NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diplomasi Meja Makan dan Rahasia di Balik Porselen

Malam merayap di kediaman Alfarezel dengan keanggunan yang mematikan. Cahaya lampu gantung kristal di ruang makan utama memantulkan kilau yang menyilaukan pada deretan sendok perak dan gelas kristal yang ditata dengan presisi milimeter. Bagi orang awam, ini adalah pemandangan mewah; bagi Zeva, ini adalah medan ranjau yang dilapisi taplak meja sutra.

​Zeva berdiri di depan cermin besar di kamar tamunya. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru dongker yang disediakan oleh pelayan atas perintah Tante Melinda. Gaun itu indah, namun kerahnya yang tinggi membuat Zeva merasa seolah sedang dicekik oleh ekspektasi.

​"Gue bisa. Gue cuma perlu duduk, makan, dan nggak ngelempar garpu ke muka Revan," bisik Zeva pada bayangannya sendiri. Ia merindukan jaket denimnya. Ia merindukan aroma knalpot motornya. Di sini, semuanya berbau seperti bunga lili yang layu dan parfum mahal yang menyesakkan.

Saat Zeva melangkah masuk ke ruang makan, keheningan mendadak jatuh. Kakek Wijaya sudah duduk di kepala meja, tampak seperti raja tua yang mengawasi wilayah kekuasaannya. Di sisi kiri dan kanannya, anggota keluarga besar Alfarezel telah menempati posisi mereka. Tante Melinda, Revan yang masih tampak kesal, dan Sarah yang sudah berganti pakaian namun masih menatap Zeva dengan tatapan haus darah.

​"Duduklah, Zevanya," ujar Kakek Wijaya. Suaranya bergema di ruangan yang tinggi itu.

​Zeva duduk di kursi yang telah ditentukan, tepat di seberang Revan. Ia menyadari ada satu kursi kosong di sampingnya. Kursi Adrian. Pria itu dilarang hadir malam ini oleh sang Kakek untuk memastikan Zeva "mandiri".

​"Malam ini bukan sekadar makan malam," Melinda memulai, suaranya seperti gesekan biola yang sumbang. "Ini adalah ujian terakhirmu sebelum pengumuman resmi. Kami ingin melihat apakah kau memiliki kelas, atau hanya sekadar keberuntungan yang tidak sengaja menabrak mobil keponakan kami."

​Pelayan mulai menyajikan hidangan pertama: Consommé bening dalam mangkuk kecil yang terlihat sangat rapuh.

​Zeva menatap sendok di depannya. Ada tiga jenis sendok. Ia mengingat pelajaran singkat dari Adrian di apartemen. Pilih yang paling luar. Ia mengambil sendok itu dengan gerakan yang sengaja diperlambat, memastikan tangannya tidak gemetar.

​"Kudengar kau membantu pelayan memoles piring sore tadi?" Revan membuka suara, nadanya penuh ejekan. "Sangat mulia. Tapi di keluarga ini, kita tidak membayar calon menantu untuk melakukan pekerjaan kasar. Itu menunjukkan bahwa kau tidak tahu batasan antara kelas pekerja dan kelas penguasa."

​Zeva menyesap supnya pelan. Rasanya hambar, jauh dari gurihnya bakso urat favoritnya. Ia meletakkan sendok dengan suara denting yang nyaris tak terdengar.

​"Batas itu cuma ada di kepala Mas Revan," jawab Zeva tenang, menatap langsung ke mata pria itu. "Bagi saya, nggak ada salahnya bantu orang. Justru yang nggak tahu batasan itu adalah orang yang merasa dirinya 'penguasa' tapi nggak tahu caranya menghargai tangan yang nyiapin makanannya setiap hari. Tanpa pelayan itu, Mas mungkin sudah mati kelaparan karena nggak bisa nyalain kompor sendiri."

​Sarah mendengus. "Bicaranya tajam sekali. Tapi kecerdasan lidah tidak bisa menutupi silsilah yang kosong. Katakan padaku, Zevanya, apa yang akan kau bicarakan dengan istri duta besar nanti? Tentang harga cabai? Atau tentang bagaimana cara menambal ban bocor?"

​"Saya akan bicara tentang kenyataan," balas Zeva. "Bahwa di luar pagar rumah ini, ada dunia yang bergerak cepat. Dunia di mana orang dihargai karena kerja kerasnya, bukan karena nama belakangnya. Saya rasa istri duta besar akan lebih tertarik mendengar cerita tentang bagaimana bertahan hidup di Jakarta daripada mendengar gosip tentang merk tas mana yang paling baru."

