“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Keinginan dan Rahasia di Balik Pintu
Pukul 21:00 malam.
Mansion Valenor tenggelam dalam kesunyian yang menyesakkan. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela-jendela tinggi, menciptakan siluet yang tampak seperti jemari hitam yang merangkak di sepanjang dinding koridor.
Setelah drama Clarisse pingsan di aula tadi sore, seluruh rumah seolah menahan napas. Para pelayan bergerak seperti bayangan, tidak berani mengeluarkan suara sekecil apa pun, takut memancing amarah Bastian yang sedang murka karena perhatian Kaelthas yang mulai terbagi.
Ceisya duduk di ambang jendela kamarnya yang luas, menatap ke arah taman belakang yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu; hanya cahaya rembulan yang menyinari wajahnya. Di tangannya, ponsel masih menampilkan pesan misterius tadi sore. Sangkar emas. Ceisya mendengus pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan layar dengan irama yang santai. “Orang kaya ini hobi banget ya main teka-teki. Nggak tahu apa kalau aku ini santriwati, bukan detektif,” gumamnya tengil, meskipun matanya tetap waspada.
Tiba-tiba, aroma sandalwood yang tajam dan dingin menyelinap masuk ke indra penciumannya sebelum suara langkah kaki terdengar. Ceisya tidak menoleh. Ia sudah hafal aura ini. Aura yang begitu dominan hingga membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.
“Belum tidur?” suara berat Kaelthas memecah keheningan dari arah pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka.
Ceisya tetap menatap ke arah taman, menyandarkan kepalanya di bingkai jendela. “Lagi nunggu malaikat maut datang, tapi kayaknya yang datang malah bos logistik. Salah alamat ya, Tuan?” sahut Ceisya tanpa dosa, nada bicaranya masih setengil biasanya meskipun ia tahu pria di belakangnya ini bisa saja menghancurkan hidupnya dalam sekejap.
Kaelthas melangkah masuk. Ia tidak menyalakan lampu, membiarkan kegelapan menyelimuti mereka berdua. Pria itu berhenti tepat di belakang Ceisya, cukup dekat hingga Ceisya bisa merasakan panas tubuh Kaelthas yang kontras dengan angin malam yang dingin. “Kamu punya nyali besar untuk tetap bersikap kurang ajar setelah melihat apa yang bisa aku lakukan pada keluarga ini,” ucap Kaelthas rendah, tangannya perlahan bertumpu di dinding di samping kepala Ceisya, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan jendela.
Ceisya akhirnya menoleh, mendongak untuk menatap mata Kaelthas yang berkilat di kegelapan. Jarak mereka sangat dekat, hanya beberapa sentimeter. “Aku nggak kurang ajar, Tuan. Aku cuma jujur. Lagipula, bukannya kamu bilang tadi sore kalau kamu suka sesuatu yang tidak bisa dikendalikan? Jadi, nikmati saja ketidaksopananku ini,” balas Ceisya dengan senyum miring yang menantang.
Kaelthas menyipitkan mata. Ia meraih satu helai jilbab Ceisya, memutarnya di antara jemarinya dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang menyiksa saraf Ceisya dengan ketegangan. “Ketidaksopananmu itu menarik, tapi juga berbahaya. Kamu sedang bermain api di dalam gudang mesiu, Ceisyra. Dan aku adalah pematiknya.” Desisnya rendah namun penuh penekanan.
“Oh ya?” Ceisya tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat berani di tengah suasana dark ini. “Tapi hati-hati, Tuan Pematik. Mesiu ini bisa meledak ke arahmu juga. Kamu yakin sanggup menanggung lukanya?” jawabnya tengil dan terdengar menantang.
Kaelthas terdiam, tatapannya turun ke bibir Ceisya yang terus-menerus melontarkan tantangan. Secara psikologis, Kaelthas adalah pria yang terbiasa mendapatkan ketaatan mutlak. Namun, di depan gadis ini, semua logikanya seolah diputarbalikkan. Ada keinginan manipulatif untuk melihat Ceisya memohon, namun di saat yang sama, ia sangat terobsesi untuk mempertahankan api di mata gadis itu.
“Kenapa kamu tidak pergi melihat Clarisse?” tanya Ceisya tiba-tiba, mencoba mengalihkan intensitas yang mulai terasa terlalu menyesakkan. “Dia kan pingsan demi menarik perhatianmu. Kasihan lho, aktingnya sudah sampai level maut begitu kalau nggak diapresiasi.” ucapnya berusaha mengalihkan suasana yang dingin.
