Kirana dan Dave, di pertemukan dalam sebuah kebetulan yang berkali-kali.
Hubungan masa lalu orang tua yang rumit, dan masing-masing yang telah memiliki pasangan, tak mampu meredam getaran di dada tiap kali Kirana dan Dave saling tatap.
Kisah cinta manis dan menyesakkan hati, yang akan membuat mu ikut larut di dalam nya.
Hakikat cinta tidak harus memiliki akan kah masih berlaku jika perasaan saling mendamba itu semakin kuat dengan terkuaknya masa lalu kedua orang tua ?
Bagaimana dengan Dave yang telah memiliki Tunangan, dan Kirana yang telah di jodohkan sejak kecil ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hijaudaun_birulangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENJELASAN
Kirana langsung menendang Jonathan kuat-kuat, yang membuat Lelaki berkulit putih dengan mata sipitnya itu terjungkal dari tempat tidur.
"SUDAH GILA YAAA...??!!" amuk Kirana dengan wajah merah padam. Ia langsung turun dari tempat tidur dan berdiri memelototkan matanya kepada Jonthan yang punggungnya tadi sempat terbentur lemari baju dari kayu jati yang di cat warna putih yang berada di samping tempat tidur Kirana.
"Kau yang gila !" Jonathan bangkit berdiri dengan punggung yang terasa berdenyut karena terhantam lemari kayu saat ia terjungkal dari atas tempat tidur karena tendangan kaki wanita dengan piyama motif keropi warna hijau yang masih menatapnya marah.
Kening Kirana berkerut, ia mengigit bibir bawahnya dengan perasaan kesal dan marah karena Jonathan yang berani mencium nya sembarangan.
"Aku di suruh membangun kan mu, tapi...."
Jonathan belum selesai dengan kalimatnya, Kirana sudah berjalan cepat ke arah nya dan memukulinya dengan kedua tangannya.
"Jahat !" bentaknya. "Itu ciuman pertama ku !" kedua mata cokelatnya mulai berair.
"Heh, jangan salah kan aku !" Jonathan berkilah. Di pegangi nya kedua pergelangan tangan Kirana. yang terus bergerak dan berusaha memukulnya. Tapi dengan tinggi tubuh 187cm, tentu Jonathan lebih unggul dari pada Kirana yang hanya bertinggi 168 cm.
"Lepaskan akuu...!!" Kirana berteriak. Ia sangat marah, ia seperti di hianati dengan sikap lancang Jonathan yang menciumnya. Di tendanginya kaki Jonathan berkali-kali yang membuat lelaki itu menringis kesakitan. Tapi bukan berarti ia mengendurkan pegangannya pada kedua pergelangan tangan Kirana.
"Kirana, dengarkan aku !" Suara Jonathan meninggi, tapi Kirana tidak mau tahu. Ia terus bergerak mencoba melepaskan diri dari Lelaki yang kali ini memakai kaos warna merah dengan bawahan celana jeans.
"Aku adukan ke Daddy !" kembali Kirana berkata, ia memandang Jonathan dengan kedua mata cokelatnya yang berkaca-kaca dengan wajah memerah yang di liputi marah.
Mendengar kata Daddy, nyali Jonathan langsung ciut, "Kenapa Oji-san di bawa-bawa....??"
"Daddyyy...!!!" teriak Kirana yang langsung membuat Jonathan gelagapan.
"Kirana !" Jonathan menyentak pegangan tangannya pada wanita yang rambut panjangnya tergerai lepas itu. "Dengar kan dulu..." kembali ia mencoba menjelaskan.
"DADDYYY...!!!" suara Kirana bertambah keras.
Untungnya rumah Kirana ada lah type rumah mewah yang luas, sehingga ketika ia berteriak seperti itu pun tak akan ada yang mendengar kecuali mungkin ada orang yang kebetulan kewat di dekat kamar Kirnaa saat ini, yang kini pun pintu nya tertutup rapat.
Karena Kirana terus berteriak tanpa mau mendengar penjelasannya lebih dulu, dengan terpaksa Jonathan membekap mulut Kirana dan mendorongnya sampai telentang di tempat tidur.
Mata Kirana melotot ke arah Jonathan, wajahnya semakin merah karena amarah. Ia terus bergerak agar bisa bangkit berdiri dan memukuli lengan Jonathan yang sedang membekap mulutnya.
"KIRANA DENGARKAN AKU !" suara Jonathan yang keras mengagetkannya, baru kali ini Jonathan bersuara sekeras itu padanya.
Kirana langsung terdiam menatapny dengan mulut yang masih di bekap Lelaki berusia 23 tahun dan berambut lurus tersebut.
"Aku masuk ke kamar karena di suruh membangunkan mu untuk sarapan bersama." Ucap Jonathan yang membuat mata Kirana membeliak. Reflek pandanganny terarah ke jam dinding yang terpasang di tembok belakang Jonathan, di situ sudah menunjukkan hampir jam 8 pagi.
