Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 ~ Kau Masih Sekertarisku
Ruangan itu tenggelam dalam keheningan. Seluruh tatapan kini tertuju kepada Damian, menunggu bagaimana pria itu akan menanggapi keputusan mendadak tersebut.
Namun berbeda dari dugaan semua orang, Damian justru tersenyum tipis.
"Saya mengerti," ucapnya tenang sambil menutup map kontrak di hadapannya. "Dalam dunia bisnis, setiap perusahaan tentu berhak memilih kerja sama yang paling menguntungkan."
Ucapan itu membuat rombongan dari Singapura sedikit mengembuskan napas lega.
"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan Damian," balas pimpinan rombongan tersebut.
Damian mengangguk pelan.
"Meski kerja sama kali ini tidak terjalin, saya tetap berharap di lain kesempatan kita bisa kembali bertemu." ujar pria tersebut.
"Tentu," jawab Damian sambil bangkit dari kursinya.
Tak lama kemudian, seluruh peserta rapat saling berjabat tangan sebelum rombongan tamu meninggalkan ruang rapat.
Klik. Pintu perlahan tertutup.
Seketika senyum tipis di wajah Damian lenyap tanpa bekas. Sorot matanya berubah dingin.
Sangat dingin. Tak seorang pun berani membuka suara.
Haris yang berdiri di samping meja bahkan ikut menelan ludah.
Damian menatap berkas kerja sama yang masih terbuka di hadapannya beberapa saat.
Kemudian telapak tangannya menghantam meja rapat begitu keras hingga seluruh orang di ruangan itu tersentak.
BRAK!
"Siapa yang berani melakukannya?!!" tanya Damian dengan suara rendah, tetapi dipenuhi kemarahan.
Tak ada yang berani menjawab.
"Informasi penawaran akhir Foster Group hanya diketahui oleh segelintir orang," lanjut Damian. "Mustahil Harley Group bisa mengajukan angka yang lebih tinggi dengan selisih yang begitu tipis tanpa mengetahui isi penawaran kita."
Suasana semakin mencekam. Tatapan Damian perlahan menyapu satu per satu wajah orang yang berada di ruangan itu.
Mulai dari para direktur. Kepala divisi. Hingga berhenti sesaat pada Haris dan Evelyn.
Tatapan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya beralih kembali.
"Aku ingin seluruh akses terhadap dokumen proyek ini diperiksa," titah Damian tegas. "Mulai dari riwayat revisi, komputer yang digunakan, hingga siapa saja yang memiliki izin membuka berkas tersebut."
"Baik, Tuan," jawab Haris sigap.
Damian kembali mengepalkan tangannya. "Siapa pun orangnya..." ucapnya dengan rahang mengeras, "...aku akan menemukannya."
Mendengar kalimat itu, jantung Evelyn kembali berdegup tak karuan. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam map di tangannya semakin erat.
Hari itu ia baru menyadari satu hal. Kepergiannya ke London bukan lagi sekadar untuk menyembunyikan kehamilan.
Melainkan juga melarikan diri dari pria yang suatu hari nanti pasti akan memburu pengkhianat yang telah menghancurkan kepercayaannya.
Suasana ruang rapat masih dipenuhi ketegangan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala. Bahkan suara napas terasa begitu jelas terdengar.
Damian menarik napas panjang, berusaha meredam amarah yang terus bergolak di dalam dadanya.
"Haris," panggilnya tegas.
"Ya, Tuan," sahut Haris sigap.
"Selidiki semuanya. Aku ingin laporan lengkap sebelum hari ini berakhir."
"Baik, Tuan," jawab Haris mantap.
Damian kembali menatap seluruh orang yang masih berada di ruang rapat.
"Rapat selesai."
Satu per satu peserta rapat segera meninggalkan ruangan. Tak ada yang berani berbicara. Mereka tahu, suasana hati Direktur Utama mereka sedang berada di titik terburuk.
Evelyn pun melangkah keluar sambil membawa map di pelukannya. Baru beberapa langkah meninggalkan ruang rapat, ia mendengar suara Damian kembali memanggil.
"Evan."
Langkah Evelyn terhenti. Ia memejamkan mata sesaat sebelum berbalik.
"Ya, Tuan?" jawabnya setenang mungkin.
"Masuk ke ruanganku."
"Baik, Tuan."
Evelyn mengikuti Damian hingga masuk ke ruang kerja Direktur Utama itu.
Begitu pintu tertutup, Damian melepaskan jasnya lalu melemparkannya ke atas sofa. Ia berdiri membelakangi Evelyn sambil memijat pangkal hidungnya.
Beberapa saat, tak ada satu pun yang berbicara.
"Evan," ucap Damian akhirnya.
"Ya, Tuan."
"Kau sudah bekerja denganku hampir empat tahun."
