NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH TIGA

Di dalam mobil, atmosfer sangat hening. Adelia duduk dengan tangan di atas pangkuannya, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Bastian.

Bastian terkadang meliriknya, senyum kecil terus muncul tanpa alasan.

"Kamu jarang cerita soal teman-teman kamu," katanya

sambil menyetir.

Adelia menoleh sedikit. "Sudah lama saya nggak ketemu mereka."

Bastian mengangguk. "Papa boleh kenal sama mereka?"

"Tidak perlu, Pa. Nanti saya cerita kalau sudah pulang saja," ucap Adelia.

Bastian hanya tersenyum samar.

Mobil melaju melewati jalan kompleks, keluar ke jalan raya. Lalu saat lampu merah, Bastian memalingkan wajah ke Adelia, menatapnya lama.

Adelia merasa tegang.

"Del..."

"I-iya, Pa?"

Bastian memiringkan kepala sedikit. "Kamu cantik banget hari ini."

Adelia menunduk. "Terima kasih, Pa..."

Tiba-tiba, tanpa peringatan apa pun, Bastian mencondongkan tubuh dan mengecup pipi Adelia.

Cup!

Bukan ciuman romantis, bukan ciuman lembut.

Melainkan gestur memaksa, melanggar batas, membuat Adelia langsung membeku.

"Pa-!" Adelia menegang, wajahnya langsung panik.

Bastian duduk kembali, seolah tidak melakukan kesalahan. "Itu cuma bentuk kasih sayang orang tua ke anaknya," katanya santai. "Jangan kaget begitu!"

Adelia tidak bisa bicara. Dadanya berdebar keras sampai sakit.

Mobil kembali melaju.

Dan perjalanan ke tempat teman-temannya terasa seperti terjebak di dalam ruang sempit tak berudara.

÷÷÷

Adelia turun dari mobil dengan tangan sedikit bergetar. Ia memaksakan senyuman sebelum menutup pintu. Di balik kaca, ia tahu betul siapa yang duduk di dalam mobil itu.

Bastian.

Pria itu bahkan tidak berusaha menyembunyikannya. Ia menatap Adelia melalui kaca mobil, kemudian mengangguk pelan seolah mengatakan "Papa di sini saja." Mobil itu tetap menyala. Tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya.

Adelia menelan ludah dan pura-pura tidak melihat. Ia berjalan cepat menuju pintu café, memegang tas lebih erat, seakan benda itu bisa menjadi tameng dari kecemasan yang terus menyergap.

Saat ia membuka pintu café, aroma kopi dan pastry segar menyambutnya. Musik lembut mengalun, membuat suasana terasa hangat dan ramah. Teman-temannya sudah duduk di meja pojok, tertawa dan mengobrol. Begitu melihat Adelia datang, mereka langsung berseru senang.

"Del!! Akhirnya kamu datang juga!"

"Cantik banget kamu sekarang!"

"Aduh, aura istri CEO memang beda!"

Adelia tersenyum lebar, senyuman yang dilatih sejak turun dari mobil tadi.

"Hai semuanya..." ucapnya sambil duduk. "Aku kangen banget sama kalian."

Salah satu temannya, Sani, langsung memeluknya sebentar. "Kita pikir kamu nggak dateng! Soalnya kayaknya kamu sibuk banget hidupnya."

"Sibuk dikit," jawab Adel sambil tersenyum malu.

"Tapi, masih sempet lah buat kalian."

Percakapan langsung mengalir, membahas kabar, pekerjaan, pasangan masing-masing, bahkan gosip kecil yang biasanya mereka dengar di media sosial. Adelia mencoba mengikuti, menertawakan beberapa cerita, bahkan ikut bergosip sedikit meski pikirannya tidak sepenuhnya di sana.

Di luar, ia tahu Bastian masih memantau.

Ia berusaha tidak memikirkan ciuman di pipi tadi, tetapi pipinya masih terasa hangat dan tubuhnya masih tegang setiap kali ingatan itu muncul.

"Del," panggil Sani sambil mencondongkan tubuh.

"Kamu gimana? Rumah tangga kamu oke kan?"

Adelia tersenyum dan menunduk sedikit.

"Alhamdulillah, baik-baik aja. Mas Lukas orangnya sayang banget sama aku."

"Awwwww ih so sweet," sela temannya, Zara. "Eh tapi suami kamu itu katanya lagi di luar kota, ya?"

Adelia mengangguk. "Iya, dia pergi kerja beberapa hari. Aku jadi sendirian deh di rumah."

"Kesepian banget dong kamu?" tanya Mira.

Adelia tersenyum kaku. "Sedikit."

"Ya ampun, Del... kamu harus cari aktivitas," ujar Sani sambil menyentuh tangan Adelia. "Daripada di rumah sendirian nunggu suami pulang. Kamu tuh cantik, pintar, lembut lagi. Kamu cocok kerja!"

Adelia berkedip. "Kerja? Kerja apa?"

"Aku ada kenalan yang butuh admin butik. Nggak berat kok kerjanya, jamnya fleksibel, dan lingkungannya aman. Cocok banget buat kamu!" ucap Sani.

Teman-temannya ikut mengangguk setuju.

"Iya Del! Kamu nggak bisa terus-terusan di rumah, biar hidup kamu nggak cuma nunggu suami pulang doang."

Adelia menghela napas pelan. Ia memang ingin punya kegiatan, sesuatu yang bisa membuatnya keluar rumah dan jauh dari Bastian. Tapi, ia harus hati-hati dalam bicara.

"Kayaknya bagus... tapi aku harus bicara sama mas Lukas dulu," ucap Adelia.

"Itu mah gampang! Suami mana yang nggak bangga istrinya produktif?" kata Mira.

Adelia hanya tersenyum. Rasanya ingin langsung menerima pekerjaan itu saja. Tapi, ia tahu segala keputusan harus melewati situasi rumah yang penuh tekanan.

Teman-temannya kembali pada obrolan ringan. Adelia sesekali ikut tertawa, tapi matanya melirik ke luar jendela.

Mobil hitam itu masih di sana. Mesin masih menyala. Bastian masih mengawasinya seperti bayangan gelap yang menolak pergi.

Adelia menggigit bibir bawahnya. "Ya Tuhan...sampai kapan aku harus begini?"

Sementara itu, di kota tempat Lukas menginap, suasana berbeda sangat drastis.

Bar itu elegan, penuh cahaya neon lembut, musik lounge yang menenangkan, dan klien yang terlihat profesional. Lukas datang bersama Sean dan Ririn. Mereka sudah berganti pakaian formal, siap menghadapi pertemuan penting malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!