NovelToon NovelToon
Lord Of The Void

Lord Of The Void

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Action / Fantasi
Popularitas:281
Nilai: 5
Nama Author: Pendeta Merah

Ren Abraham, seorang anak laki-laki yatim piatu bertekad untuk menjadi kuat setelah desanya di hancurkan oleh para penyembah iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pendeta Merah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Bersama

Dengan seragam olahraganya, Ren berdiri menghadap profesor, hari ini adalah latihan bersama di adakan, karena akan di lakukan di tempat lain dan butuh waktu lama, semua mata pelajaran hari ini di hilangkan.

" Lihat dia, dia membawa tongkat besi, hahaha! "

" Apa yang ingin dia lakukan dengan itu, memukul angin! "

" Hahaha! "

Karena tongkat besi yang Ren bawa, orang-orang di sekitarnya menertawakannya, Ren tidak peduli dengan itu karena dia sudah menduganya.

Hasil latihan tadi malam tidak berjalan sesuai ekspektasi, Ren berakhir gagal dengan semua percobaannya, sekarang dia berpikir jika sistem warior itu palsu.

Jadi, daripada sibuk memikirkan orang lain, Ren memilih fokus pada apa yang ada di depannya, pada latihan bersama.

" Perhatian semuanya! "

" Seperti yang sudah kalian dengar kemarin, hari ini kita akan melakukan latihan bersama dengan tujuan saling mengenal "

Di latihan bersama hari ini, kelas F dan E di gabung, berbeda dengan kelas F, kelas E memiliki empat kelas, yang masing-masing memiliki 80 murid, jika di tambah dengan jumlah murid kelas F yang mencapai 395 orang, jumlah peserta latihan mencapai 715 orang!

Jika bukan karena latihan bersama setiap kelas di lakukan di tempat yang terpisah, lapangan ini akan di penuhi oleh para murid yang jumlahnya mencapai ribuan.

" Aku akan jelaskan cara mainnya jadi dengarkan dengan benar "

" Kalian semua akan di kirim ke dimensi saku yang memiliki aturan berbeda dengan dunia nyata, disana kalian akan berburu monster untuk mendapatkan Point, semakin banyak point yang kalian dapatkan maka semakin nilai kalian "

" Kalian juga bisa merebut point dari peserta lain, 70% point milik mereka akan menjadi milik kalian, jadi jika kalian tidak ingin keluar dengan nilai rendah, bertahanlah selama mungkin "

" Hanya itu saja, sekarang pergilah! "

Ruang di samping profesor terdistorsi, menciptakan pusaran hitam yang besar, itu adalah gerbang teleportasi yang di gunakan untuk pergi menuju dimensi saku.

Bersama murid lainnya, Ren berjalan menuju gerbang teleportasi.

' Huft...aku pasti bisa! '

••• •••

Ren membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah rumah-rumah yang rusak, beberapa bahkan ada yang hancur, tempatnya berada sekarang terlihat seperti kota yang sudah hancur!

' Jadi setiap orang di kirim ke tempat yang berbeda ya...'

Dimensi saku, seperti namanya dimensi ini adalah dimensi kecil yang berada di dalam dimensi utama, disini aturan di buat berbeda, di dimensi ini waktu berjalan lebih cepat, dan saat para murid terbunuh, mereka akan langsung di keluarkan dari dimensi saku.

Ren masuk kedalam salah satu rumah untuk melihat isinya, di luar dugaannya, ternyata masih ada beberapa barang di dalam, mungkin para profesor ingin melihat para murid bertarung dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar mereka.

Tebakan hanyalah tebakan, mungkin juga para profesor menambahkan barang-barang tersebut hanya untuk membuat dimensi saku terlihat semakin realistis.

Ren membuka pintu sebelah dan melihat jika itu adalah sebuah kamar, prabotan seperti kasur dan lemari rusak dan di penuhi debu, di dinding dia melihat pedang dan perisai di pajang dengan santainya.

Melihat keduanya, Ren melempar tongkat yang dia pegang ke lantai.

" Ahh... kenapa tidak bilang dari awal, membuat orang malu saja! "

Ren menutupi wajahnya, dia merasa seperti orang bodoh karena membawa tongkat yang sebenarnya merupakan gantungan tirai kamarnya.

Setelah memenangkan dirinya, Ren berjalan mendekati pedang dan perisai itu lalu mengambilnya.

' Karena tidak ada monster di sekitar sini jadi kupikir tidak apa-apa untuk berlatih sebentar '

' Dan mungkin alasan aku gagal itu adalah karena gantungan tirai itu bukan senjata '

Sama seperti sebelumnya, Ren dengan hati-hati mengalirkan Aura miliknya, tipis dan ringan, ke pedang yang dia pedang.

PATAH!

Setelah beberapa saat di lapisi Aura, pedang itu patah, menyebarkan potongan besi tajam di lantai.

" Hahh...gagal lagi, mungkinkah sistem warior itu benar-benar palsu "

" Melihat seberapa rapi itu, orang yang membuatnya benar-benar niat, bahkan dia menaruhnya di sebuah pedang agar terlihat nyata..."

Ren tiba-tiba teringat bintang 2 dan 4, inti nama dari keduanya adalah Senjata Pusaka dan Satu Dengan Senjata.

Untuk membuat Senjata Pusaka, seseorang perlu memotong sedikit jiwanya untuk di masukkan kedalam senjata yang dia pilih, jika di lihat dari inti nama Bintang 4, level ini pastinya memiliki inti yang sama yaitu Bergabung dengan senjata.

" Aura... senjata "

Ren terus mengulangi kedua kata tersebut di dalam kepalanya.

" Mungkinkah maksudnya adalah mengalirkan Aura milikku ke senjata dan membuat kedua menyatu, seperti tubuh dengan Aura? "

Jika Ren pikirkan dengan baik, alasan kegagalannya mungkin bukan karena pengendalian Auranya yang buruk, tapi karena dia berpikir jika Aura yang dia alirkan ke senjata merupakan sesuatu yang terpisah.

" Sama seperti tubuh seseorang, aku harus membuat Auraku menjadi milik senjata "

Ren mengambil tongkat besi yang dia lempar, jika ini masih gagal, dia tidak harus berbuat apa lagi.

" Uh... bagaimana caraku untuk membuat Aura menyatu dengan tongkat ini..."

"...Yah aku akan membayangkan tongkat ini adalah tanganku "

Bayangkan senjata itu adalah bagian dari tanganmu, rasakan permukaannya yang halus dan dingin, jadikan itu bagian dari dirimu, setelah itu, alirkan Aura mu.

Aura berwarna biru menyelimuti tongkat besi, halus dan masih tidak teratur.

"..."

Tongkat besi itu tidak hancur, meskipun Ren sedikit menambahkan jumlah Aura, itu tetap tidak patah!

"...Aku berhasil! "

Ren akhirnya memahaminya, yang di maksud Aura Senjata bukanlah senjata yang di lapisi Aura pengguna, tapi senjata yang memiliki Aura karena di berikan oleh pengguna.

Saat Ren mengayunkan tongkatnya ke bawah, tongkat itu langsung patah.

"...."

" Mungkin karena aku masih belum sepenuhnya menganggap tongkat ini adalah bagian dari diriku..."

Setelah itu Ren keluar dari kamar untuk mencari benda yang bisa dia gunakan sebagai senjata, pada akhirnya dia hanya menemukan 2 pisau dapur, setidaknya itu lebih baik daripada tangan kosong.

Ren berlatih dengan pisau dapur yang dia temukan, dia berlatih agar sepenuhnya menyatu dengan senjatanya, agar senjatanya tidak hancur saat dia gunakan.

Setelah Auranya sempurna menjadi Aura Senjata, Ren akhirnya resmi menjadi Warior bintang 1, di level ini dia di bilang setara dengan Mage bintang 1.

" Bagus... yang tersisa hanyalah mempelajari teknik bertarung..."

Untuk sistem Mage, inti nama Bintang 1 adalah Akar Sihir, seseorang harus meningkatkan Inti Sihir di dalam tubuh mereka untuk bisa memvisualisasikan lingkaran sihir.

Sama dengan Warior yang bisa menggunakan Aura, kemampuan visualisasi lingkaran sihir akan berakhir tidak berguna jika tidak memiliki teknik.

Inilah masalah Ren sekarang, tempat dia berada sekarang adalah akademi sihir, mustahil ada teknik berjudul menebas leher orang dengan kayu di akademi, yang ada mungkin hanya menebas leher dengan sihir atribut angin.

" Hahh... untungnya teknik bertarung tidak serumit teknik sihir, tinggal dekati musuhnya lalu tebas kepalanya... mungkin "

Di saat Ren berpikir untuk membuat teknik bertarung simpel, dia mendengar suara langkah kaki yang berat, dari jendela dapur, dia memiliki sesosok makhluk muncul dari balik tembok rumah yang hancur.

Tingginya sekitar lima meter dengan panjang tujuh meter, memiliki empat kaki dan dua capit, lehernya panjang, kepalanya bulat sempurna dengan gigi tajam, tidak ada mata, hidung, dan telinga, hanya mulut, tubuhnya yang berwarna hitam terlihat berminyak.

" Tolong aku "

Kata monster itu dengan suara seorang gadis, meskipun dia meminta tolong tapi nadanya terdengar percaya diri.

' Freek... monster yang bisa meniru suara setelah memakan pemilik suara '

Ren pernah membaca tentang Freek, monster ini memiliki kemampuan deteksi yang kuat, anti racun, peniruan suara, dan capitnya dapat menciptakan hembusan angin yang mematikan!

Kelemahannya adalah dia tidak memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hidung untuk mencium aroma.

Freek adalah monster khusus dengan level bahaya 1, kabarnya dia dapat menghancurkan sebuah desa kecil dengan mudah!

Capit kiri Freek bergerak, mengeluarkan bunyi yang keras.

Hembusan angin hebat menabrak dinding di depan Ren, menghancurkannya menjadi berkeping-keping, pipi Ren terluka karena terserempet oleh pecahan kaca dari jendela di depannya, membuat rasa nyeri menyebar di area sekitar pipinya.

Melihat Freek datang, Ren tahu jika situasinya menjadi berbahaya.

" Cih..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!