Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Feng Yun dan Dai Tong
Beberapa jam berlalu. Gelombang-gelombang besar terus menghantam, dan dari kedalaman laut, bayangan-bayangan gelap sesekali melintas di bawah permukaan, mengintai mangsa mereka.
Di atas kapal besar milik Feng Yun dan Dai Tong, suasana semakin mencekam. Setiap beberapa menit, monster-monster laut bermunculan dari berbagai arah, menyerang kapal dengan keganasan yang tak kenal lelah.
Tentakel-tentakel raksasa, sirip-sirip berduri, dan rahang-rahang menganga bergantian muncul, memaksa kedua kultivator itu terus bertarung tanpa henti.
Feng Yun mengibaskan lengannya dengan lelah, menghabiskan seekor monster ikan bertaring tajam yang mencoba menerobos lambung kapal.
Dou Qi keunguannya mulai terlihat redup, tandanya energinya semakin terkuras.
"Memerlukan waktu selama ini, tapi baru setengah jalan!" seru Feng Yun dengan nada muak.
Keringat membasahi dahinya yang mulus, membuat beberapa helai rambut ungunya menempel di pipi.
Sementara itu, Dai Tong sudah terbaring di geladak dengan napas terengah-engah. Pedangnya tergeletak di sampingnya, bilahnya berlumuran darah hitam pekat dari monster-monster yang berhasil ia tebas. Wajahnya pucat, matanya setengah terpejam karena kelelahan.
"Gila..." gumamnya dengan suara serak. "Monster-monster di sini sangat ganas. Meskipun ranah mereka lebih rendah dari kita, tapi jumlahnya terlalu banyak. Tidak peduli seberapa kuat kita, menghadapi gerombolan tanpa henti seperti ini perlahan akan menguras habis energi kita."
Wajah Feng Yun makin kesal mendengar keluhan rekannya. Namun ia tidak bisa menyangkal kebenaran perkataan itu.
Bahkan dengan kekuatannya di Ranah Da Dou Shi tahap akhir, ia mulai merasakan kelelahan yang menggerogoti tubuhnya.
Tangannya kembali terangkat, menunjuk ke arah sekumpulan monster laut yang berkumpul di depan kapal.
Di antara mereka, seekor monster bertubuh besar dengan sirip berlapis baja tampak memimpin, matanya yang kuning menyala menatap kapal mereka dengan nafsu makan yang membara.
"Teknik Paus Bintang!"
Dari telapak tangan Feng Yun, Dou Qi keunguan melesat keluar, membentuk seekor paus raksasa yang terbuat dari energi murni.
Makhluk spiritual itu melesat maju dengan kecepatan luar biasa, menabrak kawanan monster di depannya.
Ledakan!
Ledakan yang mengguncang laut sekali lagi terjadi. Air menyembur tinggi, membentuk pancuran-pancuran putih yang berkilauan.
Beberapa monster terpental ke udara, tubuh mereka hancur berkeping-keping oleh kekuatan ledakan. Namun, dari balik kabut air yang beterbangan, beberapa ekor monster lain masih bertahan, siap menyerang lagi.
Napas Feng Yun makin tak karuan. Dadanya yang padat naik turun dengan cepat, dan untuk pertama kalinya, ekspresi putus asa mulai terlihat di wajahnya yang cantik.
"Jika tahu akan begini, aku tidak akan pernah menerima melewati jalan ini!" desisnya dengan gigi terkatup.
Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke dinding kapal, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Namun pandangannya masih lurus ke depan, tetap waspada terhadap ancaman yang terus bermunculan.
Dan benar saja. Dari kejauhan, beberapa bayangan gelap mulai muncul lagi di permukaan air. Monster-monster baru, sama ganasnya dengan yang sebelumnya, berenang mendekat dengan kecepatan tinggi.
"Tidak ada habisnya," gumam Feng Yun dengan nada lelah.
Dai Tong perlahan bangun, mengusap-usap matanya yang masih berat karena kelelahan.
Namun saat pandangannya tertuju ke arah lain, matanya tiba-tiba membelalak.
"Adik Seperguruan!" panggilnya dengan nada terkejut.
"Apa?!" balas Feng Yun dengan nada kesal, tidak sabar dengan gangguan lain.
"Itu! Lihat itu!"
Feng Yun mengikuti arah pandangan Dai Tong, dan apa yang ia lihat membuatnya tertegun sejenak.
