NovelToon NovelToon
SENTUHAN SANG MAFIA

SENTUHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"

"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.

...****************...

Lonceng di atas pintu toko berdenting renyah, tapi kali ini suaranya tidak membawa aroma segar dari luar. Suasana toko bunga Bibi Elsa yang biasanya tenang, mendadak terasa mencekam saat dua pria berjas hitam masuk. Tubuh mereka tegap, bahunya lebar, dan wajah mereka sekaku batu nisan.

Aku sedang merapikan beberapa tangkai mawar merah saat bayangan mereka menutupi meja kerjaku.

"Nona Lily?" suara salah satu dari mereka terdengar berat, seperti geraman mesin.

Aku mendongak, mencoba tersenyum meski jantungku mulai berdegup kencang. "Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu? Mau pesan buket untuk acara apa?"

Pria yang lebih tinggi, dengan bekas luka kecil di alisnya, tidak membalas senyumku. "Anda harus ikut kami sekarang. Tuan kami ingin bertemu."

Aku mengerutkan kening, meletakkan gunting bunga dengan tangan yang sedikit gemetar. "Tuan? Maaf, saya tidak mengenal tuan kalian. Kalau mau pesan bunga, silakan bicara di sini saja."

Bibi Elsa keluar dari ruangan belakang, wajah tuanya tampak pucat pasi. "Ada apa ini, Lily?"

"Tidak apa-apa, Bi. Mereka hanya... salah alamat mungkin," jawabku berusaha menenangkan. Aku kembali menatap pria itu. "Tolong keluar. Saya sedang bekerja."

Bukannya keluar, pria yang satu lagi justru menendang rak kayu berisi pot-pot keramik di dekatnya.

PRANG!

Pecahan keramik dan tanah berserakan di lantai. Beberapa pelanggan yang sedang melihat-lihat bunga berteriak histeris dan berlari keluar toko.

"LILY!" teriak Bibi Elsa ketakutan.

"Apa-apaan ini?!" teriakku, amarah mulai mengalahkan rasa takutku. "Kalian merusak toko ini! Keluar sekarang atau aku panggil polisi!"

Pria dengan bekas luka itu maju satu langkah, mencengkeram lenganku dengan kuat. "Polisi tidak akan berani datang ke tempat yang sudah ditandai oleh Tuan kami, Nona. Ikut dengan tenang, atau aku akan menghancurkan seluruh isi toko ini termasuk wanita tua itu."

Aku menatap Bibi Elsa yang menggigil di sudut ruangan. Aku tidak punya pilihan. Jika aku melawan, mereka mungkin akan menyakiti wanita yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.

"Cukup! Hentikan!" napasku memburu. "Aku ikut. Tolong, jangan sakiti Bibi Elsa."

"Pilihan yang cerdas," gumamnya dingin.

Mereka menggiringku keluar menuju sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir di depan. Orang-orang di trotoar hanya berani melirik sekilas lalu menunduk, seolah melihat malaikat maut sedang menjemput mangsanya.

Di dalam mobil, suasana sunyi senyap. Aku duduk di kursi belakang, diapit oleh dua pria raksasa itu.

"Kalian ini siapa sebenarnya?" tanyaku dengan suara bergetar. "Ke mana kalian membawaku? Apa salahku?"

Tidak ada jawaban.

"Aku tanya, siapa tuan kalian?! Kenapa dia mencariku?" aku mulai berteriak, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku karena frustrasi.

Pria di sebelah kananku hanya menatap lurus ke depan. "Diamlah, Nona. Anda akan mendapatkan semua jawabannya sebentar lagi. Dan saran saya, jaga ucapan Anda saat berhadapan dengan Tuan Erlan nanti jika Anda masih ingin melihat hari esok."

Mendengar nama itu, bulu kudukku meremang. Erlan Grisham. Nama yang hanya pernah kudengar dalam bisikan ketakutan orang-orang di pasar tentang penguasa dunia bawah yang kejam. Apa urusan seorang raja mafia dengan gadis penjaga toko bunga sepertiku?

Mobil terus melaju, menjauh dari keramaian kota, menuju sebuah mansion besar yang dikelilingi pagar besi tinggi. Aku tahu, hidupku yang tenang baru saja berakhir di detik ini.