“Aku tidak tertarik pada drama yang sudah aku tahu akhirnya,” jawab Kaelthas dingin. Tangannya yang tadinya di dinding, kini perlahan turun dan menyentuh dagu Ceisya, mengangkatnya dengan paksa agar mata mereka benar-benar terkunci. “Aku lebih tertarik pada misteri yang belum terpecahkan. Seperti... bagaimana seorang gadis yang seharusnya hancur karena cambukan, malah bisa meretas sistemku dan menatapku seolah aku ini bukan siapa-siapa.”
Ceisya bisa merasakan jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin dari permainan mental ini. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Kaelthas yang memegang dagunya, tidak untuk melepaskannya, tapi justru untuk menggenggamnya lebih erat. “Kalau kamu mau tahu rahasianya, harganya mahal, Kaelthas. Dan aku nggak yakin kamu mau membayarnya dengan sesuatu selain uang.”
Kaelthas menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak sangat berbahaya di bawah cahaya bulan. “Apa yang kamu inginkan? Kebebasan? Nama baik? Atau... kamu ingin aku membuang Clarisse?”
Ceisya mendekatkan wajahnya ke telinga Kaelthas, berbisik dengan nada yang sangat pelan namun tajam. “Aku ingin kamu berlutut dan mengakui kalau semua kekuatan logistikmu itu nggak ada artinya di depan jiwaku. Gimana? Sanggup?”
Kaelthas tersentak kecil. Keberanian Ceisya sudah melewati batas kewajaran. Pria itu justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Ceisya bisa merasakan detak jantung Kaelthas yang ternyata juga tidak tenang. “Berlutut? Mungkin bukan aku yang akan berlutut di sini, Ceisyra. Tapi kamu... yang akan memohon padaku untuk tidak pernah melepaskanmu.”
Suasana semakin gelap dan panas secara emosional. Kaelthas tidak bergerak, Ceisya tidak mundur. Mereka terjebak dalam perang dingin psikologis yang membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa sesak.
Namun, di tengah momen itu, suara pecahan kaca terdengar dari lantai bawah, diikuti oleh teriakan histeris Nyonya Clara Valenor.
Kaelthas melepaskan dagu Ceisya perlahan, namun tatapannya tetap mengunci. “Sepertinya adikmu sedang melakukan pertunjukan kedua,” ucapnya dengan nada muak yang kental.
Ceisya merapikan jilbabnya dengan tenang, matanya menatap Kaelthas dengan sorot tengil yang kembali muncul. “Yah, panggungnya memang milik dia malam ini. Tapi ingat ya, Tuan... penonton yang cerdas tahu mana yang aktris, dan mana yang sutradara. Kamu mau jadi yang mana?”
Kaelthas tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sedikit. “Besok pagi, siapkan barang-barangmu. Kamu tidak akan tinggal di rumah ini lagi.”
“Oh? Mau dibuang ke mana aku?” sahut Ceisya santai.
“Ke duniaku,” jawab Kaelthas pendek sebelum menghilang di balik kegelapan koridor.
Ceisya tertegun sejenak di ambang jendela. ‘Ke dunianya?’ batinnya. Senyum tipis terukir di bibirnya. Ia tahu, keluar dari rumah ini berarti masuk ke dalam sangkar yang lebih besar, namun setidaknya di sana ia punya lawan yang sepadan untuk diajak bermain.
Sementara itu, di kamar sebelah, Clarisse berdiri di tengah pecahan gelas kaca dengan tangan yang sengaja ia goreskan sedikit ke pinggiran nakas. Darah menetes perlahan, namun matanya tidak menunjukkan rasa sakit. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong yang mengerikan.
“Kaelthas tidak datang ke kamarku... dia malah ke kamar wanita itu,” bisik Clarisse, suaranya terdengar seperti desisan ular. "Hahaha." Ia tertawa pelan, sebuah tawa yang akan membuat siapa pun merinding. “Jika aku harus menghancurkan diriku sendiri untuk menghancurkanmu, akan aku lakukan, Ceisyra. Lihat saja... malam ini baru permulaan dari nerakamu.”
Apa yang sebenarnya direncanakan Clarisse dengan melukai dirinya sendiri? Dan apakah " dunia Kaelthas yang dimaksud adalah tempat perlindungan, atau justru penjara baru bagi Ceisya? Penasaran teman-teman dengan ceritaku. Ayo lanjutkan membacanya😊
Bersambung....
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca