NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Sekarang juga cari Dini, jika tidak segera kamu serahkan kepada saya. Saya akan menarik uang yang sudah saya transfer ke rekening kamu!" Ancam Burhan tidak main-main.

"Baik Bos" Ringgo tidak berani berkata-kata lagi. Pria itu pun meninggalkan kediaman Burhan hendak menemui istrinya agar membujuk Dini pulang. Jika tidak segera menyerahkan Dini, dari mana ia akan mengembalikan uang Burhan yang sudah habis karena kalah di meja judi.

"Tapi bagaimana caranya?" Ringgo menyisir rambutnya dengan jari. Tidak semudah itu ia membujuk Ratna. Terlebih beberapa bulan ini Ratna sudah tidak peduli lagi kepadanya.

"Kenapa aku bodoh sekali tidak mencari Dini ke desa sejak dia pergi" sesal Ringgo. Tapi ia segera sadar tidak akan semudah itu membawa Dini. Jika ia berani datang ke rumah mbah Ambar habis sudah riwayatnya. Dini bisa berada di tempat itu jelas dibantu Ratna. Itu artinya ia bukan hanya berhadapan dengan mertua yang ia anggap bawel itu, tapi juga sang istri.

"Aaagghhh..." Ringgo berteriak, wajahnya merah padam. Setelah kepergian Dini istrinya itu selalu melawan dirinya. "Jika bukan karena kamu kaya, sudah aku ceraikan sejak lama, Ratna!" Lanjutnya. Ringgo tidak sadar jika bukan karena Ratna, pria itu sudah tidur di jalanan. Sepanjang perjalanan, Ringgo marah-marah. Bukan hanya kepada Ratna saja, tapi juga ibu mertuanya yang sudah jelas-jelas bersekongkol. Untuk mengejar waktu agar segera tiba di pasar, ia naik bus besar yang kebetulan melintas dan berdiri di pinggir pintu bersama kernet.

"Pasar minggir, Pir" ujar Ringgo ketika sudah tiba di pinggir pasar, di mana Ratna berjualan. Begitu bus berhenti Ringgo segera melompat.

Tek tek tek.

Kernet mengetuk pintu bus dengan uang logam. "Eh, Mas. Belum bayar ongkos" Kernet menghentikan langkah Ringgo.

"Tidak ada uang receh" kilah Ringgo hendak melanjutkan perjalanan, tapi kernet lompat dari bus menahan Ringgo.

"Berapa uang Bapak? Jangan khawatir, pasti saya kembalikan," Kernet pun menantang, hendak memberi pelajaran para penumpang yang beralasan seperti itu.

Ringgo merogoh dompet dari saku, pura-pura membuka dan mencari uang. Padahal ia sudah tahu jika dompetnya kosong. "Duh, ternyata uang saya ketinggalan di rumah" jawab Ringgo sekenanya.

"Huh! Dasar! Kalau tidak gablek duit jalan kaki saja Mas, jangan buang waktu saya!" Kernet pun marah-marah.

"Halaaah... uang tiga ribu saja ribut!' Ketus Ringgo tidak introspeksi diri.

"Tiga ribu saja Anda tidak mampu bayar, bukan?!" Kernet pun emosi hendak menghadiahkan tinju ke wajah Ringgo. Namun, klakson dari bus menggema. Kernet bergerak menuju bus, tapi menoleh tajam ke arah Ringgo hingga masuk kendaraan kapasitas 60 itu.

"Hahaha... Ringgo... kamu lawan," Ringgo terbahak-bahak ketika bus kembali berjalan. Hal seperti ini sudah sering ia langgar dan akhirnya baik-baik saja.

Ringgo menatap kios Ratna dari depan, tampak pak Minto dan karyawan wanita sedang melayani pembeli. Kesempatan itu digunakan Ringgo masuk ke dalam kios menemui kasir.

