"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 33
Seulas senyum manis terukir dari bibir pria yang ada dihadapannya. Ya, rasa rindu yang tertahan selama beberapa bulan ini akhirnya terbalaskan.
"Mas Hasbi...!" Mila tak menyangka bertemu lagi dengan pria yang selama ini ditunggunya tanpa sengaja menjatuhkan botol hand and body lotion yang dipegangnya.
Hasbi segera menangkap botol dan menggenggamnya. "Hai, ayo konsentrasi!" berkata lembut diiringi senyuman.
Mata Mila berkaca-kaca, mulutnya ditutup dengan telapak tangan kanannya. Lidahnya terasa kaku. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya panggilan nama saja.
"Mil..!" panggil lembut Hasbi.
Mau menangis dan berteriak sangking senangnya, tapi berada di tempat keramaian. Mila tak mau menjadi pusat perhatian.
"Sebentar lagi kamu pulang kerja, 'kan? Aku tunggu diparkiran!" kata Hasbi mengacak rambut Mila kemudian berlalu.
Ketika tubuh Hasbi berbalik, Mila memegang dadanya dan tersenyum lebar. Hatinya terasa berbunga-bunga. Salah satu doa yang dipanjatnya terkabul. Karena bahagian, ia melompat-lompat kecil.
Tingkah yang dilakukan Mila ternyata menjadi perhatian Hasbi, ia belum menjauh. Berbelok ke kiri, berhenti sejenak dan mengintipnya dari balik pakaian-pakaian yang bergantungan. Hasbi tampak tersenyum melihatnya.
Selesai bekerja, Mila yang tak sabar ingin menanyakan kabar Hasbi selama ini berlari kecil menghampirinya.
Hasbi menyodorkan helmnya kepada Mila.
"Kita mau ke mana?" tanya Mila menerima helm dan memakainya.
"Aku antar ke kos-kosan kamu," jawab Hasbi.
"Mas Hasbi tau alamat kos-kosan aku?" tanya Mila lagi.
"Belum tau, tapi kamu harus beritahu," jawab Hasbi tersenyum.
"Mas Hasbi harus menjelaskan kepadaku ke mana selama ini menghilang!" pinta Mila.
"Bagaimana kalau kita singgah makan?" ajak Hasbi.
"Hmm.. boleh juga," kata Mila setuju.
Keduanya lalu pergi ke sebuah kedai yang menjual kopi dan menu makanan berat juga.
Sesampainya dan memesan makanan serta minuman, Mila mendesak Hasbi menjelaskan selama ini tak ada kabar.
"Kamu tuh tiba-tiba aja pindah kos. Aku pikir masih tetap di sana," kata Hasbi.
"Ceritanya panjang!" ucap Mila.
"Aku siap mendengarkannya!" kata Hasbi sebelum dirinya memberitahu alasannya 'menghilang'.
"Mas Hasbi tau pria yang bernama Alan?" tanya Mila.
Hasbi coba mengingat tak lama berselang menjawab, "Ya, aku tau. Keponakan pemilik kedai tempatmu bekerja dulu.
"Nah, dia terus menerus mengejar aku. Padahal, aku udah menolaknya secara baik-baik. Tapi, dia enggak terima," kata Mila.
"Apa alasan kamu menolaknya? Bukankah dia tampan dan kaya?" tanya Hasbi.
"Aku menyukai laki-laki lain, Mas." Jawab Mila.
Deg..
Jantung Hasbi seketika berdetak sejenak. Wanita yang disukainya itu menyukai pria lain.
"Dan kedua, ibunya itu terlalu pemilih. Aku bukan satu-satunya perempuan yang ditolak," lanjut Mila memberikan jawaban.
Hasbi manggut-manggut paham.
"Aku enggak punya pilihan dan bingung. Aku mau pindah kerja, tapi belum ada yang cocok. Akhirnya aku memutuskan balik ke sini," ujar Mila.
"Kenapa harus ke kota ini? Bukankah mantan suamimu tinggal di sini?" tanya Hasbi, ia ingat Mila pernah cerita mengenai Hardi.
"Ini ibukota provinsi. Teman dan beberapa orang yang pernah ku kenal ada di kota ini. Apa salahnya aku di sini juga? Lagian hubungan aku dengan orang tua telah membaik. Aku enggak mau terlalu jauh dari mereka," jawab Mila panjang lebar.
"Aku senang hubungan kalian kembali baik," kata Hasbi tersenyum tipis.
"Terima kasih, Mas." Mila juga tersenyum senang.
Obrolan berhenti sejenak, pesanan kedua pun datang. Mereka segera menyantapnya.
"Mil..apa aku boleh tau laki-laki yang kamu sukai?" Hasbi penasaran.
"Nanti aku beritahu, belum saatnya. Aku juga enggak tau, apakah kalau aku mengakui jujur dia mau menerimanya? Atau malah aku yang malu?" kata Mila tertawa getir. Ia belum siap mengungkapkan isi hatinya.
Hasbi tak mengatakan apapun, ia hanya menggerakkan dagunya pelan.
"Sekarang, ayo jelasin alasan Mas Hasbi tiba-tiba mendadak pindah juga dari kos-kosan dan sulit dihubungi!" desak Mila.
"Besok kamu 'kan libur, paginya aku akan menjemputmu dan kita ke lapangan kota. Aku udah lama enggak lari pagi bareng kamu!" kata Hasbi sebab Mila memberitahu dirinya, besok jadwalnya mendapatkan jatah libur.
"Boleh, aku mau!" kata Mila semangat.