Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 23: Menanam Benih Perdamaian
Dataran Tinggi Aetherion tidak pernah benar-benar hangat.
Angin di dataran tinggi itu bergerak tajam, melewati tebing-tebing luas dan padang batu yang terbentang di bawah langit kelabu. Awan menggantung rendah, seolah langit sendiri menekan tanah agar tidak bergerak.
Di ujung sebuah tebing tinggi, seorang pria berdiri sendirian.
Sagitta.
Pakaiannya bergerak pelan tertiup angin. Tatapannya mengarah jauh ke bawah, ke lembah-lembah yang tampak kecil dari ketinggian itu.
Di tangannya, Sunchaser terdiam.
Busur itu terlihat seperti benda mati, namun udara di sekitarnya tidak pernah sepenuhnya tenang. Cahaya keemasan samar bergerak di sepanjang lekuknya, seperti sisa matahari yang terperangkap di dalam senjata.
Sagitta tampak tenang.
Namun tidak sepenuhnya santai.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Tidak disembunyikan.
Tidak perlu.
Seorang pria berjalan mendekat dengan jubah panjang berwarna biru tua yang dihiasi simbol-simbol sihir halus. Rambutnya ungu, jatuh lurus di punggungnya. Matanya tenang, namun terlalu tajam untuk disebut lembut.
Magia.
“Kau mendengar kabarnya.” kata Sagitta tanpa menoleh.
Magia berhenti beberapa langkah di belakangnya.
“Semua orang mendengarnya.”
Sagitta tersenyum tipis.
“Patung ku dihancurkan.”
“Di Heimdall.”
“Di kuil utamamu.”
Angin berhembus lebih kuat.
Sunchaser memantulkan cahaya pucat.
“Manusia mulai berani.” gumam Sagitta.
Magia menatap punggungnya.
“Bukan manusia biasa.”
Sagitta akhirnya menoleh sedikit.
“Begitu yakin?”
“Pemuda berambut putih. Mata seperti matahari. Menghancurkan simbol kuil mu, menyerang penjaga, membunuh bandit, dan sekarang empat Ksatria Templar hilang setelah memasuki Alfheim.”
Tatapan Sagitta menyipit.
“Rumor bergerak cepat.”
“Ketakutan selalu bergerak cepat.”
Magia melangkah ke sampingnya, ikut menatap lembah di bawah.
“Ada yang bilang dia manusia yang berkultivasi sangat lama. Ada yang bilang anak ramalan. Ada juga yang mulai menyebutnya setengah dewa.”
Sagitta mendengus kecil.
“Setengah dewa.”
Nada suaranya terdengar menghina.
Namun Magia tidak melewatkan jeda kecil di antara kata itu.
“Kau tersinggung karena dia menantang mu?”
“Aku tersinggung karena serangga berpikir ia bisa menatap langit.”
“Serangga biasanya tidak membunuh empat Ksatria Templar sekaligus.”
Sagitta diam.
Untuk sesaat, hanya suara angin yang terdengar.
Magia menoleh padanya.
“Jangan meremehkannya.”
Sagitta tersenyum.
Namun senyumnya tidak sepenuhnya santai.
“Kau khawatir padaku?”
“Aku tidak suka ketidaktahuan.”
Magia menatap Sunchaser.
“Dan saat ini, kita tidak tahu apa dia sebenarnya.”
Sagitta menggenggam busur itu sedikit lebih erat.
“Kalau dia datang, aku akan tahu.”
Magia memperhatikannya sejenak, lalu berbalik.
“Semoga saat itu kau masih punya waktu untuk menyesal kalau dugaanmu salah.”
Sagitta tidak menjawab.
Magia pergi begitu saja, langkahnya menghilang di antara angin dataran tinggi.
Sagitta tetap berdiri di tebing.
Lebih lama dari biasanya.
Tatapannya turun pada Sunchaser.
“Bocah manusia…”
Suaranya rendah.
Tidak lagi sepenuhnya mengejek.
“…datanglah.”
Namun setelah kalimat itu, ia diam.
Dan untuk pertama kalinya, Sagitta benar-benar memikirkan nama yang belum pernah ia lihat wajahnya.
Grachius.
...—...
Pagi di Hutan Alfheim datang perlahan.
Cahaya matahari menembus daun-daun tinggi, jatuh dalam garis-garis lembut di atas tanah yang masih menyimpan bekas malam sebelumnya.
Tanah hangus.
Pohon retak.
Sisa armor gosong.
Dan udara yang masih terasa berbeda.
Bukan karena kebencian mereka hilang.
Melainkan karena sesuatu yang lebih besar baru saja melewati mereka.
Grachius berdiri di dekat api unggun yang sudah padam.
Enjin tergantung di pinggangnya.
Wajahnya tetap tenang, seolah malam sebelumnya hanyalah bagian biasa dari perjalanan.
Daji berdiri di sampingnya, namun sesekali meliriknya.
Bukan pada wajahnya.
Pada tangannya.
Tangan yang semalam memanggil api hitam.
Api yang tidak terasa seperti api.
Grachius menoleh ke arah jalan keluar hutan.
“Aku pergi.”
Itu saja.
Tidak ada pidato.
Tidak ada pesan panjang.
Ia mulai berjalan.
Daji mengikutinya tanpa bertanya.
Namun beberapa langkah kemudian—
“Grachius!”
Suara Sylvia terdengar dari belakang.
Grachius tidak benar-benar berhenti. Ia hanya sedikit melirik.
Sylvia berdiri di antara beberapa Light Elf yang terluka. Wajahnya tampak lelah, namun tatapannya jauh lebih jernih dibanding malam sebelumnya.
“Terima kasih.”
Hening menyebar sebentar.
Karrie yang berdiri tak jauh dari sana mendecak pelan, seolah kesal harus mengatakan hal yang sama.
Namun akhirnya ia tetap bicara.
“Kami berhutang padamu.”
Beberapa elf lain menunduk kecil.
Tidak dalam.
Tidak penuh hormat sepenuhnya.
Namun cukup untuk menunjukkan perubahan.
Semalam, Grachius adalah pendatang.
Penyusup.
Ancaman.
Pagi ini, mereka memandangnya dengan cara berbeda.
Bukan nyaman.
Belum percaya sepenuhnya.
Namun mereka tahu satu hal—
jika Grachius tidak turun tangan, banyak dari mereka tidak akan melihat matahari pagi.
Daji memperhatikan wajah Grachius.
Dan ia melihatnya.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Sebuah senyum tipis.
Lalu hilang.
Grachius hanya mengangguk kecil.
Kemudian kembali berjalan.
Daji menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Kau baru saja tersenyum?”
“Tidak.”
“Kau tersenyum.”
“Tidak.”
“Kau buruk sekali dalam berbohong.”
Grachius terus berjalan.
“Itu bukan urusanmu.”
Daji tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, bukan karena menggoda.
Melainkan karena sesuatu yang lebih hangat.
...—...
Malam sebelumnya, setelah api hitam padam, tidak ada seorang pun yang tahu harus berkata apa.
Para elf berdiri membeku, menatap tanah hangus di tempat empat Ksatria Templar tadi berada.
Grachius hanya berjalan kembali ke dekat api, duduk, lalu mengambil sisa daging.
Daji sempat menatapnya seperti ia kehilangan akal.
“Kau… masih makan?”
“Aku lapar.”
“Empat orang baru saja menjadi abu.”
“Mereka tidak makan lagi.”
“Bukan itu maksudku.”
Namun Grachius sudah mengunyah.
Keheningan itu membuat para elf semakin canggung.
Sylvia akhirnya melangkah mendekat.
“Kami kalah.”
Kata itu keluar dengan berat.
Seorang Light Elf di belakangnya ingin membantah, namun tidak jadi.
Karrie menyilangkan tangan.
“Kalau dia tidak ikut campur, separuh dari kita mungkin mati.”
“Lebih dari separuh.” kata Grachius datar.
Karrie menatapnya tajam.
“Kau tidak perlu memperjelas.”
“Aku hanya menjawab.”
Daji menutup mulut, menahan tawa.
Sylvia menatap Grachius cukup lama.
“Kau memperhatikan pertarungan kami.”
“Ya.”
“Dan?”
“Kalian bisa bertarung bersama.”
Hening.
Beberapa Light Elf langsung terlihat tersinggung.
Salah satu dari mereka berkata tajam.
“Kami tidak bertarung bersama Dark Elf.”
Karrie langsung membalas.
“Kami juga tidak ingin bertarung bersama kelompok daun putih sepertimu.”
Grachius menunjuk area pertempuran dengan potongan daging.
“Tapi tadi kalian melakukannya.”
Mereka terdiam.
Grachius melanjutkan.
“Saat Ksatria Templar menyerang, kalian tidak saling membunuh.”
“Itu karena ada musuh bersama.” kata Sylvia.
“Berarti kalian tahu caranya.”
Karrie membuka mulut untuk membantah.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Daji menyandarkan dagu di lutut.
“Kalau kalian benar-benar saling membenci, kalian pasti sudah lama pergi dari hutan ini.”
Semua menatapnya.
Daji tersenyum malas.
