Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Langit London sore itu tampak muram, seolah mencerminkan kekacauan batin seorang pria bernama Pramana Adiyaksa. Suasana rumah sunyi, hanya deru samar mesin pemanas yang terdengar. Tidak ada musik yang biasanya mengalun. Tidak ada suara televisi yang menayangkan program kesukaan nya. Hari-hari Pramana kini dipenuhi hening yang asing—hening yang menelanjangi semua kesalahan yang selama ini ia tutupi dengan gaya hidup glamor dan hubungan beracun yang ia sebut cinta.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap kedua tangannya yang dingin. Tangan yang dulu melingkar sebuah cincin couple antara ia dan Ethan, kini sudah tak ada. Pramana sudah melepas cincin tersebut setelah ia mengakhiri hubungannya dengan Ethan beberapa hari yang lalu. Tangan itu juga, yang telah berani menyeret seorang wanita sampai harta berharga milik wanita bernama Aaliyah di renggut paksa olehnya.
Dan sejak kabar itu di sampaikan oleh Mommy Amira kemarin—bahwa gadis yang ia nodai ternyata hamil, Pramana merasa seluruh dunia menampar wajahnya berkali-kali. Ia bahkan tak sanggup menatap dirinya sendiri di cermin.
Setiap kali ia mencoba berdiri, lututnya bergetar seperti ingin menyerah. Setiap napas yang ia tarik terasa seperti hutang. Dan setiap malam, ia terbangun dengan keringat dingin, melihat bayangan seseorang yang menangis dalam gelap, memohon, dan ia tetap melakukan sesuatu yang tak bisa ia tarik kembali.
Tanpa ia sadari, air matanya jatuh begitu saja.
“Aku... Aku pria brengsek yang menjijikan !” bisiknya lirih.
Ia meremas rambutnya dengan kedua tangan, kepalanya tertunduk dalam rasa bersalah yang menghancurkan harga dirinya yang selama ini ia banggakan.
**
Sore itu, setelah berhari-hari hidup dalam lingkaran penyesalan yang membuatnya nyaris tidak makan dan nyaris tidak tidur, Pramana memaksakan dirinya keluar rumah. London tampak seperti kota asing baginya hari itu. Orang-orang yang lewat tampak buram, seperti bayangan yang bergerak tanpa arah. Ia berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti langkah yang seolah menuntunnya entah ke mana.
Namun hatinya terus menariknya ke satu tempat yang tidak pernah ia kunjungi selama bertahun-tahun—tempat yang dulu ia jauhi ketika ia memutuskan “hidup bebas” dan berbuat sesuka hati.
Sebuah masjid besar, berada di United Kingdom.
Masjid Central London atau London Central Mosque juga dikenal sebagai Regent Park Mosque & Islamic Cultural Centre adalah sebuah Masjid di daerah Regent's Park London yang disahkan kabinet Churchill’s sebagai pengakuan akan pentingnya Islam dalam masyarakat yang semakin multikultural di Inggris. London Central Mosque dibangun pada tahun 1970-an didesain oleh arsitek Inggris Sir Frederick Gibberd yang dipilih dalam kompetisi internasional
Mesjid ini memiliki kubah emas yang indah, di dalamnya dihiasi oleh karpet besar berserta lampu gantung. Aula utama mesjid ini dapat menampung lebih dari 5.000 jemaah. Selain itu, terdapat toko buku dan bistro yang masih berada di area mesjid.
Pramana berhenti di depan gerbangnya. Lampu-lampu di dalam sudah mulai menyala. Suara orang mengaji samar terdengar, membuat hatinya bergetar tanpa ia pahami.
Dadanya terasa sempit.
Tangannya gemetar.
Ia bahkan takut melangkah masuk.
Karena di dalam sana, ia merasa tidak pantas. Ia merasa kotor. Ia merasa tidak berhak mendekati rumah Tuhan setelah apa yang ia lakukan.
Tapi hatinya berbisik, “Kamu harus mulai dari sini.”
Pramana menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri, lalu melangkah masuk dengan kaki lemas.
**
Begitu berada di dalam, aroma karpet bersih dan udara hangat membuat dadanya semakin sesak. Tidak banyak orang. Hanya beberapa jemaah yang duduk tenang, membaca Al-Qur'an. Seorang pria paruh baya berdiri di dekat rak sepatu, mungkin seorang relawan masjid.
Pramana menunduk, suaranya hampir tidak keluar. “P-permisi U—Ustadz... apakah saya… boleh bertanya ?…”
Pria itu menatapnya ramah, tidak menghakimi, tidak menilai dari penampilan Pramana yang berantakan dan matanya yang sembab.
“Silakan, Nak. Ada yang bisa saya bantu?”
Pramana menelan ludah. Ia menahan tangis yang hampir pecah.
“Bagaimana… bagaimana caranya kembali?” suaranya pecah di tengah kalimat.
Pria itu mengerutkan kening pelan. “Kembali ke mana?”
“Kembali menjadi… manusia. Menjadi diri saya yang dulu. Yang tidak se… seburuk sekarang.”
Pramana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Ustadz itu menarik kursi. “Duduklah, Nak. Ceritakan pelan-pelan.”
Pramana duduk dengan tubuh gemetar. Untuk pertama kalinya, ia mengatakan sesuatu yang selama ini ia pendam dalam-dalam.
“Saya… saya sudah hidup salah. Saya meninggalkan semua ajaran agama yang diajarkan orang tua saya. Saya mengejar gaya hidup yang salah. Saya menyakiti orang-orang yang mencintai saya. Dan yang terburuk… saya… saya seorang pria, suka sesama jenis dan telah merusak hidup seseorang wanita.”
Air matanya jatuh satu-satu, membasahi celananya.
“Ada seorang wanita… saya lakukan sesuatu yang… yang bahkan saya sendiri jijik untuk mengakuinya. Dan dia… dia hamil saat ini.” Suaranya putus.
Ustadz itu terdiam beberapa detik, tetapi wajahnya tetap lembut. Tidak ada tatapan kebencian. Tidak ada hinaan. Hanya iba.
“Kamu datang ke sini dengan hati yang sangat berat,” ujarnya pelan. “Dan itu sudah tanda dari allah untuk kami berubah.”
Pramana menggigit bibir, menahan isak.
“Tuhan tidak memandang masa lalu seseorang. Yang Tuhan lihat adalah apakah hambanya mau kembali atau tidak.”
Pramana menunduk lebih dalam.
“Tapi saya… saya kotor.”
“Kita semua pernah kotor, Nak. Yang membuat kita berbeda adalah siapa yang mau mensucikan dirinya, dan siapa yang memilih tetap tenggelam dalam lumpurnya.”
Namun kalimat berikutnya yang membuat Pramana jatuh tersungkur dalam tangis.
“Kamu masih punya kesempatan untuk berubah."
**
Petang itu, Pramana kembali menjalankan ibadah pertamanya di mesjid, setelah sekian lama. Tangan yang gemetar. Air yang terasa sejuk. Langkah-langkah yang dulu ia lakukan bersama ayahnya, kini ia ulangi dengan hati yang benar-benar hancur.
Ketika air menyentuh wajahnya, ia menahan isak.
“Ya Tuhan… ampuni aku…” bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ia berdiri untuk shalat Magrib—shalat yang terasa seperti memeluk seorang anak kecil yang terluka. Rukuknya tidak lurus, sujudnya bergetar, suaranya patah-patah.
Ia menangis sepanjang sujud, seperti seseorang yang kembali menemukan jalan pulang setelah bertahun-tahun tersesat.
Sejak hari itu, ia datang ke masjid setiap sore. Tidak ada yang tahu siapa dirinya. Tidak ada yang tahu betapa gelap masa lalunya. Tidak ada yang tahu bahwa ia sedang menebus dosa yang tidak bisa ia hapus.
Ia belajar mengaji kembali, terbata-bata.
Ia belajar memperbaiki hidupnya.
Ia mulai berhenti keluar malam.
Ia memutus semua hubungan gelapnya.
Ia bahkan berhenti meminum alkohol dan berhenti berpesta dengan teman kaum pelanginya dulu.
Dan malam-malamnya kini dipenuhi doa yang sama:
“Tolong, jadikan aku manusia yang lebih baik, ampuni segala dosa - dosa yang ku perbuat. Dan tolong… tolong jaga perempuan itu. Jaga anak yang ada di rahimnya.”
**
Namun perjalanan tobat tidak pernah mudah. Ada malam-malam ketika Pramana kembali diganggu mimpi buruk. Ada hari-hari ketika ia merasa dirinya tidak pantas memohon pada Tuhan. Ada saat-saat ketika ia merasa lebih baik mati daripada menanggung rasa bersalah itu.
Tapi setiap kali ia jatuh, ia kembali bangkit.
Setiap kali ia ingin menyerah, ia ingat bahwa wanita itu kini mengandung anaknya—anak yang tidak pernah meminta dilahirkan dari dosa.
Dan di saat ia menundukkan kepala di atas sajadah, suaranya selalu serak.
“Ya Tuhan… jangan biarkan anak itu hidup dalam kekacauan seperti aku.”
**
Hari demi hari berlalu. Pramana perlahan berubah.
Ia lebih tenang, lebih pendiam, lebih sering di rumah. Teman-teman lamanya mulai menjauhinya karena ia tidak lagi mau ikut pesta. Dan ia tidak memedulikan itu.
Hari - harinya saat ini hanya di isi dengan bekerja, bekerja dan bekerja saja. Usai bekerja Pramana langsung pulang ke rumah. Tidak lagi ada nongkrong atau sekedar Diner bersama Ethan, sang mantan kekasih setelah pulang bekerja.
**
Perjalanan tobat Pramana baru dimulai. Dan walau langkahnya penuh ketakutan, ia terus maju—walau setengah terseok—karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar ingin menjadi manusia yang lebih baik.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar berharap Tuhan masih mau menerimanya kembali.
Bersambung…