NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SERIGALA BERBULU DOMBA

Mobil hitam metalik itu tampak sangat kontras dengan pemandangan gang sempit yang becek dan berbau sampah busuk. Di tempat di mana motor bebek tua adalah kemewahan, kehadiran sedan mewah tersebut adalah sebuah anomali. Nata menghentikan langkahnya sejenak di mulut gang, menatap mobil itu dengan mata menyipit.

​Ingatannya melesat ke tahun 2014 di garis waktu aslinya. Di masa lalu, Paman Danu datang dengan senyum palsu, membawa beberapa kantong plastik berisi buah-buahan dan makanan enak, lalu pulang membawa sertifikat tanah peninggalan Ayah di desa dengan alasan "investasi untuk biaya sekolah kami". Faktanya, tanah itu dijual setahun kemudian untuk modal bisnis mebel sang paman, sementara Nata dan adik-adiknya tetap dibiarkan kelaparan.

​Nata mengeratkan pegangannya pada tali tas sekolah yang berisi buku tabungan barunya. Sepuluh juta rupiah sudah aman di dalam sistem digital, tapi ia tidak bisa membiarkan Paman Danu mencuri apa yang tersisa dari rumah ini.

​"Oh, ini dia keponakan Paman yang paling besar! Nata, sudah pulang sekolah, Nak?"

​Suara itu terdengar berat dan dibuat-buat ramah. Seorang pria dengan perut buncit yang dibalut kemeja safari krem keluar dari teras rumah kontrakan Nata. Paman Danu. Di sampingnya berdiri Pak RT yang tampak canggung dan pemilik kontrakan, Bu Haji, yang sedang memegang amplop cokelat—mungkin uang sewa yang baru saja dibayarkan oleh Danu untuk menunjukkan kemurahhatiannya.

​Nata berjalan mendekat, wajahnya datar, tidak ada tanda-tanda kegembiraan di matanya. "Ada apa Paman datang ke sini?"

​Paman Danu tertawa kecil, berusaha merangkul bahu Nata, namun Nata sedikit bergeser menghindari sentuhan itu. Danu sedikit tersentak, namun segera menutupi kekagetannya dengan tawa yang lebih keras.

​"Walah, Nata. Kamu ini makin besar makin kaku saja. Paman datang karena khawatir. Tadi Paman dengar dari Bu Haji kalau kalian nunggak sewa dua bulan. Paman sudah lunasi semuanya, tenang saja," ucap Danu sambil menepuk-nepuk saku kemejanya.

​Nata melirik Bu Haji. "Benar, Bu?"

​"Iya, Nata. Pamanmu baik sekali. Dia juga bilang mau mengajak kalian tinggal di rumahnya agar lebih terurus," jawab Bu Haji dengan nada lega.

​Nata merasakan kilat amarah di dadanya, tapi pikirannya yang dingin segera menekan emosi itu. Tinggal di rumah Paman Danu berarti menyerahkan kontrol atas hidup mereka sepenuhnya. Itu adalah penjara yang dibungkus dengan nama "keluarga".

​"Kami tidak akan pindah, Paman. Terima kasih atas bantuannya membayar sewa, saya akan mengembalikannya dalam waktu dekat," ucap Nata tegas.

​Senyum Danu sedikit memudar. "Kembalikan pakai apa, Nata? Kamu itu masih sekolah. Biaya Kirana masuk SMA tahun depan besar, belum lagi Arya. Paman hanya ingin membantu. Kita ini keluarga, satu darah."

​"Satu darah bukan berarti satu dompet, Paman," balas Nata. Kalimat itu keluar dengan ketajaman yang membuat Pak RT dan Bu Haji terdiam.

​Danu berdeham, berusaha menjaga martabatnya di depan orang-orang. Ia memberi kode pada dua pria berpakaian rapi yang tadi berdiri dekat mobil untuk menjauh sedikit. "Nata, ayo bicara di dalam. Ada urusan penting soal aset mendiang Ayahmu yang perlu kita bereskan agar tidak hilang diambil bank."

​Di dalam rumah yang sempit, suasana terasa mencekam. Kirana duduk di sudut ruangan sambil memeluk Arya. Kirana tampak sangat cemas; ia tahu betul siapa Paman Danu. Di mata Kirana, Paman Danu adalah sosok yang selalu datang saat mereka sedang sulit, bukan untuk memberi, tapi untuk mencari celah.

​Paman Danu duduk di kursi plastik yang reyot, tampak sangat tidak nyaman dengan suhu ruangan yang pengap tanpa kipas angin yang menyala.

​"Langsung saja, Nata. Ayahmu punya sebidang tanah di kaki Gunung Merapi—ah, maksud Paman di desa kakekmu. Tanah itu tidak ada yang mengurus dan sekarang ada tunggakan pajak yang besar. Kalau tidak dibayar bulan depan, negara akan menyitanya," Danu mengeluarkan selembar kertas fotokopi sertifikat. "Paman punya kenalan di kantor agraria. Kalau kamu tanda tangan surat kuasa ini, Paman bisa mengurusnya agar tanah itu tetap atas nama keluarga kita."

​Nata menerima kertas itu, membacanya dengan sangat teliti. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak mengerti istilah hukum. Ia hanya percaya pada kata "Paman". Tapi sekarang, ia melihat dengan jelas bahwa itu bukan surat kuasa pengurusan pajak, melainkan surat kuasa jual mutlak.

