Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Penyakit Bintang
Brakkk!!!
"Ada apa...???! Siapa...?!... Katakan siapa yang sedang sakit!!!" Ucap seorang pria yang terlihat sangat panik dan sangat berkeringat sambil membawa satu tas kesehatan berisi obat-obatan di tangannya.
"Kau! Mengapa Kau lama sekali brengsekkk!!!" Ucap Xavier emosi.
"Heiii... Seorang gadis? Siapa Dia? Aihhh imutnya?" Ucap Bara dengan mata yang berbinar.
Tapi tak lama kemudian.
Bughhh
"Jaga matamu dsn mulut mu itu brengsekk! Jika kau sudah tidak menginginkannya lagi aku dengan senang hati untuk mencongkel dan memotong lidah mu itu," Ucap Xavier emosi sambil berdiri dan menutupi wajah Bintang menggunakan tubuh kekarnya dengan posesif.
"Hei... Kau ini kenapa? Aku hanya memujinya... Pelit sekali..." Ucap Bara sambil memegang sebelah matanya dengan cemberut dan mendengus pelan.
"Cepatlah obati saja jangan banyak tanya," Ucap Xavier kesal.
Sedangkan Mike hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan meringis ngeri melihat Xavier yang menonjok mata Cucunya itu hingga terlihat sedikit memar kebiruan.
'Coba ada Nyonya besar, pasti seru melihat ini, Nyonya pasti akan senang, sayang aku sendiri yang bisa menikmati ini, beruntungnya diriku,' Ucap Mike dalam hatinya dengan bangganya.
"Bara!!!"
"Sku mengundang mu bukan hanya untuk berdiri saja, brengsek!" Lanjut Xavier.
"Hei...! Bagaiman aku bisa memeriksanya jika aku tidak menempelkan alat ini didadanya, Tuan Xavier yang terhormat! Aku ini seorang Dokter bukan seorang Dukun," Teriak Bara frustasi sambil mengacak-acak rambutnya, dan Xavier tampak tertegun sesaat lalu ikut menggaruk rambutnya dan tersenyum terpaksa.
Sedangkan Mike hanya bisa mencubit tangannya dengan kencang, agar bisa menahan tawanya.
Sungguh pemandangan yang sangat langka, melihat Tuan muda Alexander yang biasanya datar, arogan, datar serta terkenal karena kejeniusan dan kepiawaiannya itu, tiba-tiba menjadi orang yang posesif, dan terkesan bodoh serta tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Jadi, bagaiman ini?!" Tanya Bara kesal.
Setelah mendapatkan persetujuan Xavier, Bara langsung menjalankan tugasnya, tapi selama pemeriksaan itu berlangsung ekspresi wajah Bara jadi sudah ditebak, dan itu membuat Xavier semakin tegang dan khawatir.
"Dia sudah aku suntik vitamin dan obat pemenang, saat ini biarkan Dia beristirahat dengan tenang," Ucap Bara sambil menatap tajam pada Xavier yang selalu menatap Bintang tanpa mengalihkan pandangannya dan Xavier yang terlihat sangat khawatir pada Bintang.
"Kau... Ikut aku keluar!" Ucap Bara datar lalu segera keluar dari kamar itu, setelah memasang selang infus ditangannya.
Dengan diikuti oleh Mike yang memegang resep obat untuk Bintang.
"Kita berbicara diruang kerjaku saja," Ucap Xavier.
"Katakan siapa gadis kecil itu, menurutku usianya mungkin baru sekitar 15 atau 16 tahun." Ucap Bara sambil menatap tajam Xavier.
"Bintang, anak perempuan yang dibawa oleh ibu tiriku," Sahut Xavier dengan santai sambil menyandarkan punggungnya di sofa itu.
"Apa yang sudah Kau lakukan pada gadis kecil itu, kalau Kau tidak menyukainya lebih baik kau berikan saja Dia padaku, maka dengan senang hati aku akan merawat dan memanjakan gadis itu." Ucap Bara sambil melipat kedua tangannya didepan dada dan kaki yang menopang satu dengan yang lainnya.
"Apa maksud ucapanmu itu, brengsek! Coba jelaskan!" Ucap Xavier yang langsung tersentak dan kembali emosi.
"Gadis itu menderita kekurangan gizi, kurang istirahat, tapi tetap dipaksakan untuk tetap melakukan pekerjaan yang berat dalam waktu yang lama." Sahut Bara sambil menyerahkan catatan medis pada Xavier.
"Aku tidak pernah menyiksanya, brengsekkk! Sekalipun aku tidak begitu menyukainya tapi aku tidak pernah berfikir untuk menyiksa, Bintang! Aku tidaklah se brengsek itu, bukankah kau tahu bagaimana sifatku!" Ucap Xavier yang tiba-tiba tidak bisa mengendalikan emosi dan dirinya.
"Hei... Kau... Kau... Menyebutkan nama gadis itu, dari sekian banyak gadis-gadis yang mengejar mu, hanya namanya seorang yang kau sebut dan kau ingat, sepertinya gadis ini istimewa." Ucap Bara dengan menatap Xavier dengan sorot mata yang menyelidik.
"Baiklah... Sepertinya semua yang ingin aku katakan sudah aku katakan padamu, jangan lupa berikan obat serta beberapa vitamin sesuai dengan dosis yang sudah aku resep kan." Ucap Bara sambil berdiri lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
"Oh ya, jika kau kalau sempat temani Dia untuk berkonsultasi pada psikiater, trauma yang dialami gadis itu sudah tergolong berat, jangan biarkan Dia sendiri," Ucap Bara sambil mengangkat jari telunjuknya untuk mengingatkan Xavier.
"Benarkah...? Baiklah, Nanti akan aku pikirkan," Sahut Xavier dengan gusar.
"Kau... Kau... Kau membawa gadis itu ke kamarmu? Bahkan kau membiarkannya tidur diatas ranjangmu?" Tanya Bara terkejut karena baru sadar jika dirinya berada dilantai khusus milik Xavier.
"Sudah! Jangan banyak bicara... Pergi sana!" Usir Xavier datar.
"Hei! Kau tahu perjuanganku kesini itu seperti apa! Saat Opa menelpon ku, aku sedang rapat dikota lain, aku benar-benar terkejut hingga tidak sempat bertanya siapa yang sakit!"
"Kau tahu! Karena terjebak macet, aku harus naik motor, dan ketika masuk motorku ditahan di depan gerbang sana, jadi aku hanya bisa berlari agar aku bisa sampai dengan cepat, dasar orang gila! Lain kali, tolong jangan memberikan aku waktu yang begitu singkat. Aku ini manusia bukan robot" Ucap Bara dengan menggebu-gebu.
"Aku bayar 3 kali lipat, apakah cukup," sahut Xavier sambil mengeluarkan ponselnya.
"Akh... Kau ini, sudahlah, berbicara dengan mu ini hanya membuat aku bertambah kesal dan emosi saja," Ucap Bara sewot, setelah menerima notif TF dari Xavier, setara gaji satu bulan kerja.
....