NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA

Video Tia berdurasi empat puluh tujuh detik. Dalam waktu kurang dari satu jam, jumlah orang yang menontonnya lebih banyak daripada jumlah pelanggan Sinar Jaya Service selama enam bulan terakhir.

Bagian pembuka memperlihatkan setrika merah muda di atas meja. Setelah itu muncul aku yang berkata listrik tidak punya perasaan, disusul jawaban Kak Sri bahwa makin banyak yang tidak suka suaminya. Tia menambahkan suara efek tertawa, potongan wajah Bang Ramli, dan tulisan besar: SUAMI MALAS TERDETEKSI.

“Ini bagus,” kataku.

Liza memandangku seolah baru saja menemukan korsleting di dalam kepala manusia. “Bagus dari mana?”

“Lima pesanan masuk.”

“Wajah pelanggan terlihat jelas.”

“Kak Sri bilang boleh promosi.”

“Ia bilang rumahnya jangan dijadikan bahan lelucon.”

Tia duduk di bangku bengkel sambil menyunting video lain. “Yang jadi bahan lelucon suaminya, bukan rumahnya.”

Liza menutup buku catatan dengan pelan. Itu lebih menakutkan daripada membantingnya. “Hapus.”

“Tunggu dulu,” kataku. “Pesanan sudah masuk. Orang perlu tahu kita ada.”

Pak Tor, yang sejak tadi menyolder kipas meja, mematikan alatnya. “Pekerjaan teknis bukan sirkus.”

Tia menoleh. “Sekarang semua usaha butuh media sosial, Pak.”

“Butuh. Bukan berarti semua orang yang masuk rumah pelanggan boleh dijual wajahnya.”

Aku menarik kursi. Lima pesanan itu berputar di kepalaku seperti angka sewa bengkel. Ada rice cooker, pompa air, dispenser, lampu teras, dan satu pesan yang hanya berbunyi listrik rumah sering marah. Aku tidak tahu alat apa yang dimaksud, tetapi tetap ingin menerimanya.

“Kita bisa potong bagian muka,” kataku. “Jangan hapus semuanya.”

Liza menyandarkan tangan di meja. “Masalahnya bukan cuma wajah. Kita datang untuk memperbaiki alat. Bukan mencari bagian paling lucu dari hidup orang.”

“Tapi mereka tertawa juga.”

“Orang bisa tertawa karena gugup, Jef.”

Tia memeluk ponselnya. “Aku sudah kerja. Rekam, potong, kasih teks. Kalau aku kelola akun, aku mau komisi dari pelanggan yang datang karena video.”

“Berapa?” tanyaku.

“Sepuluh persen.”

“Kau bahkan belum punya kartu nama.”

“Kau juga belum punya usaha resmi, tapi sudah minta dipanggil profesional.”

Pak Tor mengembuskan napas. Mak Mina keluar membawa kopi dan langsung tahu ada pertengkaran karena tak seorang pun menyentuh pisang goreng di meja.

“Apa lagi?” tanyanya.

“Tia menjual malu keluarga,” kataku.

“Malu keluarga sudah lama gratis. Baguslah ada yang beli.”

Tia tersenyum menang. Liza tidak.

Kami akhirnya menonton video dari awal sampai akhir tanpa suara. Ketika musik dan efek tertawa hilang, aku melihat hal yang sebelumnya tidak kuperhatikan. Kak Sri beberapa kali menutup mulut saat tertawa. Bang Ramli menarik kerah kausnya ketika kamera mendekat. Di latar belakang, foto keluarga tergantung di dinding, nomor rumah terlihat dari pintu, dan seorang anak melintas dengan seragam sekolah.

“Hapus,” kataku.

Tia menatapku. “Tadi katanya bagus.”

“Sekarang aku bilang hapus.”

“Karena Kak Liza?”

“Karena terlalu banyak yang kelihatan.”

Tia tidak langsung bergerak. Wajahnya berubah dari menantang menjadi terluka, tetapi gengsinya masih cukup besar untuk menahan air mata. “Kalau tak ada aku, lima pelanggan itu tak masuk.”

“Aku tahu.”

“Kalau videonya jelek, bilang dari awal.”

“Videonya tidak jelek. Caranya yang salah.”

Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang seharusnya dikatakan Bapak kepadaku, bukan aku kepada adikku. Mungkin karena itulah Pak Tor kembali menyalakan solder tanpa menambahkan apa-apa.

Tia menghapus unggahan. Dua menit kemudian ia menunjukkan layar, membuktikan videonya tidak lagi terlihat. Namun, salinan sudah telanjur diunduh dan dibagikan akun lain. Internet rupanya seperti minyak bekas di lantai bengkel: sekali tumpah, jejaknya pindah ke mana-mana.

Fadli datang menjelang siang membawa knalpot yang kini diikat kawat sebagai cadangan. Ia melihat wajah kami satu per satu.

“Lek, biasanya kau punya lelucon,” bisiknya kepadaku.

Aku menatap video yang masih muncul di akun hiburan lokal. “Kali ini jangan kasih aku alasan.”

Humornya berhenti tepat ketika ponsel Tia menerima pesan suara dari Kak Sri.

Kami memutarnya bersama. Suara Kak Sri tetap ramah, tetapi lebih pelan daripada kemarin. Ia bilang tidak marah dan tidak berniat meminta uang kembali. Masalahnya, video sudah masuk ke grup kantor Bang Ramli. Sepanjang pagi suaminya dipanggil Ketua Persatuan Suami Malas. Seseorang menempel gambar setrika pada kursinya.

“Dia memang malas,” kata Kak Sri dalam rekaman, “tapi aku yang boleh bilang. Orang sekantornya jangan.”

Tia menurunkan ponsel.

“Aku minta maaf,” katanya, meski Kak Sri tidak bisa mendengar.

Liza meminta ia merekam permintaan maaf yang sungguh-sungguh, tanpa musik, tanpa tulisan lucu, dan tanpa menjadikan dirinya korban. Tia mengulang rekaman tiga kali karena pada percobaan pertama ia terlalu banyak menjelaskan niat baiknya. Pada percobaan kedua, ia berkata video itu sebenarnya membantu usaha kami. Baru pada percobaan ketiga ia mengatakan yang perlu dikatakan: aku mengunggah tanpa memastikan izin, dampaknya menyusahkan, dan aku akan membantu meminta akun lain menurunkannya.

Kami juga sepakat membuat aturan sederhana. Tidak ada wajah, alamat, nomor kendaraan, suara pribadi, atau bagian rumah yang dapat dikenali tanpa persetujuan jelas. Persetujuan harus ditanyakan sebelum merekam, bukan setelah video selesai. Tia masih boleh membantu akun usaha, tetapi tidak otomatis mendapat komisi dari setiap rasa malu yang berhasil ia ubah menjadi penonton.

“Lima persen?” tanyanya.

“Nanti,” jawab Liza.

“Tiga?”

“Tia.”

“Baik. Aku sedang belajar negosiasi.”

Untuk beberapa menit, suasana mereda. Kami mulai menghubungi lima calon pelanggan satu per satu. Tiga tetap ingin memesan. Satu membatalkan karena mengira jasa kami juga menyediakan konseling rumah tangga. Satu lagi tidak menjawab.

Lalu ponsel bengkel berdering.

Seorang laki-laki berbicara cepat. Ia bukan salah satu pemesan. Rumahnya terlihat sekilas di belakang Kak Sri ketika Tia merekam dari teras. Nomor rumah dan mobilnya tampak jelas. Ia bilang sedang berurusan dengan penagih utang dan tidak ingin lokasi keluarganya tersebar.

“Saya kasih waktu sampai sore,” katanya. “Kalau masih ada videonya, saya lapor.”

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!