Melihat reaksi Kirana yang mulai tenang, Jonathan melepas bekapan pada mulutnya dan bamgkit berdiri. Begitu pun Kirana yang langsung duduk di pinggir ranjang dengan wajah terkejut.
Ternyata hari sudah pagi, bisa di lihatnya dari celah-celah kordeng kamarnya yang berwarna pink sinar matahari yang mencoba menerbos masuk ke kamarnya yang masih tertutup rapat.
"Saat aku membangunkanmu, tiba-tiba kau memeluk dan mencium ku." Jonathan kembali berkata karena melihat Kirana yang hanya termenung seperti orang yang baru sadar dari pingsannya.
"A, apa...??" Kirana langsung memandang ke arahnya.
"Iya, kau dulu yang memeluk dan menciumku." Jonathan menekankan pada kata mencium.
Wajah Kirana langsung bersemu merah, ia menunduk, teingat mimpinya yang memeluk dan mencium bibir Dave.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, membuatnya dan Jonathan lamgsung menoleh ke arah pintu.
"Kau berteriak Kirana ?" wajah Ayahnya di liputi kekhawatiran.
Kirana dan Jonathan langsung saling pandang.
Andreas berjalan masuk ke kamar anak perempuannya.
"Ada apa..??" tanyanya. Ia memandangi Kirana dan Jonathan bergantian.
Jonathan langsung ciut, ia takut Kirana mengadu pada Ayahny soal ia yang menciumnya. Walaupun Kirana lah yang lebih dulu memeluk dan menciumnya.
Kirana masih terdiam, duduk di pinggir ranjang dengan wajah gamang.
Sementara Jonathan memandanginya dengan pandangan memohon agar calon tuangannya itu mau menjelaskan apa yang terjadi. Jujur saja, Jonathan sangat takut pada Ayah gadis itu.
"Jon..?" Andreas memandangnya. Membuat Jonathan menoleh ke arah nya dan mata mereka saling beradu. "Aku menyuruhmu membangunkan Kirana, kenapa lama sekali...??" Andreas menatapnya curiga.
"...Oji-san...Kirana..." Jonathan terbata.
"Daddy." Kirana bangkit berdiri dan bergelayut manja seperti biasa. "Jon tadi cuma mengagetkan ku, makannya tadi aku berteriak." Ia menarik lengan Ayahnya agar berjalan ke arah pintu. "Aku lapar..." ia mengelus-elus perutnya sambil menyandarkan kepalanya pada lengan Ayahnya yang bertinggi 185cm.
Andreas menghela nafas panjang, ia lega Kirana tida ada apa-apa. Di rangkul nya anak gadisnya yang kini telah dewasa dan berjalan keluar kamar di ikuti Jonathan yang diam-diam juga menarik nafas lega.
Namun saat baru berjalan beberapa langkah mereka keluar kamar, tiba-tiba Lelaki berumur setengah abad yang terlihat gagah dengan setelan jas Armani warna hitam dan kemeja putih nya itu menoleh ke belakang memandangnya.
Membuat Kirana dan Jonathan memandang tak mengerti.
"Jon," Andreas sengaja memutus kalimatnya.
"Ya, Oji-san...?" Jonathan melihatnya, kedua mata sipit mereka saling tatap. Bedanya Ayah Kirana memiliki bola mata yang sama dengan putrinya, sama-sama berwarna cokelat terang, sedang Jonathan berwarna cokelat lebih ke gelap.
"Menurut wasiat Opa Kirana, Dia memang akan di jodohkan dengan mu." ucap Andreas yang membuat baik Jonathan atau pun Kirana memandang ke arah nya. "Tapi bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya dengan memeluk atau bahkan memciumnya." lanjut Andreas yang membuat jantung Jonathan melompat keluar.
Kirana mendongkak kan wajahnya memandang Ayahnya yang bertinggi 185cm itu dengan kedua tangannya yang masih melingkar di lengan Ayahnya.
"Kirana putriku satu-satunya, dan sangat berharga untukku ataupun untuk istriku." Andreas melanjutkan. "Jadi sampai kalian benar-benar menjadi pasangan Suami istri yang sah, tolong kalian jangan bertindak melebihi batasan."
Jonathan menelan ludah dengan susah payah, meskipun kata-kata calon Ayah mertuannya itu ada kata tolong, tapi dari nadanya lebih mirip ancaman. Dan mengingat apa yang baru saja mereka lakukan, itu membuat leher Jonathan serasa tercekik.
"....Ya Oji-san, akan aku ingat." Jonathan menjawab patuh.
Andreas tidak tahu kenapa tiba-tiba ia mengatakan hal itu, tapi saat ia seperti mendengar teriakan anak gadisnya tadi, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap Jonathan maupun Kirana saat ia tadi membuka pintu.
"Sayang Daddy..." Kirana mempererat pelukannya pada lengan Ayahnya sambil tersenyum lebar saat mereka kembali berjalan menuju ruang makan dengan Jonathan yang mengikuti di belakang.