𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 12 - " BANGUNAN YANG TAK TERLIHAT *
Rizuki pergi dari dua dunia dirinya yang lain, dan kini dia membangun dunia baru.
Beberapa minggu berjalan. Pagi itu, udara di sekitar lahan terasa sunyi.
Tidak ada penanda khusus. Tidak ada plang proyek besar. Dari kejauhan, area itu tampak seperti lokasi industri lama yang sedang diperbaiki—biasa, nyaris tak menarik perhatian.
Namun Rizuki berdiri di sana dengan tatapan berbeda.
Empat lantai, struktur mulai menjulang perlahan. Tidak tinggi. Tidak mencolok. Tidak memberi kesan ambisi besar. Justru itulah yang ia inginkan.
“Pastikan semua material standar,” ujar Rizuki pada kepala konstruksi.
“Tidak perlu tampilan futuristik.”
Pria itu mengangguk.
“Kalau orang lewat, mereka hanya akan mengira ini gudang.”
“Bagus,” jawab Rizuki. “Biarkan begitu.”
Ia melangkah menyusuri setiap titik bangunan, langkahnya tenang namun penuh perhitungan. Tidak ada satu pun bagian yang luput dari pengawasannya.
Gedung ini bukan simbol.
Gedung ini adalah alat.
R TECHNOLOGY — TANPA IDENTITAS LUAR
Di dalam bangunan sementara yang dijadikan kantor lapangan, Rizuki berdiri di depan layar besar. Di sana terpampang diagram sistem yang tidak terhubung dengan jaringan mana pun.
" Lantai satu tempat logistik, buat bagian itu menjadi seperti gudang distribusi barang." Ucap rizuki sambil menunjuk denah.
“kendali operasi di lantai dua,” katanya pelan.
“Semua sistem harus di operasikan di sana.”
"Ruang server dan sistem keamanan ada di lantai 3." Lanjut ucap rizuki.
Seorang teknisi bertanya hati-hati,
“Dan lantai empat?”
Rizuki menoleh.
“Itu bukan untuk umum.”
Tehnisi terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mata nya terbuka lebar. “untuk anda? * tanya nya dengan sedikit terkejut.
Rizuki mengangguk singkat.
" Ruang terisolasi , inti dari seluruh sistem dan pengawasan keseluruhan progres. Aku akan mendesain nya sendiri. *
Tehnisi itu terkejut
“terisolasi ? - Bahkan untuk tim keamanan?”
“Bahkan untuk mereka.” jawab rizuki singkat.
Hening sejenak, lalu teknisi itu mencatat.
Nama proyek di sistem internal tetap sama:
R TECHNOLOGY
Tanpa keterangan.
Tanpa afiliasi.
Tanpa sejarah.
Waktu terus berlalu. Hari-hari Rizuki dipenuhi perhitungan, keputusan, dan kesunyian yang terkontrol. Ia jarang tidur lama. Fokusnya terpecah antara pembangunan fisik dan arsitektur teknologi.
Di sela jeda singkat, ponselnya bergetar.
Nama Vhiena.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum membuka.
Vhiena:
Kamu sibuk ya akhir-akhir ini?
Rizuki mengetik singkat.
Rizuki:
Cukup sibuk.
Vhiena:
Aku kira begitu.
Balasanmu jadi pendek 😅
Rizuki membaca itu tanpa ekspresi, lalu menjawab jujur tapi aman.
Rizuki:
Maaf. Ada hal yang harus kuselesaikan.
Vhiena:
Nggak apa-apa.
Aku cuma mau tahu kamu masih baik-baik saja.
Jari Rizuki berhenti sejenak.
Rizuki:
Aku baik.
Tidak ada tambahan.
Tidak ada lokasi.
Tidak ada alasan.
Vhiena menatap layar ponselnya lama, lalu tersenyum kecil.
“Dia tetap dia,” gumamnya.
GEDUNG YANG TUMBUH DALAM DIAM
Beberapa minggu berlalu.
Struktur empat lantai kini hampir rampung.