"Ibu kemana?" Mata Ringgo seketika jelalatan berharap Ratna tidak ada di tempat. Jika sudah begini dia ambil kesempatan untuk menggaruk uang di laci meja kasir seperti sebelumnya.

"Ibu sedang ada urusan, Pak..." jawab kasir segera menutup laci rapat-rapat.

"Serahkan omset hari ini!" Ringgo sok tegas dan menunjukkan wibawanya di depan anak buah istrinya seolah dia pemilik toko.

"Ibu sudah pesan Pak, tidak boleh mengeluarkan uang tanpa seizinnya" jawab kasir dengan ekpresi takut dan cemas menatap mata Ringgo yang mendelik merah.

Brak!

Ringgo menggebrak meja kasir. Pak Minto, karyawan lain, dan juga pembeli menoleh ke arah kasir.

Kasir wanita itu ketakutan, tapi dengan tubuh gemetar ia justru menempelkan punggungnya ke laci agar Ringgo tidak bisa mengambil uang seperti biasanya.

"Berani menantang saya kamu?!" Ringgo mencengkeram seragam kasir.

Kasir tidak berani berkata-kata, menatap Ringgo dengan mata basah dan berharap ada orang yang menolongnya.

"Lepas Tuan..." Minto menarik tangan Ringgo yang tengah mencekik leher kasir, tapi pria itu sudah dikuasai amarah. Ringgo rupanya hendak membunuh siapapun yang berani melawannya.

Plak!

Tamparan keras dari seseorang yang baru saja tiba ke pipi Ringgo. Pria itu pun akhirnya melepas leher kasir lalu mengusap pipinya yang terasa panas. Ringgo menoleh cepat menatap istrinya yang berdiri menghalangi tubuh kasir.

"Kamu!" Ringgo hendak menampar balik pipi Ratna.

"Mau tampar saya? Silakan kalau berani!" Ratna maju mendekatkan wajahnya di hadapan Ringgo.

Ringgo menurunkan tangannya. "Kasir kamu ini sudah mulai lancang Ratna, Dia berusaha merayu aku" Ringgo menunjuk kasir yang berdiri di belakang Ratna.

"Itu tidak benar Bu..." jawab kasir dengan bibir gemetar.

Ratna menepuk pundak kasir agar kembali ke tempat duduknya. Mana mungkin Ratna percaya dengan bualan Ringgo. Ratna juga memberi isyarat Minto agar kembali bekerja.

Setelah situasi aman, Ratna melengos dalam meninggalkan Ringgo. Dia hentakan sepatutnya naik ke lantai dua menuju kamar yang ia gunakan untuk tidur. Semenjak tidak ada Dini, Ratna tidak mau lagi tidur bersama Ringgo. Terdengar langkah sepatu, siapa lagi jika bukan Ringgo yang mengikutinya. Inilah yang Ratna mau karena tidak mau menjadi tontonan pembeli dan karyawan karena bertengkar di toko.

"Aku tidak bohong Ratna, kasirmu itu wanita murahan. Sebaiknya pecat saja Dia!" Ringgo rupanya masih membahas soal kasir.

"Tidak usah kamu jelaskan, saya lebih tahu siapa anak buah aku, Mas" Ratna membuka tas ambil sesuatu di dalamnya memberikan kepada Ringgo.

"Waah... sudah aku duga Ratna, kamu masih memberi uang untuk suamimu" Ringgo mengamati amplop sembari tersenyum.

"Jangan senang dulu, sebaiknya kamu buka, Mas" Ratna mencoba untuk berbicara pelan.

Ringgo mengeluarkan isi amplop dengan wajah kesal karena ternyata isinya bukan uang. Ia buka lipatan kertas tersebut lalu membacanya. "Apa ini Ratna, kamu jangan main-main!" Ringgo melempar surat gugatan cerai yang diajukan Ratna ke lantai.

