Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. PWB
...~•Happy Reading•~...
Hernita terdiam mendengar yang dikatakan Sarah. Dia jadi tahu bahwa selama ini, Lenox dan temannya bukan sekedar iseng mengganggu atau merundung, karena tidak suka padanya.
Tidak suka keinginan gadis dari keluarga sederhana, yang hanya bermodalkan isi kepala dan mau bersanding dengan anak-anak dari kalangan jet set.
Ada konspirasi besar di balik perundungan Lenox dan temannya. Agar dia segera angkat kaki dari sekolah hebat dan terkenal. Terutama keluar dari arena kompetisi.
Hernita sangat mengerti arti kata yang dikatakan Sarah, prestise. Karena menjadi peserta Olimpiade Matematika bukan hanya sekedar adu kepintaran. Tapi ajang menunjukan kemampuan di berbagai sisi kehidupan peserta. Dan juga merupakan arena pamer siswa dan orang tua, yaitu prestise keluarga.
"Kau tidak sadar, mengapa Lenox terus merundungmu? Supaya kau tidak betah sekolah di sini. Supaya dia tidak punya saingan sebagai calon peserta kompetisi." Sarah meyakinkan Hernita
"Apa mereka tidak bisa bersaing secara sehat? Bersaing secara sportif?" Hernita bertanya berdasarkan dasar hatinya yang paling dalam.
Hernita rela bersaing hanya untuk memberikan sedikit kebahagiaan pada Papahnya yang sudah mendukung dia disetiap kondisinya, walau lelah.
"Sportif di arena olah raga saja, jauh dari mimpi. Apa lagi di ... Ah, sudahlah." Sarah mengibaskan tangan. "Cepat masuk. Ingat yang kubilang tadi, jangan menantang mereka." Sarah mengingatkan. Hernita mengangguk, lalu segera masuk ke ruang Guru.
'Abis, Gue...' Bisik hati Hernita saat melihat kepala sekolah dan beberapa guru sedang berbicara serius dengan Lenox dan kedua temannya.
Hati Hernita makin ciut melihat Ibu guru yang terkenal killer menatap tajam. "Itu Hernita sudah datang." Dia ditunjuk dengan wajah galak.
"Berdiri di situ." Ucap salah satu guru wanita lain, yang tidak kalah galak kepada Hernita.
Lenox dan kedua temannya ikut melihat ke arahnya. "Hernita, apa yang kau lakukan pada Lenox, Niclas dan Juka?" Tanya kepala sekolah setelah Hernita berdiri tidak jauh darinya.
Hernita melihat kepala sekolah dengan mata berair menahan sakit di lengan dan hati. Dia seperti di ruang sidang dan akan disidang oleh hakim yang tidak bisa bersikap adil.
"Saya bikin apa, Pak?" Hernita coba bertanya dengan wajah memelas, seakan tidak mengerti.
"Mengapa kau bisa pukul mereka begitu kuat? Kalau tulang rusuk mereka retak, kau tahu apa yang akan terjadi denganmu?" Kepala sekolah bertanya seperti yang dikatakan Lenox.
Hernita bingung dan takut mendengar pertanyaan kepala sekolah. "Tulang rusuk retak, Pak?"
"Iya. Itu lihat telapak tanganmu di dada mereka." Kepala sekolah menunjuk ke arah tiga siswa yang berdiri pongah dengan seringai licik licin saat Hernita melihat mereka.
"Telapak tangan saya bisa mematahkan rusuk mereka, Pak? Apa mungkin saya bisa lakukan itu?" Hernita balik bertanya dan melihat para guru.
Dia hampir mengelus dada saat melihat gerakan mata seorang bapak guru yang sedang duduk agak jauh di sudut ruangan, agar dia tenang.
"Jangan berlagak pilon. Kau tadi pukul kami." Lenox menjawab disertai nada provokasi. "Ini apa? Mau mengelak?" Lenox membuka kancing kemeja dan diikuti oleh temannya untuk memperlihatkan bekas telapak tangan berwarna merah di dada mereka.
"Pak, apa tangan saya segini ini, bisa pukul mereka seperti itu?" Hernita mengangkat tangannya. "Justru dia yang bikin saya terluka." Hernita memperlihatkan goresan di lengannya.
"Bohong, Pak." Lenox memotong. "Dia ngarang." Lenox mulai menuduh, melihat kepala sekolah terdiam.
"Mama akan kesini. Kami akan perkarakan dia. Tunggu saja hasil visum dokter." Lenox menebar ancaman dengan membawa nama Mamanya.
Selain kepala sekolah, semua guru jadi terdiam dengar Mama Lenox akan datang ke sekolah. Begitu juga dengan Hernita yang hanya bisa melihat kepala sekolah dengan jantung berdegup kuat.
Ceska sejak tadi hanya diam menyimak, walau perilaku Lenox bikin mata bintitan. Namun saat Lenox bilang mau visum memar di dada, Ceska tidak bisa diam. "Pak, emang kejadiannya di mana?" Ceska berbicara pelan.
Hernita terdiam mendengar pertanyaan yang tidak mau dia tanyakan. Dia berusaha tidak beradu dan takut berlanjut. Tapi dia bingung dengan dirinya yang tidak bisa mengontrol tindakan dan kata-katanya yang keluar begitu saja.
Lenox melihat Hernita dengan emosi. "Mau mengelak? Tadi kau yang pukul kami di toilet." Jawab Lenox tanpa sadar dengan emosi yang meluap.
Ceska tersenyum senang. "Pak kepala sekolah, saya belum ganti gender. Atau mereka sudah ganti gender, hingga bisa masuk ke toilet wanita?" Pertanyaan Ceska membuat ruang guru jadi sunyi dan semua guru saling pandang.
Para guru tercengang mendengar keberanian Hernita bertanya demikian. Karena dengan demikian, Hernita sedang mengatakan kepada para guru, bahwa Lenox dan kedua teman masuk ke dalam toilet wanita.
"Mungkin penjaga toilet wanita yang pukul mereka, karna langgar aturan. Bapak dan ibu lihat tangan saya seperti ini. Apa bisa lakukan seperti itu?" Ceska mengangkat tangan kepada kepala sekolah dan para guru.
Lenox dan kedua temannya melihat Hernita dengan mata seperti mata naga yang mau keluarkan api. Mereka tidak menyangka Hernita berani mengatakan sesuatu yang bisa menuduh dan mempermalukan mereka.
Kepala sekolah segera ambil alih, setelah mengerti maksud kalimat yang dikatakan Hernita. Lenox melakukan kesalahan dengan masuk ke dalam toilet wanita. "Pak Murai, mengapa diam saja di situ?" Kepala sekolah melihat ke arah guru Murai yang duduk diam di sudut sambil mengamati.
"Tubuh saya diam, tapi pikiran sedang mengikuti ini. Mungkin mereka tidak ganti gander, tapi ada yang ganti tulisan peruntukan di toilet. Saya akan periksa, Pak." Pak guru Murai berdiri.
"Tapi sebelumnya ada yang mau diobati." Tanya Pak Murai sambil angkat tangan.
"Saya, Pak." Hernita mengangkat tangan, karena lengannya sakit.
"Kalian tidak mau diobati?" Tanya Pak Murai kepada Lenox dan kedua temannya.
"Kami akan obati di rumah sakit..." Lenox menyebut sebuah nama rumah sakit terkenal.
Pak Murai berdiri mendekati Lenox. "Kalau begitu, lekas telpon ambulance. Biasanya luka dalam lebih parah. Jangan sampai rusuk kalian rontok satu, satu sebelum sampai rumah sakit."
"Pak Murai, anda sedang meledek mereka?" Ibu guru killer bertanya sambil menunjuk Lenox.
"Ibu Sance, saya tidak meledek. Tapi sedang mengkhawatirkan mereka. Apa lagi mereka sedang persiapan ikut kompetisi."
"Ayo, anak-anak ke rumah sakit untuk divisum sebelum tapak tangan penjaga toilet pudar dari dada kalian." Ucapan Pak Murai hampir membuat Ceska tertawa. Dia tahan tidak menanggapi, agar suasana lebih kondusif.
Kepala sekolah segera ambil tindakan, karena ruang guru mulai panas. "Lenox, Niclas dan Jeku, segera visum itu, atau kembali ke kelas."
"Bukannya kalian sedang persiapan untuk ikut kompetisi? Tidak ada lagi gangguan seperti ini. Fokus pada latihan, kalau mau jadi utusan sekolah."
"Ayo, berdamai." Kepala sekolah berusaha mendamaikan, karena sudah tahu apa yang akan terjadi di sekolah, jika orang tua Lenox datang ke sekolah dan ikut campur.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...