NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perceraian Dan Kehancuran

Kanaya berdiri di ambang pintu ruang kerja itu cukup lama sebelum akhirnya mengetuk pelan. Tangannya dingin, meski napasnya berusaha ia atur setenang mungkin. Di balik pintu, ia tahu Fatan ada di sana seperti biasa, tenggelam dalam pekerjaannya, seolah dunia di luar dirinya tak pernah benar-benar penting.

“Masuk,” suara Fatan terdengar datar.

Kanaya membuka pintu perlahan. Ruangan itu masih sama rapi, dingin, dan terasa asing, seperti hubungan mereka yang sejak awal tak pernah benar-benar hangat. Fatan bahkan tidak langsung menoleh. Fokusnya masih pada layar laptop di hadapannya

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Kanaya melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri beberapa langkah dari meja Fatan, menatap pria yang pernah ia yakini sebagai masa depannya. Ada sesak yang naik ke dadanya, tapi kali ini ia tidak membiarkannya menang.

“Aku mau bicara,” ucapnya pelan.

Fatan menghela napas, lalu akhirnya menoleh. “Bicara apa tentang apa Kanaya? Kalau soal kemarin, aku sudah bilang itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Kanaya tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip luka yang dipaksa terlihat baik-baik saja.

“Memang tidak seperti yang aku pikirkan,” katanya pelan. “tepatnya,,,Lebih buruk.”

Fatan mengernyit. “maafkan ketidak berdayaan aku kanaya”

Kanaya tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan mengeluarkan selembar map dari tasnya. Tangannya sedikit gemetar, tapi matanya tetap tegas.

Ia melangkah mendekat dan meletakkan map itu di atas meja.

“Apa ini?” tanya Fatan, nadanya mulai berubah.

“Buka saja.”

Fatan menatapnya sejenak, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah Kanaya. Tapi yang ia temukan hanya ketenangan yang asing. Perlahan, ia membuka map itu.

Detik berikutnya, wajahnya berubah.

“Surat… perceraian?” suaranya nyaris tak percaya.

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Kanaya mengangguk pelan. “Aku sudah memikirkannya matang-matang.”

Fatan menatapnya tajam. “Kamu serius,Kanaya jangan macam macam?”

“Ya.”

“Ini lelucon?” Fatan berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser kasar. “Kanaya, ini bukan hal yang bisa kamu mainkan!”

“Aku tidak sedang bermain,” jawab Kanaya, suaranya tetap tenang. “Justru aku baru pertama kali benar-benar serius,kamu yang bermain main sejak Awal.”

Fatan menggeleng, ekspresinya campur aduk antara marah dan tidak percaya. “Kamu ingin bercerai… hanya karena kesalahpahaman?”

Kanaya tertawa kecil—tawa yang getir.

“Kalau ini cuma kesalahpahaman, aku mungkin masih bertahan,” katanya. “Tapi ini bukan tentang itu, Fatan. Ini tentang kebohongan. Tentang kepercayaan yang kamu hancurkan.”

Fatan mengepalkan tangan. “Aku sudah,, sudah mengatakan,aku minta maaf atas ketidak berdayaan aku,tapi aku tidak bisa melepaskan kalian berdua”

Kanaya menatapnya lurus. “apakah tidak ada alasan lain untuk kebohongan mu ini,Aku tidak bodoh, Fatan.untuk apa aku bertahan jika kamu tidak menginginkannya.Amira sahabat ku,”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi beratnya menggantung di udara.

Kanaya melanjutkan, “Aku tidak ingin menunggu sampai dia tahu semuanya dari orang lain. Aku tidak mau melihat dia hancur karena dua orang yang dia percaya mengkhianatinya.sama seperti hancurnya aku sekarang”

Fatan mengusap wajahnya kasar. “Tidak ada yang terjadi sejauh itu,kamu tidak bisa melakukan ini.”

“Cukup,” kata Kanaya pelan, tapi tegas. “Tidak perlu kamu jelaskan. Aku sudah melihat cukup. Merasakan cukup,itu rasanya sakit”

Ia menunduk sebentar, menahan sesuatu yang hampir tumpah.

“Aku capek, Fatan.”

Kalimat itu membuat Fatan terdiam.

“Aku capek jadi satu-satunya yang berusaha menjaga pernikahan ini tetap utuh,” lanjut Kanaya. “Aku capek berpura-pura semuanya baik-baik saja, padahal setiap hari aku tahu ada yang berubah dari kamu.”

Fatan menatapnya, kali ini lebih dalam. “Jadi kamu menyerah begitu saja?”

Kanaya menggeleng pelan. Senyumnya kembali muncul, tapi kali ini lebih rapuh.

“Menurut kamu ini menyerah?” tanyanya.

Fatan tidak menjawab.

“Menyerah itu kalau aku memilih diam, pura-pura tidak tahu, dan tetap bertahan di pernikahan yang perlahan menghancurkan aku,” kata Kanaya. “Tapi ini… ini aku memilih untuk berhenti sebelum semuanya jadi lebih buruk.”

Ia menatap surat di tangan Fatan.

“Pernikahan itu seharusnya ditopang dua orang, bukan satu,” lanjutnya. “Kalau hanya aku yang berusaha, cepat atau lambat ini akan runtuh juga.”

Fatan menatap kertas itu, lalu kembali ke Kanaya. “Kamu pikir aku tidak berusaha?”

Kanaya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Fatan lama, seolah mencari sesuatu yang dulu pernah ada.

“Aku dulu percaya kamu berusaha,” katanya akhirnya. “Tapi sekarang… aku tidak lagi merasakannya.”

Sunyi kembali menguasai ruangan.

“Aku tidak mau hidup dalam pernikahan yang penuh kebohongan,” tambah Kanaya. “Aku tidak mau setiap hari bertanya-tanya apakah kamu jujur atau tidak. Itu melelahkan… dan menyakitkan.”

Fatan menggertakkan giginya. “Dan kamu pikir cerai akan menyelesaikan semuanya?”

“Tidak,” jawab Kanaya jujur. “Ini tidak akan langsung membuat semuanya baik. Aku tetap akan sakit. Aku tetap akan kehilangan.”

Ia menarik napas dalam.

“Tapi setidaknya aku tidak harus terus disakiti oleh hal yang sama.”

Fatan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tampak kehilangan kata-kata.

“Kanaya…” suaranya lebih pelan sekarang. “Kita bisa perbaiki ini.”

Kanaya tersenyum kecil.

“Kita?” ulangnya pelan. “Sejak kapan ‘kita’ benar-benar ada di antara kita, Fatan?”

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari teriakan.

Fatan menatapnya, tapi tidak menemukan jawaban.

Kanaya melangkah mundur satu langkah, memberi jarak.

“Tandatangani saja,” katanya lembut. “Sebelum semuanya semakin rumit. Sebelum Amira tahu dengan cara yang lebih menyakitkan.”

Nama itu kembali membuat Fatan menegang.

“Aku tidak mau dia membenci kita berdua,” lanjut Kanaya. “Setidaknya… biarkan aku menyelamatkan satu hal yang masih bisa diselamatkan.”

Fatan melihat pulpen di atas meja, lalu surat itu, lalu kembali ke Kanaya.

“Dan kalau aku tidak mau tanda tangan?” tanyanya pelan.

Kanaya menatapnya tanpa ragu.

“Aku tetap akan pergi.”

Kalimat itu sederhana, tapi tidak memberi ruang untuk tawar-menawar.

Fatan menghela napas panjang, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kursi. Ia memandang surat itu lama, seolah berharap kata-kata di sana akan berubah.

Tapi tidak.

Semuanya nyata.

Kanaya berdiri diam, menunggu. Tidak mendesak, tidak juga menarik kembali keputusannya.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Akhirnya, Fatan meraih pulpen itu.

Tangannya berhenti sesaat di atas kertas.

“Ini pilihan kamu?” tanyanya sekali lagi, tanpa menatap.

Kanaya mengangguk. “Iya.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Fatan menandatangani surat itu.

Suara goresan tinta terdengar jelas di ruangan yang sunyi.

Selesai.

Fatan meletakkan pulpen itu dengan pelan, lalu mendorong surat tersebut ke arah Kanaya.

Kanaya menatap tanda tangan itu beberapa detik. Ada sesuatu yang hancur di dalam dirinya tapi anehnya, ada juga rasa lega yang perlahan muncul.

Ia mengambil surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Fatan tertawa kecil, hambar. “Untuk apa? Mengakhiri semuanya?”

Kanaya tidak menjawab.

Ia hanya menatap Fatan untuk terakhir kalinya mencoba mengingat pria itu bukan sebagai seseorang yang menyakitinya, tapi sebagai seseorang yang pernah ia cintai.

“Aku harap kamu bahagia,” katanya akhirnya.

Fatan tidak menjawab.

Kanaya berbalik, melangkah menuju pintu.

Setiap langkah terasa berat, tapi ia tidak berhenti.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia sempat berhenti sejenak.

Bukan untuk kembali.

Hanya untuk memastikan bahwa ia benar-benar siap meninggalkan semuanya.

Dan kali ini… ia tidak ragu.

Pintu itu terbuka.

Dan Kanaya melangkah keluar, meninggalkan pernikahan yang sejak lama sebenarnya sudah retak hanya saja, hari ini, ia akhirnya memilih untuk mengakuinya.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!