Dari luar, bangunan itu benar-benar tidak istimewa. Warna netral. Garis sederhana. Tidak ada ciri yang mengundang rasa ingin tahu.
Namun di dalam, sistem mulai hidup.
Lantai dua dipenuhi server tertutup, jalur kabel rapi, laboratorium, dan area pengembangan
Lantai tiga berisi ruang kerja tehnisi pilihan rizuki, dan ruang keamanan baik sistem maupun gedung.
Lantai empat— sudah hampir selesai
Rizuki berdiri di tengah ruangan lantai empat yang belum terisi.
“Ruangan ini aku jadikan 2 bagian terpisah, 1 untuk ruang kerja pribadi dan 1 nya lagi untuk pusat kendali utama,” kata rizuki pada arsitek.
*dan hanya aku yang dapat keluar masuk dan mengakses di lantai ini. *
Lanjut rizuki dengan wajah serius "Ruangan ini harus di buat se sunyi mungkin *.
Arsitek itu mengangguk.
“Seperti tempat berpikir? ”
“Lebih seperti tempat memutuskan,” balas Rizuki.
VHIENA, TANPA MENGETAHUI APA-APA
Di sisi lain kota, Vhiena menjalani hari-harinya seperti biasa.
Berekolah. Berbicara Tentang Tugas lalu Bercanda dengan Ayu dan Lala.
Namun setiap malam, sebelum tidur, ada satu kebiasaan baru: membuka ponsel dan mengecek satu nama.
Tidak selalu ada pesan.
Kadang hanya satu baris singkat.
Rizuki:
Hari ini panjang.
Vhiena:
Kamu capek?
Rizuki:
Sedikit.
Vhiena:
Istirahat ya.
Percakapan mereka sederhana. Bahkan bisa dibilang datar.
Namun justru di situlah kehangatannya.
Tidak ada janji.
Tidak ada tuntutan.
Hanya kehadiran.
DUA BULAN BERSELANG
Pagi itu, Sudah beberapa hari tidak ada lagi suara mesin berat.
Area konstruksi telah sunyi.
Gedung empat lantai itu berdiri utuh—selesai, bersih, dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Tidak ada yang akan menebak fungsinya jika hanya melihat dari luar.
" pekerjaan telah selesai,” lapor kepala proyek.
“Sesuai jadwal. Tanpa menarik perhatian."
“Baik,” jawab Rizuki.
“Kalian bisa meninggalkan lokasi.”
Satu per satu orang pergi.
Rizuki masuk sendirian ke dalam gedung.
Ia naik ke lantai empat.
Pintu terbuka setelah sistem mengenali biometriknya.
Ruangan itu kini lengkap: meja kerja, layar, dan keheningan yang sempurna.
Rizuki duduk.
Menyalakan sistem utama.
Lampu indikator menyala perlahan.
R Technology aktif.
Ia bersandar, menatap layar kosong.
“Sekarang,” gumamnya,
“aku benar-benar sendirian di sini.”
Tiba - Tiba Ponselnya bergetar.
Vhiena:
Kamu kedengaran… lebih tenang beberapa hari ini.
Rizuki menatap pesan itu lama.
Rizuki:
Mungkin karena sesuatu akhirnya selesai.
Vhiena:
Kalau begitu… selamat.
Rizuki:
Terima kasih.
Vhiena mengetik, lalu berhenti, lalu mengirim.
Vhiena:
Aku nggak tahu kamu lagi di mana, sedang apa, dan sama siapa.
tapi aku harap kamu nggak sendirian terlalu lama.
Rizuki memejamkan mata sejenak.
Dan menjawab nya,
Rizuki:
Ada orang-orang yang tidak sadar…
mereka menemani, meski dari jauh.
Vhiena tersenyum kecil di kamarnya.
Rizuki mengunci ponsel.
Menatap sistem yang kini sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Gedung itu tidak dikenal siapa pun.
Lokasinya tidak diketahui.
Tujuannya belum terlihat.
Namun dari ruangan sunyi di lantai empat itu,
sesuatu yang besar telah resmi dimulai.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/