NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB 14

Malam menjelang, saat ini janice sedang menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya. Setelah makan makan seperti biasanya, mereka berkumpul di ruang keluarga. Sambil menikmati sehangat teh. Tradisi ini sudah turun temurun di keluarga Arkana. Walaupun dulu kehidupan keluarga Jason tidak seperti saat ini. Jason tetap melestarikan budaya leluhurnya. 

Susah senang tetap harus berkumpul bersama keluarga. Momen inilah yang nantinya akan terus dikenang oleh mereka. 

“Janice,” 

Janice menatap sang ayah. “Iya, Ayah,” jawabnya dengan santai. 

“Begini, Nak. Ada hal yang ingin ayah sampaikan padamu,” ucak Jason dengan sangat hati-hati. 

“Mengenai apa, Yah?” tanya Janice dengan raut wajah bingung. 

Jason berdehem kecil sebelum kembali membuka pembicaraan yang langsung ke intinya. 

“Apakah besok kamu ada waktu?” Jason kembali bertanya. 

“Tidak, Yah.” 

“Kalau begitu, besok malam ayah ingin mengajakmu makan malam bersama sahabat lama ayah,” ucap Jason. 

“Oh, aku pikir ada apa,” Janice tertawa kecil. 

Naomi melirik Jason sekilas. “Sebenarnya bukan hanya itu saja, Nak. Ada hal lain yang ingin kami sampaikan,” cecar Naomi. 

Janice semakin dibuat bingung dengan ucapan sang ibu. Apalagi terlihat jelas wajah serius di raut wajah kedua orang tuanya. 

“Kami berencana ingin memperkenalkan kamu dengan putra dari sahabat ayah. Itulah mengapa ayah mengajakmu untuk makan malam bersama mereka besok,” ujar Jason yang membuat Janice cukup terkejut. 

Janice terdiam, lidahnya kelu. Jujur saja ia bingung harus menjawab apa. Akan tetapi, Janice tetap mencoba berpikir jernih. 

“Hanya berkenalan saja ‘kan?” tanya Janice menatap dalam ke arah kedua orangtuanya. 

Naomi melirik sekilas ke arab suaminya yang masih diam menatap sang putri. Akhirnya Jason pun, menggeleng. 

“Ayah berniat menjodohkan kamu dengan putra mereka,” ujar Jason begitu membuat syok Janice. 

Naomi mendesah pelan, dan menelan salivanya dengan kasar. Lalu ia bangkit dan duduk di sebelah Janice.

“Nak,” Naomi menjeda sebentar ucapannya sambil menggenggam tangan Janice. “Kami tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Terlebih setelah kejadian pembatalan pertunangan kamu dengan Stendy. Bukan kami ingin bersikap egois, karena tidak memahami kondisi kamu. Tapi, kami hanya ingin melihat kamu bahagia. Ibu dan Ayah tidak ingin melihat kamu terus terpuruk dalam memori yang menyesakkan bersama pria itu,” 

“Nak, hidup itu terus berlanjut. Perlu kamu ketahui, perasaan dan diri kamu itu terlalu berharga buat diabaikan sama orang  seperti itu. Jadi Ibu dan Ayah sangat ingin kamu bahagia dan melupakan badai di masa lalu,” sambung Naomi berbicara lembut dan penuh perhatian pada sang putri. 

Janice mendengarkan dan mencerna apa yang dikatakan Naomi. Janice menggigit bibir bawahnya, ia masih bingung. Haruskah ia menuruti keinginan kedua orang tuanya, tapi jika dirinya menyetujui perjodohan ini hatinya masih belum siap merasakan sakit hati lagi. Terlebih mereka menikah karena perjodohan dan itu artinya tidak ada cinta dalam hubungan pernikahan mereka. Akankah ia sanggup menerima rasa sakit itu lagi? Namun, melihat wajah kedua orang tuanya yang terlihat sangat yakin pada pria yang hendak dijodohkan dengannya itu. 

“Yah, Bu, bagaimana kalau kami berkenalan saja dahulu. Untuk rencana perjodohan itu kita bicarakan  nanti saja,” usul Janice seraya menatap dengan tatapan memohon pada kedua orang tuanya. 

Jason mendesah kasar. “Baiklah,” dengan berat hati ia menuruti keinginan sang putri. 

Janice tersenyum, “Terima kasih, Ayah, Ibu,” jawabnya seraya memeluk tubuh Naomi. 

Di rumah yang berbeda, pun sama halnya seperti apa yang dilakukan Jason dan Naomi. Leo dan Rania sedang duduk bersama kedua putra mereka. 

“Bagaimana hari pertamamu di perusahaan?” tanya Leo. 

“Tidak terlalu merepotkan,” jawab sang putra sulung dengan santai. 

