NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Ciuman penuh hasrat.

Malam itu, kamar Zinnia terlihat sangat cantik dengan pencahayaan yang hangat. Zinnia berdiri di depan cermin besar, menyempurnakan penampilannya. Mengoleskan make up tipis saja, cukup untuk menonjolkan kecantikan alaminya, namun tetap terlihat memukau.

Ia mengenakan dress mini warna pink lembut dengan model off shoulders, memperlihatkan bahu putihnya yang mulus. Di bagian pinggang, terdapat aksen pita warna senada, yang membuat penampilannya terlihat manis dan anggun. Dipadukan dengan sepatu hak tinggi berhias kristal yang warnanya juga senada, membuat Zinnia terlihat seperti boneka hidup yang sangat memikat.

Setelah merasa puas, Zinnia pun berjalan turun dengan anggun menuju ruang tamu.

Di sana, Rion sudah duduk menunggu dengan sabar di atas sofa. Pria itu tampak sibuk memainkan game di ponselnya, namun begitu mendengar suara langkah kaki, ia langsung menghentikan aktivitasnya. Matanya terangkat, dan seketika terpaku menatap sosok gadis di hadapannya.

Zinnia berhenti di tangga terakhir, tersenyum manis, kemudian berkata.

"How do I look?" tanyanya sambil berputar pelan, memperlihatkan seluruh detail penampilannya yang sempurna itu.

Rion langsung berdiri, mendekat dengan tatapan takjub.

"Perfect!! Cantik banget, sayang..." puji Rion tulus. Tangannya langsung menarik pinggang Zinnia mendekat, lalu mendaratkan kecupan hangat di pipi gadis itu, Zinnia tersenyum geli karna itu.

"Ok, kita mau pergi kemana hari ini?" tanya Zinnia penasaran.

"Rumah Kakek..." jawab Rion santai.

"Sebenarnya dia memintaku datang sejak minggu lalu, hanya saja aku malas. Jadi, malam ini saja aku kesana."

"Ok.. ayo pergi." Zinnia mengangguk siap dan hendak melangkah keluar, namun tangan Rion dengan cepat menarik pergelangan tangannya kembali, membuat gadis itu berhenti dan menoleh bingung.

"Zinnia.." panggil Rion pelan.

"Why? Ada apa?"

"Aku mau kasih tahu kamu sesuatu." Ujar Rion dengan raut wajah sedikit murung, Zinnia mulai bertanya-tanya dan dalam hati dirinya juga mulai cemas, takut jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi di luar dugaan.

"Soal apa?"

"Soal keluargaku."

Wajah Zinnia langsung berubah sedikit was-was.

"Apa itu kabar buruk?"

"Entahlah, tapi Dengarkan aku dulu. sebelum kita bertemu Kakekku, aku ingin kau tahu jika..." Rion tampak ragu-ragu, menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Katakan saja..." Zinnia mencoba menenangkannya, tangannya terangkat menyentuh wajah tampan itu dengan lembut, memberi kekuatan.

"Ibuku adalah istri kedua dari ayahku..." Jelas Rion pada akhirnya, wajah tampannya terlihat murung dengan sedikit menunduk namun mencoba untuk tetap tegar.

Deg!

Zinnia tertegun mendengarnya, matanya sedikit membelalak kaget.

"Jadi ini agak rumit, tapi kau harus tahu. Bagaimana pun juga sekarang kamu adalah pacarku." Timpal Rion.

"Oh.. lalu bagaimana?" tanya Zinnia pelan, berusaha mencerna informasi itu.

"Keluargaku rumit Zinnia..." Rion mulai menjelaskan dengan nada serius.

"Ayahku bernama Rajasa, dia anak dari keluarga besar Adhitama. Dia punya dua istri dan punya dua orang anak laki-laki dari masing-masing istri. Dan... saat ini Ayahku lebih sering berada di rumah istri pertamanya."

Zinnia terdiam diam, matanya menatap Rion lekat-lekat. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa latar belakang keluarga kekasihnya serumit dan seberat itu.

"Aku tak pernah mau ikut acara keluarga karena pandangan orang terhadap ibuku..." lanjut Rion, suaranya terdengar sedikit getir dan penuh penekanan.

"Tapi beberapa minggu yang lalu Kakek ingin bertemu denganku. Aku mengabaikannya sampai ibuku bilang untuk menemui saja dia."

"Ibumu punya hati yang luar biasa Rion.. Dia sangat baik. " Zinnia mulai mengenggam erat kedua tangan Rion untuk memberinya banyak kekuatan.

"Ya, aku tahu. "

"Apa kamu yakin dan sudah siap untuk bertemu kakekmu sekarang? apa itu tak apa-apa?" tanya Zinnia ragu, matanya menatap kekasihnya dengan penuh kekhawatiran.

"Entahlah..." Rion menghela napas panjang, menatap lurus ke depan.

"Aku tahu kakekku adalah orang yang sangat bijaksana. Dia tidak menentang hubungan ayah dan ibuku sekarang, meski dulu sempat memisahkan keduanya. aku bingung."

Zinnia menarik napas agak berat, berusaha menguatkan dirinya sendiri juga. Ia lalu menatap wajah Rion dengan tatapan menenangkan, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Jangan khawatir... aku di sini... Semua akan baik-baik saja. " bisiknya lembut.

"Kita temui saja dia dulu. Kita hadapi bersama-sama." Tambahnya kemudian.

"Ya..." Rion mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang mendengar suara gadis itu.

Tanpa berkata lagi, Rion kemudian mengenggam tangan Zinnia dengan sangat erat, seolah-olah tangan itu adalah satu-satunya penolong dan sumber kekuatannya saat ini. Mereka lalu berjalan perlahan menuju mobil mewah yang sudah terparkir rapi di halaman depan.

Begitu masuk ke dalam kabin mobil, suasana menjadi hening. Mobil pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah keluarga Cavendish menuju jalan utama.

Sepanjang perjalanan, Rion tampak sangat gelisah. Jari-jarinya terus mengusap punggung tangan Zinnia, lalu menggenggamnya kembali dengan kuat, berkali-kali. Tatapannya sering kali kosong, pikirannya tampak melayang entah ke mana, memikirkan apa yang akan terjadi nanti.

" Rion.. " Panggil Zinnia lembut.

" Kenapa? " Balas Rion seraya menoleh sejenak, dan kemudian kembali fokus ke jalan raya.

" Bisa hentikan dulu mobilnya. " Pinta Zinnia kemudian.

Rion sedikit terkejut tapi langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Baru saja mesin dimatikan, Zinnia dengan gerakan lincah langsung membuka sabuk pengamannya dan memindahkan posisi duduknya... tepat ke atas pangkuan Rion!

Rion langsung menahan napas, matanya membelalak kaget melihat tindakan tak terduga kekasihnya itu. Tapi mencoba untuk tetap bersikap tenang.

" Ada apa Zinnia? Kamu merasa tak enak badan atau apa? " Tanya Rion kemudian.

" Sepanjang jalan kamu terlihat tegang, ayo rilexkan dulu otot tubuhmu. " Bisik Zinnia pelan di telinga Rion, kedua tangannya mulai menjelajahi bahu kekasihnya itu dengan sentuhan lembut dan mengoda, membuat Rion merasakan sensasi aneh yang sulit di jelaskan.

" Zinnia kamu sengaja mengodaku ya. "

" Aku tidak mengoda, aku hanya ingin membantumu untuk rilex saja. " Balasnya sambil mengecup pipi Rion kemudian menjelajahi lehernya dengan bibirnya. sentuhan hangat bibir gadis itu membuat Rion sampai meremas pinggang Zinnia agak kuat.

" Kamu mulai nakal ya Zinnia.. "

Rion tidak butuh waktu lama untuk mengambil alih kendali. Dengan gerakan cepat, tangannya melingkar erat memeluk pinggang ramping itu, menempelkan tubuh mereka berdua tanpa jarak sedikitpun. Matanya yang tadi gelisah kini berubah menjadi gelap dan penuh hasrat.

Tanpa aba-aba, Rion langsung menyambar bibir Zinnia. Ciumannya kali ini bukan sekadar manis, tapi dalam, hangat, dan penuh tuntutan, seolah ingin meluapkan semua rasa cemas, takut, dan cintanya dalam satu ciuman yang memabukkan.

Zinnia yang awalnya berniat menenangkan justru kini yang dibuat terpana dan lemas di dalam pelukan kekasihnya itu. Dan membalas ciuman itu dengan hasrat yang sama, melingkarkan kedua tangannya di bahu kekasihnya itu. Aksi nakalnya ini memang tak terduga, tapi dia yang tak tahu harus berbuat apa agar Rion lebih tenang itu pada akhirnya malah mengodanya.

" Kau membuatku Gila Zinnia.. " Bisik Rion di sela ciumannya.

Ciuman mulai turun ke leher putih Zinnia, tapi sedetik kemudian Zinnia menghentikannya dengan sedikit memalingkan wajahnya dan mendorong dada bidang milik Rion.

" Jangan meninggalkan bekas, bagaimana pun juga kita akan menemui kakekmu. " Pinta Zinnia dengan wajah malu-malu yang mulai merah padam.

Rion tertawa sedikit terkekeh.

" Lalu kenapa malah mengodaku duluan? "

" Em.. I.. Itu hanya mencoba membuatmu lebih rilex saja. " Jawab Zinnia agak gelagapan karna malu sendiri dengan kelakuan nakalnya.

" Ya itu membantu, tapi membuatku kehilangan akal sayang.. "

Rion kembali mencium bibir kekasihnya itu, kali ini lebih penuh hasrat dan rasa kepemilikan. Menjelajahi setiap bibir kekasihnya itu seakan ingin memakannya hidup-hidup.

Ciuman panas yang penuh dengan hasrat yang menenggelamkan keduanya dalam situasi yang hanya ingin mereka saja yang rasakan tanpa membaginya dengan orang lain.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!