NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 : KAPTEN WIRAYUDA

Sore mulai merunduk, warna jingga perlahan menyelimuti ujung pepohonan, sementara bayangan memanjang menembus celah-celah semak menuju tempat persembunyian. Warga mulai sibuk menyalakan api kecil yang asapnya ditahan di balik lubang tanah, tak sampai terlihat dari bukit sebelah.

Di pinggir tebing yang terlindungi dahan pohon besar, Bayu berdiri memandangi jalan setapak yang menghilang di balik kabut tipis, hatinya berdebar tak tenang menanti seseorang yang sudah lama ditunggu kehadirannya.

"Masih berdiri di sini sendirian, Yu?"

Bayu menoleh cepat, wajahnya seketika berubah lega. "Aku kira takkan datang sampai matahari benar-benar tenggelam, Kapten."

Kapten Wirayuda melangkah mendekat perlahan, pakaiannya lusuh penuh debu dan noda dedaunan, namun sikapnya tetap tegap dan berwibawa seperti biasa. Di sampingnya berjalan Karta yang tadi diperintahnya menunggu di batas pengawasan luar.

"Jalanan penuh mata-mata. Harus berputar jauh melewati perbukitan supaya tak dicurigai," jawab Kapten sambil menepuk debu di bahunya, lalu pandangannya jatuh lurus ke mata Bayu.

"Kabar penyergapan di jembatan kecil itu sampai ke telingaku. Bagaimana kejadian sebenarnya?"

"Mari kita duduk dulu, Kapten. Biar semua ikut mendengar sekaligus," ajak Bayu sambil memberi isyarat pada Dul Kalong memanggil yang lain berkumpul.

Tak lama kemudian mereka semua duduk melingkar di atas alas daun pisang kering. Sukria, Jaka Kelitik, Embek Gombloh, Pak Somad, dan Mbah Kartareja hadir menyertai. Kapten Wirayuda menyilangkan kakinya, menatap satu per satu wajah mereka dengan pandangan yang hangat namun tajam menembus.

"Ceritakan dari awal, Bayu. Tak ada yang perlu ditutupi atau dibesar-besarkan," ucapnya lembut namun tegas.

Bayu mengangguk, lalu menceritakan semuanya berurutan: mulai dari melihat pola jalan patroli yang sama terus menerus, menyusun rencana sederhana, memasang jebakan, hingga apa yang terjadi saat mereka berhadapan langsung dengan Sersan Pieter dan anak buahnya. Ia juga menyebutkan pesan yang disampaikan kepada musuh saat dilepaskan, beserta apa saja yang berhasil didapatkan.

Setelah selesai bercerita, hening sejenak menyelimuti mereka. Kapten Wirayuda diam saja, jari telunjuknya mengetuk pelan di atas lututnya.

"Berani," ucapnya akhirnya.

"Sangat berani untuk langkah pertama. Tapi ada hal yang sangat patut dipuji dari semua itu: kalian memilih memberi peringatan terlebih dahulu, bukan langsung membabi buta menyerang membunuh."

"Kami berpikir, Kapten... mereka juga manusia. Mungkin banyak di antara mereka hanya diperintah karena terpaksa, sama seperti kami dulu disuruh kerja paksa," kata Karta menyambung pelan.

"Benar sekali pemikiranmu, Nak. Itulah yang membedakan kita dengan penindas. Kita berjuang demi keadilan, bukan demi dendam buta," sahut Kapten. Ia menoleh ke arah Sukria.

"Dua senapan Mannlicher itu bagaimana kondisinya sekarang?"

"Sudah kami bersihkan sebatas kemampuan kami, Kapten. Tapi sejujurnya kami tak tahu benar apakah sudah pas atau justru merusak bagian dalamnya," jawab Sukria jujur.

"Bolehkan aku melihatnya sekarang?"

Bayu memberi isyarat pada Dul Kalong. Tak lama kemudian senapan itu dibawa dengan hati-hati dan diserahkan kepada Kapten Wirayuda. Ia memegangnya sejenak, memutar-mutar, menarik tuas, mengintai laras ke arah cahaya temaram. Hingga akhirnya ia tersenyum tipis sambil mengangguk puas.

"Kalian melakukannya cukup baik. Tak ada bagian yang rusak. Hanya saja ada aturan dan cara kerja yang belum kalian ketahui sepenuhnya, yang kalau salah bisa berakibat fatal bagi diri sendiri maupun kawan di sebelahmu," ucap Kapten. Ia meletakkan senapan itu perlahan di tengah lingkaran.

"Mulai besok fajar, aku akan mengajari kalian. Tak hanya soal senjata, tapi membaca arah angin, menentukan waktu bergerak, cara menyembunyikan jejak, hingga membaca pergerakan musuh dari hal-hal kecil yang tak disadari orang biasa."

Wajah semua orang tampak berseri mendengar hal itu. Selama ini mereka hanya berusaha semampu akal sendiri, kini akhirnya ada yang akan membimbing dengan benar.

"Tapi Kapten," sela Mbah Kartareja pelan.

"Bukankah tugas Bapak mengurus wilayah yang jauh lebih luas? Jangan sampai kehadiran Bapak di sini malah membahayakan."

"Justru dari sinilah semuanya akan tumbuh, Mbah. Jika akar sudah kuat, maka dahan dan ranting di mana pun akan ikut kokoh," jawab Kapten tenang.

"Aku tak akan menetap terus di sini, tapi akan sering menyambangi lewat jalan rahasia. Dan aku membawa kabar lain pula."

Ia menoleh ke arah Wadana Raksapati yang sedari tadi duduk menyimak sambil meremas ujung sarungnya.

"Kabar dari dalam kota mengatakan Bapak adalah orang yang teguh menjaga aturan, namun selama ini terpaksa harus menurut demi keselamatan keluarga besar Bapak," ucap Kapten.

"Apakah sampai saat ini hati Bapak masih berada di pihak kami, atau justru di pihak mereka yang membawa senjata asing?"

Semua mata tertuju pada Wadana Raksapati. Leluhur itu menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke arah Kapten Wirayuda.

"Darahku mengalir di tanah ini sejak tujuh turunan lalu, Kapten. Bagaimana mungkin aku bisa berpihak pada orang yang datang hanya ingin mengambil semua hasil keringat kami?" suaranya bergetar tertahan emosi.

"Selama ini aku diam saja, menyembunyikan apa yang aku tahu, menunggu waktu di mana ada orang yang berani berdiri tegak melawan. Dan hari ini, melihat pemuda-pemuda ini, aku tahu waktunya sudah tiba."

"Kalau begitu apa yang bisa Bapak lakukan untuk kami saat ini?" tanya Bayu hormat.

"Aku bisa masuk ke kota, menyusup ke tempat pertemuan para pejabat, mendengar apa yang direncanakan, dan membawa kabar itu kembali ke sini. Aku juga punya kenalan di bengkel senjata lama yang diam-diam masih setia pada negeri ini. Barang-barang yang tak bisa kalian cari di hutan, mungkin bisa kubawa keluar dari sana sedikit demi sedikit," jelas Wadana Raksapati.

Kapten Wirayuda tersenyum bangga.

"Itu pertolongan yang jauh lebih berharga daripada seratus pasukan bersenjata lengkap. Karena dengan tahu apa yang dipikirkan musuh, kita tak akan pernah terkejut dengan apa pun yang mereka lakukan."

"Dan ada lagi Kapten," timpal Wadana Raksapati.

"Bupati Adiningrat juga mulai sadar bahwa percuma bekerja sama dengan mereka. Sekarang ia hanya mencari cara yang tepat agar tak dicurigai sebelum akhirnya bisa memihak sepenuhnya kepada kita."

Mendengar hal itu hati Bayu makin berbunga. Bukan hanya semakin kuat pertahanan mereka, melainkan jaringan dukungan perlahan terbentuk menyambung dari hutan sampai ke pusat kota.

"Maka rencananya begini," kata Kapten Wirayuda sambil menatap mereka bertekad bulat.

"Besok kita latih apa yang harus dikuasai untuk menghadapi rombongan pengambil padi itu. Wadana Raksapati masuk kota membawa laporan seolah tugas rutin. Kita bergerak perlahan, teratur, dan saling terhubung seperti jaring akar pohon besar yang tak mudah dicabut meski ditiup badai sekuat apa pun."

"Siap, Kapten!" jawab mereka serentak.

Saat itulah kegelapan malam mulai merata menutupi lembah, namun di dalam hati setiap orang yang hadir justru terasa makin terang benderang. Keraguannya perlahan hilang berganti keyakinan. Bahwa mereka tak berjuang sendirian di tengah hutan belantara ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!