​Nata menatap pamannya. "Tanah itu akan dilewati proyek jalan tol Trans-Nusantara dalam dua tahun lagi, bukan begitu Paman?"

​Mata Danu membelalak. Ia nyaris melompat dari kursinya. "A-apa? Tol apa? Kamu bicara apa, Nata?"

​"Bulan Juli 2014, pemerintah akan mengumumkan rencana strategis pembangunan infrastruktur. Tanah di desa kakek berada tepat di titik rencana pintu keluar tol. Nilai jual objek pajaknya akan naik berkali-kali lipat dalam satu malam," Nata berbicara dengan nada yang begitu yakin.

​Keringat dingin mulai muncul di dahi Danu. Ia tidak menyangka keponakannya yang pendiam dan miskin ini mengetahui informasi yang sangat rahasia.

​"Berhenti berbohong, Paman. Paman datang ke sini karena bisnis mebel Paman sedang terlilit hutang, kan? Paman butuh aset yang bisa segera dicairkan untuk menutupi bunga pinjaman," Nata meletakkan kertas itu di meja dengan pelan namun penuh penekanan.

​Suasana di ruangan itu mendadak sunyi. Kirana menatap kakaknya dengan kagum sekaligus bingung. Dari mana Nata tahu semua itu?

​"Kamu... kamu lancang sekali!" Danu berdiri, wajahnya memerah padam. "Sudah untung Paman bantu bayar kontrakan! Kalau tidak ada Paman, kalian akan tidur di bawah jembatan malam ini!"

​Nata ikut berdiri. Meski ia lebih kurus dan lebih muda, auranya jauh lebih mendominasi daripada Danu. "Uang kontrakan yang Paman bayar akan saya ganti sore ini juga. Dan soal tanah itu... jangan pernah sekali-kali Paman mencoba memalsukan tanda tangan saya atau Kirana. Saya tahu setiap prosedur hukumnya."

​Wajah Danu berubah dari merah menjadi pucat. Ia menatap Nata seolah melihat orang asing. Remaja di depannya bukan lagi keponakan yang bisa ia dikte.

​"Baik! Kamu mau hidup susah? Silakan!" Danu menyambar tasnya dan keluar dari rumah itu dengan langkah terburu-buru. Suara mesin mobil mewahnya yang menderu menjauh terdengar seperti suara kekalahan.

​Setelah Paman Danu pergi, Kirana langsung menghampiri Nata. Ia memegang lengan kakaknya dengan gemetar.

​"Kak... apa itu benar? Tanah di desa... dan Paman Danu yang berniat jahat?" suara Kirana bergetar menahan tangis.

​Nata menatap adiknya, kelembutan muncul kembali di matanya. Ia mengusap kepala Kirana. "Semua akan baik-baik saja, Kirana. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang menjadi hak kalian lagi."

​"Tapi Kak, uang kontrakan itu... bagaimana cara menggantinya?" Kirana tampak sangat cemas.

​Nata tersenyum kecil. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. "Jangan khawatir soal uang. Aku mendapatkan pekerjaan sampingan sebagai analis data. Bayarannya cukup lumayan."

​Itu adalah kebohongan kecil yang terpaksa Nata katakan. Menjelaskan tentang BitCore kepada Kirana di saat seperti ini hanya akan membuatnya semakin bingung.

​Malam itu, Nata duduk di depan teras sambil menatap langit malam. Kemenangannya atas Paman Danu hanyalah awal. Ia tahu Danu tidak akan menyerah begitu saja.

​Aku butuh kekuatan hukum yang nyata, batin Nata. Dan aku butuh modal yang lebih besar untuk mengamankan tanah di desa itu.

​Ia kembali masuk ke dalam dan membuka buku catatannya. Ia mulai menulis rencana untuk minggu depan. Nata tahu bahwa BitCore adalah gudang hartanya, tapi bisnis riil adalah bentengnya. Ia harus mulai masuk ke lingkaran yang lebih besar.

​"Kak," Arya mendekat, membawa buku gambar kusamnya. "Lihat, aku gambar rumah besar. Ada taman bunganya buat Kak Kirana, dan ada ruang komputer besar buat Kak Nata."

​Nata melihat gambar coretan tangan anak kelas 2 SD itu. Di gambar itu, mereka bertiga berdiri di depan rumah mewah, bergandengan tangan, dengan senyum lebar.

​"Bagus sekali, Arya," ucap Nata pelan. "Simpan gambarnya. Sebentar lagi, kita tidak perlu menggambarnya lagi di kertas. Kita akan tinggal di sana."

​Arya tertawa senang dan kembali bermain. Sementara itu, Kirana yang sedang mencuci piring di dapur sesekali mencuri pandang ke arah kakaknya. Ia merasa Nata telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih tangguh, seolah kakaknya telah tumbuh dewasa hanya dalam satu malam.

​Nata kembali menatap layar ponsel tuanya. Ia melihat grafik BitCore di sebuah situs forum internasional. Harganya naik sedikit, menjadi 460 dolar.

​Naik teruslah, batin Nata. Aku butuh setiap sen untuk membangun dunia baru bagi mereka.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!