Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dinda langsung melangkah ke kamarnya. Wanita itu merebahkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang. Rasanya… ada kepuasan kecil saat mengingat wajah mertua dan adik iparnya yang kelabakan, saat tahu uang bulanan dan biaya kuliah mereka ia hentikan.
"Ini belum seberapa… dibanding pengkhianatan kalian semua," gumamnya pelan, dengan lengkungan tipis di sudut bibirnya.
Saat Dinda hendak memejamkan mata, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Seketika ia terbangun. Dan benar saja… pria yang masuk itu adalah suaminya sendiri. Langkah Arya mendekat, lalu duduk di sisi ranjang.
"Din…" panggilnya pelan.
Dinda menoleh sekilas, lalu kembali menatap langit-langit kamar. "Mau apa kamu ke sini?" sahutnya datar.
"Kamu marah padaku?" tanya Arya hati-hati.
Dinda mendengus pelan. "Kau pikir sendiri saja."
Arya memejamkan mata sejenak, tangannya refleks memijat pelipisnya yang mulai terasa berat.
"Kalau memang aku salah, aku minta maaf. Tapi apa harus Ibu dan Airin yang menanggung akibatnya?" ucapnya, seolah beban itu adalah tanggung jawab Dinda.
Dinda langsung menoleh. Tatapannya tajam. "Bukannya aku sudah bilang, jangan pernah bergantung padaku," ucapnya tenang. "Karena aku bukan Dinda yang dulu."
Arya terdiam sesaat, namun tetap mencoba. "Din… tolong, kali ini saja bantu aku. Gaji bulan depan pasti aku ganti semua biaya. Jadi aku mohon, kasih uang itu ke Ibu dan Airin."
"Ganti?" ulang Dinda pelan.
Ia bangkit dari posisinya, lalu duduk menghadap Arya. "Dari dulu kamu selalu bilang seperti itu. Tapi nyatanya?" senyumnya tipis. "Uangmu habis untuk keperluanmu sendiri." Dengan nada yang lebih menekan, ia melanjutkan, "Dan bodohnya aku… tidak sadar dengan permainan licikmu itu."
"Din, aku nggak pernah berfoya-foya. Kamu tahu sendiri kan? Aku juga punya tanggungan," bela Arya cepat.
Dinda tersenyum tipis. Tatapannya nanar, penuh rasa muak. "Kau memang tidak berfoya-foya…" ucapnya pelan.
"Lalu liburan ke Bali bulan lalu… pakai uang siapa?"
Seketika Arya membeku. Tidak ada jawaban. Kata-kata itu seperti menghantamnya tanpa ampun. Ia bahkan tidak menyangka… Dinda mengetahui hal itu.
Sementara Dinda hanya menatapnya datar. "Ternyata… bukan cuma aku yang kamu bohongi. Tapi juga uang yang aku percayakan padamu," ucapnya lirih.
Arya menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, tiba-tiba terdengar tangisan bayi dari luar kamar sangat kencang dan melengking seolah tidak mau berhenti.
Dinda memalingkan wajahnya, terlihat tidak peduli. Sementara Arya langsung berdiri.
"Axel…" gumamnya, lalu bergegas keluar.
🍀🍀🍀🍀🍀
Di kamar sebelah, suasana benar-benar kacau. Axel menangis tanpa henti. Tubuh kecilnya meronta di dalam gendongan Luna.
"Mas… ini kenapa sih dari tadi gak mau diam," ucap Luna panik.
Arya segera menghampiri, mencoba menenangkan anaknya. "Shh… shh… sini sama Papa," ucapnya lembut.
Namun bukannya tenang, tangisan Axel justru semakin menjadi, karena memang kamar yang ia tempati bukan kamar yang berAC.
"Ya Allah… ini anak kenapa sih!" keluh Sintia yang ikut masuk ke kamar.
Airin juga menyusul dari belakang, wajahnya terlihat lelah, ditambah lagi dengan suara tangis yang memekakkan telinga.
"Sumpek banget di sini, Bu…" ucapnya sambil mengipas-ngipas.
Memang kamar itu terasa sempit dan pengap.Ditambah tangisan bayi yang tidak berhenti, membuat suasana semakin menyesakkan.
"Mas… kayaknya dia gak nyaman," ucap Luna lirih.
Arya mengernyit. "Maksud kamu?"
Luna menatap sekeliling kamar. "Kamar ini sempit… mungkin Axel gak biasa," lanjutnya pelan, hati-hati.
Tangisan Axel kembali pecah, kini lebih keras lagi, seolah membenarkan ucapan ibunya. Arya mulai terlihat gelisah.
Sementara Sintia menghela napas kasar. "Ya jelas gak nyaman! Dari dulu kamu tinggal di mana sih?"
Luna terdiam. Wajahnya menunduk, seolah tersinggung. Namun di balik itu. Ada sesuatu yang ia rencanakan.
"Mas…" panggilnya pelan.
Arya menoleh, meskipun sambil menenangkan sang anak.
"Kalau boleh… aku mau minta sesuatu."
"Apa?"
Luna menarik napas dalam. "Bagaimana kalau… kita pindah ke kamar utama saja?"
Deg.
Kalimat itu langsung membuat semua orang terdiam, permintaan Luna benar-benar diluar dugaan, tapi dengan percaya dirinya wanita itu mulai mengutarakan keinginannya.
"Itu kamar Mbak Dinda," sambung Luna pelan, namun terdengar jelas. "Tapi… di sana lebih luas. Axel juga pasti lebih nyaman."
Arya terdiam. Wajahnya menegang, seolah menimbang sesuatu yang tidak mudah diputuskan. Sementara Sintia justru terlihat mulai berpikir, lalu mengangguk kecil.
"Ya… ada benarnya juga," gumamnya. "Anak kecil memang butuh tempat yang nyaman."
Airin ikut menimpali tanpa ragu, "Iya, Mas. Kasihan Axel kalau terus kayak gini."
Axel kembali menangis kali ini semakin melengking dan tidak berhenti, seakan menekan keputusan yang harus segera diambil. Arya mengepalkan tangannya pelan. Pikirannya bercabang.
Di satu sisi, itu kamar Adinda… tempat yang selama ini menjadi ruang mereka berdua. Tempat yang penuh kenangan, yang bahkan belum lama ini masih ia tempati bersama wanita itu.
Namun di sisi lain, ada anaknya… darah dagingnya sendiri, yang menangis tanpa henti. Dan Luna… yang terus menatapnya dengan harapan, seperti menggantungkan keputusan itu sepenuhnya padanya.
"Mas…" lirih Luna sekali lagi, suaranya melemah, tapi justru semakin menekan.
Arya menghembuskan napas berat. Keputusan itu terasa begitu sulit, dan apa pun yang ia pilih tetap akan menyakiti salah satu pihak.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu yang sedikit terbuka, Adinda berdiri diam. Wanita itu mendengar semuanya… tanpa terlewat satu kata pun.
Bersambung ....