"Bukanya sudah aku katakan sejak dua tahun yang lalu Mas, aku minta cerai tapi kamu tidak menanggapi. Sebaiknya kamu segera tinggalkan rumah saya!" Usir Ratna tanpa ampun.

"Ratna, aku tahu kamu hanya bercanda" ucap Ringgo lembut, ia genggam tangan Ratna tidak mau berpisah. Namun, Ratna hempas sebelum melangkah ke balkon.

"Setiap keputusan yang aku buat tidak pernah bercanda Mas. Walaupun tidak semuanya sesuai harapan. Termasuk ketika memutuskan untuk menerima lamaran kamu. Ketika itu aku berharap kamu menjadi imam dan membawa aku ke surga. Tetapi kamu justru menjerumuskan aku ke neraka!" Ratna mengusap air matanya yang tidak juga kering walau setiap hari menangis.

"Ratna... Aku minta maaf, aku berjanji akan memperbaiki diri dan memulai dari awal" Ringgo berdiri di belakang Ratna yang memegang pagar balkon.

"Tidak hanya sekali kamu berjanji seperti itu Mas, tapi hanya omong kosong!" Ratna balik badan kembali ke kamar, kemudian membuka pintu lebih baik ke lantai satu dan membantu karyawan.

Ratna tidak tahu jika Ringgo mengejarnya. "Daripada aku bercerai dari kamu dan akan hidup susah lebih baik kamu mati saja Ratna," batin Ringgo tersenyum jahat, jika rencananya berhasil maka ia akan menguasai semua harta Ratna. Ketika tiba di anak tangga paling atas, Ringgo gelap mata dan mendorong tubuh Ratna.

"Aaagghhh..."

...~Bersambung~...

1
Darti abdullah
luar biasa
Eka ELissa
knpa tu Lusi..... entahlah hy emk yg tau.....
Buna Seta: Jangan jangan bunting
total 1 replies
Attaya Zahro
typo kak..yang memberi Burhan bukan Ringgo
Attaya Zahro: Iya kak 😍😍
total 2 replies
Ita rahmawati
ada apa nih dg bu lusi
Ita rahmawati
polisi dateng,,apakah 22 nya ditangkep 🤔
Eka ELissa
nah lohh.... Burhan Ringgo msuk bui.,. tu bersiap udh di jmput mo di bawa ke hotel 🏨🏨🏨 prodeo 😄😄😄😄🤭
Buna Seta: Kapok dia 😁
total 1 replies
neng ade
aku hadir disini thor .. 🙏😍
Buna Seta: Lanjut ya
total 1 replies
Ita rahmawati
aksa kah yg dateng atau orang lain
vj'z tri
🫣🫣🫣🫣 semoga selamat 🫣🫣
Eka ELissa
Lusi pa Ringgo.....yg culik....dini... entahlah hy emak yg tau...
Eka ELissa
aduh....Bu ..dini....di culik tau ...smoga GK knpa2....yaaa......🤦🤦🤦
Bu Kus
lanjut
Fitriah Fitri
pleazee thor ... 2 bab tudey. nti sore up lg kan dr kmrn 1 bab trs up nya
Buna Seta: Lagi galau say, retensi buruk 😭
total 1 replies
vj'z tri
sabar Mak sabar tanya pelan pelan jangan langsung gas 🤭🤭🤭🤭
Ita rahmawati
siapa ya yg nyulik,,lusikah atau ringgo kah atau ada lg orang baru 🤔
Eka ELissa
dini....pak....msih inget kan kmu...😡😡😡
Ita rahmawati
hadeuh siapa nih yg bekap dini
Attaya Zahro
Jangan² nih kerjaan si Bu Lusi,.dan malah membuat Aksa jadi salah paham ma Burhan..
Attaya Zahro
Waduh..Dini di culik..tolong Dini Bang Aksa
Bu Kus
lebih baik jujur aja dini kan Aska gak tahu dengan kamu jujur pasti akan bertindak jangan main curiga nanti kamu nyesel lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!