***

Mobil memasuki gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis. Mansion di depanku lebih terlihat seperti benteng daripada rumah. Bangunannya megah, tapi terasa dingin dan mati. Setiap sudut dijaga oleh pria-pria bersenjata yang menatapku seolah aku adalah ancaman.

"Turun," perintah salah satu pengawal saat mobil berhenti.

Sebelum melangkah lebih jauh, dua orang pengawal wanita mendekat. Mereka menggeledahku dengan teliti, memastikan aku tidak membawa apa pun selain ketakutanku. Setelah mereka mengangguk, aku dibawa berjalan melewati jalan setapak yang panjang.

Namun, mereka tidak membawaku ke pintu utama mansion yang mewah itu. Kami berbelok ke arah samping, melewati pagar tinggi yang memisahkan bangunan utama dengan sebuah bangunan beton kelabu yang tampak kusam dan kokoh.

Markas. Itulah kata yang muncul di kepalaku.

Begitu pintu besi bangunan itu terbuka, bau anyir darah dan logam berkarat langsung menusuk hidungku. Aku bergidik ngeri. Tempat ini remang-remang, lebih mirip penjara bawah tanah. Di sudut-sudut ruangan, aku melihat rantai menggantung dan kursi besi yang tampak mengerikan—alat eksekusi yang hanya pernah kulihat di film horor.

Langkah kakiku bergema di lantai beton yang dingin. Di ujung ruangan, di bawah lampu gantung yang berpijar kuning, seorang pria tua duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit hitam. Meskipun rambutnya sudah memutih di bagian samping, tubuhnya masih tampak kekar dan sangat tegar di balik setelan jas mahalnya.

Dia adalah Erlan Grisham. Tatapannya setajam belati, mengulitiku hidup-hidup dari kejauhan.

"Bawa dia lebih dekat," suaranya berat, bergema di ruangan yang sunyi itu.

Pengawal mendorongku hingga aku berdiri tepat beberapa langkah di depannya. Aku berusaha menegakkan punggung, meski lututku terasa lemas.

"Jadi, ini putri dari Jhonatan?" Erlan menyesap cerutunya, lalu mengembuskan asapnya ke udara. Matanya menatapku tanpa belas kasihan. "Cantik. Tapi kecantikan tidak bisa membayar utang sepuluh miliar, bukan begitu, Liana?"

Aku menelan ludah, mencoba mencari suaraku yang tercekat. "U-utang apa? Ayahku sudah meninggal... aku tidak tahu apa-apa soal ini."

Erlan terkekeh, suara tawa yang kering dan tidak menyenangkan. "Ayahmu meminjam modal padaku bertahun-tahun lalu, dan dia menjanjikan sesuatu yang berharga jika dia gagal bayar. Dan sekarang, dia sudah tidak ada. Secara hukum duniaku, kaulah yang harus melunasinya."

Ia berdiri, berjalan perlahan mengitari tubuhku. Setiap langkah sepatunya yang mengilap terdengar seperti detak jam kematian bagiku.

"Aku punya pilihan untukmu, Lily," bisiknya tepat di samping telingaku. "Masuk ke dalam sel di pojok itu selamanya untuk menebus kesalahan ayahmu... atau masuk ke mansion utama sebagai istri dari putraku, Darrel."

Aku tersentak, menoleh menatapnya dengan mata terbelalak. "Menikah? Dengan orang yang tidak aku kenal?"

"Darrel butuh pendamping yang bisa ia kendalikan, dan kau butuh nyawamu tetap utuh," Erlan kembali duduk, menatapku dengan tatapan yang tidak menerima penolakan. "Pilih sekarang. Menjadi tahanan di sini, atau menjadi Nyonya Grisham?"

**

Aku menggeleng keras, melangkah mundur hingga punggungku menabrak dada bidang salah satu pengawal yang menjagaku.

​"Tidak mungkin! Ini gila!" teriakku, suaraku bergema di antara alat-alat penyiksaan yang mengerikan itu. "Ayahku bukan pengusaha. Kami hidup sederhana, Tuan Erlan. Ayahku hanya seorang security di Sekolah Dasar dan Ibuku hanya pedagang kecil. Kami bahkan sering makan seadanya. Bagaimana mungkin orang seperti mereka punya utang sepuluh miliar padamu?"

​Erlan hanya mendengus, sebuah senyum miring tersungging di wajahnya yang kaku. Dia seolah sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar di balik kabut asap cerutunya.

​"Itu bukan urusanku, dan hutang tetaplah hutang. Harus di bayar, Lily?" Erlan memberi kode pada anak buahnya. Sebuah dokumen tua yang pinggirannya sudah menguning diletakkan di atas meja besi di depanku. "Lihat sendiri."

​Dengan tangan gemetar, aku meraih kertas itu. Tanggal yang tertera di sana adalah dua puluh tahun yang lalu. Saat itu aku masih berusia tujuh tahun, masih asyik bermain boneka tanpa tahu apa-apa. Mataku langsung tertuju pada bagian bawah kertas.

​Jantungku serasa berhenti berdetak. Itu tanda tangan Ayah. Sangat khas, dengan tarikan garis yang selalu kuingat.

​"Ayahmu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawa keluargamu saat itu," suara Erlan merendah, terdengar semakin menekan mental kuku. "Dia mengambil uang itu dariku, dan sebagai jaminannya, dia memberikan 'aset' paling berharga yang dia miliki jika dia gagal bayar. Dan aset itu... adalah kau."

​Aku lemas. Dokumen itu terjatuh dari tanganku, meluncur pelan ke lantai beton yang kotor. Kepalaku pening. Sepuluh miliar? Bahkan jika aku bekerja di toko bunga Bibi Elsa selama seratus tahun pun, aku tidak akan pernah bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.

​Erlan berdiri, melangkah mendekat hingga bayangannya yang besar menenggelamkan tubuhku yang mungil. Ia mencondongkan tubuh, menatap langsung ke mataku.

​"Jangan mencoba membantah fakta yang sudah tertulis di atas materai darah ini, Lily. Kau tidak punya uang, tidak punya koneksi, dan tidak punya tempat lari. Pilihannya tetap sama," ia menunjuk ke arah sel gelap di pojok ruangan, lalu beralih menunjuk ke arah mansion mewah di balik pagar tinggi.

​"Membusuk di sel bawah tanah ini sebagai budak, atau naik ke atas sana, pakai gaun terbaikmu, dan jadilah istri dari putraku, Darrel Alaric Grisham."

...****************...

Bersambung...

1
Syarwiti Aulia
episode ny sdikit,,bttul Nungguin ny lma bnget
MissSHalalalal: baik, Author usahakan lebih banyak lagi. 🙏
total 1 replies
Mia Camelia
semangat thor😄👍
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
Tuti Handayani
bagus banget
MissSHalalalal: terimakasih kk🙏
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰🥰🥰
Mia Camelia
thor ceritaiin dong siapa ortu nya liliy???? kepoo nih thor🥰🥰🥰🥰
Mita Paramita
lagi Thor update 🔥🔥🔥
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Vanni Sr
semkiin kereen yaaaa , mungkin lily ank angkt org tua nya dlu py kuasa
Mia Camelia
darel kejam gak mau denger penjelasan lily😔
Nanik Arifin
mengertilah Lily, Darrel hanya ingin melindungimy. dr awal hanya itu yg ingin Darrel lakukan, tapi kamu aj yg keras kepala, pakai acr kabur segala. sepertinya Darrel ingin memutus generasi klan ini. sepak terjang klan ini tak sejalan dg rasa kemanusiaan Darrel yg begitu besar. nyata dia seorang dokter yg empati & jiwa menolongnya tinggi.
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mia Camelia
semangat thor, 🥰🥰🥰
Erna Tazmania
seru..semangat tor
Mita Paramita
lagi Thor update lagi 😘😘😘
seru banget ceritanya
Vanni Sr
kereeeen darrel mulai cmburuu
Mia Camelia
gak sabar mau ngliat pesta nya , mpe lily merasa tertekan😂
Mia Camelia
ceritaiin sedikit thor tentang kaka nya darel ky gimana ??? jdi penasaran😂
Mia Camelia
seru banget thor🥰, ayoo update lgi yg banyak☺😄
Mita Paramita
lagi Thor 🤣🤣🤣seru banget ceritanya
Mia Camelia
seru banget ini👍🥰😄
Fariza Imut: seru aku suka ceritanya
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut lagi double up 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!