"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUTAN RIMBA DI LANTAI 40
Ruang kerja Arkananta Dirgantara di lantai 40 Dirgantara Tower biasanya adalah definisi dari kemewahan yang dingin. Dinding kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan cakrawala Jakarta, furnitur kayu ebony yang dipoles mengkilap, dan aroma leather serta parfum maskulin yang elegan. Ruangan itu dirancang untuk mengintimidasi siapa pun yang masuk, sebuah takhta bagi seorang predator bisnis.
Namun, sore itu, citra tersebut hancur berkeping-keping.
"Sedikit ke kiri, Yudha! Tidak, tidak, maksudku kiri dari perspektif kaktusnya, bukan perspektifmu!" seru Aletta dengan penuh semangat. Ia berdiri di atas meja kerja Arkan yang harganya ratusan juta rupiah, menunjuk-nunjuk dengan penggaris kayunya seolah-olah ia adalah konduktor orkestra botani.
Yudha, asisten pribadi Arkan yang biasanya sangat sigap menangani jadwal pertemuan internasional, kini tampak berkeringat deras. Ia bersama dua orang staf kebersihan sedang berusaha menggeser sebuah pot keramik raksasa berisi kaktus jenis Cereus peruvianus setinggi dua meter. Kaktus itu tampak seperti raksasa berduri yang siap menelan meja kerja Arkan.
"Nona Aletta, maaf, tapi jika kita letakkan di sini, Pak Arkan tidak akan bisa melihat layar komputernya," ucap Yudha dengan suara memelas.
Aletta berkacak pinggang, napasnya memburu karena antusiasme. "Justru itu poinnya, Yudha! Layar komputer itu memancarkan radiasi jahat. Kaktus ini, yang kuberi nama 'Bambang Raksasa', akan menyerap semua energi negatif dan menggantinya dengan oksigen murni. Mas Arkan akan jadi lebih tenang, tidak gampang marah-marah soal margin keuntungan lagi."
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka otomatis. Arkan melangkah masuk setelah menyelesaikan pembicaraan telepon yang cukup alot dengan investor dari Singapura. Ia masih memegang ponselnya, namun langkahnya terhenti seketika.
Matanya berkedip lambat. Ia menatap meja kerjanya yang kini sudah berubah fungsi menjadi alas pot. Ia menatap Aletta yang berdiri di atas mejanya dengan wajah tanpa dosa. Dan ia menatap 'Bambang Raksasa' yang duri-durinya hampir menyentuh lampu gantung kristal di langit-langit.
"Aletta... katakan padaku kalau ini adalah prank untuk kanal YouTube yang tidak kita miliki," suara Arkan rendah, tenang, namun mengandung getaran bahaya yang sangat maskulin.
Aletta melompat turun dari meja, mendarat dengan anggun di karpet bulu domba. Ia berlari ke arah Arkan dan menarik lengan kemeja suaminya yang digulung hingga siku. "Mas Arkan! Lihat! Bambang Raksasa sudah sampai! Bukankah dia gagah? Dia akan menjagamu saat aku sedang tidak di ruangan ini."
Arkan memijat pangkal hidungnya. Ia menatap Yudha yang hanya bisa menunduk pasrah. "Yudha, kau membiarkan meja kerjaku jadi taman nasional?"
"Maaf, Pak... Nona Aletta bilang ini adalah instruksi dari 'Ibu Negara'," jawab Yudha lirih.
Arkan menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya. Ia mendekati meja kerjanya, mencoba duduk di kursi kebesarannya. Benar saja, kaktus itu menghalangi pandangannya ke seluruh ruangan. Ia hanya bisa melihat batang hijau berduri yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Aku tidak bisa bekerja seperti ini, Al. Aku merasa sedang diinterogasi oleh tumbuhan," gumam Arkan.
Aletta tidak menyerah. Ia justru mengambil beberapa foto polaroid yang tadi ia ambil dan menjepitnya di duri-duri kaktus tersebut menggunakan penjepit jemuran mini berwarna-warni. Foto-foto itu memperlihatkan wajah lucu Aletta, foto mereka berdua saat terjebak di lift (yang diambil secara sembunyi-sembunyi), dan foto telur mata sapi ungu pagi tadi.
"Nah, sekarang setiap kali kau merasa pusing dengan angka-angka itu, kau tinggal melirik ke samping. Ada aku di sana, secara simbolis dan visual," ucap Aletta dengan senyum paling manis yang ia miliki—jenis senyum yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Arkan.
Arkan tertegun melihat foto-foto itu. Kemarahannya yang semula mendidih, mendadak menguap, digantikan oleh rasa hangat yang merambat di dadanya. Ia menarik pinggang Aletta, mendudukkannya di pangkuannya meskipun mereka masih berada di kantor dan di bawah pengawasan 'Bambang Raksasa'.
"Kau benar-benar ajaib, tahu tidak?" bisik Arkan. Ia menyandarkan keningnya di bahu Aletta, menghirup aroma stroberi yang selalu menenangkannya. "Kantorku sekarang terlihat seperti toko tanaman hias di pinggir jalan."
