu ruang operasi tertutup—

Kakinya mendadak terasa lemas.

Dia duduk perlahan di kursi tunggu sambil menunduk.

Tangannya dingin.

Pikirannya kacau.

“Alya.”

Suara Raka terdengar pelan di sampingnya.

Namun kali ini Alya tidak menjawab.

Dia terlalu takut.

Bagaimana kalau operasi gagal?

Bagaimana kalau sesuatu terjadi?

“Aku takut…” gumamnya lirih tanpa sadar.

Dan untuk pertama kalinya, Raka melihat Alya benar-benar kehilangan kekuatannya.

Pria itu duduk di sampingnya tanpa banyak bicara.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi.

Lalu perlahan—

Sebuah tangan besar menggenggam tangan Alya.

Hangat.

Mantap.

Alya langsung menoleh.

Raka tidak menatapnya.

Tatapannya lurus ke depan.

Namun genggamannya tidak dilepas.

“Tidak akan terjadi apa-apa,” katanya tenang.

Kalimat sederhana itu membuat mata Alya mulai terasa panas.

Dan sebelum dia sadar—

Air matanya jatuh.

Sangat cepat.

Alya buru-buru menghapusnya.

“Aku kelihatan menyedihkan ya…”

“Tidak.”

“Biasanya aku tidak mudah menangis.”

“Saya tahu.”

Jawaban itu membuat Alya sedikit terdiam.

“Bagaimana kamu tahu?”

Kini Raka menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

“Karena Anda selalu berpura-pura kuat.”

Jantung Alya langsung berdebar kecil.

Pria ini…

Ternyata memperhatikannya sejauh itu?

Alya cepat-cepat memalingkan wajah lagi.

Dan untungnya, suasana mendadak terganggu ketika seseorang datang dari ujung lorong.

“Operasinya sudah mulai?”

Alya langsung mengenali suara itu.

Dimas.

Pria itu berjalan mendekat dengan jas dokter dan ekspresi khawatir.

“Aku baru selesai visite.”

Alya mengangguk kecil.

“Iya… baru masuk.”

Dimas duduk di kursi seberang mereka.

Lalu matanya langsung tertuju pada tangan Alya yang masih digenggam Raka.

Dan untuk sepersekian detik—

Ekspresinya berubah.

Sangat tipis.

Tapi Alya melihatnya.

Pria itu tersenyum kecil setelahnya, meski terlihat dipaksakan.

“Syukurlah kamu tidak sendirian.”

Alya refleks mencoba menarik tangannya.

Namun—

Raka justru menggenggamnya sedikit lebih erat.

Alya langsung membeku.

Dan kali ini bahkan Dimas juga menyadarinya.

Suasana langsung berubah canggung.

“Aku bisa bantu cek kondisi operasi nanti,” kata Dimas akhirnya, mencoba terdengar normal.

“Terima kasih,” jawab Alya pelan.

Raka tetap diam.

Namun auranya terasa berbeda sekarang.

Lebih dingin.

Lebih posesif.

Dan Alya mulai menyadari sesuatu yang berbahaya—

Raka benar-benar tidak suka melihat Dimas dekat dengannya.

Satu jam berlalu.

Lalu dua jam.

Semakin lama Alya semakin gelisah.

Dia bahkan hampir tidak menyentuh minuman yang dibelikan Raka untuknya.

Sampai akhirnya—

Lampu ruang operasi mati.

Alya langsung berdiri terlalu cepat.

Pintu terbuka perlahan.

Dokter keluar sambil melepas masker.

Dan jantung Alya terasa berhenti sesaat.

“Dokter…” suaranya bergetar.

Dokter itu tersenyum kecil.

“Operasinya berhasil.”

Alya langsung menutup mulutnya.

Air matanya jatuh lagi.

Namun kali ini karena lega.

“Astaga…”

Tubuhnya langsung lemas.

Dan sebelum dia kehilangan keseimbangan—

Raka dengan cepat menahan tubuhnya.

Tangannya melingkar di pinggang Alya untuk menopangnya.

“Perlahan,” katanya rendah.

Namun Alya sudah terlalu emosional untuk menyadari posisi mereka sekarang.

Dia langsung memeluk pria itu erat.

Refleks.

Murni refleks.

Dan seluruh lorong rumah sakit langsung terasa sunyi beberapa detik.

Karena untuk pertama kalinya—

Alya sendiri yang mencari pelukan Raka.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!