"Iya, Tuan."
"Menurutmu..." Damian membalikkan tubuhnya perlahan. "Apa ada seseorang di perusahaan ini yang berani membocorkan informasi penting kepada Harley Group?"
DEG. Jantung Evelyn kembali berdegup kencang. Namun raut wajahnya tetap berusaha terlihat tenang.
"Saya tidak tahu, Tuan," jawabnya jujur. "Selama ini semua orang yang terlibat dalam proyek ini terlihat menjalankan tugasnya dengan baik."
Damian mengangguk pelan. "Aku juga berharap dugaanku salah."
Kalimat itu membuat dada Evelyn terasa semakin sesak. Ia menggigit bibir bagian dalam, menahan rasa bersalah yang perlahan menggerogoti hatinya.
Damian berjalan kembali ke balik meja kerjanya. Menatap Evan yang masih berdiri tegak disana.
"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanyanya.
Evelyn terdiam beberapa detik. Inilah waktunya. Dengan tangan yang mulai terasa dingin, ia membuka tas kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah map berwarna putih. Ia melangkah mendekat dan meletakkannya perlahan di atas meja Damian.
"Ada satu hal yang ingin saya sampaikan, Tuan," ucap Evelyn lirih.
Damian mengalihkan pandangannya ke map tersebut.
"Apa ini?"
"Surat pengunduran diri saya."
Seketika tatapan Damian membeku.
Damian tidak langsung menyentuh map itu. Tatapannya bergantian mengarah kepada map putih di atas meja, lalu kembali kepada Evelyn yang berdiri tegak di hadapannya.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya datar, meski sorot matanya mulai berubah tajam.
Evelyn menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap atasannya. "Saya ingin mengundurkan diri, Tuan," jawabnya pelan.
Ruangan seketika dipenuhi keheningan.
Damian masih belum membuka map tersebut. "Alasannya?" tanyanya singkat.
Evelyn sudah menyiapkan jawaban itu sejak tadi pagi. "Saya akan melanjutkan pendidikan bisnis di London," jelasnya tenang. "Keberangkatannya dipercepat, jadi saya tidak bisa lagi menjalankan pekerjaan sebagai sekretaris Anda."
Damian mengernyit tipis.
"Kenapa begitu mendadak? Sejak kapan kau merencanakannya?"
Evelyn menggenggam kedua tangannya di depan tubuhnya. "Sudah cukup lama. Hanya saja, kepastian keberangkatannya baru saya terima kemarin."
Damian menatapnya lekat, seolah mencoba menemukan kebohongan di balik setiap kalimat yang diucapkan sekretaris kepercayaannya itu.
"Kenapa baru memberitahuku sekarang?" tanyanya lagi.
Evelyn terdiam sesaat. "Saya ingin menyelesaikan pekerjaan ini terlebih dahulu," jawabnya lirih. "Saya tidak ingin meninggalkan tanggung jawab di tengah proyek sebesar ini."
Damian meraihnya dengan kasar, membaca surat itu hingga selesai. Rahangnya perlahan mengeras. Ia tidak langsung menandatanganinya.
Damian menggenggam surat tersebut begitu erat, hampir meremasnya, lalu berjalan perlahan mendekatinya.
"Hari ini proyek terbesar Foster Group gagal. Dan di hari yang sama, sekretaris kepercayaanku mengajukan pengunduran diri."
Damian menghentikan langkahnya tepat di depan Evelyn. "Menurutmu... apa aku harus menganggap ini hanya sebuah kebetulan?" tanyanya tajam.
DEG. Jantung Evelyn seolah berhenti berdetak.
"Tuan..." ucapnya lirih.
"Aku sedang bertanya!"
"Hal ini tidak ada hubungannya dengan proyek tadi," jelas Evelyn setenang mungkin. "Keputusan ini sudah diambil keluarga saya jauh sebelum hari ini."
"Keluargamu?"
"Iya, Tuan."
Damian menyipitkan matanya dan masih menatapnya lekat.
Beberapa detik berlalu. Tak ada satu pun dari mereka yang mengalihkan pandangan.
Akhirnya Damian mengambil surat itu kembali. "Dengan kondisi perusahaan seperti sekarang..." lanjut Damian, "...aku belum bisa menerima pengunduran dirimu."
Evelyn membelalak.
"Apa?! T-tapi..."
"Kau tetap bekerja sampai penyelidikan kebocoran proyek ini selesai." jelas Damian tegas.
"Tapi saya harus berangkat ke London sore ini." jelas Evelyn.
"Itu urusanmu dengan keluargamu," potong Damian tegas. "Bagiku, kau masih sekretarisku."
Damian meletakkan surat itu kembali ke meja. "Selama belum kutandatangani... kau belum mengundurkan diri."
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya