Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Gosip Kantor
Kantor besar selalu lapar pada cerita, dan semakin tinggi gedungnya biasanya semakin cepat kabar berlari dari meja ke meja. Jika tidak ada drama sungguhan, orang-orang akan membuatnya sendiri dari tatapan singkat di lorong, perubahan jadwal rapat, atau kebetulan yang terjadi lebih dari dua kali. Di Alvero Group, bahan pembicaraan terbaru datang dari lantai tiga puluh satu, tempat keputusan besar dibuat dan rasa ingin tahu kecil dipelihara setiap hari.
Nama yang paling sering disebut minggu itu adalah Elvara. Wanita yang baru beberapa waktu bergabung lalu dipindahkan ke divisi pusat. Wanita yang duduk paling dekat dengan ruang CEO. Wanita yang beberapa kali terlihat keluar masuk ruangan Zayden dengan map di tangan dan wajah datar. Dalam lingkungan kerja seperti itu, tiga fakta sederhana sudah cukup untuk melahirkan puluhan versi cerita.
Awalnya hanya bisik tipis di pantry saat mesin kopi bekerja. Ada yang berkata kariernya terlalu cepat naik. Ada yang menyebut kedekatan dengan atasan selalu membuka jalan pintas. Ada pula yang mengaku melihat cara Pak Zayden memandangnya berbeda dari orang lain, seolah mereka ahli membaca isi kepala orang dari jarak lima meter.
Lalu bisik-bisik itu memburuk seperti biasa. Kata-kata yang tak berani diucapkan terang-terangan mulai keluar saat pemiliknya merasa dikelilingi teman. Elvara disebut simpanan. Disebut memakai wajah cantik untuk menukar posisi. Disebut janda beranak satu yang sedang mencari pegangan aman. Sebagian besar orang yang bicara bahkan tak tahu satu pun fakta tentang hidupnya, tetapi kebohongan terasa menyenangkan jika diucapkan ramai-ramai.
Elvara mendengar potongan cerita itu sejak dua hari lalu. Ia mendengarnya dari suara yang terlalu keras di pantry, dari dua orang yang pura-pura berbisik di lift, dari tatapan yang berhenti terlalu lama saat ia berjalan ke ruang rapat. Ia memilih diam bukan karena tak mampu melawan, melainkan karena energinya terlalu berharga untuk manusia yang hidup dari gosip. Pekerjaannya sudah padat, kepalanya sudah penuh, dan setiap malam ada Rheon yang lebih layak menerima sisa tenaganya.
Namun diam sering disalahartikan sebagai izin.
Pagi itu ia masuk pantry untuk mengambil air hangat. Ruangan kecil itu sudah ditempati Mira dari finance, Sella dari procurement, dan staf baru bernama Rina yang tampaknya cepat belajar budaya buruk kantor. Begitu melihat Elvara masuk, percakapan mereka berhenti sesaat, lalu berganti senyum tipis yang terlalu manis.
"Pagi," kata Mira.
"Pagi," jawab Elvara singkat.
Ia mengambil gelas kertas, menaruh teh celup, lalu menekan tombol dispenser. Uap tipis naik ke udara, sementara dari belakang terdengar suara Sella yang sengaja dibuat cukup keras.
"Kadang iri juga ya. Ada orang kerja sebentar, langsung dekat atasan."
Rina tertawa kecil. "Dekatnya pakai KPI apa?"
Mira mengaduk kopinya perlahan. "Bukan KPI. Mungkin chemistry."
Tiga orang itu tertawa seolah baru membuat lelucon cerdas. Elvara menutup gelasnya dengan tenang, lalu berbalik menghadap mereka.
"Kalau sudah selesai bicara tentang saya, tolong geser sedikit. Saya mau lewat."
Mira mengangkat alis. "Sensitif sekali. Kami cuma bercanda."
"Orang yang suka menghina memang senang menyebutnya bercanda."
Senyum Mira memudar. "Berani juga."
Elvara menatap lurus tanpa meninggikan suara. "Saya lebih berani kerja keras daripada kerja mulut."
Ia melangkah keluar tanpa menunggu jawaban. Di belakangnya, suara tawa berubah menjadi bisik yang lebih tajam, tetapi ia tak menoleh lagi. Tidak semua suara layak didengar.
Menjelang siang, suasana lantai tiga puluh satu terasa berbeda. Beberapa orang memandangnya terlalu lama lalu cepat-cepat menunduk. Dua staf legal menghentikan obrolan saat ia lewat. Bahkan grup chat internal yang biasanya ramai mendadak sepi ketika namanya muncul di notifikasi pembagian tugas.
Daniel datang membawa makan siang dan duduk di seberang mejanya. Wajah pria itu biasanya santai, tetapi kali ini tampak serius.
"Kamu dengar rumor itu?" tanyanya.
"Dengar."
"Kalau butuh saksi bahwa kamu kerja seperti mesin, saya siap pidato di tengah lobby."
Elvara tersenyum tipis. "Terima kasih. Tapi orang yang ingin percaya fitnah tidak tertarik pada saksi."
Daniel menyandarkan punggung ke kursi. "Mira keterlaluan."
"Biarkan."
"Masalahnya gosip sudah sampai lantai lain."
Ia membuka kotak makan siang lalu menutupnya lagi. Nafsu makan menghilang sejak pagi. Daniel menatapnya beberapa detik.
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku cuma capek."
Jawaban itu cukup jujur untuk saat ini.
Sore hari rapat besar diadakan di ruang konferensi utama. Kepala divisi dari berbagai departemen hadir dengan laptop terbuka dan ekspresi waspada. Elvara duduk di sisi kanan meja panjang sambil menyiapkan notulen. Mira berada dua kursi darinya dengan riasan rapi dan kepercayaan diri yang tampak dipaksakan.
Lima menit kemudian Zayden masuk. Seluruh ruangan otomatis tegak. Ia berjalan ke kursi utama dengan langkah tenang, tetapi ada sesuatu yang lebih keras dari biasanya di wajahnya. Tatapan dingin, rahang tegas, dan kesabaran yang tampaknya tipis.
Rapat dimulai dengan angka kuartal, efisiensi operasional, dan target ekspansi regional. Zayden berbicara singkat, jelas, tanpa satu kata mubazir. Semua orang sibuk mencatat karena tak ada yang ingin ditanya ulang olehnya.
Saat pembahasan budget marketing, Mira mengangkat tangan.
"Pak, saya ada catatan soal penambahan alokasi untuk central strategy."
"Bicara."
Mira membuka file sambil mengatur nada suara seolah sangat profesional. "Menurut saya beberapa keputusan belakangan terlalu personal dan tidak mengikuti struktur normal."
Ruangan langsung tenang. Elvara mengangkat kepala perlahan.
Mira melanjutkan, "Ada staf tertentu yang mendapat akses dan perhatian berlebih. Ini bisa menimbulkan persepsi kurang sehat di internal."
Semua orang tahu arah kalimat itu. Daniel menatap meja seperti ingin menghilang ke dalam kayu.
Zayden menatap Mira tanpa ekspresi.
"Nama."
Mira menelan ludah, tetapi telanjur maju. "Bu Elvara."
Beberapa orang menahan napas.
"Saya rasa perusahaan perlu menjaga profesionalisme," lanjutnya nekat. "Banyak yang membicarakan hubungan khusus..."
"Berhenti."
Satu kata itu memotong ruangan lebih tajam daripada bentakan. Zayden berdiri perlahan dari kursinya lalu berjalan mengitari meja. Ia berhenti tepat di belakang Mira, cukup dekat hingga wanita itu menegang.
"Ulangi kalimat terakhir."
Suara rendah itu membuat suhu ruangan terasa turun.
"Saya hanya menyampaikan persepsi staf, Pak."
"Saya minta ulangi."
Mira menggenggam pulpen terlalu keras. "Tentang... hubungan khusus."
Zayden menatap seluruh ruangan satu per satu. Tak ada satu pun orang berani menahan pandangannya.
"Siapa yang membicarakan?"
Tak ada jawaban. Kursi berderit kecil, seseorang pura-pura membuka catatan, seseorang lain mendadak sibuk dengan laptop mati.
"Baik," katanya dingin. "Berarti saya jelaskan."
Ia kembali ke kepala meja dan meletakkan kedua telapak tangan di permukaan kaca.
"Bu Elvara dipindahkan ke divisi pusat karena kompetensi. Saya yang memilih. Saya yang memberi tugas. Saya yang mengevaluasi hasil kerjanya."
Tatapannya menyapu ruangan.
"Kalau ada yang tidak puas, tantang keputusan saya dengan data."
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tajam.
"Kalau memilih menyerang reputasi perempuan yang bekerja lebih keras dari kalian, berarti kalian lemah."
Tak ada yang bergerak.
Mira mulai pucat. "Pak, saya tidak bermaksud..."
"Anda menyebarkan fitnah?"
"Saya cuma mendengar..."
"Dari siapa?"
Bibir Mira bergetar, tetapi tak ada nama keluar.
Zayden menekan tombol interkom. "HR masuk sekarang."
Beberapa menit kemudian Selena dari HR datang dengan wajah bingung. Begitu melihat suasana, ia langsung menegakkan punggung.
"Pak?"
"Catat. Mulai hari ini Mira Santosa diberhentikan karena pelanggaran etika, pencemaran reputasi rekan kerja, dan menciptakan lingkungan kerja toksik."
Ruangan nyaris tak bernapas.
Mira berdiri mendadak. "Pak, tolong. Ini terlalu berlebihan. Saya cuma bicara."
"Justru itu masalah Anda. Terlalu mudah bicara."
"Pak, saya punya keluarga."
"Seharusnya dipikirkan sebelum menghancurkan nama orang lain."
Air mata turun di pipinya. "Beri saya peringatan saja."
Zayden menatapnya tanpa goyah. "Saya bukan sekolah."
Selena mendekat hati-hati. "Bu Mira, mari ikut saya."
Mira melihat sekeliling mencari simpati, tetapi tak ada satu pun wajah yang berani menatap balik. Ia keluar dengan langkah goyah, dan pintu menutup di belakangnya.
Keheningan setelah itu terasa lebih keras daripada keributan mana pun.
Rapat dilanjutkan seolah tak terjadi apa-apa. Zayden kembali membahas budget dan jadwal implementasi dengan suara datar. Semua orang menulis, tetapi jelas tak ada yang benar-benar fokus. Pikiran mereka masih tertinggal pada adegan barusan.
Elvara duduk diam dengan jari dingin di atas keyboard. Ia terbiasa melindungi diri sendiri. Ia tidak terbiasa ada orang lain melakukannya dengan cara sekejam itu.
Saat rapat selesai, orang-orang keluar nyaris tanpa suara. Tidak ada bisik-bisik, tidak ada senyum sinis, tidak ada yang berani melirik ke mejanya terlalu lama.
Daniel berhenti di samping kursinya.
"Kalau aku jadi kamu, aku juga bingung."
"Aku memang bingung."
"Lelaki itu baru saja mengeksekusi karier orang demi namamu."
"Jangan dilebihkan."
Daniel menoleh ke arah pintu ruang CEO. "Aku rasa justru masih kurang dilebihkan."
Ia pergi sebelum Elvara sempat menjawab.
Menjelang malam, interkom di mejanya menyala.
"Masuk."
Elvara menarik napas lalu melangkah ke ruang CEO. Zayden sedang membuka laptop dan memeriksa email, seolah sore tadi hanya satu agenda biasa di antara jadwal padatnya.
"Bapak memanggil saya."
"Duduk."
"Saya lebih cepat kalau berdiri."
"Terserah."
Ada jeda yang canggung. Ia jarang merasa canggung di depannya, biasanya yang ada hanya kesal.
"Soal tadi..." ucap Elvara lebih dulu.
"Saya tidak suka kekacauan di kantor."
"Itu alasan resmi?"
Zayden mengangkat kepala. "Kamu ingin alasan pribadi?"
"Saya ingin tahu kenapa Bapak sejauh itu."
Ia menutup laptop perlahan.
"Karena saya tidak suka nama kamu disentuh sembarangan."
Kalimat itu menghantam lebih keras karena diucapkan tanpa emosi berlebih. Elvara menahan napas beberapa detik.
"Bapak tidak perlu melakukan itu."
"Saya sudah lakukan."
"Mira punya keluarga."
"Dan kamu punya anak."
Ia terdiam.
"Kalau rumor itu terus jalan," lanjut Zayden, "dampaknya akan sampai ke Rheon cepat atau lambat."
Nada suaranya tetap datar, tetapi ada sesuatu yang tak bisa ia abaikan. Perhatian yang terlalu personal. Proteksi yang tak diminta. Kepemilikan yang belum berhak ia pegang.
"Jangan bawa Rheon ke kantor ini," bisik Elvara.
"Kalau kantor ini menyerang ibunya, anak itu sudah dibawa masuk sejak awal."
Ia tak punya jawaban untuk itu.
Zayden berdiri dan berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tetapi cukup membuat tubuh Elvara otomatis tegang.
"Kamu marah saya memecatnya?"
"Saya... tidak tahu harus merasa apa."
"Itu baru."
Ia berhenti cukup dekat. Tatapannya turun sesaat ke wajah Elvara lalu kembali ke mata.
"Saya tahu satu hal."
"Apa?"
"Siapa pun yang menyentuh hidupmu dengan cara kotor, saya akan hancurkan."
Dada Elvara menegang. Ia membenci betapa jujurnya tubuhnya merespons pria ini.
"Itu bukan kalimat bos ke staf."
"Mungkin."
Ia menatap tanpa berkedip.
"Makanya saya curiga ada hubungan yang lebih penting di antara kita."
Elvara mundur setengah langkah.
"Bapak selalu mengubah semuanya jadi teka-teki."
"Dan kamu selalu lari dari jawabannya."
Ia berbalik cepat menuju pintu. Tangannya sudah menyentuh gagang saat suara Zayden terdengar lagi.
"Besok jemput Rheon jam berapa?"
Ia menoleh tajam. "Kenapa?"
"Supaya saya tidak telat ikut murka kalau ada yang mengganggunya juga."
Elvara keluar tanpa menjawab. Langkahnya tetap lurus sampai pintu tertutup, tetapi begitu berada di luar, napasnya goyah.
Karena kini ia tahu satu hal yang jauh lebih berbahaya daripada rumor kantor.
Zayden bukan lagi sekadar curiga. Ia mulai bertindak seperti pria yang merasa punya hak atas hidup mereka.