NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: BELATI DI BALIK DOA

Jakarta setelah hujan selalu menyisakan aroma aspal basah yang tajam, namun bagi Larasati, aroma pagi ini membawa firasat yang lebih menyesakkan. Di meja makan apartemennya yang minimalis, ia menatap cangkir kopinya yang sudah mendingin. Di depannya, Baskara sedang sibuk bertelepon dengan mandor proyek di Jakarta Utara, wajahnya tampak tegang namun penuh semangat. Semuanya tampak normal, namun pesan ancaman dari Adrian tempo hari masih menggantung di benak Larasati seperti pedang Damocles yang siap jatuh kapan saja.

"Laras, aku harus ke lokasi sekarang. Ada kendala pengiriman material untuk sekolah yayasan," ucap Baskara sambil mencium kening Larasati. "Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Tim keamanan sudah berjaga di lobi."

Larasati tersenyum, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Hati-hati, Baskara. Sampaikan salamku untuk tim lapangan."

Begitu pintu tertutup, keheningan apartemen itu terasa mencekik. Tak lama kemudian, ponsel Larasati bergetar. Sebuah foto masuk dari nomor yang kembali tidak dikenal. Jantung Larasati seolah berhenti berdetak saat melihat gambar itu: Ibu Rahayu sedang duduk di sebuah taman panti jompo yang tenang, namun di belakangnya, berdiri Adrian Wijaya yang sedang tersenyum ramah sembari memegang bahu wanita tua itu.

Teks di bawah foto itu singkat namun mematikan: "Ibu yang suci selalu punya tempat untuk tamu yang tersesat. Apakah kamu sudah memberi tahu beliau tentang bagaimana suaminya benar-benar mati, Larasati? Atau haruskah aku yang membacakannya sebagai dongeng sebelum tidur?"

Larasati meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Sialan kamu, Adrian!" desisnya.

Tanpa membuang waktu, Larasati menghubungi Aditama. "Adit, jemput aku sekarang. Kita ke pondok Ibu Rahayu. Adrian ada di sana."

"Apa? Bagaimana bisa dia menembus keamanan?" suara Aditama terdengar panik di seberang telepon.

"Dia tidak menembus keamanan sebagai musuh, Adit. Dia masuk sebagai 'donatur'. Dia menggunakan topeng yang paling disukai Ibu: kebaikan," jawab Larasati sambil menyambar tasnya.

Selama perjalanan menuju pinggiran Jakarta, pikiran Larasati berkecamuk. Ibu Rahayu adalah sosok yang rapuh. Setelah semua badai yang menghancurkan keluarga Pratama, wanita itu baru saja mulai menemukan kedamaiannya kembali melalui doa dan pengabdian. Jika Adrian membongkar detail kekejian Tuan Pratama atau cara tragis kematian pria itu di penjara yang melibatkan konspirasi Kusuma, Ibu Rahayu bisa hancur secara mental.

Sesampainya di pondok, Larasati melihat mobil mewah Adrian terparkir di bawah pohon kamboja. Ia melangkah dengan cepat, mengabaikan sapaan para pengurus pondok. Di teras belakang yang menghadap ke kebun sayur, ia melihat mereka.

Adrian sedang menyesap teh hijau, tampak sangat akrab dengan Ibu Rahayu yang sedang merajut syal wol.

"Larasati? Nak, kok mendadak sekali datangnya?" tanya Ibu Rahayu dengan wajah ceria yang tulus. "Lihat, ada nak Adrian di sini. Dia baru saja menyumbangkan dana besar untuk perbaikan atap masjid kita."

Adrian berdiri, membungkuk sopan dengan gerakan yang sangat terlatih. "Selamat siang, Nona Larasati. Senang melihat Anda kembali segar setelah konferensi pers yang... luar biasa kemarin."

Larasati menatap mata Adrian. Di balik lensa kacamatanya yang jernih, ia melihat kilatan kegilaan dan dendam yang sangat dalam. "Ibu, boleh saya bicara berdua dengan tamu Ibu sebentar? Ada urusan bisnis mendesak yang melibatkan yayasan."

Ibu Rahayu mengangguk sambil tersenyum. "Tentu, Nak. Ibu ambilkan camilan dulu di dapur, ya."

Begitu Ibu Rahayu hilang dari pandangan, suasana hangat di teras itu seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk.

"Apa maumu, Adrian?" tanya Larasati, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Jangan berani-berani mengusik Ibu Rahayu. Dia tidak tahu apa-apa tentang dosa suaminya atau dendammu."

Adrian tertawa kecil, ia kembali duduk dan menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Dia tidak tahu apa-apa? Itulah masalahnya, Larasati. Kamu membiarkan dia hidup dalam gelembung kebohongan yang indah. Sementara ibuku... ibuku mati dalam kehinaan di sebuah kontrakan sempit karena suaminya—Tuan Pratama yang agung itu—membuangnya seperti sampah demi menjaga citra keluarga."

"Aku turut berduka atas ibumu," ucap Larasati dingin. "Tapi itu bukan salah Ibu Rahayu. Dia juga korban. Dia dikhianati berkali-kali oleh pria yang sama."

"Tapi dia tetap menikmati fasilitas sebagai 'istri sah' selama puluhan tahun!" suara Adrian mendadak naik, urat lehernya menegang. "Sedangkan aku? Aku tumbuh besar dengan melihat ibuku menangis setiap malam, memegang foto pria yang bahkan tidak sudi mengakui namaku di akta kelahiran. Dan sekarang, kamu datang sebagai pahlawan, mencuci bersih semua noda itu dengan yayasanmu? Tidak akan kubiarkan."

Larasati menyadari satu hal yang luput dari pengamatannya. Adrian bukan hanya sekadar anak angkat dari selingkuhan Tuan Pratama. Dia adalah anak kandung yang tidak diakui. Dia adalah saudara tiri Maya dan Baskara yang dibuang ke kegelapan.

"Jadi ini soal pengakuan?" tanya Larasati, mencoba mencari celah. "Kamu ingin dunia tahu siapa ayahmu?"

"Aku ingin dunia tahu betapa busuknya fondasi tempat kalian berdiri!" balas Adrian. "Jika aku harus menghancurkan wanita tua itu untuk membuat kalian merasakan apa itu kehancuran keluarga, maka aku akan melakukannya dengan senang hati. Bayangkan, Laras... bagaimana reaksi Ibu Rahayu jika dia tahu bahwa suaminya bukan mati karena sakit, tapi karena dia sengaja menelan racun yang dikirim oleh Kusuma atas izin diam-diam darimu agar kasusnya tidak melebar?"

Larasati tertegun. Itu adalah informasi yang sangat rahasia yang hanya diketahui olehnya, Aditama, dan tim hukum. Bagaimana Adrian bisa tahu?

"Kamu punya mata-mata di dalam timku," gumam Larasati.

Adrian tersenyum penuh kemenangan. "Uang bisa membeli banyak hal, Larasati. Termasuk kesetiaan pengacaramu yang paling junior. Sekarang, pilihannya ada padamu. Serahkan 30% saham Hardianto Group kepadaku sebagai 'biaya ganti rugi' masa kecilku yang hilang, atau aku akan mulai menceritakan 'dongeng' ini pada Ibu Rahayu sekarang juga."

Tepat saat itu, Ibu Rahayu kembali membawa sepiring pisang goreng hangat. Ia tidak menyadari ketegangan yang terjadi. "Ayo dimakan, Nak Adrian, Nak Laras."

Larasati menatap Ibu Rahayu, lalu menatap Adrian. Ia merasa terpojok. Jika ia melawan secara fisik, Adrian akan bicara. Jika ia diam, ia akan dirampok secara perlahan.

"Ibu," ucap Larasati tiba-tiba, suaranya bergetar. "Ada sesuatu yang harus saya sampaikan."

Adrian menaikkan alisnya, tampak terkejut dengan keberanian Larasati yang tiba-tiba.

"Apa itu, Nak?" tanya Ibu Rahayu lembut.

Larasati memegang tangan Ibu Rahayu. "Nak Adrian ini... dia adalah putra dari Tuan Pratama. Dia adalah adik Baskara yang selama ini tidak kita ketahui."

Adrian seketika membeku. Ia tidak menyangka Larasati akan membongkar identitasnya di depan Ibu Rahayu dengan cara seperti ini. Ia merencanakan serangan psikologis yang pelan dan menyakitkan, bukan konfrontasi langsung yang jujur.

Ibu Rahayu tertegun. Ia menatap Adrian dengan pandangan yang sulit diartikan. Matanya yang sudah tua itu mulai berkaca-kaca. Ia meletakkan piringnya dan mendekati Adrian.

"Benarkah itu, Nak?" tanya Ibu Rahayu, suaranya sangat halus.

Adrian kehilangan kata-kata. Keangkuhannya seolah luntur di depan tatapan mata Ibu Rahayu yang tidak menunjukkan kebencian, melainkan rasa bersalah yang mendalam.

"Ibu... Ibu sudah lama menduga kalau suamiku punya anak lain di luar sana," lanjut Ibu Rahayu sambil menyentuh pipi Adrian. "Ibu selalu berdoa, jika anak itu ada, semoga dia hidup baik. Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu karena tidak mencarimu lebih awal. Maafkan Ibu karena membiarkanmu tumbuh dalam kemarahan."

Adrian memalingkan wajahnya, bahunya mulai gemetar. Ini bukan reaksi yang ia harapkan. Ia ingin diteriaki, ia ingin diusir, ia ingin Ibu Rahayu merasa jijik padanya agar dendamnya memiliki alasan untuk terus membara. Namun, pengampunan dan kasih sayang yang tulus dari wanita yang seharusnya membencinya itu justru menghancurkan benteng pertahanannya.

Larasati memperhatikan kejadian itu dengan napas tertahan. Ia menyadari bahwa strategi terbaik untuk menghadapi kegelapan bukanlah dengan cahaya yang menyilaukan, melainkan dengan kehangatan yang meluluhkan.

"Ibu tahu tentang ibumu, Adrian," ucap Ibu Rahayu lagi. "Namanya Sari, kan? Dia wanita yang cantik. Suamiku dulu sangat mencintainya, tapi dia terlalu pengecut untuk melindunginya dari tekanan keluarga besar. Kamu tidak perlu mengancam Larasati untuk mendapatkan apa yang menjadi hakmu. Jika kamu butuh pengakuan, kamu sudah mendapatkannya dari Ibu hari ini."

Adrian berdiri dengan kasar, menjatuhkan cangkir tehnya hingga pecah. "Ini... ini belum selesai! Jangan pikir dengan akting suci ini kalian bisa membayarku!"

Ia berlari meninggalkan teras, masuk ke mobilnya, dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang berterbangan di halaman pondok.

Larasati segera memeluk Ibu Rahayu yang kini menangis tersedu-sedu. "Maafkan saya, Ibu. Saya terpaksa mengatakannya."

"Tidak apa-apa, Laras," isak Ibu Rahayu. "Anak itu... dia punya mata yang sangat mirip dengan ayahnya saat sedang marah. Dia penuh dengan luka, Laras. Tolong, jangan sakiti dia. Bantulah dia untuk sembuh, sebagaimana kamu membantu Baskara."

Larasati terdiam. Ia baru saja melihat bagaimana sebuah dendam yang dirajut selama puluhan tahun bisa goyah hanya dalam hitungan menit karena sebuah pelukan. Namun ia juga tahu, Adrian adalah pria yang terluka parah, dan pria yang terluka parah seringkali melakukan hal yang paling berbahaya saat mereka merasa kehilangan arah.

Malam itu, Larasati menceritakan semuanya kepada Baskara. Baskara terdiam cukup lama, menatap kegelapan di luar jendela apartemen.

"Aku punya adik laki-laki," gumam Baskara. "Dan dia ingin menghancurkan kita karena dia merasa kita mencuri hidupnya."

"Dia bukan ingin menghancurkan kita, Baskara. Dia ingin kita merasakan apa yang dia rasakan," koreksi Larasati. "Ibumu benar. Dia butuh kesembuhan, bukan hukuman. Tapi kita harus tetap waspada. Dia masih memegang informasi tentang kematian ayahmu."

Baskara mengepalkan tangannya. "Jika dia ingin perang, dia sudah mendapatkannya. Tapi jika dia ingin keluarga... maka dia harus belajar bahwa keluarga tidak dibangun di atas ancaman."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!