NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Sandiwara Paling Sempurna

Sesuai permintaan Chae-young, tidak ada pesta pora yang memuakkan atau gaun pengantin seberat puluhan kilogram. Hanya ada sebuah ruangan administrasi yang tenang, goresan pena di atas dokumen negara, dan stempel resmi yang menyatakan bahwa Matteo Adrian Reins Smith dan Park Chae-young kini sah sebagai suami istri di mata hukum.

Namun, dunia luar tidak akan diam sebelum mereka mendapatkan daging yang mereka cari. Dewan direksi M-Nexus mulai gelisah dengan fluktuasi saham, dan Matteo—dengan kecerdikannya—memutuskan untuk menggunakan momen ini untuk membungkam semua orang sekaligus.

Dua hari yang lalu setelah peresmian status suami istri itu terjadi secara dadakan. Aula konferensi di gedung M-Nexus disulap menjadi ruang yang lebih hangat, tidak sekaku biasanya.

Ratusan wartawan sudah duduk dengan napas tertahan saat Matteo melangkah masuk, menggandeng tangan Chae-young yang tampak sangat anggun dengan dress satin berwarna pearl white. Di barisan depan, Chan-yeol dan Chae-rin duduk didampingi Soo-hyun, menatap orang tua mereka dengan binar mata bangga.

Matteo meletakkan tangannya di sandaran kursi Chae-young, pose yang sangat protektif sebelum sesi tanya jawab dimulai.

Seorang wartawan senior berdiri, suaranya lantang. "Tuan Matteo, beredar kabar miring bahwa alasan Anda lama di Manila adalah karena menyukai adik ipar Anda sendiri, istri dari Mark Smith. Apa komentar Anda?"

Matteo menyesap air mineralnya dengan tenang, lalu tersenyum tipis—senyum yang tampak tulus namun penuh perhitungan. "Menyukai? Itu berita yang sangat keliru. Sebenarnya, adik ipar saya adalah teman masa kecil saya. Keluarga kami sempat menjodohkan kami dulu, tapi perjodohan itu tidak pernah terjadi..."

Matteo menoleh ke arah Chae-young, tatapannya mendadak melembut seolah hanya ada mereka berdua di sana. "...karena saat itu, saya sudah memiliki kekasih yang sangat saya cintai, yaitu wanita yang duduk di samping saya ini."

Bisik-bisik riuh langsung memenuhi ruangan. Chae-young hanya tersenyum tipis, meski dalam hati ia berdecak kagum pada bakat akting suaminya yang luar biasa ini.

"Lalu bagaimana dengan nyonya Chae-young?" wartawan lain menyambar. "Berita yang beredar mengatakan bahwa anak-anak Anda lahir di luar pernikahan lima tahun lalu. Benarkah demikian?"

Matteo menggeleng tegas, rahangnya mengeras menunjukkan otoritas. "Itu juga tidak benar. Kami sebenarnya sudah menikah lima tahun yang lalu. Alasan kenapa kami merahasiakannya adalah karena privasi. Saat itu, istri saya sedang mengejar impiannya sebagai desainer, dan saya pun baru setahun membangun fondasi bisnis saya. Kami sepakat untuk tidak membiarkan sorot lampu merusak fokus kami."

"Apakah Anda merasa malu memiliki anak di usia muda sehingga harus menyembunyikannya selama ini, Tuan Smith?" tanya seorang wartawan dengan nada sedikit memancing.

Matteo baru saja hendak membuka mulut dengan nada bicara yang mulai dingin, namun tiba-tiba Chae-young memajukan miknya. Ia mengambil alih kendali dengan ketenangan seorang ratu.

"Izinkan saya meluruskan hal ini," ucap Chae-young, suaranya jernih dan tegas. "Soal privasi itu adalah murni kemauan saya. Saya yang meminta agar pernikahan kami tetap menjadi urusan pribadi keluarga. Dan suami saya..." ia melirik Matteo dengan tatapan yang seolah penuh cinta, "...dia adalah pria yang sangat luar biasa karena sangat menghargai dan menghormati keputusan saya, meskipun itu sulit baginya."

Matteo tertegun sejenak. Ia menatap Chae-young, tidak menyangka wanita itu akan membela martabatnya sehebat itu di depan kamera. Ia meraih tangan Chae-young di bawah meja dan meremasnya lembut—sebuah tanda terima kasih yang tulus di tengah sandiwara besar ini.

Setelah konferensi pers dinyatakan selesai, Matteo dan Chae-young berjalan keluar menuju ruang tunggu privat. Begitu pintu tertutup dan kilatan kamera menghilang, Chae-young langsung melepaskan tangannya dari genggaman Matteo.

"Akting yang bagus, Tuan Smith," goda Chae-young sambil merapikan rambutnya.

"Kau juga tidak buruk, Nyonya Park," balas Matteo dengan senyum lebar yang jarang diperlihatkan. "Kau menyelamatkanku dari pertanyaan menjebak tadi."

Tiba-tiba, dua tubuh kecil menubruk kaki mereka. Chan-yeol dan Chae-rin berlari masuk dengan wajah penuh kemenangan.

"Daddy keren sekali tadi! Semua orang langsung diam!" seru Chan-yeol, wajahnya tampak sangat lega. Beban anak tanpa ayah seolah terangkat sepenuhnya dari pundak kecilnya.

"Mommy juga cantik seperti aku!" Chae-rin memeluk pinggang Chae-young.

Matteo berlutut, merangkul kedua anaknya. "Sekarang, tidak akan ada lagi yang berani bicara macam-macam tentang kalian. Kita adalah satu keluarga yang keren. Okay?"

Chae-young menatap pemandangan itu dari balik bahunya. Meskipun ini diawali dengan paksaan dan sandiwara depan kamera, melihat binar bahagia di mata anak-anaknya membuat ia merasa bahwa keputusannya tidak salah.

Namun, di tengah momen manis itu, ponsel Matteo bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Soo-hyun.

"Tuan, Cessie baru saja melihat siaran langsungnya. Dia mengamuk di hotel dan mencoba menghubungi keluarga anda di Manila. Apa yang harus kita lakukan?"

Matteo mematikan layar ponselnya. Senyumnya menghilang, berganti dengan tatapan predator yang siap menerkam. "Biarkan dia menggali kuburannya sendiri," gumamnya pelan agar tidak terdengar oleh anak-anak.

...Tamu yang Tak Diundang di Kediaman Smith...

Langit Manila sore itu cerah, namun suasana di kediaman mewah keluarga Smith mendadak tegang saat sebuah mobil taksi berhenti di depan gerbang. Cessie turun dengan nafas memburu, matanya merah karena amarah dan rasa iri yang meluap setelah menonton siaran langsung konferensi pers Matteo di Seoul.

"Aku akan menghancurkanmu, Matteo! Kau pikir kau bisa membodohi dunia?" desisnya sambil melangkah masuk melewati pelayan yang tampak bingung.

Di ruang tamu utama, Lee Young-ae sedang duduk anggun menyesap teh sorenya. Di sofa seberang, tampak Mark Smith yang berwajah dingin sedang memangku Kendrick, sementara Sheena duduk di sampingnya, baru saja selesai merapikan mainan putra mereka.

"Lepaskan aku ingin ketemu dengan Nyonya Smith!" teriak Cessie tanpa basa-basi begitu sampai di hadapan penjaga.

Mereka mendengar sepertinya ada kekacauan yang besar didepan rumah. Cessie pun berhasil masuk namun tetap diawasi oleh dua pengawal. Entahlah alasan apa yang ia pakai sehingga bisa lolos masuk.

"Bibi Lee, ini berita besar."

Lee Young-ae meletakkan cangkir porselennya dengan sangat pelan, tidak sedikit pun terlihat terkejut. "Cessie? Ada apa dengan sopan santunmu? Kenapa kau berteriak di rumahku?"

"Matteo, Bibi! Matteo baru saja melakukan konferensi pers gila di Seoul! Dia mengaku sudah menikah lima tahun lalu dan punya dua anak!" Cessie tertawa histeris, seolah-olah dia baru saja membongkar rahasia negara. "Dia berbohong! Itu anak di luar nikah! Dia hanya ingin menutupi skandalnya dengan Sheena dulu! Dia menjebak janda itu untuk menjadi tamengnya!"

Hening.

Cessie mengira akan ada ledakan amarah dari Lee Young-ae, atau setidaknya kecanggungan dari Sheena. Namun, yang ia dapatkan hanyalah suara tawa kecil yang anggun dari sang ibu mertua.

"Oh, itu?" Lee Young-ae tersenyum tipis. "Cessie sayang, aku sudah tahu semuanya. Chae-young dan si kembar adalah cucu-cucuku yang berharga. Kenapa kau tampak lebih panik daripada aku, nenek mereka?"

Cessie mematung. "Apa? Bibi... Bibi tahu?"

"Tentu saja aku tahu. Aku yang terus mendesak Matteo untuk segera meresmikan semuanya," lanjut Lee Young-ae tenang.

Mark Smith yang sedari tadi hanya diam, akhirnya mendongak. Tatapannya yang tajam dan dingin—persis seperti Matteo namun dengan aura yang lebih tenang—membuat bulu kuduk Cessie merdiri.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Mark dengan nada bicara yang sangat datar namun mengintimidasi. "Kenapa kau begitu sibuk mengurusi urusan rumah tangga kakakku?"

"Mark, kau... kau tidak tahu? Matteo dulu mengejar Sheena sampai hampir gila! Dia hampir menghancurkan pernikahanmu!" seru Cessie mencoba memprovokasi.

Sheena, yang duduk di samping Mark, memegang tangan suaminya dengan lembut. Ia menatap Cessie dengan tatapan kasihan. "Nona Cessie, sepertinya Anda salah paham. Soal skandal itu... itu hanya cerita yang dilebih-lebihkan. Kami adalah teman masa kecil, dan memang sempat ada pembicaraan keluarga, tapi itu sudah lama berakhir. Matteo sudah berubah, dan dia sangat mencintai istrinya sekarang. Berhentilah hidup dalam imajinasimu sendiri."

Mark mendengus sinis. "Baguslah kalau dia sudah menikah. Itu artinya dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Dan kakakku tidak butuh orang asing sepertimu untuk menceritakan sejarah keluarga kami."

Cessie merasa seperti disambar petir. Di Seoul dia diusir, di Manila dia ditertawakan. Ia merasa tidak punya tempat lagi untuk berpijak.

"Sekarang, keluar dari sini," perintah Mark, suaranya naik satu oktav, memberi isyarat pada tim keamanan pribadinya. "Dan satu hal lagi, Nona Cessie karena kau sudah berani mengganggu ketenangan istriku dan Ibuku dengan fitnah murahan ini."

Mark mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menunjukkan layar ponselnya pada Cessie yang mulai pucat.

"Namamu sudah masuk dalam daftar hitam maskapai penerbangan di bawah kendali Smith Group. Jangan harap kau bisa melakukan penerbangan ke Seoul atau ke mana pun untuk mengganggu kakakku lagi. Kau dilarang meninggalkan Manila sampai batas waktu yang tidak ditentukan," ucap Mark telak.

"Kau tidak bisa melakukan ini! Aku punya hak!" teriak Cessie saat petugas keamanan menyeretnya keluar.

"Di keluarga ini, kami melindungi milik kami. Dan kau bukan siapa-siapa," balas Mark dingin sebelum kembali menatap putranya, seolah Cessie hanyalah debu yang baru saja disapu dari lantai.

Beberapa jam kemudian, di Seoul, Matteo sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memperhatikan si kembar yang asyik menggambar. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Mark masuk.

"Wanita pengganggu itu baru saja datang ke rumah Ibu. Aku sudah membereskannya. Dia tidak akan bisa kembali ke Seoul lagi. Selamat atas pernikahan resmimu, Kak. Titip salam untuk kakak ipar. - Mark"

Matteo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rasa lega. Ia menoleh ke arah dapur, di mana Chae-young sedang berdiri bingung memilih antara teh atau jus untuk anak-anak.

Matteo bangkit berdiri, menghampiri istrinya, lalu memeluk pinggang Chae-young dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.

"Ada apa?" tanya Chae-young kaget, namun tidak berontak.

"Tidak ada. Hanya merasa, semuanya akhirnya berada di tempat yang seharusnya," bisik Matteo.

Chae-young terdiam, ia bisa merasakan beban di bahu Matteo seolah menguap. Tanpa ia sadari, tangannya naik mengusap lengan Matteo yang melingkari pinggangnya. Di tengah kekacauan dunia luar, di dalam rumah ini, mereka akhirnya menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!