​Kakek Wijaya menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. Ia terus makan dalam diam, membiarkan serigala-serigalanya menguji sang domba.

Hidangan utama datang: Steak daging wagyu dengan saus truffle. Namun, ada yang aneh. Pelayan memberikan Zeva pisau yang tampak tumpul. Zeva merasakannya saat ia mencoba memotong daging itu. Ini disengaja. Melinda ingin melihatnya kesulitan dan melakukan gerakan yang tidak elegan.

​Zeva mencoba memotong dengan sabar, tapi daging itu tetap keras kepala. Revan dan Sarah mulai saling lirik, menahan tawa.

​"Ada masalah dengan dagingmu, Nona?" tanya Melinda dengan nada pura-pura khawatir. "Atau kau tidak terbiasa makan daging yang tidak perlu dikunyah seribu kali seperti daging di pinggir jalan?"

​Zeva menyadari jebakan itu. Jika ia mengeluh, ia dianggap lemah. Jika ia memaksakan memotong, sikunya akan naik dan ia akan terlihat berantakan.

​Zeva meletakkan pisaunya. Ia mengambil garpunya, lalu dengan gerakan yang sangat tidak terduga, ia menusuk seluruh potongan daging itu dan mengangkatnya sedikit.

​"Daging ini kualitasnya bagus, Tante. Tapi pisaunya sepertinya lelah, sama seperti percakapan kita malam ini," ujar Zeva. Ia menoleh ke arah pelayan. "Mas, boleh minta pisau yang benar-benar bisa memotong? Kasihan dagingnya, sudah mati tapi masih disiksa pisaunya."

​Pelayan itu ragu, melirik Melinda. Namun Kakek Wijaya berdehem. "Berikan dia pisau yang tajam. Aku tidak ingin tamuku kelaparan."

​Melinda mengepalkan tangannya di bawah meja. Rencananya gagal lagi.

Saat hidangan penutup disajikan, suasana menjadi semakin dingin. Melinda tampaknya sudah menyiapkan senjata pamungkasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik kursinya dan meletakkannya di meja.

​"Opa," ujar Melinda pada Wijaya. "Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku melakukan sedikit riset tentang 'permata' yang dibawa Adrian ini. Aku tidak ingin keluarga kita tercoreng oleh masa lalu yang kelam."

​Zeva merasakan jantungnya berdegup kencang. Masa lalu? Masa lalu apa?

​Melinda mengeluarkan beberapa lembar foto. Foto itu menunjukkan Zeva sedang beradu argumen dengan beberapa pria berwajah seram di sebuah gudang tua setahun yang lalu. Di sana juga ada catatan tentang utang piutang katering Mpok Leha.

​"Dia bukan hanya gadis miskin, Opa. Dia terlibat dengan lintah darat. Dia adalah masalah berjalan," tuduh Melinda. "Bayangkan jika media tahu bahwa tunangan Adrian Alfarezel memiliki kaitan dengan dunia hitam kelas teri."

​Kakek Wijaya mengambil foto-foto itu, memerhatikannya satu per satu. Zeva merasa sekelilingnya mulai berputar. Itu adalah masa-masa tersulitnya saat ia harus melindungi bibinya dari penagih utang yang kasar.

​"Itu benar, Zevanya?" tanya Wijaya, suaranya kini terdengar sangat berat.

​Zeva menelan ludah. Ia tidak bisa berbohong. Di rumah ini, kebohongan adalah lubang kubur.

​"Benar, Pak," jawab Zeva, suaranya sedikit bergetar namun tetap stabil. "Tahun lalu katering bibi saya ditipu rekan bisnisnya. Kami nggak punya uang, dan orang-orang di foto itu datang buat ngerusak rumah kami. Saya berdiri di sana bukan karena saya anggota geng, tapi karena saya satu-satunya yang berani ngusir mereka dari pintu rumah saya."

​"Dengan cara apa? Kau membayar mereka pakai apa?" tuntut Revan.

​"Pakai keberanian saya! Saya tantang mereka balapan motor. Kalau saya menang, mereka kasih waktu satu bulan lagi. Kalau saya kalah, mereka boleh ambil motor saya," Zeva menjelaskan dengan napas memburu. "Dan saya menang. Saya kerja siang malam, nganter paket, narik ojek, benerin mesin orang, sampai utang itu lunas. Saya nggak malu sama foto itu, Tante. Foto itu bukti kalau saya nggak pernah lari dari tanggung jawab."

​Keheningan yang terjadi kali ini berbeda. Ada rasa hormat yang aneh yang mulai merembes masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan Kakek Wijaya meletakkan foto itu dengan tangan yang lebih lembut.

​"Kau balapan dengan penagih utang demi bibimu?" tanya Wijaya.

​"Saya lakuin apa aja buat keluarga saya, Pak. Sama kayak Bapak yang bakal lakuin apa aja buat jaga nama Alfarezel," jawab Zeva telak.

​Wijaya terdiam lama. Ia menatap Melinda dengan tatapan yang membuat wanita itu menciut.

​"Melinda, kau pikir ini adalah aib?" tanya Wijaya. "Bagiku, ini adalah resume terbaik yang pernah kulihat. Dia punya nyali. Dia punya loyalitas. Hal-hal yang mulai hilang dari cucu-cucuku yang lain karena mereka terlalu sibuk memoles kuku dan menghina orang."

​Sarah dan Revan tertunduk malu. Melinda tampak seolah-olah baru saja menelan jeruk purut utuh.

​"Makan malam selesai," ujar Wijaya sambil berdiri. "Zevanya, ikut aku ke ruang perpustakaan. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan tanpa telinga-telinga berisik ini."

Di dalam perpustakaan yang dipenuhi ribuan buku tua, aroma kertas dan kayu cedar memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan Zeva. Kakek Wijaya duduk di kursi kulit besarnya, memberi isyarat agar Zeva duduk di depannya.

​"Kau mengingatkanku pada istriku, Nenek Adrian," ujar Wijaya tiba-tiba. "Dia bukan dari keluarga kaya. Dia adalah perawat yang memaki-makiku saat aku mencoba menyuap dokter agar bisa pulang lebih cepat dari rumah sakit. Dia punya api yang sama denganmu."

​Zeva tertegun. "Benarkah, Pak? Saya pikir Nenek Adrian itu... putri keraton atau semacamnya."

​"Hanya di depan kamera," Wijaya terkekeh. "Dengar, Zevanya. Aku tahu hubunganmu dengan Adrian dimulai dengan kontrak. Aku tidak bodoh. Aku bisa melihat bagaimana kalian berdua saling canggung di awal."

​Zeva membeku. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Dia tahu?

​"Tapi," lanjut Wijaya, "aku juga melihat bagaimana Adrian menatapmu hari ini. Dia belum pernah menatap wanita manapun dengan rasa cemas dan bangga di saat yang bersamaan. Kontrak itu mungkin dimulai dengan kertas, tapi aku ingin kau tahu, di keluarga ini, hanya ada satu hal yang lebih kuat dari uang: yaitu kebenaran perasaan."

​Wijaya mengeluarkan sebuah kunci kecil dari sakunya dan memberikannya pada Zeva. "Ini kunci laci di meja rias Nenek Adrian di kamar sebelah. Di sana ada sebuah jurnal. Bacalah. Itu akan memberimu kekuatan untuk menghadapi pesta pertunangan besok."

​Zeva menerima kunci itu dengan tangan gemetar. "Kenapa Bapak kasih tahu saya soal ini? Bapak nggak marah karena kami bohong?"

​"Bohong untuk bertahan hidup adalah hal yang biasa dilakukan pengusaha, Zevanya. Tapi jujur pada hati sendiri adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh pemenang. Aku ingin melihatmu menang besok. Bukan karena kau tunangan Adrian, tapi karena kau adalah wanita yang pantas berdiri di puncak menara ini."

Zeva kembali ke kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk. Ia membuka laci yang dimaksud Wijaya dan menemukan sebuah jurnal kulit yang sudah usang. Ia membacanya hingga larut malam. Jurnal itu berisi keluh kesah Nenek Adrian tentang betapa sulitnya menyesuaikan diri dengan kemunafikan keluarga kaya, namun ia bertahan karena cintanya pada Wijaya.

​Zeva menyadari bahwa ia tidak sendirian. Ia punya pendahulu yang sama-sama berjuang di jalanan emosional yang terjal ini.

​Ia mengambil ponselnya, hendak menelepon Adrian. Namun ia berhenti. Ia ingin memberikan kejutan pada pria itu besok. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bukan lagi "gadis barbar" yang butuh dilindungi, tapi seorang pendamping yang bisa berdiri tegak sejajar dengannya.

​Di kejauhan, petir menyambar langit Jakarta, menandakan badai akan segera datang. Tapi Zeva tidak lagi takut. Ia meraba kunci di saku gaunnya, tersenyum kecil, dan akhirnya tertidur dengan tenang.

​Besok adalah hari pertunangan. Hari di mana semua kepura-puraan akan diuji oleh api yang sesungguhnya. Dan Zeva sudah menyiapkan pemadam apinya sendiri: kejujuran yang menghancurkan

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!