NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pandangannya

​"Kupikir benteng es di matamu tak akan pernah bisa ditembus. Namun pagi ini, saat kau melihatku berdiri di sisinya, kulihat sebuah retakan kecil di sana. Sedetik saja. Retakan yang memancarkan kilat luka, atau mungkin... cemburu? Rendi, jika kau memang tak menginginkanku, lalu mengapa tatapanmu mengisyaratkan ketakutan akan kehilanganku?" (Buku Harian Keyla, Halaman 69)

​Senin pagi datang dengan sisa-sisa hawa dingin dari hujan semalam. Aku berdiri di depan cermin kamarku, menatap pantulan diriku yang terlihat jauh lebih dewasa dari minggu lalu. Bukan karena riasan, melainkan karena beban realita yang kini ikut kupikul di dalam batinku.

​Bayangan Rendi yang kelelahan di balik kostum badut beruang itu masih tercetak jelas di retinaku, menghantuiku di setiap hela napasku.

​Hari ini, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, aku meminta Pak Anton untuk berangkat pada jam normal. Aku tidak datang lebih awal. Dan saat aku melewati minimarket tempat biasanya aku membeli sekotak susu cokelat dan roti gandum, aku hanya menatapnya dari balik kaca mobil dengan dada yang terasa diremas.

​Tanganku bertumpu di atas pangkuan, mencengkeram rok seragamku kuat-kuat. Aku menahan diri setengah mati untuk tidak menyuruh Pak Anton berhenti.

​Aku harus berhenti. Aku harus berhenti menyuapinya dengan rasa kasihan yang hanya akan mengoyak harga dirinya. Jika Rendi memilih kelaparan demi mempertahankan sisa-sisa martabatnya sebagai laki-laki, maka aku harus menghormati keputusannya, meski itu berarti aku harus ikut merasakan perih di lambungku sendiri setiap kali melihatnya.

​Sesampainya di sekolah, suasana koridor sudah cukup ramai. Saat aku berjalan melewati gerbang, sebuah suara bariton yang hangat memanggilku.

​"Keyla!"

​Aku menoleh. Indra setengah berlari menghampiriku dari arah parkiran motor. Wajahnya yang tampan terlihat sedikit cemas, namun senyumnya tetap mengembang. Di tangannya, ia memegang sebuah botol minuman teh hangat herbal.

​"Pagi, Ndra," sapaku, berusaha melukiskan senyum senatural mungkin.

​"Pagi, Key. Gimana keadaan kamu? Perut kamu udah nggak kram lagi? Pusingnya udah hilang?" rentetan pertanyaan Indra meluncur begitu saja. Ia berdiri di depanku, menyerahkan botol teh hangat itu. "Nih, aku bawain teh jahe madu. Ibuku yang bikin tadi pagi, katanya bagus buat ngangetin perut yang habis kram."

​Aku menerima botol yang masih terasa hangat itu dengan perasaan tak enak hati. "Ya ampun, Ndra. Kamu sampai repot-repot minta ibumu bikinin ini. Makasih banyak ya. Aku udah sehat kok, beneran."

​"Syukurlah kalau udah sehat. Aku beneran kepikiran sejak Sabtu malam kemarin," Indra menghela napas lega. Ia melangkah sejajar di sampingku saat kami mulai berjalan menyusuri koridor menuju kelasku. "Malam itu aku ngerasa bersalah banget ngajak kamu ke tempat sesak kayak gitu pas kamu lagi nggak fit."

​"Nggak apa-apa, Ndra. Jangan nyalahin diri sendiri," potongku cepat. Tentu saja Indra tidak tahu bahwa penyebab rasa sakitku malam itu bukanlah karena keramaian, melainkan karena aku melihat sisi paling kelam dari dunia laki-laki yang kucintai.

​Saat kami tiba di depan kelas XII-IPA 1, Lidya, Bella, dan Siska sedang berdiri mengobrol di dekat ambang pintu. Melihatku datang bersama Indra, Bella langsung bersiul heboh.

​"Ehem! Udah kayak raja dan ratu sinetron aja nih pagi-pagi jalan berdua," goda Bella nyaring, sengaja memancing perhatian siswa-siswa lain yang sedang lewat.

​Lidya tersenyum simpul, melirik botol teh di tanganku. "Dikasih sesajen apa lagi lo pagi ini, Key? Enak bener hidup lo dipuja-puja kapten futsal."

​Siska menyambutku dengan senyum malaikatnya. Ia mengusap lenganku pelan. "Indra emang peka banget ya. Makasih ya, Ndra, udah jagain sahabat aku akhir pekan kemarin," ucap Siska lembut.

​Indra tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya yang besar, dan entah dorongan dari mana, ujung jarinya menyentuh puncak kepalaku pelan, merapikan anak rambutku yang sedikit berantakan karena angin. Sebuah sentuhan yang sangat natural, protektif, dan menggemaskan di mata orang lain.

​"Pasti dong, Sis. Kalau buat Keyla, aku bakal selalu sedia dua puluh empat jam," jawab Indra sambil menatap mataku lekat-lekat.

​Aku terpaku. Sentuhan Indra di kepalaku membuatku membeku. Seharusnya dadaku berdebar. Seharusnya aku tersipu malu. Namun yang kurasakan justru sebuah rasa bersalah yang menusuk-nusuk. Aku ingin menepis tangannya dengan halus, namun tubuhku tak bisa bergerak karena aku tak ingin mempermalukannya di depan sahabat-sahabatku.

​Dan tepat di detik itu, waktu seolah kehilangan detakannya.

​Dari ujung koridor sebelah kiri, sosok tinggi itu muncul.

​Rendi berjalan menunduk seperti biasa. Langkahnya terlihat jauh lebih berat dari minggu lalu. Bahunya sedikit merosot, beban kerja rodi di akhir pekan—menjadi kuli, menjadi badut, menjadi pelayan—tergambar jelas dari cara berjalannya yang nyaris tanpa tenaga. Kemeja putihnya tak luput dari noda kusam, dan ujung sepatu kanannya terlihat mulai jebol.

​Ia berjalan mendekat ke arah kelas kami. Jaraknya hanya lima meter saat ia perlahan mengangkat kepalanya.

​Matanya langsung menangkap pemandangan di depan pintu kelas.

​Ia melihat Indra. Ia melihatku. Dan ia melihat tangan Indra yang sedang bertengger manis di atas puncak kepalaku, sementara sahabat-sahabatku tertawa bahagia di sekeliling kami.

​Seketika, langkah Rendi terhenti.

​Tubuhnya menegang kaku layaknya sebatang pohon yang tersambar petir. Napasku tertahan di tenggorokan. Mataku mengunci tatapannya, tak peduli jika Indra masih berdiri di depanku.

​Di bawah pendar cahaya matahari pagi yang menembus koridor, aku melihatnya dengan sangat jelas. Untuk pertama kalinya, bongkahan es di mata Rendi retak.

​Mata kelamnya yang selalu kosong dan tak peduli, kini membesar. Ada sebuah kilat emosi yang menyambar begitu cepat di dalam retinanya. Sebuah emosi purba yang tak bisa disembunyikan oleh laki-laki mana pun saat melihat perempuan yang mengusiknya berdiri terlalu dekat dengan laki-laki lain.

​Cemburu.

​Kilat itu begitu tajam, begitu nyata, hingga aku bisa merasakan panasnya menyengat kulitku. Rahang Rendi mengeras hebat, urat-urat di lehernya menonjol seketika. Tangannya yang menggantung di sisi tubuhnya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah ia sedang menahan diri setengah mati untuk tidak melangkah maju dan menyingkirkan tangan Indra dari kepalaku.

​Jantungku bergemuruh brutal. Ia cemburu. Laki-laki gunung es itu merasakan sesuatu padaku.

​Namun, kilat itu hanya bertahan selama tiga detik.

​Tiga detik yang terasa seperti napas kehidupan, sebelum akhirnya kenyataan kembali menamparnya.

​Aku melihat bagaimana kilat cemburu di matanya itu perlahan padam, digantikan oleh kesadaran yang sangat mematikan. Matanya menyapu penampilan Indra—baju yang wangi, wajah yang cerah tanpa beban hidup, dan senyum yang penuh dengan kepastian masa depan. Lalu matanya turun menatap dirinya sendiri—seragam lusuh, sepatu yang nyaris jebol, dan tangan yang penuh dengan luka kapalan kuli pasar.

​Kehancuran itu... Ya Tuhan, kehancuran di wajahnya saat ia menyadari posisinya membuatku ingin menjerit.

​Ia tidak marah padaku. Ia sedang menghakimi dirinya sendiri. Tatapannya seolah meneriakkan sebuah fakta yang menyayat hati: Apa hakku untuk cemburu? Laki-laki itu pantas untukmu, Keyla. Sedangkan aku, bahkan tak punya hak untuk memberimu makan.

​Dengan sangat cepat, Rendi kembali membangun dinding esnya, kali ini jauh lebih tebal dan lebih kelam dari sebelumnya. Ia membuang muka. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, memutus kontak mata kami dengan kasar.

​Ia kembali melangkah maju. Saat ia melewati kami di ambang pintu, ia memiringkan tubuhnya, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Indra dan aku, seolah ia takut menularkan kotoran dari kemiskinannya pada kami.

​Aroma sabun murah dan peluh lelahnya menyapu penciumanku sesaat, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Aku masih mematung. Botol teh di tanganku terasa dingin. Tanganku gemetar pelan. Aku ingin berlari menyusulnya, menjelaskan bahwa sentuhan Indra tak berarti apa-apa. Namun untuk apa? Menjelaskan padanya hanya akan membuatnya merasa aku sedang mempermainkan egonya.

​"Rendi makin hari makin kayak mayat hidup ya," komentar Bella dengan nada mencibir setelah sosok Rendi hilang di balik pintu. "Ngelewat nggak permisi, muka ditekuk. Bener-bener perusak mood pagi."

​Siska tersenyum sinis, lalu berbisik pelan ke arahku, memastikan Indra tidak mendengarnya. "Lihat tatapannya tadi, Key? Tatapan penuh iri dan kebencian. Orang miskin memang nggak akan pernah senang melihat orang lain bahagia. Dia benci melihat Indra bisa ngasih kamu apa yang nggak akan pernah dia bisa."

​Kata-kata Siska kembali meluncur bagai bisa ular, memutarbalikkan fakta dengan sangat kejam. Siska tidak melihat keputusasaan di mata Rendi; Siska hanya melihat apa yang ingin ia lihat.

​"Dia nggak benci aku, Sis," bantahku pelan, namun suaraku terlalu lemah untuk mendebat Siska saat ini. Hatiku terlalu sibuk mengumpulkan pecahan kilat cemburu Rendi yang berjatuhan.

​Indra menatapku bingung. Ia menurunkan tangannya dari kepalaku. "Kalian lagi ngomongin apa?"

​"Eh, nggak kok, Ndra," potong Lidya cepat. "Biasa, ngomongin cowok aneh di kelas kita. Udah ya, Ndra, kita masuk dulu. Takut guru keburu datang. Makasih loh tehnya buat Keyla."

​"Sama-sama. Semangat belajarnya ya, Key," pesan Indra sambil tersenyum, lalu berbalik menuju kelasnya sendiri.

​Aku melangkah masuk ke dalam kelas dengan langkah gontai. Saat aku tiba di mejaku, aku duduk dan refleks memutar tubuhku sedikit ke belakang.

​Rendi sudah duduk di bangkunya. Kepalanya tidak menunduk di atas meja seperti biasa. Ia sedang duduk tegak, menatap kosong ke arah meja kayunya.

​Mataku mengikuti arah pandangannya.

​Mejanya kosong. Tidak ada susu cokelat. Tidak ada roti gandum.

​Dada kiriku kembali terasa ngilu. Aku melihat bagaimana jakunnya bergerak naik turun saat ia menelan ludahnya dengan susah payah. Rendi menatap kekosongan di atas mejanya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Apakah ia merasa lega karena akhirnya si 'pengganggu' berhenti merendahkan harga dirinya? Ataukah ia merasa kehilangan... karena satu-satunya bentuk perhatian yang ia terima di sekolah ini, kini telah lenyap?

​Aku tak akan pernah tahu jawabannya, karena sedetik kemudian, ia kembali membenamkan wajahnya di lipatan lengannya, menutup diri dari dunia luar. Mengubur rasa laparnya dalam-dalam.

​Sepanjang hari itu, udara di kelas XII-IPA 1 terasa sangat menyesakkan bagiku. Keheningan Rendi terasa lebih berisik dari teriakan. Dan fakta bahwa aku tak lagi berani menyelipkan makanan di mejanya, membuatku merasa seolah aku sendiri yang sedang menyiksanya.

​"Aku menuruti permintaanmu untuk menjauh. Namun mengapa, saat meja usangmu kosong dari sedekahku, kau menatapnya seolah kau baru saja kehilangan sesuatu yang berharga? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Rendi?" (Buku Harian Keyla, Halaman 71)

​Jam istirahat tiba, dan seperti dugaanku, Rendi mengeluarkan sebungkus roti tawar yang sama kerasnya dengan yang kulihat minggu lalu. Aku memaksa diriku bangkit dari kursi, menerima ajakan gengku ke kantin dengan satu tujuan: agar aku tak perlu duduk di sini dan menyaksikan ia menahan seret di tenggorokannya tanpa bisa memberikan sebotol air.

​Di kantin, aku hanya mengaduk-aduk sepiring siomay tanpa selera. Siska, Bella, dan Lidya sedang asyik membahas tentang pentas seni sekolah yang akan diadakan bulan depan.

​"Lo bayangin deh, Key, kalau Indra nembak lo beneran pas pensi nanti di depan anak-anak satu sekolah!" seru Bella heboh, wajahnya berbinar-binar. "Gila, bakal jadi sejarah paling romantis di angkatan kita!"

​"Nggak mungkinlah, Bel," sangkalku pelan. "Aku sama Indra kan cuma teman."

​"Teman apaan yang bawain teh jahe pagi-pagi sambil ngelus kepala?" Lidya mendengus tak percaya. "Buka mata lo, Key. Dia itu sesempurna itu buat lo. Jangan sampai lo sia-siain orang yang nyata demi bayangan abstrak yang nggak pernah ngehargain lo."

​Siska menyesap jus alpukatnya dengan anggun. Matanya menatapku lekat. "Lidya benar, Key. Kamu nggak bisa terus-terusan mengunci hatimu. Indra sudah memberikan segalanya. Coba kamu lihat Rendi," Siska dengan sengaja menyebut namanya, "apa yang udah dia lakuin buat kamu? Jangankan merhatiin kamu, tadi pagi aja dia cuma ngeliatin kamu sama Indra dengan tatapan membunuh. Laki-laki yang nggak punya masa depan memang selalu nyari kambing hitam atas kemiskinannya."

​"Sis, tolong..." pintaku memelas, kepalaku berdenyut sakit. "Jangan bahas Rendi lagi. Aku capek."

​"Aku bahas dia karena aku peduli sama kamu, Keyla!" balas Siska, suaranya sedikit meninggi namun tetap terkontrol. "Aku nggak mau lihat kamu hancur karena ilusi. Rendi itu ibarat penyakit. Kalau kamu nggak nekat motong dia dari pikiranmu, kamu yang bakal mati pelan-pelan."

​Aku terdiam kaku. Kata-kata Siska terlalu kejam, tapi di telinga Lidya dan Bella, Siska adalah pahlawan yang sedang menyadarkanku. Aku membiarkan mereka berbicara tanpa membalas lagi, menyembunyikan wajahku di balik gelas minuman.

​Hari demi hari berlalu dengan siksaan rutinitas yang sama. Aku tak pernah lagi membeli susu atau roti. Rendi tak pernah lagi menatapku. Jarak di antara kami benar-benar telah kembali seperti saat pertama kali ia melangkahkan kakinya ke kelas XII-IPA 1. Aku hanyalah sebutir debu, dan ia adalah bongkahan es.

​Namun, ada sebuah rahasia kecil yang tak pernah kukatakan pada siapa pun, bahkan pada buku harianku sendiri hingga malam ini.

​Setiap kali aku menoleh ke belakang saat Rendi sedang fokus mencatat atau menatap papan tulis, aku mendapati sebuah perubahan kecil. Mata Rendi yang biasanya selalu terpusat pada buku atau lurus ke depan, kini memiliki kebiasaan baru. Saat ia mengira aku sedang tidak memperhatikan, matanya akan bergerak turun, menatap punggungku.

​Pernah suatu ketika, saat aku menjatuhkan penghapuskuku dan harus membungkuk untuk mengambilnya, mataku tak sengaja menangkap pantulan wajahnya dari kaca jendela.

​Ia sedang menatapku.

​Tatapannya tidak kosong. Ada sebuah rasa rindu yang sangat, sangat kelam di sana. Sebuah kerinduan yang terpaksa ia bunuh setiap detiknya karena ia tahu ia tak mampu menebusnya. Dan ketika ia menyadari bahwa aku sedang melihat pantulannya, ia akan membuang muka dengan kecepatan kilat, rahangnya mengeras karena marah pada dirinya sendiri yang tak mampu mengendalikan perasaannya.

​Dia tidak membenciku. Dia tidak menganggapku anak kaya yang mencari drama.

​Rendi sedang menghukum dirinya sendiri. Ia menyiksaku dengan penolakan, karena itulah satu-satunya cara untuk menjauhkanku dari kehidupannya yang kotor dan keras. Ia berpikir bahwa dengan menjauhkanku, ia sedang menyelamatkanku.

​"Kau menatap punggungku saat kau mengira aku tak tahu. Kau menyiksa dirimu sendiri dengan kerinduan yang tak pernah kau izinkan terucap. Rendi, bodohnya kau mengira bahwa dengan mendorongku menjauh, aku akan bahagia bersama laki-laki lain. Padahal, satu-satunya tempat yang ingin kusebut sebagai rumah adalah bahumu yang lelah itu." (Buku Harian Keyla, Halaman 75)

​Malam itu, di dalam kamarku, aku menggenggam erat boneka kelinci merah muda pemberian Indra. Namun, bukan Indra yang ada di kepalaku.

​Air mataku menitik jatuh, membasahi bulu boneka itu. Aku merindukannya. Aku sangat merindukan masa-masa di mana aku masih bisa menyelinap diam-diam meletakkan makanan di mejanya. Aku merindukan rasa lega saat melihatnya menghabiskan roti pemberianku.

​Aku telah berhenti memberikan sedekah fisik padanya. Tapi perasaanku? Cintaku padanya tumbuh semakin liar tak terkendali di dalam keheningan ini. Semakin ia menjauh, semakin aku menyadari bahwa aku telah tenggelam terlalu dalam pada lautan rasa sakitnya, hingga aku tak lagi peduli jika aku harus ikut mati tenggelam bersamanya.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!