Aletta mengusap rambut belakang Arkan yang pendek dan rapi. "Setidaknya sekarang kantormu punya jiwa, Mas. Bukan cuma isinya keserakahan dan ambisi."
Dua jam kemudian, sore hari mulai meredup. Arkan mencoba melanjutkan pekerjaannya. Namun, ternyata kaktus raksasa bukan satu-satunya kejutan dari Aletta. Di sudut ruangan, Aletta telah memasang sebuah bean bag besar berwarna kuning cerah, di mana ia sekarang sedang tertidur lelap dengan tas kura-kuranya sebagai bantal.
Arkan berhenti mengetik. Ia menatap istrinya cukup lama. Cahaya senja yang masuk dari jendela kaca membasuh wajah Aletta dengan warna keemasan. Ia tampak begitu damai, sangat berbeda dengan gadis cerewet yang tadi pagi mencoret selimutnya.
Arkan berdiri, melepas jasnya yang tersampir di kursi, lalu berjalan mendekat dan menyelimuti tubuh Aletta dengan jas mahalnya itu. Ia berlutut di samping bean bag, memperhatikan bulu mata lentik Aletta.
Tiba-tiba, ponsel Aletta yang tergeletak di lantai bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp "Alumni Teknik Informatika ITBI".
“Al, kumpul yuk malam ini di kafe biasa? Kita rayakan kelulusan yang tertunda! Jangan bilang si bos dingin itu melarangmu keluar rumah.”
Arkan mengerutkan kening. 'Si bos dingin'? Jadi itu julukannya di mata teman-teman Aletta? Arkan mengambil ponsel itu—secara teknis ia melanggar privasi, tapi baginya, ini adalah bagian dari 'protokol perlindungan'.
Ia menimang-nimang ponsel itu. Haruskah ia membiarkan Aletta pergi? Ataukah ia harus ikut serta? Mengingat kejadian penculikan kemarin, Arkan masih sedikit paranoid. Namun, ia juga tahu Aletta butuh kehidupan sosial di luar dunianya yang penuh dengan duri dan kode.
"Eungh..." Aletta menggeliat, membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Arkan yang hanya berjarak sepuluh sentimeter darinya. "Mas Arkan? Sudah selesai rapatnya?"
"Sudah. Dan sepertinya kau punya rencana malam ini," ucap Arkan sambil memberikan ponsel Aletta.
Aletta membaca pesan itu dan matanya langsung berbinar. "Oh! Teman-temanku mengajak kumpul! Boleh ya, Mas? Aku rindu makan mi instan di kafe pinggir jalan dan membicarakan algoritma yang tidak berguna."
Arkan terdiam sejenak. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Boleh. Dengan satu syarat."
"Apa? Harus pulang jam sembilan?" tebak Aletta.
"Tidak. Syaratnya adalah... aku ikut," jawab Arkan tegas, kembali ke mode maskulinnya yang dominan.
Aletta melongo. "Kau? Ikut kumpul anak IT? Mas Arkan, kau tahu tidak kalau anak IT itu bicaranya pakai bahasa planet? Nanti kau bosan. Kau kan bicaranya soal akuisisi dan investasi."
Arkan menyeringai tipis, sebuah seringai yang terlihat sangat menantang. "Kau meragukan kemampuanku untuk berbaur, Kelinci Kecil? Jangan lupa, aku punya gelar kehormatan di bidang manajemen. Aku bisa belajar bahasa planetmu dalam lima menit."
"Tapi kau harus ganti baju! Kau tidak bisa pakai kemeja mahal itu ke kafe tempat kami kumpul. Nanti mereka mengira kau mau menggusur kafenya," protes Aletta.
Pukul tujuh malam, di sebuah kafe sederhana di daerah Jakarta Barat yang dipenuhi mahasiswa dan aroma asap rokok serta kopi sachet.
Sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan kafe tersebut, menarik perhatian semua orang. Pintu terbuka, dan keluarlah Aletta yang tampak biasa saja dengan jaket hoodie-nya. Namun, sosok yang keluar dari kursi pengemudi membuat seisi kafe terdiam.
Arkananta Dirgantara mengenakan kaus polos berwarna hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya, celana jins gelap, dan kacamata berbingkai tipis. Ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, namun aura maskulin dan wibawanya tetap tidak bisa disembunyikan. Ia tampak seperti aktor film aksi yang sedang melakukan penyamaran.
"Al! Di sini!" teriak seorang pria berambut gondrong dari pojok kafe. Itu adalah kawan dekat Aletta, Rian.
Aletta menarik tangan Arkan yang tampak sedikit kaku menghadapi lingkungan yang begitu "merakyat". "Ayo, Mas. Jangan pasang wajah seperti mau beli saham mereka. Senyum sedikit."
Arkan mencoba tersenyum—sebuah tarikan bibir yang lebih mirip seperti seringai predator yang sedang mengamati mangsa.
