Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ndak Cocok!
Rayden kini berdiri di tengah markas besar Black Lotus, dikelilingi tim informan yang mendadak sibuk mengatur arus informasi dari Jakarta.
"Tuan Muda, pernikahan baru saja selesai sepuluh menit yang lalu," lapor salah satu anggota dengan kepala tertunduk.
Austin yang berdiri di balik bahu Rayden, menarik napas lega. Sebuah senyum kemenangan yang tipis, hampir tak terlihat, tersungging di bibirnya.
‘Misiku berhasil,’ batinnya penuh kepuasan. Ia sudah membayangkan Rayna yang hancur, menangis tersedu-sedu, dan akhirnya lari ke pelukannya setelah dikhianati Deva.
Namun, kalimat selanjutnya dari si informan menghantam ruangan itu seperti ledakan.
"Tapi ada perubahan mendadak di pelaminan, Tuan. Pengantin wanitanya bukan Isabella... melainkan Nona Rayna.”
BRAK!
Austin menendang kursi di dekatnya hingga terguling. Senyum kemenangannya hancur berkeping-keping, digantikan oleh wajah merah padam yang mengerikan. Rahangnya mengeras, giginya menggeretak begitu keras hingga terdengar suara gesekan yang ngilu.
"Apa kau bilang?! Rayna?!" teriak Austin, ia merangsek maju dan mencengkeram kerah baju sang informan itu. "Jangan bercanda! Kenapa bisa dia?!"
Rayden sendiri terperanjat, matanya membelalak tak percaya. Perasaannya mendadak menjadi benang kusut yang mustahil diurai. Ada rasa syukur karena impian adiknya tercapai, namun ia juga bingung.
‘Kenapa Deva berubah pikiran? Apa yang terjadi pada Isabella?’
Tanpa memedulikan Austin yang sedang mengamuk, Rayden segera menekan nomor Rayna. Jantungnya berpacu saat nada sambung berbunyi.
Satu detik... dua detik...
"Halo? Bang Eden?" Suara lembut namun serak terdengar di seberang sana.
"Rayna! Apa yang kau lakukan di sana?! Kenapa tiba-tiba kau yang menikahi Deva?" tuntut Rayden, suaranya menggelegar di ruang markas yang kini sunyi senyap.
Di seberang telepon, di dalam kamar pengantin yang luas dan dingin, Rayna sedang duduk di tepi ranjang. Ia masih mengenakan gaun putih megah yang terasa mencekik. Di dalam kamar mandi, terdengar suara air mengalir dibarengi gerutuan kasar Deva.
"Tunggu, Bang... pelan-pelan," bisik Rayna, ia memberikan isyarat pada Cecilia dan Chira yang sedang berjuang membuka kaitan rumit di punggung gaunnya.
"Onty, jangan gelak-gelak, nanti talinya putus! Bisa diomeli sama Mama meltuanya lho," ucap Chira menarik-narik payet gaun dengan jemari mungilnya.
Rayna menarik napas panjang, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. "Isabella... dia tidak bisa menikah, Bang. Dia nekat. Dia minum racun tikus tepat sebelum acara dimulai."
"Apa?!" Rayden terkesiap, ponselnya hampir terlepas.
"Om Nicho... dia tidak mau malu," lanjut Rayna dengan nada getir. "Jadi dia mengancam akan mencabut semua hak waris Deva jika pernikahan ini batal. Jadi, Om memintaku menggantikan posisi Isabella. Dan Deva... dia tidak punya pilihan selain setuju."
“Lantas apa alasan Deva mau menikahi Isabella?” tanya Rayden lagi.
Cecilia rasanya ingin menjawab, tapi ia merasa harus memberi waktu Rayna menjelaskan sendiri pada Rayden. Chira di sampingnya pun tampak mengerutkan dahi melihat Cecilia yang senyum-senyum sendiri. Rayna yang menikah, justru Cecilia yang tampak senang. Bagaimana tidak? Akhirnya ia menjadi ipar dari adik Rayden.
Austin yang berada di samping Rayden mengepalkan tangannya hingga ujung kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia mendengar setiap kata lewat speaker ponsel Rayden yang bocor. Kemarahan membakar dadanya karena rencana yang ia susun rapi hancur total karena kegilaan seorang Nicholas.
‘Padahal aku sudah menyamar sebagai Deva, mendekatinya selama ini hanya untuk mengambil perhatiannya tapi Rayna sekarang menjadi istrinya? Kenapa jadi kacau begini?’ gerutu Austin dalam hati. Sepuluh tahun ia mendekati Rayna sebagai sahabat Rayden dan berpura-pura menjadi Deva melalui Email, tapi usahanya tetap gagal total.
"Lalu bagaimana keadaan Isabella sekarang?" tanya Rayden, suaranya merendah.
"Cloe dan Papa Harris baru saja berangkat ke rumah sakit untuk menyusul Isabella. Kami di sini masih... entahlah, Bang. Semuanya kacau," lirih Rayna.
Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka dengan sentakan kasar. Deva keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi, rambutnya basah kuyup, dan wajahnya tampak siap meledak kapan saja.
"Sudah selesai laporannya, Istri pengganti?" sindir Deva tajam, matanya menatap Rayna dengan benci yang murni.
Rayna tersentak dan segera mematikan sambungan teleponnya membuat Rayden terkejut panggilannya diputus sepihak. Rayden membuang napas berat lalu menatap Austin yang gelisah.
“Austin!”
“Ya?”
Rayden melangkah mendekat. “Mengapa kamu begitu marah mengetahui Rayna menikah? Jangan-jangan... Kamu tidak terima?”
Austin diam.
“Austin, kita sudah berteman lama, bahkan aku sudah menganggapmu sebagai saudara sendiri, kamu.. tidak merencanakan sesuatu di belakangku, kan?” ucap Rayden penuh selidik. Matanya menyipit melihat gerak-gerik Austin yang mencurigakan.
“A-aku…” Austin panik.
____
Di koridor rumah sakit yang biasanya sunyi, langkah kaki Cloe dan Harris terdengar berdentum keras, membelah keheningan menuju ruang UGD. Napas mereka memburu, dibayangi ketakutan akan kehilangan Isabella selamanya. Namun, saat pintu geser itu terbuka otomatis...
Sret!
Waktu seolah berhenti. Di atas bangsal, Isabella sedang duduk santai sambil mengupas kulit pisang. Wajahnya segar bugar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda orang yang baru saja menelan racun tikus. Di sampingnya, Maria tampak tenang mengupas buah apel.
"Lho?" Harris mematung, mulutnya agak menganga.
Isabella menoleh, lalu menyeringai lebar tanpa dosa. "Ayah, Cloe! Hehe... maaf ya," ucapnya sambil menggaruk kepala, lalu melahap potongan pisang itu dengan lahap.
Harris mengusap wajahnya kasar. "Jadi... ini semua cuma akting?" tanyanya lemas. Ia baru sadar bahwa anak tiri dan istrinya telah melakukan konspirasi tingkat tinggi untuk mengelabui Nicholas.
Namun, reaksi Cloe jauh di luar dugaan. Tanpa memedulikan pisang di tangan Isabella, Tuan Muda ketiga itu menghambur maju dan memeluk Isabella begitu erat. Harris dan Maria sampai melongo melihat pemandangan itu.
"Dasar bodoh! Kamu hampir membuatku mati menyusulmu!" bentak Cloe di sela dekapannya, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
"Maaf, Sayang," bisik Isabella lembut.
"Ha? Sayang?!" seru Harris dan Maria kompak. Mata mereka membulat sempurna, nyaris copot dari kelopaknya. "Kalian ini... pacaran?"
Cloe melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tangan Isabella dengan sangat erat seolah tak mau kehilangan lagi. Ia mengangguk mantap ke arah Harris. "Ya, Om. Kami sudah lama pacaran diam-diam!" ungkap Cloe, matanya memancarkan keberanian yang jarang ia tunjukkan.
"Kenapa tidak jujur dari awal?" tanya Maria, masih syok.
"Kami takut tidak direstui Om Nicho," lirih Isabella menatap Cloe dengan cemas.
Harris memijat pangkal hidungnya yang mendadak pening. Ia bisa membayangkan murka Nicholas jika tahu semua ini adalah sandiwara. "Nicholas akan mengamuk jika tahu kalian membohonginya," gumam Harris ngeri.
"Ayah, tenang saja. Aku akan pura-pura koma dulu biar Om Nicho tidak curiga," sahut Isabella berusaha menenangkan.
"Benar, Om. Aku yang akan melindungi Isabella, bahkan jika aku harus melawan Ayahku sendiri!" sambung Cloe dengan nada menantang. Ia menatap Isabella dalam-dalam.
"Meskipun aku tidak sekuat Deva, tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri. Berjanjilah, jangan pernah nekat seperti tadi lagi. Aku sangat takut..."
Isabella menyeka air mata yang mulai menggenang. "Terima kasih, Cloe. Aku sayang padamu," ucapnya tulus sambil menyandarkan kepala di bahu Cloe.
Maria yang melihat momen romantis itu segera menarik lengan suaminya. "Yuk, kita keluar saja. Biarkan mereka berdua dulu," ajak Maria.
"Tapi, Mar! Mereka itu masih bocah ingusan, tidak boleh pacaran!" protes Harris.
"Aelah, kaku banget sih jadi orang! Pantas saja dulu kamu kelamaan jomblo," ledek Maria sambil menyeret Harris keluar. Harris hanya bisa mengerucutkan bibirnya pasrah.
Sementara itu, di kamar pengantin yang seharusnya romantis, suasana justru memanas. Cecilia sedang berdiri berkacak pinggang di depan Deva yang masih tampak murka. Di sudut ruangan, Chira tidak tinggal diam, ia sibuk memanasi suasana.
"Onty Cecil, suluh saja Om Galak itu tidul di kandang sapi! Banyak itu saudala-saudalanya di sana!" seru Chira sambil menunjuk-nunjuk Deva.
"Heh, bocah astral! Bisa diam tidak?!" bentak Deva, urat di lehernya menonjol.
"Ihh, Om Galak kalau malah-malah jelek kali! Ndak cocok sama Onty Layna yang tantik ini. Om cocoknya sama Nenek Gayung!" balas Chira sambil menjulurkan lidah.
"KAMU—!" Deva sudah bersiap menerjang, namun Rayna segera menahan lengannya dengan tatapan serius, tak ada lagi terpancar kesedihan di sana, melainkan seorang putri mafia Black Lotus yang tak segan-segan mengotori tangannya jika keluarganya berani disakiti.
______
Salah target nih Deva…
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