NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGHAPUS AIR MATA TANPA SAPU TANGAN

Suasana kantor yang biasanya tenang seketika pecah oleh suara hantaman keras dan pekikan kaget para staf. Di tengah lorong menuju ruang General Affair, Maulana tersungkur ke lantai, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. Rama berdiri di depannya dengan napas memburu, kepalannya masih mengeras.

"Pasti lo yang ngomong jelek soal gue ke Dina, kan?!" teriak Rama, suaranya menggelegar hingga membuat beberapa orang keluar dari ruangan mereka. "Lo iri karena gue bisa kasih dia apa yang lo nggak bisa?!"

Dina, yang baru saja keluar dari toilet, berlari menembus kerumunan dengan wajah pucat pasi. Ia melihat Maulana yang masih berusaha duduk sambil memegangi rahangnya, dan Rama yang tampak seperti orang kesetanan.

"Mas Rama! Apa-apaan ini?!" teriak Dina, suaranya melengking penuh kemarahan dan ketidakpercayaan.

Rama menoleh ke arah Dina, wajahnya yang tadi merah padam mendadak berubah menjadi ekspresi penuh pembelaan diri. "Din, dia ini provokator. Dia pasti yang bilang ke kamu kalau aku terlalu bossy, kan? Dia mau ngerusak hubungan kita karena dia nggak suka lihat kamu bahagia sama aku!"

Dina menatap Rama dengan pandangan yang mengerikan—sebuah campuran antara rasa takut dan kekecewaan yang mendalam. Ia kemudian beralih membantu Maulana berdiri. Manda datang dengan tisu dan air mineral, wajahnya menunjukkan kemarahan yang sama besar.

"Mas Rama, Maulana nggak pernah ngomong apa-apa soal Mas! Keputusanku semalam itu murni karena aku merasa sesak sama cara Mas memperlakukan aku!" ucap Dina dengan suara bergetar. "Mas baru saja membuktikan kalau Mas memang nggak bisa mengontrol diri. Mas merasa punya hak atas hidupku sampai harus memukul sahabatku sendiri?"

"Aku ngelakuin ini buat ngelindungin kamu, Dina! Dia itu pengaruh buruk!" bantah Rama, suaranya mulai melemah namun tetap keras kepala.

"Ngelindungin?" Dina tertawa pahit, air mata kemarahan jatuh di pipinya. "Mas nggak lagi ngelindungin aku. Mas lagi ngelindungin ego Mas sendiri. Mas takut kehilangan kontrol atas aku, makanya Mas nyerang orang-orang yang peduli sama aku."

Dina menatap seluruh rekan kerjanya yang menonton dengan tatapan ngeri. Reputasi Rama sebagai manajer yang tenang runtuh dalam sekejap. Di saat itu, Dina menyadari bahwa perlindungan yang ditawarkan Rama selama ini hanyalah bentuk lain dari penjara.

"Kita selesai, Mas," ucap Dina dingin. "Jangan pernah dekati aku lagi. Dan kalau Mas berani nyentuh Maulana atau siapa pun lagi, aku sendiri yang akan lapor ke HRD dan polisi. Sapu tangan Mas... akan aku balikin lewat meja resepsionis."

Dina membawa Maulana menjauh, meninggalkan Rama yang berdiri mematung di tengah lorong, sendirian dengan egonya yang hancur. Malam itu, saat Dina pulang, ia merasa benar-benar merdeka. Bukan karena ia tidak punya siapa-siapa, tapi karena ia akhirnya berani memilih dirinya sendiri di atas siapa pun yang mencoba mengontrolnya.

Di dalam ruang UKS yang hening dan beraroma alkohol medis, Manda dengan telaten mengompres sudut bibir Maulana yang membiru. Dina duduk di samping bed, wajahnya tertunduk dalam. Rasa bersalah menghujamnya lebih tajam daripada makian ayahnya di rumah. Ia merasa menjadi sumber keributan ini; ia merasa lukanya telah menyeret orang-orang baik ke dalam bahaya.

"Maaf ya, Lan... Ini semua karena aku. Kalau saja aku nggak cerita soal hubunganku atau kalau aku nggak kenal dia, kamu nggak bakal jadi sasaran kemarahan Mas Rama," ucap Dina, suaranya parau menahan tangis.

Maulana meringis pelan saat kompres dingin itu menyentuh lukanya, namun ia menggelengkan kepala dengan tegas. Ia menatap Dina dengan tatapan yang tetap bersahabat, tanpa ada nada menyalahkan sedikit pun.

"Nggak apa-apa, Din. Jangan minta maaf. Ini bukan karena kamu, ini murni karena isi kepala si Rama yang kacau," sahut Maulana tenang. "Dia itu nggak nanya apa-apa, nggak ada penjelasan, tiba-tiba datang langsung marah dan nonjok aku. Aku baru sadar, dia itu kayaknya punya gejala NPD (Narcissistic Personality Disorder) dan posesif banget. Dia merasa paling benar, paling tahu soal kamu, dan menganggap siapa pun yang dekat sama kamu itu ancaman buat kontrol dia."

Manda mengangguk setuju sambil menekan kapas ke luka Maulana. "Bener, Din. Aku dari awal sudah curiga waktu dia mulai 'memonopoli' waktu kamu. Dia itu bukan cinta, dia itu terobsesi mau jadi pahlawan di hidup kamu supaya kamu merasa berutang budi selamanya. Itu cara dia buat ngiket kamu agar nggak bisa lepas."

Dina terdiam, mencerna kata-kata sahabatnya. Ia teringat bagaimana Rama menceritakan masa lalunya kepada orang tuanya tanpa izin, bagaimana Rama melarangnya bergaul, dan bagaimana Rama selalu menggunakan kalimat "demi kebaikanmu" untuk mematikan logikanya. Semuanya kini terlihat jelas: Rama tidak mencintai Dina, Rama mencintai kendali yang ia miliki atas Dina.

"Tadi itu puncaknya, Din," lanjut Maulana. "Dia nggak bisa terima kalau kamu mulai punya suara sendiri. Dia butuh kambing hitam, dan dia milih aku. Tapi setidaknya sekarang semua orang di kantor lihat siapa dia sebenarnya. Topeng 'manajer bijaksana' itu sudah hancur."

Dina menarik napas panjang, lalu berdiri tegak. Ketakutannya perlahan berganti menjadi kemarahan yang sehat—kemarahan yang memberinya kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri.

"Kalian benar. Aku sudah cukup lama membiarkan orang lain mendikte hidupku. Mulai dari ayahku, ibu tiriku, sampai sepuluh mantan yang nggak berguna itu. Aku nggak akan biarkan Mas Rama jadi yang kesebelas yang menghancurkan aku," ucap Dina mantap.

Ia mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Maulana. "Lan, habis ini kita ke HRD. Kamu harus lapor. Aku bakal jadi saksi kuncinya. Aku nggak mau dia merasa bisa lepas dari tanggung jawab cuma karena dia punya jabatan."

Manda tersenyum lebar, bangga melihat sahabatnya kembali memiliki "taring". "Itu baru Dina yang aku kenal. General Affair kita nggak boleh kalah sama diktator macam dia!"

Sore itu, untuk pertama kalinya, Dina tidak merasa takut pulang ke rumah, dan ia tidak lagi merasa butuh perlindungan Rama. Ia menyadari bahwa perlindungan terbaik adalah keberaniannya sendiri untuk berkata "tidak" pada segala bentuk penindasan, sekecil apa pun itu.

Ruangan HRD yang kedap suara itu terasa mencekam. Rama duduk di kursi kayu dengan punggung tegak, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya sebagai seorang manajer. Di seberangnya, Kepala HRD menatapnya dengan raut wajah datar namun tegas, sementara laporan saksi mata dari kejadian di lorong tadi sudah menumpuk di atas meja.

"Pak, saya mohon dengarkan penjelasan saya dulu," buka Rama, suaranya mencoba terdengar tenang namun ada nada putus asa yang menyelinap. "Apa yang terjadi tadi adalah reaksi spontan saya sebagai seorang pria yang ingin melindungi wanitanya. Saya sangat mencintai Dina. Saya tahu segala luka dan masa lalunya, dan saya hanya ingin memastikan dia tidak dipengaruhi oleh orang-orang yang ingin merusak hubungannya."

Kepala HRD menaikkan sebelah alisnya. "Melindungi dengan cara memukul rekan kerja di area kantor, Pak Rama?"

"Maulana memprovokasi saya!" seru Rama, suaranya meninggi satu oktav. "Dia selalu berbisik di belakang saya, mencoba menghasut Dina agar menjauh. Dia iri karena saya yang memahami Dina luar dalam. Saya melakukan itu karena saya tidak mau Dina hancur lagi. Dia itu rapuh, Pak. Tanpa bimbingan dan perlindungan saya, dia akan mudah jatuh ke lubang yang sama seperti masa lalunya."

Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka. Dina melangkah masuk dengan tenang, didampingi oleh Manda. Tidak ada lagi ketakutan di matanya. Ia berdiri di samping meja, menatap Rama dengan pandangan yang membuat pria itu terdiam.

"Mas Rama," sapa Dina dingin. "Berhenti menggunakan kata 'cinta' untuk membenarkan kekerasan. Dan berhenti menggunakan masa laluku sebagai alasan Mas untuk bersikap seperti tuhan atas hidupku."

Dina menoleh ke arah Kepala HRD. "Pak, saya di sini sebagai saksi sekaligus korban intimidasi psikologis dari Pak Rama selama beberapa minggu terakhir. Maulana tidak pernah memprovokasi siapa pun. Apa yang terjadi tadi adalah murni ledakan ego Pak Rama karena saya meminta jarak semalam."

Rama berdiri, wajahnya memerah. "Dina! Aku melakukan ini demi kamu! Kamu nggak tahu apa-apa soal dunia luar yang kejam!"

"Dunia luar memang kejam, Mas. Tapi ternyata, berlindung di bawah ketiak orang yang haus kontrol seperti Mas jauh lebih mengerikan," balas Dina telak. "Masa laluku memang berantakan, tapi itu bukan tiket bagi Mas untuk memenjarakan aku. Pak," Dina kembali menatap Kepala HRD, "saya mendukung penuh laporan Maulana. Perusahaan ini tidak boleh membiarkan kekerasan fisik terjadi, apalagi dilakukan oleh seorang manajer."

Rama terduduk lemas. Ia menyadari bahwa taktik "pahlawan" yang selama ini ia gunakan sudah tidak mempan lagi. Dina bukan lagi gadis yang bisa ia kendalikan dengan rasa iba.

Setelah melalui proses panjang, HRD memberikan keputusan tegas: Surat Peringatan Terakhir dan mutasi divisi bagi Rama, serta larangan keras untuk mendekati Dina atau Maulana di area kantor.

Sore itu, saat Dina mengemasi tasnya, ia merasa benar-benar ringan. Ia menghampiri Maulana yang sudah kembali ke mejanya dengan perban di bibir.

"Makasih ya, Lan. Maaf sekali lagi," bisik Dina.

Maulana tersenyum tulus. "Nggak apa-apa, Din. Yang penting kamu sudah bebas. Sekarang, fokus sama diri kamu sendiri."

Dina mengangguk. Ia melangkah keluar gedung kantor dengan kepala tegak. Ia tidak lagi butuh sapu tangan biru itu. Ia sudah bisa menghapus air matanya sendiri, dan ia sudah tahu jalan pulang yang sebenarnya: jalan menuju kebebasannya sendiri.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!