Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 Kedatangan Tamu tak Terduga (2)
"Sialan.." bisik ibu Wei dalam hati dengan perasaan dongkol. "Tapi, berhubung aku masih punya urusan dengan bocah ini, kenapa tidak sekalian ku tagih kembali uang santunan anak-anak!"
Wei Ying menghela nafas panjang, lalu dengan tegas mengulurkan tangannya, seolah menadah sesuatu ke arah Wei Xang.
"Uang santunan anak-anak.. berikan padaku!" ujarnya dengan nada memerintah.
Wei Xang menatap tak percaya ke arah kakaknya, "Hah?! Apa maksudnya?! Bukankah kita sudah sepakat untuk memakai uang itu untuk modal usaha ku! Kenapa di tagih lagi?!" seru Wei Xang tak terima.
"Ah, ya.. aku lupa, aku juga butuh uang itu untuk sesuatu. Jadi sekarang berikan padaku."
"Tidak ada. Uangnya sudah ku pakai untuk usahaku!" timpal Wei Xang.
Wei Ying kembali menghela nafas berat, "Kalau begitu, mulai sekarang kau harus menyicil padaku!"
Wei Xang melotot seperti orang yang habis melihat hantu.
"Hah! Hei..."
Wei Ying mengangkat tangan ke arah wajah Wei Xang, "Aku tak terima bantahan apapun!" ujarnya dengan tegas.
Wei Xang yang kesal mulai terpancing emosi, ia mengangkat tangan hendak memukul Wei Ying, tapi sesuatu melewat ke arahnya dan membuatnya tersungkur.
Duak!
Sebuah wajan terlempar dan mengenai kepala belakang Wei Xang, pemuda itu tersungkur dengan wajah yang terlebih dahulu mencium tanah.
"Jangan pukul Ibu Wei!" teriak Lu Xue sambil memegang sutil yang biasa di pakai ibu Wei masak.
Wei Xang sambil menahan sakit menatap ke arah tiga anak yang ternyata adalah pelaku utama pelemparan wajan itu, saat hendak memaki mereka Ibu Wei menginjak kepala Wei Xang hingga kembali menyentuh tanah.
"Diam! Ikuti perintahku mulai sekarang! Cicil uang santunan yang sudah kau pakai untuk modal.. apalah itu, aku tak urus! Jangan coba-coba buat masalah, aku akan mengawasi mu!" bisik Ibu Wei dengan dingin.
Wei Xang merasa sangat terhina, tapi ia tak bisa melawan. Akhirnya dengan membawa perasaan kesal dan harga diri yang jatuh Wei Xang pergi dengan membawa dendam, tapi Wei Ying yang sudah menduganya mulai membuat rencana antisipasi untuk hal itu.
Wei Ying menyadari, jika usahanya untuk merubah ending novel itu akan mendatangkan efek butterfly yang jauh lebih besar dari dugaannya.
Namun, itu tak menyurutkan tekadnya.
.
.
Hari-hari setelah kedatangan tamu tak terduga yang adalah Wei Xang, kehidupan keluarga kecil Wei kembali berjalan dengan damai dan penuh tawa.
Suasana suram dan penuh ketegangan di masa lalu telah sirna di gantikan oleh suasana hangat dan ceria.
Warga desa yang semula menganggap perubahan Wei Lu sebagai akting kepura-puraan, mulai menghilangkan prasangka itu. Terkadang ketika mereka berpapasan di jalan, senyum kecil turut singgah tak kala melihat interaksi keluarga kecil itu yang harmonis.
Seperti saat ini, Wei Ying bersama tiga anaknya tengah menggelar tikar di pinggir sungai di sebelah barat desa. Meski sungainya hampir surut karena hujan yang tak kunjung turun, tapi itu cukup menyenangkan.
"Ibu-ibu.." Panggil Lu Xue. "Bisakah kita piknik seperti ini lagi lain kali?"
Wei Ying tersenyum kecil, "Tentu saja.. kapan pun kamu mau piknik, kita pergi!"
Lu Xue memekik senang mendengar hal itu.
Berbeda dengan adik bungsunya, Lu Bao begitu menyukai makanan. Wei Ying tak tau jika nafsu makan anak itu ternyata sangat besar, ia jadi kepikiran akan hal itu. Sebelum Wei Ying mengambil alih Wei Lu, apakah anak itu selalu nahan lapar lebih banyak dari saudaranya.
Lalu lain lagi dengan di sulung, dia terlihat begitu menyukai ayam-ayam yang ia berikan untuk di pelihara. Wei Ying jadi berpikir untuk memberikannya hewan ternak lainnya seperti sapi dan kambing.
Tapi terlepas dari semua itu, Wei Ying sangat bersyukur ketiga anak itu mulai terlihat seperti anak-anak pada umumnya. Bermain, makan dan tidur teratur.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