Wajib Follow Sebelum Baca.
" 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙯𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖.
Valerie dan Matthew saling mencintai... tapi cinta mareka tidak pernah benar-benar tenang.
Hubungan mareka di uji oleh restu tak kunjung datang, tekanan keluarga, dan tekanan keluarga, dan keadaan yang perlahan menjatuhkan mareka.
Saat mareka masih berjuang untuk bertahan, seseorang datang kembali_membawa sesuatu yang lebih dari sekedar masa lalu.
La menginginkan Matthew.
Bukan hanya untuk di cintai... tapi untuk dimiliki.
Perlahan, tanpa mareka sadari, hubungan yang mareka jaga mulai retak.
Bukan karena mareka berhenti saling mencintai, tapi karena ada seseorang yang siap menghancurkan segala nya.
Kini, cinta mareka bukan tentang bertahan... tapi tentang siapa yang lebih kuat _
cinta... atau obsesi.
( Bismillah semoga rame 🙏)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALIFA RAHMA LATIFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : Dari Rivalitas ke Perasaan.
" Kadang jarak yang kita pikir sebagai batas, justru menjadi alasan untuk semakin dekat. ketika kita berhenti bersaing dan mulai melihat dengan hati, cinta bisa muncul tepat disaat kita tidak menyadari nya. "
...
" Gue suka sama lo, Valerie. "
Kalimat itu keluar.
Jelas.
Tegas.
Dan itu seperti petir yang menyabar tepat di dada Valerie.
Valerie terdiam.
Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara.
Matthew menatap Valerie, suaranya pelan.
" Gue tau ini mungkin bikin lo risih. tapi gue capek pura-pura. "
Matthew menghela napas.
" Gue nggak bisa bilangin ini cuma rivalitas. "
Valerie menatap Matthew lama.
Lalu ia tertawa kecil.
Matthew mengernyit.
" Lo ketawa? "
Valerie menutup wajahnya sebentar.
" Lo tau nggak... " suara Valerie bergetar.
"... Gue dari awal ngerasa lo manusia paling nyebelin yang pernah gue temuin. "
Matthew mendengus.
" Itu gue tau. "
Valerie menurunkan tangannya.
Matanya menatap Matthew.
Lebih lembut dari biasanya.
" Tapi... " Valerie menelan ludah.
"... Gue juga nggak bisa bohong. "
Matthew membeku.
" Gue juga kepikiran lo. "
Matthew menatap Valerie tanpa berkedip.
Valerie melanjutkan, suaranya lebih pelan.
" Gue kesal kalau lo dekat sama cewek lain. "
Matthew menahan napas.
Valerie menatap Matthew, matanya mulai berkaca-kaca.
" Gue marah sama diri gue sendiri karena gue ngerasa kayak gitu. "
Matthew mendekat, pelan.
" Kenapa lo marah sama diri lo sendiri? "
Valerie tertawa kecil, getir. "
" Karena gue takut. "
Matthew diam.
Valerie menatap Matthew.
" Gue takut ini cuma permainan buat lo. gue takut lo bosan. gue takut lo cuma suka karena gue tentangan. "
Matthew menatap Valerie dalam.
Lalu ia berkata tegas.
" Enggak. "
Valerie menatapnya.
Matthew melanjutkan.
" Gue nggak pernah main-main kalau soal lo. "
Valerie menelan ludah.
Jantung nya semakin cepat.
Matthew meangkat tangannya perlahan, ragu-ragu.
Ia menyentuh ujung rambut Valerie yang jatuh di pipinya, menyelipkan ke belakang telinga.
Sentuhan yang lembut.
Valerie membeku.
Namun kali ini...
Valerie tidak menepis.
Matthew menatap Valerie.
" Apa lo percaya gue? " tanya Matthew pelan.
Valerie menatap Matthew lama.
Lalu menghela napas.
" Gue nggak tau... "
Matthew menatapnya.
Valerie melanjutkan, suaranya lebih pelan.
" Tapi gue pengen percaya. "
Matthew terdiam.
Lalu tiba-tiba Matthew tertawa kecil.
Valerie mengernyit.
" Lo ketawa apaan? "
Matthew menggeleng.
" Gue cuma.. " Matthew menatap Valerie.
" Nggak... nyangka lo bisa bikin gue sabodoh ini. "
Valerie menatap Matthew, lalu tersenyum kecil.
" Akhirnya lo sadar. "
Matthew mendekat lagi.
Valerie menahan napas.
Matthew menatap Valerie dengan tatapan yang berbeda.
Tidak ada lagi rivalitas.
Tidak ada lagi perang.
Yang ada cuma...
Perasaan.
Matthew berkata pelan.
" Kalau gue boleh jujur.. "
Valerie menatapnya.
Matthew menelan ludah.
" Gue pengen cium lo. "
Valerie membeku.
Pipinya memanas.
Namun Valerie menatap Matthew tajam.
" Lo.. Gila. "
Matthew tersenyum.
" Gue tau. "
Valerie menghela napas, lalu berkata pelan.
" Tapi lo nggak boleh. "
Matthew mengerutkan kening.
" Kenapa? "
Valerie menatap Matthew.
" Karena kita masih lomba. "
Matthew terdiam.
Valerie melanjutkan, lebih serius.
" Gue nggak mau kita hancur gara-gara perasaan. "
Matthew menatap Valerie.
Dan untuk pertama kalinya..
Matthew tidak membantah.
Matthew menangguk kecil.
" Oke, " jawabnya pelan.
Valerie menatap Matthew.
" Dan gue juga nggak berpikir gue lemah. "
Matthew tersenyum kecil.
" Lo nggak pernah lemah. "
Valerie tersenyum kecil.
Namun tiba-tiba Matthew berkata pelan.
" Tapi gue tetap bakal cium lo nanti. "
Valerie langsung memukul bahu Matthew.
" Matthew! "
Matthew tertawa kecil.
Tawa yang hangat.
Dan itu membuat Valerie...
Tersenyum lebih lebar dari yang ia sadari.
...
Di luar Lab 7, hujan masih turun.
Namun di Dalam...
untuk pertama kalinya, Valerie merasa hangat.
Karena perang mareka akhirnya terhenti.
Bukan karena mareka menyerah.
Tapi karena mareka sadar....
Mareka tidak lagi ingin saling mengalahkan.
Mareka hanya ingin saling menjaga.
Dan itu...
Jauh lebih menakutkan daripada kompetisi mana pun.
_TBC_
...----------------...
Happy Reading All!