NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bu Indah wali kelasnya datang ke kandang sore itu. Dia diem lihat kandang bocor,

Bu Indah wali kelasnya datang ke kandang sore itu. Dia diem lihat kandang bocor, dipan reot, lampu LED redup. Dia lihat Nisa nulis di lantai pakai buku lecek. "Nisa, kok gak masuk? Ibu khawatir." Suara Bu Indah pelan. Nisa nunduk. "Nisa sakit Bu. Ayah belum gajian. Nisa malu." Aku di pojok kursi roda. Mau ngomong tapi tenggorokan kering. Mau jelasin aku penulis, tapi bukti rekening cuma 222 ribu. Bu Indah nyamperin aku. Dia kasih amplop coklat. "Ini dari kas kelas Pak Galih. Hasil urunan anak dan guru. Gak banyak. Buat beli obat Nisa dan buku baru." Aku tolak. Tangan gemeter. "Gak Bu. Saya gak bisa terima. Saya masih bisa nulis. Saya janji besok Nisa masuk." Bu Indah taruh amplop di dipan. "Ini bukan sedekah Pak. Ini investasi. Kami semua baca cerita Bapak di NovelToon. Anak-anak nangis. Kami yakin Bapak sukses. Anggap pinjaman. Bayarnya kalau Bapak udah kontrak." Kata investasi nampol keras. Mereka percaya sama aku. Sama kataku. Malam itu aku buka amplop. Isinya 200 ribu. Uang paling besar sebulan ini selain dari nulis. Aku lihat Nisa tidur. Di tangannya ada gambar rumah, ada aku, istrinya, dan Nisa di depan. Ada lampu. Di bawahnya tulisan: "Rumah Nisa dan Ayah Penulis". Besoknya aku antar Nisa ke sekolah. Pakai kursi roda. Jalan 2 km. Keringat netes. Tapi aku dorong terus. Di depan gerbang, Nisa salim. "Yah, Nisa janji. Nisa juara satu. Biar Ayah bangga. Biar Ayah cepat dikontrak." Aku masuk kelas, izin ke Bu Indah. Mau lihat papan tulis tempat Nisa belajar. Papan tulisnya retak. Dari ujung ke ujung. Tapi tulisan kapur Bu Indah masih jelas: "Gantungkan cita-citamu setinggi langit." Aku sentuh papan retak itu. Dingin. Aku janji di depannya. "Bu Indah, terima kasih. Pinjaman 200 ribu ini akan saya kembalikan 2 juta. Dari kontrak NovelToon. Saya janji di depan papan tulis retak ini. Saksi saya Nisa dan semua murid Ibu." Bu Indah nangis. Dia peluk Nisa. "Ibu percaya Pak Galih." Pulangnya aku gak istirahat. Langsung buka HP. Batre sisa 40 persen. Aku nulis Bab 12. Lalu Bab 13. Jari patahku udah gak berasa sakit. Dashboard NovelToon kedip. Episode 10 udah Berhasil. Episode 11, 12, 13 antri review. Saldo cerita: 272.500 tambah 200.000 sama dengan 472.500. Utang ke Bu Indah: 200.000. Sisa bersih: 272.500. Kutulis lagi di kardus Indomie: "SISA 16 BAB. UTANG 200 RIBU. LISTRIK 1,2 JUTA. KONTRAK 2,4 JUTA." Angka itu jelas. Target itu jelas. Jalan di depanku juga jelas, meski lewat kandang bocor. Hari ini, di depan papan tulis retak, aku bukan cuma janji ke Bu Indah. Aku janji ke 200 pembacaku. Ke editor. Ke Nisa. 16 bab lagi. Aku bakal lunasi semuanya pakai kata. Pena ini saksi. Galih dorong kursi roda makin kencang. Jalan pulang terasa ringan. Beban di dada lepas. Karena janji udah diucap di depan saksi. Tinggal ditepati. Nisa gandeng tanganku. Dia nyanyi pelan lagu sekolah. Suaranya bikin HP batre 40 persen berasa 100 persen. Aku lihat langit sore. Jingga. Sama kayak harapan yang balik nyala. Malam ini aku gak tidur. Pena dan kata jadi senjata. Kontrak 2,4 juta bukan mimpi lagi. Aku siap tempur. Demi Nisa.

1
Ray Penyu
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!