"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. PENERBANGAN SANG GAGAK
Hembusan angin dari baling-baling helikopter di atap Mansion Dragunov terasa seperti tamparan es yang menyayat kulit. Langit Saint Petersburg kini berwarna jingga pekat, bukan karena matahari terbenam yang indah, melainkan karena kobaran api yang melahap sayap timur kediaman Dragunov tempat di mana kenangan Elena Volskaya baru saja Alana temukan. Alana berlari terseok-seok, sepatunya tenggelam dalam salju tebal yang kini bercampur dengan abu pembakaran. Tangannya ditarik paksa oleh Alexei, cengkeraman pria itu begitu kuat hingga Alana merasa tulang pergelangan tangannya akan remuk, namun ia tidak mengeluh. Rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan kengerian yang tertinggal di belakangnya.
"Naik! Cepat, Alana! Jangan menoleh!" teriak Alexei di tengah raungan mesin helikopter Eurocopter hitam yang sudah menderu, siap membelah badai.
Ivan berada di ambang pintu kabin, tubuhnya condong ke luar saat ia memberondongkan senapan mesinnya ke arah pasukan bayaran Naratama yang mencoba memanjat dinding balkon lantai atas. Suara tembakan itu memekakkan telinga, beradu dengan teriakan-teriakan dalam bahasa Rusia dan Indonesia yang saling bersahutan di bawah sana. Alana melompat masuk ke dalam kabin dengan sisa tenaganya, jatuh tersungkur di atas lantai logam yang dingin dan bergetar. Detik berikutnya, Alexei melompat masuk, menyambar pintu geser dan menutupnya dengan dentuman keras yang mengakhiri kebisingan dari luar.
Helikopter itu melesat naik secara vertikal, membuat perut Alana serasa tertinggal di bumi. Dari jendela kecil kabin yang buram oleh embun dan salju, Alana melihat sosok ayahnya Wira Naratama berdiri di tengah halaman luas yang kini menyerupai medan jagal. Wira tidak memegang senjata. Ia hanya berdiri diam, kedua tangannya disembunyikan di dalam saku mantel wol mahalnya, menatap helikopter yang menjauh dengan ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Sergei Volsky yang meledak-ledak di sampingnya.
Bagi Wira, ini bukan soal keluarga, ini adalah investasi yang sedang melarikan diri.
"Kita aman untuk sementara," ucap Alexei parau. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kulit, napasnya memburu, meninggalkan uap putih di udara kabin yang dingin. Ada noda darah segar di pelipisnya, kemungkinan terkena serpihan kaca saat ledakan tadi, namun ia mengabaikannya seolah itu hanyalah percikan air. Matanya segera tertuju pada Alana yang masih meringkuk di lantai kabin.
Alana tidak menjawab. Ia memeluk lututnya erat-erat, mencoba meredam getaran di sekujur tubuhnya. Di balik rompi anti-peluru dan jubah sutranya, buku harian Elena dan kunci perak itu terasa sangat berat, seolah benda-benda itu terbuat dari timah yang siap menyeretnya ke dasar laut. Namun, yang paling memberatkan pikirannya adalah bayangan Bibi Marta di layar monitor ruang kendali tadi.
"Jangan percaya pada serigala, jangan percaya pada singa. Kebebasanmu ada di bawah altar gereja tua."
Suara itu terus bergema di kepalanya, lebih keras daripada deru baling-baling di atas sana. Siapa serigala itu? Tatapan Alana jatuh pada Alexei. Pria ini menyelamatkannya, juga melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Tapi bukankah serigala sering kali memakai kulit domba untuk mendekat? Dan siapa singa itu? Ayahnya, Wira, yang baru saja membuktikan bahwa ia siap meratakan seluruh Rusia demi mendapatkan "kunci" yang ada pada diri Alana?
"Apa yang kau pikirkan, Alana?" tanya Alexei. Suaranya kini melembut, kontras dengan aura kematian yang baru saja ia pancarkan di bawah sana. Ia mengulurkan tangan, hendak merapikan rambut Alana yang berantakan karena pelarian tadi, namun Alana secara refleks sedikit menjauhkan kepalanya.
Gerakan kecil itu membuat rahang Alexei mengeras sesaat. Kilat kecewa menyambar di mata birunya yang tajam.
"Kau masih meragukanku setelah semua ini?" tanya Alexei dengan senyum pahit yang menyayat. "Ayahmu baru saja mencoba membakarmu hidup-hidup di dalam rumahku sendiri hanya untuk mengambilmu kembali sebagai properti perusahaan. Dan kau masih menatapku seolah aku adalah monster yang ingin memangsamu?"
"Wira bilang aku adalah kunci akses digital," Alana akhirnya bersuara, suaranya kecil, serak, namun mengandung ketajaman yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. "Dia bilang kau hanya mencuci otakku agar kau bisa menggunakan sidik jariku untuk membuka brankas ibuku. Apakah itu benar, Alexei? Apakah semua ciuman dan perlindungan ini hanya untuk memastikan kuncinya tetap utuh?"
Alexei terdiam cukup lama. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap hamparan hutan pinus Siberia yang mulai tertutup kegelapan malam yang pekat. "Dunia ini tidak mengenal hitam dan putih, Alana. Memang benar, kau memiliki akses yang sangat berharga bagi dewan Bratva. Tapi aku tidak membawamu ke sini hanya untuk angka-angka di bank Swiss. Aku membawamu karena aku berjanji pada ibumu, di malam salju yang sama dua puluh tahun lalu, bahwa aku akan menjagamu dari pria seperti Wira."
"Dan bagaimana dengan Bibi Marta?" Alana memancing, matanya mencari setiap retakan di topeng ketenangan Alexei. "Kau tampak terkejut melihatnya di kamera tadi. Bukankah kau bilang kau tahu segalanya tentang rahasia ibuku? Kenapa kau tidak pernah menyebutkan bahwa orang kepercayaannya masih hidup?"
Alexei menoleh dengan cepat. Sorot matanya kini berubah menjadi sangat waspada, hampir mengintimidasi. "Marta adalah masa lalu yang seharusnya sudah membusuk di tanah. Jika dia masih hidup dan muncul di jalur rahasia Dragunov, itu berarti Sergei telah menyembunyikan kartu as dari kita semua. Kau tidak boleh mempercayainya, Alana. Di dunia mafia, seorang 'hantu' yang muncul tiba-tiba biasanya membawa racun, bukan obat."
Alana menggigit bibir dalamnya hingga terasa anyir darah. Dia berbohong, batin Alana. Alexei tidak menyukai ada variabel yang tidak bisa ia kendalikan, dan Bibi Marta adalah variabel liar yang mengancam narasinya. Alana memutuskan saat itu juga, ia tidak akan memberitahu Alexei tentang pesan spesifik mengenai "altar gereja tua". ia lebih memilih untuk memiliki rahasia yang ia simpan sebagai senjata. Ia mulai belajar bermain di meja judi yang sama dengan para pria ini.
"Kita akan mendarat di pangkalan udara rahasia di perbatasan Finlandia dalam tiga puluh menit," Ivan menginterupsi dari kokpit, suaranya datar meskipun helikopter berguncang karena tekanan udara. "Tuan, ada pesan terenkripsi masuk dari dewan Bratva. Mereka menuntut penjelasan atas hancurnya gudang Volga dan pengepungan mansion yang menarik perhatian intelijen internasional."
Alexei mendengus sinis. "Biarkan para tua bangka itu menunggu. Fokus saja pada pendaratan sebelum badai ini menelan kita."
Helikopter berguncang hebat saat melewati badai salju di atas pegunungan perbatasan. Alana memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mencari sisa-sisa kekuatannya di tengah ketidakpastian. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia teringat pada gereja tua tempat ia dan Alexei menikah secara tergesa-gesa, Gereja Saint Nicholas yang tersembunyi di pinggiran kota yang sepi. Mungkinkah itu "altar" yang dimaksud Marta? Ataukah ada gereja lain yang lebih tersembunyi?
Tiba-tiba, alarm di kokpit berbunyi nyaring, melengking tinggi seperti teriakan ketakutan.
"Tuan! Kita terkunci radar!" teriak Ivan dengan nada yang kini dipenuhi adrenalin. "Dua jet tempur tanpa identitas mendekat dari arah selatan dengan kecepatan Mach 1.2!"
"Wira..." desis Alexei dengan kemarahan yang meluap. "Dia benar-benar sudah gila. Dia berani melanggar wilayah udara Rusia dan Finlandia hanya untuk menjatuhkan burung besi ini."
"Lakukan manuver penghindaran, Ivan! Sekarang! Keluarkan flares!" perintah Alexei sambil bangkit dari kursinya dan menerjang ke arah Alana.
Helikopter itu menukik tajam secara mendadak, membuat Alana terlempar ke samping kabin. Alexei dengan cepat menyambar pinggang Alana, memeluknya dengan sangat erat, menggunakan tubuhnya yang besar sebagai bantalan saat helikopter itu melakukan manuver ekstrem. Di luar sana, cahaya terang dari tembakan flare penghalau rudal meledak berkali-kali, menerangi langit malam seperti kembang api maut yang megah namun mengerikan.
Alana merasakan detak jantung Alexei yang kencang di punggungnya. Bau parfum mahal bercampur bau keringat dan mesiu dari tubuh pria itu meresap ke dalam indra penciumannya. Pria ini melindunginya dengan nyawanya sendiri, namun pria ini juga yang mungkin merencanakan seluruh tragedi hidupnya agar ia tetap bergantung padanya.
"Pegang erat-erat, Alana! Jangan lepaskan aku!" Alexei berteriak tepat di telinganya saat helikopter itu kembali berguncang karena ledakan rudal yang meledak terlalu dekat.
Saat helikopter itu menukik menuju kegelapan hutan pinus yang membeku di bawah sana.
"Ivan, kita jatuh!" teriak Alexei saat baling-baling belakang helikopter mereka terkena serpihan ledakan.
Pandangan Alana kabur. Dunia berputar hebat. Hal terakhir yang ia rasakan adalah pelukan Alexei yang semakin mengencang dan bisikan pria itu yang terdengar seperti janji sekaligus ancaman, "Kau tidak akan pernah meninggalkan aku, Alana. Tidak hidup, tidak juga mati."