“Apa? Aku salah?”
“Diam lah, rubah.” gumam salah satu Light Elf.
Daji menunjuk dirinya sendiri.
“Rubah yang cantik.”
Grachius menatap Sylvia dan Karrie bergantian.
“Hutan ini besar.”
“Dan?” tanya Karrie.
“Jagalah bersama jika ini rumah kalian.”
"Itu tidak sulit."
Kalimat itu sederhana.
Terlalu sederhana untuk konflik yang sudah berlangsung lama.
Namun justru karena itu, tidak ada yang langsung bisa menertawakannya.
Sylvia menatap tanah hangus.
Karrie menatap bayangan pohon di belakangnya.
Tidak ada perdamaian malam itu.
Tidak ada janji besar.
Namun sesuatu bergerak kecil di antara mereka.
Keraguan.
Bukan terhadap satu sama lain.
Melainkan terhadap kebencian lama yang selama ini mereka anggap wajar.
Dan itu cukup.
Untuk saat itu.
...—...
Daji memikirkan semua itu sepanjang pagi.
Grachius bukan hanya kuat.
Itu sudah jelas.
Ia bisa membunuh Ksatria Templar dalam hitungan detik. Ia bisa membuat monster kabur. Ia bisa membuat Daji—siluman rubah yang terbiasa memangsa manusia—merasa takut hanya dengan satu tatapan.
Namun ada sesuatu yang lebih aneh.
Orang-orang mendengarkannya.
Bukan karena ia banyak bicara.
Justru sebaliknya.
Ia hampir tidak pernah menjelaskan panjang.
Tidak mencoba memimpin.
Tidak mencoba terlihat bijak.
Namun ketika ia berbicara, orang-orang berhenti.
Mendengar.
Bahkan berubah sedikit.
Daji menatap punggung Grachius saat mereka berjalan melewati hutan.
Apa sebenarnya dia?
Monster?
Iblis?
Demigod?
Atau sesuatu yang tidak cocok dimasukkan ke dalam nama apa pun?
Rasa takut itu masih ada.
Terutama setiap kali ia mengingat api hitam.
Tapi di sebelah rasa takut itu—
ada rasa ingin tahu yang semakin sulit ia tahan.
Dan sesuatu yang lebih berbahaya lagi.
Ketertarikan.
Bukan seperti sihirnya.
Bukan seperti hasrat yang biasa ia manfaatkan dari manusia.
Ini berbeda.
Lebih lambat.
Lebih dalam.
Dan Daji tidak yakin ia menyukainya.
“Kenapa melihatku terus?” tanya Grachius tanpa menoleh.
Daji langsung berkedip.
“Aku tidak melihatmu.”
“Kau melihat.”
“Aku sedang memperhatikan jalan.”
“Jalannya di depan.”
Daji mendecak.
“Kau menyebalkan.”
“Mm.”
“Aku serius.”
“Mm.”
“Jangan jawab ‘mm’ terus!”
“Baiklah.”
Daji menunggu.
Grachius diam.
“…itu saja?”
“Ya.”
Daji menghela napas panjang.
Namun kali ini, ia tersenyum kecil.
...—...
Pepohonan Alfheim mulai menipis menjelang siang.
Cahaya matahari semakin terbuka di depan mereka. Jalan tanah kembali terlihat, membentang jauh menuju wilayah timur.
Hutan yang hidup dan mengawasi perlahan tertinggal di belakang.
Daji berjalan di samping Grachius, ekornya bergerak pelan.
“Jadi sekarang ke mana?”
Grachius tidak ragu.
“Timur.”
Daji memutar mata.
“Jawaban itu lagi.”
Namun berbeda dari sebelumnya—
ia tidak terdengar kesal.
Hanya lelah dengan cara yang hampir akrab.
Mereka terus berjalan.
Di belakang mereka, Alfheim mulai berubah sedikit demi sedikit.
Di Heimdall, nama pria berambut putih mulai dibisikkan di gang-gang miskin dan lorong kuil.
Di Dataran Tinggi Aetherion, Sagitta mulai menunggu.
Di tempat-tempat lain, rumor bergerak lebih cepat daripada langkah kaki.
Grachius belum menyadarinya.
Namun namanya mulai mendahuluinya.
Bukan lagi sekadar bisikan.
Bukan lagi sekadar ramalan.
Melainkan tanda pertama bahwa sesuatu telah lahir di dunia ini.
Sesuatu yang membuat manusia berharap.
Membuat elf ragu pada kebencian mereka.
Membuat kuil takut.
Dan membuat langit—
untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama—
mulai gelisah.
...A Novel By Franzzz...