Begitu mereka duduk, suasana menjadi sangat canggung. Rian dan tiga teman Aletta lainnya hanya bisa menatap Arkan dengan mulut ternganga. Mereka tahu siapa Arkananta Dirgantara; wajahnya sering muncul di majalah bisnis dan berita ekonomi.
"Jadi... ini suamimu, Al? Si 'Serigala Dirgantara' itu?" bisik Rian, tapi suaranya tetap terdengar oleh Arkan.
Arkan mengulurkan tangannya yang kokoh. "Arkan. Panggil saja Arkan. Malam ini aku bukan CEO, aku hanya suami Aletta yang ingin tahu apa itu 'algoritma tidak berguna' yang kalian bicarakan."
Teman-teman Aletta mulai mencair. Mereka mulai bercerita tentang masa kuliah, tentang bagaimana Aletta dulu pernah meretas sistem pengumuman kampus hanya untuk memasang gambar kaktus menari, dan bagaimana Aletta selalu menjadi mahasiswi paling ajaib di angkatan mereka.
Arkan mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia tertawa kecil—tawa yang tulus—saat mendengar kenakalan Aletta di masa lalu. Ia menyadari bahwa ia telah melewatkan banyak sisi dari Aletta selama bertahun-tahun ia mengawasinya dari jauh.
Namun, di tengah obrolan, seorang pria dari meja sebelah yang tampaknya sedang mabuk ringan, berjalan mendekat. Ia melihat Aletta dan tersenyum tidak sopan.
"Wah, ada cewek cantik di sini. Boleh minta nomor teleponnya, Manis?" pria itu mencoba menyentuh bahu Aletta.
Dalam sepersekian detik, suasana kafe mendingin. Arkan tidak berdiri, ia hanya meraih pergelangan tangan pria itu dengan gerakan secepat kilat. Cengkeramannya begitu kuat hingga pria itu langsung merintih kesakitan.
"Dia istriku," ucap Arkan dengan suara yang sangat rendah, berat, dan penuh ancaman. Matanya berkilat tajam di bawah lampu kafe yang temaram. "Dan jika kau menyentuhnya lagi, aku pastikan tanganmu tidak akan bisa digunakan untuk mengetik nomor telepon siapa pun selamanya."
Pria itu langsung pucat pasi dan meminta maaf sebelum lari terbirit-birit.
Aletta menepuk tangan Arkan perlahan. "Mas... sudah, dia sudah pergi. Jangan jadi mode serigala di sini."
Arkan melepaskan ketegangannya, ia kembali menatap Aletta dengan pandangan protektif yang sangat dalam. "Tidak ada yang boleh menyentuhmu, Al. Bahkan bayanganmu pun milikku."
Teman-teman Aletta hanya bisa melongo melihat adegan tersebut. Rian berbisik pada Aletta, "Al, suamimu itu... keren banget, tapi seremnya bukan main."
Aletta hanya tersenyum bangga. "Begitulah serigalaku. Dia memang punya duri, tapi dia hanya menusuk orang yang salah."
Malam itu berakhir dengan momen yang tidak akan pernah dilupakan Aletta. Saat mereka berjalan kembali ke mobil, Arkan tiba-tiba berhenti di bawah lampu jalan yang remang. Ia menarik Aletta ke dalam pelukannya, memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Aletta.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Al," bisik Arkan.
"Kenapa? Kau tidak bosan kan mendengarkan cerita kode-kode kami?"
"Tidak. Aku justru tersadar satu hal. Selama ini aku punya segalanya—uang, kekuasaan, gedung tinggi. Tapi aku tidak punya 'kehidupan'. Kau memberiku kehidupan, Al. Bahkan jika itu artinya aku harus berkelahi di kafe pinggir jalan."
Aletta membalikkan tubuhnya dalam pelukan Arkan. Ia menatap wajah suaminya yang tampak sangat maskulin di bawah rembulan. "Mas Arkan, kau tahu tidak? Kaktus itu kuat karena dia punya duri untuk melindungi isinya yang lembut. Kau persis seperti kaktusku."
Arkan tertawa, lalu ia mencium kening Aletta dengan sangat lama—menagih denda yang tadi sempat tertunda di kantor. "Kalau aku kaktus, berarti kau adalah airnya. Tanpamu, aku hanya akan menjadi tanaman kering yang mati di tengah padang pasir."
Mereka pun masuk ke mobil, meninggalkan kafe sederhana itu dengan perasaan yang semakin kuat. Di lantai 40, 'Bambang Raksasa' mungkin sedang menunggu, tapi di dalam hati mereka, sebuah taman bunga yang jauh lebih indah baru saja mulai bermekaran.
Akankah kehidupan "normal" ini terus berlanjut tanpa gangguan? Dan apa yang akan dilakukan Arkan saat Aletta tiba-tiba memutuskan untuk memelihara hewan sungguhan di dalam rumah mereka?
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx