Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhitungan Modal
Suara Titi Kusumo terpotong, bukan karena takut, melainkan karena keputusan yang dingin. Pintu gudang di belakang Agus dan Endang tidak terbuka, tetapi ia mendengar suara langkah kaki berat menjauh, suara yang menghilang secepat ia datang. Entitas itu telah pergi, atau setidaknya, mundur sementara.
Keheningan yang tersisa jauh lebih menakutkan daripada serangan itu sendiri. Itu adalah jeda yang dipenuhi janji pembalasan.
Endang jatuh terduduk di lantai gudang yang berdebu. "Dia pergi," bisiknya, suaranya gemetar.
"Dia tidak pergi, dia hanya menunggu," balas Agus, suaranya serak. Ia menoleh ke belakang, menatap Sari yang masih diikat. Tali di tangannya sudah kendur, seolah-olah ia sengaja melepaskannya setelah pesannya tersampaikan.
"Kau lihat, Endang?" kata Agus, menunjuk Sari. "Ini bukan lagi Sari. Dia sudah menjadi wadah. Wadah yang marah. Wadah yang harus kita gunakan."
Endang menggelengkan kepalanya, air matanya menetes di pipi yang kotor. "Tidak, Gus. Kita harus melepaskannya. Kita harus mengaku. Ini sudah terlalu jauh."
Agus tidak mendengarkan. Kecepatan Titi Kusumo menarik kembali semua ilusi, membunuh Mbah Jari, dan kini menguasai Sari, telah menghancurkan ego Agus. Tetapi alih-alih menyerah, kekalahan itu hanya memicu insting fundamentalnya: kalkulasi.
Dia harus tahu seberapa dalam lubang yang ia gali.
Agus merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet yang tampak usang di antara kekayaan yang seharusnya ia miliki. Di dalamnya, ada sisa uang tunai yang ia ambil kembali dari Pondok Kali Mati (Rp50 juta) dan beberapa lembar ratusan ribu yang tersisa dari sisa gajinya sebelum dipecat.
Ia mulai menghitung, menjauhkan dirinya dari Sari yang kini bernapas berat.
"Kita menghabiskan dua puluh juta untuk Kuskandar," gumam Agus, menyusun tumpukan uang di lantai gudang. "Lima juta untuk Sari, sebagai uang muka. Seratus juta sudah ditransfer ke Mbah Jari untuk ritual Topeng Sukma Ganda yang sekarang sudah gagal total."
"Dan apa yang kita dapatkan dari seratus juta itu, Gus?" Endang menyela, nada suaranya tajam. "Mayat seorang dukun dan Sari yang dirasuki hantu."
"Diam, Endang! Aku sedang berpikir!" bentak Agus. Ia menepis tangan Endang yang mencoba menyentuh bahunya.
Ia menghela napas, berusaha fokus. Kerugian Rp100 juta itu terasa seperti pukulan di ulu hatinya. Itu adalah uang pinjaman, uang haram, uang yang seharusnya menjadi kunci untuk kekayaan yang tak terbatas. Kini, uang itu hilang sia-sia.
"Yang tersisa..." Agus menghitung uang tunai yang tersisa di tangannya. Rp50 juta, ditambah sekitar Rp3,2 juta dari tabungan saku. "Lima puluh tiga juta dua ratus ribu rupiah. Ini semua yang kita punya. Semua," katanya, suaranya hampir tak terdengar.
Endang menatap tumpukan uang itu dengan jijik. "Uang itu tidak bisa menyelamatkan kita dari Titi Kusumo, Gus. Uang itu tidak bisa membeli hidup Sari kembali!"
"Bisa!" seru Agus, berdiri. "Uang ini harus bisa! Aku sudah mempertaruhkan segalanya! Aku sudah menjual rahasia Titi Kusumo, aku sudah menipu dia, dan aku sudah kehilangan seratus juta! Aku tidak akan rugi sebesar ini tanpa mendapatkan apa-apa!"
Wajah Agus dipenuhi keringat dan debu. Ia mulai berjalan mondar-mandir di gudang sempit itu, otaknya bekerja keras, mencari celah.
"Jika aku menyerah sekarang, kita kembali ke titik nol, Endang. Kecuali kali ini, kita akan mati secara spiritual dan finansial. Titi Kusumo tidak akan melepaskan kita. Dia akan menuntut tumbal darah, seperti yang terjadi pada Endang palsu di mobil, dan seperti yang terjadi pada Mbah Jari!"
"Tapi ritualnya gagal! Mbah Jari mati! Sari sudah dikuasai! Kita tidak bisa melanjutkan rencana penipuan ini!" Endang berteriak, frustrasi.
"Kita harus melanjutkan, dengan atau tanpa Mbah Jari," kata Agus, tatapannya beralih ke Sari. "Titi Kusumo bilang dia akan menunggu. Dia memberi kita waktu. Dia ingin Endang yang asli menyerah secara spiritual. Dia ingin kita putus asa agar Sari menjadi wadah yang sempurna untuk pengorbanan yang tulus."
Endang menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan menyerah pada prinsipku, Gus. Aku tidak akan membiarkan Sari mati demi kekayaan fana!"
"Kau tidak punya pilihan!" Agus menunduk, matanya menatap Endang dengan intensitas yang mengerikan. "Kau tidak melihatnya? Kita sudah berinvestasi terlalu banyak! Lima puluh tiga juta ini tidak cukup untuk menyewa Kyai Rahmat atau dukun tingkat atas lainnya untuk melawan Titi Kusumo. Kita tidak punya pilihan untuk melawan! Pilihan kita hanya satu: menipu dia lagi, atau mati!"
Ia meraih tumpukan uang itu, meremasnya di tangannya.
"Lima puluh tiga juta ini adalah modal terakhir kita," bisik Agus, kini berbicara pada dirinya sendiri. "Jika aku menggunakan uang ini untuk lari, kita hanya akan hidup sebagai buronan miskin, dan Titi Kusumo akan mengejar kita sampai ke ujung dunia. Jika aku menggunakan uang ini untuk mencari Mbah Jari yang baru, aku harus mengeluarkan setidaknya seratus juta lagi. Dan aku tidak punya waktu untuk mencari pinjaman lagi, apalagi setelah insiden di kantor Bapak Tirta!"
Ia menEndang tumpukan karung goni di sebelahnya, menunjukkan kemarahan yang ia rasakan terhadap kebodohan dan kegagalannya sendiri.
"Aku harus mencari Kuskandar lagi," putus Agus. "Dia pasti tahu dukun hitam lain. Seseorang yang bisa menyelesaikan Topeng Sukma Ganda, meskipun tanpa Mbah Jari."
Endang menatapnya dengan pandangan kosong. "Dan kau akan membayar dengan apa? Uang yang tersisa ini? Uang itu hanya cukup untuk membeli waktu, Gus."
"Aku akan menggunakan ini sebagai jaminan!" balas Agus. "Aku akan bilang, sisa kekayaan Raden Titi Kusumo akan menjadi milik dukun itu setelah ritual berhasil! Aku akan menjual janji palsu lagi!"
Agus bergerak cepat, mengambil ponselnya.
"Aku akan pergi sekarang. Kau tunggu di sini. Jaga Sari," perintah Agus, berjalan menuju pintu gudang.
"Tunggu!" Endang meraih pergelangan tangan Agus. "Jika kau keluar dan mencari dukun lain, bukankah kau hanya mengulangi kesalahan yang sama? Bukankah itu akan membuat Titi Kusumo semakin marah?"
Agus menatap Endang, matanya keras. "Aku tidak peduli. Aku harus berhasil. Aku harus menutupi biaya seratus juta yang hilang itu. Jika aku tidak berhasil, aku tidak hanya akan bangkrut, tetapi aku juga akan mati, Endang. Dan kau akan menyusulku."
Ia menarik tangannya dari cengkeraman Endang.
"Aku akan kembali sebelum subuh. Jaga gudang ini. Jangan biarkan Sari bicara padamu. Jangan biarkan dia menipumu," kata Agus, lalu ia membuka kunci pintu gudang.
Saat ia menarik pintu itu, ia melihat ke belakang. Sari, yang tadinya diam, kini menyeringai.
"Aku tidak butuh penipuan lagi, Agus," bisik Sari, suaranya kembali menjadi suara pengantin wanita kuno yang dingin. "Pangeran hanya butuh... kejujuran. Dan aku akan menjadi kejujuran itu."
Agus merinding. Ia tahu ia tidak bisa membiarkan Sari di gudang sendirian bersama Endang.
"Aku akan mengunci pintunya dari luar," kata Agus pada Endang. "Jangan buka untuk siapa pun."
"Gus!" panggil Endang, panik. "Aku takut sendirian bersamanya!"
"Kau harus kuat, Endang! Demi lima puluh tiga juta terakhir kita!" raung Agus.
Ia membanting pintu gudang, menguncinya, dan berlari menuju mobil cacatnya. Ia harus segera menemui Kuskandar.
Ia harus mencari jalan keluar, meskipun itu berarti mengorbankan sisa moral dan uang terakhirnya.
Agus menyalakan mobil. Saat ia mengemudi perlahan menjauhi rumah, ia melihat ke belakang. Di jendela kamar Endang, ia melihat sekilas Endang berdiri, menatapnya. Namun, di samping Endang, ada bayangan Sari, yang kini berdiri tegak, tidak terikat, dan memeluk Endang dari belakang.
Agus menginjak rem, jantungnya berdebar. Itu hanya ilusi, dia yakin. Sari terkunci di gudang.
Tiba-tiba, dia mendengar suara telepon berdering di kursi penumpang. Itu adalah ponselnya. Nomor tak dikenal.
Agus ragu-ragu, lalu mengangkatnya.
"Halo?"
"Agus," sebuah suara berat, serak, tetapi familiar. "Kau mengemudi kemana, pengecut?"
"Kuskandar? Kenapa kau menelepon dari nomor ini?"