Di kejauhan, sebuah kapal kecil melaju dengan tenang di atas permukaan Lautan Abadi. Kapal itu sangat sederhana, hampir seperti perahu nelayan biasa, tanpa hiasan atau perlindungan apapun.
Di bagian depan kapal, seorang pemuda duduk dengan santai, kakinya yang panjang terurai dan menjuntaikan di atas permukaan air.
Pakaiannya berwarna hitam pekat, rambutnya diikat rapi ke belakang, dan ekspresi wajahnya tenang tanpa rasa takut sedikit pun.
Di tengah kapal, seorang wanita cantik dengan jubah putih berdiri tegak, matanya yang biru jernih memandang ke depan dengan waspada.
Raut wajah Feng Yun berubah. Matanya yang hitam pekat berkilauan dengan sesuatu yang baru, bukan lagi amarah atau kelelahan, melainkan rasa ingin tahu yang mendalam.
"Pemuda yang sangat tampan..." gumamnya tanpa sadar, suaranya nyaris tak terdengar.
Dai Tong, yang mendengar gumaman itu, melongo tidak percaya. Ia menatap rekannya dengan ekspresi bingung, tetapi Feng Yun sama sekali tidak memperhatikannya.
Keduanya tak lain adalah Jiang Yuan dan Ruan Mei.
Mata Dai Tong menyelidik dengan saksama. Dari sekian banyak monster yang bergerak di sekitar Lautan Abadi, tidak ada satu pun yang mendekati kapal kecil itu.
Bahkan ketika beberapa monster melintas di dekat mereka, makhluk-makhluk itu tiba-tiba berbelok arah, seolah menghindari sesuatu yang tidak kasatmata.
"Para monster menghindari mereka?" ucap Dai Tong, nada suaranya bercampur antara heran dan tidak percaya.
Mendengar itu, Feng Yun langsung terpikirkan ide bagus. Ia menegakkan tubuhnya, mencoba mengesampingkan kelelahan yang menyergap.
Kedua tangannya ia angkat, melambai ke arah kapal kecil di kejauhan.
"Hei! Kalian berdua!" serunya, suaranya yang merdu membelah desiran angin laut. "Apakah kalian ingin menumpang? Kelihatannya tujuan kita sama! Saling membantu tidak ada salahnya!"
Jiang Yuan dan Ruan Mei saling bertatapan sejenak. Terjadi percakapan singkat tanpa kata di antara mereka, sebelum akhirnya keduanya mengangguk setuju.
Dengan satu lompatan ringan, Jiang Yuan dan Ruan Mei melesat dari kapal kecil mereka, mendarat dengan anggun di atas geladak kapal besar Feng Yun.
Hampir bersamaan, kapal kecil mereka menghilang dalam sekejap, tersimpan rapi di dalam cincin penyimpanan milik Jiang Yuan.
Keduanya menyatukan tangan di depan dada, memberikan isyarat hormat yang sopan. Namun, berbeda dengan biasanya, kali ini mereka tidak menundukkan kepala.
Sikap mereka menunjukkan bahwa mereka datang sebagai rekan setara, bukan bawahan.
"Terima kasih sudah memberi tumpangan," ucap Jiang Yuan dengan nada datar namun sopan.
Feng Yun segera melangkah mendekat. Wajahnya yang tadinya lelah dan muak kini berseri-seri, senyuman manis menghiasi bibir merahnya. Gerakannya yang anggun membuat jubah birunya berkibar pelan.
"Tidak, tidak," ucapnya, suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada saat ia berbicara dengan Dai Tong. "Kamilah yang seharusnya berterima kasih. Monster-monster di sini sangat ganas, tapi kelihatannya mereka menghindari kalian."
Ia menundukkan kepalanya sedikit, memberikan isyarat hormat yang lebih dalam.
"Jadi... mungkin kalian bisa membantu kami untuk sampai ke tujuan. Aku Feng Yun, dari Sekte Naga Biru. Dan ini Dai Tong."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, Feng Yun berbicara dengan suara lembut dan senyuman manis.
Bahkan Dai Tong melongo melihatnya, matanya membelalak karena tidak percaya. Ia belum pernah melihat wanita jutek itu bersikap begitu ramah kepada orang asing.
Ruan Mei kemudian menatap Jiang Yuan dengan alis terangkat. Matanya yang biru jernih menyelidik, mencoba mencari jawaban.
"Benar juga. Aku baru menyadarinya," ucap Ruan Mei, suaranya sedikit menuduh. "Bagaimana bisa monster-monster ini menghindarimu? Selama kita bersama, tidak ada satu pun makhluk buas yang berani mendekat. Padahal aku tahu mereka pasti akan menyerangku jika aku sendirian."
Ruan Mei maju selangkah, mendekatkan wajahnya ke Jiang Yuan. Jarak di antara mereka menjadi sangat dekat, cukup untuk membuat Jiang Yuan mencium aroma bunga yang samar dari rambut Ruan Mei.
Semua mata kini tertuju pada Jiang Yuan. Dai Tong mendekat dengan penasaran, memutar-mutar tubuh Jiang Yuan seolah sedang memeriksa barang dagangan.
"Kau kelihatan biasa saja..." ucap Dai Tong dengan nada polos namun menusuk. "Tubuhmu tidak begitu berotot, ranahmu tidak tinggi, aura yang dipancarkan tidak begitu kuat. Tapi bagaimana bisa monster-monster itu takut padamu?"
Feng Yun langsung bergerak cepat. Tangannya yang lentik menjepit telinga Dai Tong dengan kekuatan yang membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Aduh! Duh! Adik Seperguruan! Sakit!" seru Dai Tong sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Feng Yun.
"Jangan tidak sopan!" kata Feng Yun dengan nada tegas, meski matanya tetap tersenyum pada Jiang Yuan.
Dai Tong hanya bisa mengerang pelan, mengusap telinganya yang memerah.
Ia menatap Feng Yun dengan ekspresi bingung, bertanya-tanya mengapa wanita itu tiba-tiba bersikap begitu lembut dan protektif terhadap seorang pemuda asing.
Sementara itu, tatapan Ruan Mei tidak berubah dari Jiang Yuan. Matanya yang biru jernih tetap menatap tajam, menuntut jawaban.
"Tidak mau menjawab?" ucapnya lagi, nada suaranya semakin tajam.
Jiang Yuan menghela napas panjang. Ia mengangkat bahunya pelan, mencoba memasang ekspresi tidak tahu apa-apa.
"Entahlah," jawabnya dengan nada santai. "Hanya kebetulan saja mereka takut padaku, mungkin?"
Ia menatap Ruan Mei dengan mata yang berusaha terlihat polos, seolah ia benar-benar tidak mengerti mengapa fenomena aneh itu terjadi.
Ruan Mei tentu saja geram. Wajahnya yang cantik memerah karena kesal, tangannya terangkat hampir memukul Jiang Yuan.
Namun, di saat yang sama, senyuman kecil muncul di sudut bibirnya, sebuah tanda bahwa meski kesal, ia juga sedikit terhibur oleh sikap santai pemuda itu.
"Kau benar-benar menyebalkan," gumam Ruan Mei, menurunkan tangannya dan membuang muka.
Feng Yun, yang memperhatikan interaksi antara Jiang Yuan dan Ruan Mei, tersenyum kecil. Ada sesuatu yang menarik tentang pasangan ini, pikirnya.
"Baiklah," ucap Feng Yun, bertepuk tangan pelan untuk menarik perhatian semua orang. "Kita semua ingin mencapai tujuan dengan selamat, bukan? Mari kita bekerja sama. Dengan adanya kalian, monster-monster ini mungkin tidak akan berani mendekat. Dan dengan kekuatan kami, kita bisa melewati Lautan Abadi ini lebih cepat."
Dai Tong mengangguk setuju, meski masih sedikit cemberut karena telinganya yang sakit. Ruan Mei hanya mendengus pelan, namun tidak menolak.
Jiang Yuan mengangguk, seulas senyuman tipis menghiasi bibirnya.
"Baiklah. Tapi jangan tanya lagi kenapa monster-monster ini takut padaku. Aku juga tidak tahu jawabannya."
Ia berbohong, tentu saja. Di dalam Lautan Kesadarannya, Bing Bi tersenyum puas.
Kekuatan es Kaisar Peri Es yang meresap ke dalam aura Jiang Yuan-lah yang membuat makhluk-makhluk buas itu menjauh, mereka bisa merasakan hawa dingin purba yang jauh lebih mengancam daripada apapun yang pernah mereka temui.
Namun, untuk saat ini, Jiang Yuan lebih baik menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri.
Kapal besar itu akhirnya melanjutkan perjalanan, kali ini dengan empat penumpang. Monster-monster laut terus berkeliaran di sekitar mereka, namun tidak ada satu pun yang berani mendekat.
Seolah ada penghalang tak terlihat yang melindungi kapal itu dari segala ancaman.