“Lalu kamu, bagaimana Hansel?” kini pertanyaan itu tertuju pada si bungsu. 

“Lusa aku akan bertanding basket, Pa,” jawab Hansel. 

“Papa bertanya soal pelajaran kamu. Apakah kamu ada kesulitan di salah satu mata pelajaran?” 

Hansel tersenyum memamerkan deretan giginya. “Hansel hanya memberitahu saja. Kalau soal pelajaran, Hansel masih bisa menghandle-nya, Pa,” 

Leo mengangguk dan tersenyum, ada kebanggaan tersendiri pada kedua putra mereka. 

“Besok setelah pulang bekerja, sempatkan dirimu datang ke restoran JJ. Papa ingin memperkenalkan kamu dengan putri sahabat Papa,” ucap Leo pada si sulung. 

Si sulung pun mendesah kasar. Lagi-lagi perjodohan kembali digelar oleh kedua orang tuanya. 

“Restoran baru itu, Pa?” tanya Hansel yang dibalas anggukan serta senyuman oleh Leo. 

“Wah! aku dengar makanan di sana sangat lezat,” cetus Hansel kembali. 

“Tentu saja enak. Karena itu resep dari turun temurun di keluarga mereka,” jawab Rania.

Pria muda sekitar 27 tahun yang sedang duduk di sebelah Hansel pun, membenarkan posisi kacamatanya. “Pa, please. Jangan menjodohkan aku terus. Suatu saat nanti aku pasti akan menemui jodohku,” protes sang putra kembali ke arah topik pembicaraan mereka. 

“Ini yang terakhir kalinya papa mencari wanita yang cocok untuk kamu. Tapi, untuk yang ini Papa yakin kamu akan setuju,” kata Leo. 

“Kalau Kakak tidak mau, sebaiknya jodohkan saja denganku, Pa.” celetuk Hansel yang membuat Rania melotot. 

“Belajar dulu yang benar,” sahut Rania yang membuat Hansel tertawa dalam menanggapi ucapan sang mama. 

“Besok aku akan datang,” ucap si sulung yang langsung berdiri. 

Sepeninggalnya si sulung, Hansel pun membenarkan posisi duduknya sedikit maju agar posisinya berhadapan pada Leo dan Rania. 

“Pa, Ma, apakah gadis yang akan dijodohkan Kakak itu cantik?” tanya Hansel yang langsung mendapat tatapan curiga dari Rania dan Leo. 

Remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu langsung menampilkan wajah lugunya. Membuat Rania dan Leo saling melirik. 

Leo memicingkan matanya, “Untuk apa kamu bertanya tentang wanita yang akan Papa jodohkan dengan kakak kamu?” 

“Jangan bilang kamu yang ingin dijodohkan? Kamu masih belum cukup umur untuk menikah Hansel. Jadi Mama minta kamu jangan berpikir yang entah-entah,” Rania langsung memberi ultimatum pada sang bungsu. 

Hansel berdecak pelan. “Aku tidak bilang ingin menikah cepat. Aku ‘kan hanya bertanya saja,” keluh Hansel. 

“Seandainya Kakak tidak mau dijodohkan, siapa tahu aku bisa jadi kekasih wanita itu,” sambung Hansel yang langsung membuat Rania syok, hingga matanya melotot sempurna. 

“Hansel!” teriak Rania yang hanya dibalas tawa oleh si pembuat ulah. 

Leo mendesah kasar sambil memijat keningnya yang sedikit pusing dengan tingkah dan pola pikir anak bungsunya itu. Sementara Hansel hanya bisa menghindar dari amukan sang mama, dan segera berlari ke dalam kamar. 

Di kamar sebelah Hansel si sulung hanya bisa tersenyum sambil menggeleng saat mengetahui sang adik kembali usil. 

Pria itu mengingat obrolan tadi tentang perjodohan untuknya. Lagi-lagi helaan nafas keluar dari bibirnya. 

“Perjodohan lagi,” keluhnya. 

Pria itu berjalan ke arah meja kerjanya, dan mengambil sebuah bingkai dari dalam laci. Ditatapnya foto seorang wanita yang diambil secara diam-diam olehnya. Pria itu mengusap lembut bingkai kaca yang menghalangi lembar foto tersebut. Senyumnya begitu hangat, membuat si pria merasakan debaran di jantungnya. Ia meraih sebuah buku berukuran kecil, sepertinya itu adalah buku catatan pribadinya. Terlihat usang, sepertinya itu juga sudah lama digunakan olehnya.

"Dalam diam, kuciptakan puisi cinta tentang kita berdua yang tak pernah terucapkan. Aku mencintaimu dalam bisu, berharap semesta mendengar tanpa kau tahu. Hanya Tuhan yang tahu betapa besar cintaku untukmu,” 

Pria itu menuliskan tiap kata indah dalam buku tersebut. Di negara dan dikota yang sama, Janice belum bisa memejamkan matanya. Mengingat apa yang kedua orang tuanya bicarakan. Perjodohan, akankah dirinya bisa menjalani pernikahan karena sebuah perjodohan. Pernikahan yang tidak dilandasi oleh cinta. 

Hatinya terasa seperti terperangkap dalam labirin kegelapan, takut dan gelisah menghadapi pernikahan yang telah diatur oleh orang tua. Janice tidak tahu apa yang harus dilakukannya, apakah ia harus mengikuti hati atau mengikuti keinginan orang tua.

Dahulu saat masih berstatus tunangan Stendy. Janice selalu membayangkan pernikahan sebagai hari yang indah, hari di mana ia akan bersatu dengan orang yang dicintainya. Tapi sekarang, setelah semuanya berakhir, ia merasa seperti  akan dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak dikenalnya.

Janice merasa seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi besok, apa yang akan terjadi setelah pernikahan itu. Ia merasa seperti akan terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia, pernikahan yang hanya berdasarkan pada keinginan orang tua.

Janice ingin berteriak,  ingin mengatakan bahwa dirinya tidak siap, bahwa ia  tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dicintai. Tapi dirinya tidak bisa, ia tidak bisa melawan keinginan orang tua. Ia tidak ingin kembali mengecewakan hati kedua orang tuanya. 

Entah mengapa Janice merasa seperti  sedang berjalan di atas tali, mencoba untuk menemukan keseimbangan antara keinginan hati dan keinginan orang tua.  Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi Janice tahu bahwa dirinya harus kuat, ia harus menghadapi pernikahan ini dengan keberanian.

Janice menghembuskan nafas kasarnya. “Baiklah, mari kita jalani dulu saja. Tunjukan pada orang tuamu dan semua orang bahwa dirimu kuat dan siap menjalani hubungan asmara dengan orang baru. Tanpa mengingat masa lalu,” 

*

Janice dan Cassie berjalan bersama di koridor kampus, menikmati sinar matahari pagi yang cerah.

"Jadi, kamu sudah menjadi warga negara S?" tanya Cassie, sambil menyesuaikan tasnya.

“Iya, aku dan kedua orang tuaku memutuskan untuk pindah kewarganegaraan," jawab Janice, sambil tersenyum. 

"Aku baru pindah ke sini untuk melanjutkan S2, sekaligus kedua orang tuaku ingin melebarkan usaha bisnisnya,"

"Wah, keren! Aku pikir kamu hanya pindah saat kuliah saja. Ternyata kamu sudah benar-benar menjadi warga negara ini,” " kata Cassie. 

"Aku suka sekali dengan suasana kampus ini, kamu tidak merasa terlalu menyesuaikan diri?" tanya Cassie. 

"Ya, sedikit. Tapi aku sudah mulai merasa lebih nyaman," jawab Janice.

Saat mereka berjalan, mereka berpapasan dengan beberapa mahasiswa lain yang sedang bergegas ke kelas.

"Halo, Cassie!" sapa seorang mahasiswa, sambil melambaikan tangan.

"Halo, Tom!" jawab Cassie, sambil tersenyum.

Janice merasa sedikit kesasar, tapi Cassie membuatnya merasa lebih nyaman.

"Kamu akan suka di sini, Janice. Kami semua sangat ramah," kata Cassie, sambil tersenyum.

Janice tersenyum kembali, merasa lebih percaya diri. "Aku yakin aku akan suka," katanya.

Janice dan Cassie memasuki ruang kelas, mencari tempat duduk yang kosong. Mereka menemukan dua kursi kosong di baris belakang dan segera duduk.

"Janice, kamu suka musik apa?" tanya Cassie, sambil mengeluarkan buku dan pena dari tasnya.

"Aku suka musik pop, terutama Taylor Swift," jawab Janice, sambil tersenyum. 

"Kamu?" Janice balik bertanya. 

"Aku suka musik indie, aku suka Arctic Monkeys dan The 1975," jawan Cassie. 

"Kamu sudah dengar lagu-lagu mereka?"

Janice menggeleng. "Belum, tapi aku akan cari tahu," jawab Janice. "Aku suka juga menonton film, kamu suka film apa?"

Cassie nampak berpikir sejenak. “Aku suka film-film Marvel, terutama Captain America," kata Cassie. "Kamu?"

“Hmm, aku suka film romantis. Aku suka The Notebook," jawab Janice.

Dosen masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran, tapi Janice dan Cassie masih berbisik-bisik, berbincang ringan tentang hal-hal yang seru.

"Hai, kamu mau ikut makan siang bersama nanti?" tanya Cassie, sambil menulis catatan di buku.

"Ya, aku mau! Aku suka mencoba makanan baru," jawab Janice, sambil tersenyum.

Dosen melihat ke arah mereka dan mengingatkan, "Silakan fokus, anak-anak!"

Janice dan Cassie tertawa dan mencoba fokus pada pelajaran, tapi mereka masih berbisik-bisik sesekali, menikmati waktu bersama.

*

Janice dan kedua orang tuanya, tiba di restoran milik mereka, restoran yang baru beroperasi satu minggu yang lalu itu terletak di dekat sebuah kompleks perumahan yang elegan. Mereka disambut oleh pegawai restoran dengan ramah. Apalagi mereka tahu kalau bos mereka datang bersama keluarganya. 

Di ruang VIP restoran tersebut sudah ada keluarga Wister tersenyum menyambut kedatangan Jason, Naomi dan Janice. 

"Selamat datang," kata Leo Wister, sambil menyambut mereka dengan hangat.

"Terima kasih," jawab Jason, sambil membungkuk sedikit.

Mereka kemudian duduk di posisi masing-masing. Leo memperkenalkan putra bungsunya, Hansel. Sementara si putra sulung masih belum datang.

"Hai, Kak Janice, senang bisa bertemu denganmu," kata Hansel, sambil mengulurkan tangan.

"Hai, Hansel, senang juga bisa bertemu denganmu," jawab Janice, sambil tersenyum.

Pintu ruangan tersebut kembali terbuka saat seorang pria tampan, dengan tubuh sedikit atletis masuk. 

“Nah, yang ditunggu sudah datang,” celetuk Rania. 

“Selamat malam, maaf saya datang terlambat,” ucap pria itu, sambil membungkuk sedikit. 

Janice tercengang melihat pria yang kini berdiri tidak jauh dari posisi duduknya, saat ia menoleh ke sumber suara itu. Begitupun juga dengan pria itu, yang terkejut saat melihat Janice. 

“Janice,”

“K-Kak O-Owen,” 

Keduanya sama-sama dilanda keterkejutan. Sementara kedua orang tua mereka tidak menyangka, kalau anak-anak mereka sudah saling mengenal. 

“Wah, ternyata jodoh memang tidak kemana. Ternyata mereka sudah saling kenal,” cetus Leo. 

Rania, Naomi dan Jason pun tertawa. “Kamu benar, Leo. Sepertinya kita tidak perlu susah payah membuat mereka saling mengenal,” sahut Jason. 

Janice dan Owen dibuat salah tingkah. Apalagi saat Jason menarik tangan Owen dan memintanya untuk duduk di sebelah Janice. 

Selama makan malam, mereka berbicara tentang berbagai hal, mulai dari pekerjaan, hobi, hingga rencana masa depan. Janice merasa sedikit gugup, tapi Edward membuatnya merasa lebih nyaman dengan obrolan yang santai.

"Janice, kamu suka membaca?" tanya Rania, sambil mengisi gelinya dengan air.

"Ya, aku suka membaca, terutama novel," jawab Janice.

"Oh, Bibi juga suka membaca! Kamu sudah baca buku apa yang terbaru?" tanya Rania, sambil memotong makanannya.

Mereka terus berbicara dan tertawa bersama, membuat suasana makan malam menjadi sangat nyaman dan menyenangkan. Janice merasa seperti dia sudah mengenal keluarga Wister sejak lama, dan dia sangat senang bisa hadir di acara makan malam ini. Terlebih ada Hansel yang sesekali mencairkan suasana dengan celetukan serta leluconan ringan anak itu. 

Setelah makan malam selesai, Jason  meminta Owen untuk mengajak Janice berkeliling di taman belakang yang berada tepat di restoran itu. Janice dan Owen pun akhirnya menuruti keinginan Jason. Mereka berjalan-jalan di taman, menikmati udara malam yang sejuk.

“Bagaimana kabarmu? Lama menghilang, ternyata kamu tinggal di negara ini,” kata Owen, seperti biasa pria itu akan bersikap dingin saat berhadapan dengan Janice. 

Janice mendesah pelan. “Kamu bisa melihatnya ‘kan? Aku baik-baik saja," jawabnya yang tak kalah dingin dari Owen. 

“Jadi, kamu melarikan diri ke negara ini setelah membatalkan pertunangan kamu dengan Stendy. Apa yang terjadi? Tidak cocok?” tanya Owen dengan nada sindiran.

Janice menghentikan langkahnya, dan berbalik badan menghadap Owen. Tatapan dingin menusuk relung hati membuat Owen terkesiap. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!