Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Yang Tidak Dimengerti
Ceklek
Pintu terbuka lebar, Alex yang sudah gelisah menunggu Essa, langsung berdiri ketika Essa kembali. Alex bisa melihat sekujur tubuh Essa yang basah karena air hujan, ya, Essa pasti kehujanan di luar sana. Ditambah lagi dia pergi selama dua jam.
Essa, menatap Alex tajam.
"Essa ...." panggil Alex. Matanya terpejam ketika pintu kamar dibanting dengan sangat keras.
Brakk
Essa tidak menoleh, apalagi menatap wajah pria yang sudah mencemaskannya itu. Dia berjalan masuk ke dalam kamar hingga menutup pintu dengan kasar.
Alex hanya membisu. Ia mendekat ke arah pintu kamar lalu mengetuknya, sebenarnya Alex, ingin membuka pintu dan menjelaskan semuanya pada Essa, namun Alex mengerti jika Essa membutuhkan waktu untuk sendiri.
Alex, berjalan ke arah dapur, membuat segelas susu hangat untuk Essa. Setelah susunya jadi Alex membawanya ke kamar. Ia mengetuk pintu lebih dulu.
Tok, tok tok
"Essa, bukalah aku membuatkan susu hangat untukmu. Minumlah."
Tidak ada jawaban. Pintu masih tertutup rapat. Namun, Alex tidak menyerah dia mengetuk pintu lagi.
"Essa, apa kamu marah? Kamu boleh marah padaku, tapi tolong bukalah aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Kau kehujanan, kau pasti kedinginan, minumlah susunya dulu."
"Essa, apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu duga, aku bisa jelaskan."
Ceklek
Akhirnya, Essa membuka pintunya. Alex mundur satu langkah dengan kedua tangan yang masih menggenggam nampan. Tubuh Essa, masih basah, rambutnya pun masih berantakan yang artinya Essa belum mengganti pakaiannya.
Essa mengambil gelas susunya, lalu meneguknya dengan cepat. Tanpa bicara, tapi tatapannya itu menakutkan. Alex, yang melihatnya merasa gugup
Brakk
Essa menyimpan gelas itu lagi ke dalam nampan.
"Essa tadi aku ....."
"Tadi apa Om? Om tidak bisa menjemputku karena wanita itu bukan? Ingat, ya Om, aku marah bukan karena cemburu, aku pun tidak peduli dengan penjelasan Om, mau itu pacarmu atau bukan, mau itu disengaja atau tidak, aku tidak peduli. Tapi aku marah karena Om berbohong. Om selalu bilang akan menjemputku, tapi Om malah berduaan dengan kekasih Om, berciuman mesra, dan tidak menjawab teleponku. Setidaknya jawab teleponku Om!" Essa dengan marah.
Alex, hanya diam sambil menghela pelan nafasnya ia memejamkan mata. Karena Alex tahu, jika Essa bukan tandingannya berdebat, gadis itu boleh marah dan meluapkan emosinya, karena Alex salah.
"Om tahu, aku menunggu satu jam di bioskop dan aku sangat marah padamu. Dan ketika aku datang, apa yang Om lakukan? Bagaimana aku tidak kesal melihatnya. Mulai besok jangan lagi jemput-jemput."
Essa, kembali masuk ke dalam kamar. Alex, tetap diam dia tidak membela diri ataupun memarahi gadis itu. Alex, bejalan ke arah dapur, menyimpan gelas kotor pada westafel lalu mencucinya dengan bersih.
Setelah selesai, Alex kembali ke sofa. Dia hanya duduk saja dengan lirikkan mata yang terus tertuju ada pintu kamar.
Apa karena tidak dijemput dia semarah itu, batinnya.
Huaccih!
Alex, tersentak matanya membola bersamaan dengan suara bersin dari dalam kamar. Karena cemas Alex berdiri, yang berjalan langsung ke arah kamar.
"Essa, Essa, buka pintunya. Kamu tidak apa-apa kamu tidak demam, kan? Apa perlu obat?"
Pertanyaan dari Alex, membuat Essa kesal. Gadis itu mengusap ingus dengan tisu, hidungnya memerah dengan wajah yang terlihat pucat.
Essa, tidak mempedulikan Alex, ia langsung mengambil obat dalam tasnya. Essa sudah tahu ini akan terjadi itu sebabnya dia membelinya saat di jalan, tubuhnya sangat rentan jika terkena air hujan maka ia akan menggigil.
Sedangkan Alex, dia sangat kesal karena diabaikan.
"Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan peduli. Urus saja dirimu," ujarnya dengan emosi.
Alex, kembali ke sofa malam ini ia akan tidur di luar, karena pintu kamar dikunci oleh Essa. Keesokan paginya, Alex, sudah bangun dia langsung menyiapkan sarapan. Namun, Alex belum bisa mengganti pakaian karena semua barangnya ada dalam kamar.
Tangan Alex dengan anggun dan lincah, menyulap nasi basi menjadi beraroma. Wangi yang khas mengunggah selera, asap panas mengebul ketika nasi goreng udang itu dituangkan ke dalam piring.
Alex berbalik ke arah lemari pendingin, mengambil satu buah mangga matang yang akan ia jadikan jus. Jus mangga di pagi hari sangat menyegarkan, Alex tidak lupa menuangkan jus itu ke dalam gelas. Tangan kekarnya dilanjutkan dengan gerakan lembut membersihkan meja.
Meja sudah bersih, semua menu sarapan ia langsung sajikan di atas meja makan.
Alex, melirik sekilas ke arah kamar, Essa belum juga keluar membuatnya cemas.
"Apa dia baik-baik saja," pikirnya yang terus menerka-nerka.
"Aku tidak bisa tenang sebelum melihatnya."
Alex, membuka apron di tubuhnya berjalan ke arah kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat langkahnya terhenti. Alex menatap Essa, yang sudah lengkap dengan atribut sekolahnya, Essa, hanya meliriknya sesaat lalu pergi meninggalkan apartemen.
"Essa, kau tidak sarapan?"'
Sama sekali tidak. Essa, tidak menjawabnya dan tidak melakukan sarapan paginya, gadis itu pergi begitu saja tanpa pamit. Alex, membuang nafas kasar, anehnya ia merasakan sesuatu yang berbeda, Essa tidak pernah bersikap seperti itu yang pada akhirnya membuatnya kesal karena diabaikan.
"Oh Tuhan," ucapnya sambil memijat pelipis. "Apa tadi itu dia merajuk, sampai kapan dia begitu."
Ya, sampai kapan. Alex ingat apa yang Sera, katakan jika Essa marah dia akan kabur dari rumah atau merusak semua barang. Detik demikian, Alex berpikir lebih baik biarkan saja dulu Essa, pergi tanpa meliriknya daripada merusak semua barangnya.
"Sudahlah, lebih baik aku siap-siap sekarang."
Alex, pergi ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Hanya sepuluh menit ia keluar dengan atribut lengkap kantornya. Alex tertegun, matanya menyipit dengan kening mengerut.
"Seingatku, aku belum sarapan tapi ...."
Alex, menggeleng. Ia memilih pergi ke kantor daripada harus memikirkan piring kosong dan jus setengah gelas. Entah, siapa yang memakannya tapi seingat Alex ia menyediakan dua piring nasi goreng yang sekarang tinggal satu piring.
Sementara di dalam bus Essa, sedang memakan menu sarapan yang sama, entah dari mana ia mendapatkannya, tapi nasi goreng itu sudah ada dalam kotak bekalnya.
***
"Vanessa Aneth, sekarang giliranmu," ujar seorang guru PJOK menyerahkan tongkat bisbol kepada Essa.
Essa, mengambil tongkat itu lalu bersiap—mengubah posisinya. Kedua kaki melebar, tubuh tegak dengan kedua tangan yang mengangkat tongkat bisbol, yang siap ia pukulkan ke arah bola.
"Essa siap!"
Ya, tentu aku siap. Aku akan anggap bola itu adalah wanita yang semalam, dia harus mendapat tamparan karena berani menggoda suami orang.
Gerutu Essa dalam hati, telapak tangannya semakin erat menggenggam tongkat, seiringnya bola kecil melayang Essa, langsung memukul bola itu dengan keras, sehingga kembali melayang ke arah lawan.
Ini hanya belajar memukul bola bisbol belum sampai ke permainan, hingga Essa melakukannya berulang-ulang dengan pukulan yang bagus. Berkat, amarahnya gadis itu mendapat nilai sempurna untuk pertama kalinya.
"Bagus Essa, kamu bisa kembali ke tempat dudukmu." Setelah sang guru mengatakan itu Essa, kembali ke sisi lapangan bergabung dengan Micha dan Eva.
"Wah, Essa hari ini keren sekali. Kamu memukulnya dengan tepat, tidak biasanya," puji Micha.
"Apa kamu sedang marah? Aku melihatnya kamu seperti ingin memukul seseorang." Eva bicara, wanita itu salah satu teman yang paling teliti, dari segi apapun Eva selalu melihatnya dengan serius.
"Apa kau baik-baik saja Essa?" tanya Eva lagi. Essa, hanya memejamkan mata lantas mengangguk.
"Hei, Eva!" teriak Micha tiba-tiba, wajahnya terlihat senang ketika menatap layar ponselnya.
Eva dan Essa, menoleh. "Ada apa Micha?" tanyanya demikian.
"Heyra, ternyata dia sudah kembali. Dia semakin cantik saja setelah lama tidak muncul."
"Heyra siapa?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Essa.
Essa terlihat bingung ketika ditatap Eva dan Micha. "Kamu tidak tahu Heyra?"
Essa menggeleng.
"Ya ampun Essa, kamu kemana saja. Heyra, itu artis terkenal dia seorang model, bintang film juga penyanyi, bahkan dia salah satu model di Paris, tapi kamu tidak mengenalnya?" Micha memutar bola matanya malas.
"Ini lihatlah, dia yang namanya Heyra." Micha memperlihatkan foto pada layar ponselnya, Seketika Essa membelalakkan mata, melihat foto wanita itu. Heyra—wanita yang semalam bersama suaminya.
Jadi dia artis, Micha tidak tahu saja jika wanita itu perebut suami orang.
Batin Essa, dengan wajah yang ditekuk sempurna.
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.