NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap Basah

KLIK.

Suara sakelar ditekan.

Dalam sekejap mata, kegelapan menghilang. Lampu-lampu downlight di plafon menyala serentak, membanjiri dapur dengan cahaya kuning yang terang benderang.

Aku membeku. Mataku melebar, silau dan terkejut.

Di sana.

Berdiri bersandar santai di ambang pintu dapur.

Ciarán Vane.

Dia tidak lagi memakai jas resminya. Dia mengenakan kaos v-neck polos berwarna hitam dan celana sweatpants abu-abu tua. Rambutnya sedikit berantakan, jatuh ke dahinya, membuatnya terlihat lebih muda dan entah bagaimana, lebih berbahaya.

Di tangan kanannya, dia memegang gelas berisi air es.

Dia menatapku.

Tatapan matanya turun perlahan. Dari wajahku yang pucat pasi, ke dadaku yang menggembung aneh karena bungkusan roti, ke perutku di mana balok keju menonjol di balik sutra, hingga ke saku celanaku yang berisi apel.

Keheningan di antara kami begitu berat hingga rasanya mencekik.

Rasa takut purba meledak di otakku.

Mencuri = Hukuman.

Itu adalah rumus yang kupelajari seumur hidupku. Di panti, mencuri berarti dipukul dengan rotan. Di minimarket, mencuri berarti dipecat dan diteriaki. Di jalanan, mencuri berarti dihajar massa.

Tanganku lemas. Otot-ototku kehilangan kekuatannya karena syok.

Buk. Duk. Glundung.

Harta karunku jatuh.

Bungkusan roti menghantam lantai. Balok keju meluncur keluar dari balik bajuku. Dua butir apel menggelinding menjauh di ubin, salah satunya berhenti tepat di ujung kaki telanjang Ciarán.

Aku tersentak mundur, punggungku menabrak pintu kulkas.

Refleksku mengambil alih. Aku tidak mencoba mengambil makanan itu. Aku mengangkat kedua tanganku menutupi kepala, menyilangkan lengan di depan wajah. Tubuhku meringkuk, mengecilkan diri, bersiap menerima pukulan.

"Jangan pukul aku!" jeritku tertahan, mataku terpejam rapat.

Aku menunggu rasa sakit itu. Aku menunggu bentakan. Aku menunggu dia menyebutku pencuri kotor, sampah tidak tahu terima kasih, tikus selokan.

Satu detik berlalu.

Dua detik.

Tidak ada pukulan. Tidak ada teriakan.

Hanya suara mesin kulkas yang mendengung pelan di belakang punggungku.

Perlahan, sangat perlahan, aku menurunkan lenganku sedikit, mengintip dari celah sikuku.

Ciarán masih berdiri di sana. Dia belum bergerak satu inci pun. Dia tidak terlihat marah. Dia bahkan tidak terlihat kaget.

Dia menunduk, menatap apel merah di dekat kakinya. Lalu dia mendongak, menatapku yang gemetar hebat di pojok ruangan dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya gelap, dalam, dan... sedih?

Tidak, itu bukan sedih. Itu adalah sesuatu yang lebih kosong.

Dia meneguk air dari gelasnya dengan tenang, seolah-olah melihat wanita histeris yang menjatuhkan keju dari balik bajunya adalah pemandangan sehari-hari di dapur Vane Manor.

"Aku tidak memukul tamu yang kelaparan, Elara," katanya datar. Suaranya serak, suara khas orang yang baru bangun tidur, tapi tetap membawa otoritas mutlak.

Dia meletakkan gelasnya di meja island.

"Dan kau tidak perlu menyembunyikan makanan di dalam celanamu. Keju itu dingin. Kau bisa sakit perut."

Dia melangkah maju.

Aku memejamkan mata lagi, refleks tubuh yang rusak. Otot-ototku menegang, menanti hantaman.

Tapi tidak ada rasa sakit.

Terdengar suara plastik berdesir.

Aku membuka mata perlahan. Ciarán sedang membungkuk di depanku. Tangan besarnya memungut bungkusan roti tawar yang tadi kucuri. Lalu dia memungut balok keju. Lalu apel.

Dia berjalan menuju tempat sampah stainless besar di sudut ruangan.

Habis sudah, pikirku, hatiku mencelos. Dia akan membuangnya. Dia akan menunjukkan padaku bahwa makanan manusia tidak pantas untuk tikus sepertiku.

Tapi dia melewati tempat sampah itu.

Dia berjalan ke meja island. Dia meletakkan makanan-makanan itu di atas marmer putih yang bersih.

Lalu, dia membuka lemari kabinet di atasnya. Mengambil sebuah piring porselen putih bersih. Dia mengambil dua lembar roti tawar dari bungkusan yang sudah agak gepeng karena himpitanku, dan meletakkannya di piring.

Dia berbalik ke kulkas lagi. Mengambil stoples kaca berisi selai stroberi merah pekat. Dengan sendok perak, dia mengoleskan selai itu di atas roti. Gerakannya tenang, metodis, dan efisien. Persis seperti saat dia memotong steak di meja makan tadi malam. Tidak ada gerakan yang sia-sia.

Aku masih menempel di pintu kulkas, napasku tertahan, mataku tak berkedip melihat pemandangan surealis ini.

Monster itu... membuatkanku roti lapis?

Ciarán selesai. Dia menaruh sendok kotor di wastafel. Lalu dia mendorong piring itu perlahan ke seberang meja island, ke arah tempat kursi bar berjejer.

Dia menatapku. Wajahnya masih datar, tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Hanya pragmatisme murni.

"Duduk," perintahnya.

Kakiku bergerak sendiri, mematuhi perintah itu. Aku berjalan terseok dan duduk di kursi bar yang tinggi, tubuhku masih gemetar sisa syok. Piring itu kini ada di hadapanku. Roti tawar tebal dengan selai merah yang melimpah.

Ciarán mengambil kembali gelas airnya, lalu berjalan menuju pintu keluar. Dia berhenti sejenak di ambang pintu, tapi tidak menoleh.

"Makan di meja," katanya tanpa nada. "Jangan bawa remah-remah ke kamar. Itu mengundang tikus."

Dia tidak menunggu ucapan terima kasih. Dia tidak menunggu penjelasanku. Dia melangkah pergi, ditelan kegelapan lorong rumah yang sunyi.

Aku ditinggalkan sendirian di bawah cahaya lampu dapur yang terang benderang.

Aku menatap roti di piring itu. Roti yang bersih. Roti yang disajikan di piring, bukan dilempar ke lantai.

Tanganku yang masih gemetar meraihnya. Aku menggigitnya.

Roti itu lembut. Selainya manis dan asam. Tidak ada rasa jamur. Tidak ada rasa debu.

Itu adalah rasa paling enak yang pernah kucicipi seumur hidupku.

Air mata yang tadi kutahan mati-matian akhirnya tumpah. Bukan karena sedih. Bukan karena takut. Tapi karena kebingungan yang menyakitkan.

Ayah memukulku kalau aku mencuri roti. Bos minimarket memecatku kalau aku mencuri roti. Orang-orang di jalanan menghajarku kalau aku mencuri roti.

Tapi Ciarán Vane... dia memberiku selai.

Aku makan sambil menangis tanpa suara, air mata asin jatuh membasahi roti manis itu. Di malam yang sunyi itu, di dapur raksasa yang dingin itu, pertahananku terhadap Ciarán mulai retak. Bukan karena dia baik—dia dingin, angkuh, dan menakutkan.

Tapi karena dia tidak menyakitiku saat dia punya hak penuh untuk melakukannya.

Dan bagi jiwa yang sudah rusak sepertiku, ketiadaan rasa sakit itu terasa seperti belas kasih yang luar biasa.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!