NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhiasan dan Harga Sebuah Kesetiaan

Nadia telah berhasil membuat Kirana terpojok di depan Komite dan donatur. Penolakan Kirana melibatkan Bapak Wijaya dalam pernyataan pers adalah konfirmasi bahwa fondasi rumah tangganya sedang retak akibat leak Vila Uluwatu dan sejarah The Golden Bridge.

Ibu Nina, sang donatur, kini menjadi penuntut kebenaran. Nadia harus memastikan Ibu Nina mundur dari Gala Dinner secara publik, dan mundur dengan alasan yang sangat personal yang akan mencoreng citra angel amal Kirana.

Nadia kembali ke data curiannya. Ia mencari korespondensi Kirana dengan desainer atau penilai perhiasan. Kirana dikenal selalu mengenakan perhiasan high-end di setiap acara Komite, seringkali memamerkan berlian yang diklaimnya warisan atau hadiah.

Nadia menemukan serangkaian e-mail antara Kirana dan sebuah galeri perhiasan vintage di Singapura. E-mail itu mengungkapkan bahwa Kirana sering menyewa perhiasan mahal—khususnya satu set kalung berlian biru yang selalu ia kenakan di acara amal—bukan memilikinya.

Kirana menyewa perhiasan itu untuk satu malam dan kemudian mengembalikannya, tetapi di depan umum ia mengklaim perhiasan itu sebagai aset warisan keluarga yang tak ternilai.

Ini adalah kebohongan status yang fatal. Kirana membangun citra kekayaannya di atas ilusi, dan perhiasan itu adalah simbol ilusi yang paling terang benderang.

Nadia menyusun rencana sederhana namun mematikan: Menyebutkan perhiasan itu dalam konteks keamanan.

Nadia menghadiri rapat Komite berikutnya yang fokus pada logistik Gala Dinner. Suasana tegang. Kirana duduk di sana, mengenakan setelan putih yang rapi, tetapi matanya terus memindai ruangan, mencari mole.

Nadia angkat bicara dengan suara yang sangat serius. "Bu Kirana, saya ingin membahas sesuatu yang sangat penting untuk Gala Dinner, terutama untuk Ibu Nina dan donatur lainnya. Keamanan Aset Pribadi."

Nadia melanjutkan, "Mengingat Gala Dinner akan dihadiri oleh donatur kelas A yang akan mengenakan perhiasan sangat berharga, seperti kalung berlian biru legendaris milik Anda, Bu Kirana, kita harus memastikan keamanan tingkat tinggi. Saya mengusulkan kita mengalokasikan anggaran khusus untuk menyewa brankas portabel dengan penjagaan khusus di venue."

Nadia menatap Kirana lurus-lurus. Kirana tahu, menyebut kalung berlian biru legendaris adalah serangan langsung.

"Bu Nadia," potong Kirana, nadanya dingin dan sedikit terengah. "Saya menghargai kekhawatiran Anda. Tapi saya rasa itu berlebihan. Kalung itu sudah diasuransikan dan saya rasa keamanan venue sudah cukup."

"Tapi, Bu Kirana," balas Nadia, memainkan peran yang logis. "Anda selalu menekankan integritas dan transparansi. Jika kita menyewa brankas portabel, kita menunjukkan pada donatur bahwa Komite serius melindungi aset mereka, bukan hanya aset Yayasan. Lagipula, jika terjadi sesuatu pada kalung vintage yang tak ternilai itu, itu akan menjadi skandal publik yang besar."

Nadia telah berhasil memasukkan kata kunci: aset tak ternilai dan skandal publik.

...****************...

Malam harinya, Nadia mengirimkan e-mail anonim lain, tidak ke Kirana, tetapi ke Ibu Nina.

Isi pesan itu sangat singkat dan spesifik: —'Anda sangat memperhatikan integritas finansial Yayasan. Tapi apakah Anda tahu bahwa kalung berlian biru yang sering dikenakan Kirana dan diklaimnya warisan keluarga sebenarnya disewa harian dari Galeri Perhiasan Vintage di Singapura? Dia membangun citra di atas kebohongan. Cek kontraknya sebelum Gala Dinner.'—

Nadia tahu, Ibu Nina, sebagai pengusaha haute couture, memiliki koneksi yang mudah untuk memverifikasi kontrak sewa perhiasan di Singapura. Ini adalah serangan yang menargetkan harga diri profesional Ibu Nina, bukan hanya uang. Ibu Nina tidak tahan melihat penipuan status yang mencolok.

Dua hari kemudian, Komite mengadakan briefing di venue Gala Dinner. Kirana tampak sangat tidak fokus.

Saat briefing berakhir, Ibu Nina mendekati Kirana di sudut ruangan yang sepi. Nadia, yang pura-pura mengecek pencahayaan, memastikan dirinya berada dalam jarak dengar.

"Kirana," bisik Ibu Nina, suaranya dipenuhi kekecewaan dan kemarahan yang terkontrol. "Saya baru saja memverifikasi sesuatu yang membuat saya sangat kecewa. Kalung berlian biru itu."

Kirana langsung memucat. "Nina, itu masalah pribadi. Tidak ada hubungannya dengan amal."

"Ini masalah integritas, Kirana!" balas Ibu Nina, suaranya sedikit meninggi. "Anda mengklaim itu warisan, padahal Anda menyewanya harian! Anda menuntut transparansi dalam laporan amal, sementara Anda membangun citra Anda di atas kebohongan status! Bagaimana saya bisa menaruh reputasi perusahaan saya, dan uang saya, di bawah kepemimpinan seseorang yang tidak tulus bahkan pada perhiasannya sendiri?"

Kirana menarik napas tajam. "Nina, ini adalah fitnah! Anda termakan gossip murahan!"

"Bukan gossip, Kirana. Ini kontrak yang diverifikasi. Dan setelah masalah dana yayasan, masalah Rizky, dan sekarang ini... Saya sudah selesai. Saya tidak akan menghadiri Gala Dinner."

Ibu Nina berbalik dan berjalan cepat keluar dari venue. Ia telah menarik diri dari Gala Dinner—sebuah pukulan telak yang bukan hanya finansial, tetapi sosial. Mundurnya Ibu Nina secara publik akan memicu keraguan massal di antara donatur dan ibu-ibu lainnya.

Nadia menyaksikan Kirana yang terpaku di tempatnya, di tengah venue yang mewah dan kini terasa kosong. Kirana tidak hanya kehilangan donatur; ia kehilangan narasi bahwa ia dikelilingi oleh sekutu yang loyal dan kaya.

Nadia mendekati Kirana, dengan ekspresi sedih dan khawatir.

"Bu Kirana, saya baru dengar. Ibu Nina sangat marah," kata Nadia. "Saya rasa ini pasti ada hubungannya dengan usulan saya tentang brankas portabel. Dia mungkin merasa tidak aman."

Kirana menoleh ke Nadia, matanya dipenuhi api kebencian yang terang-terangan. "Cukup, Bu Nadia. Cukup sandiwara Anda."

Kirana membungkuk mendekat, berbisik dingin, "Saya tahu Anda bukan ibu lugu. Anda adalah serigala yang bersembunyi di balik gaun hitam yang menyedihkan. Anda terlalu banyak tahu tentang masa lalu, tentang Taufik, tentang dana. Saya tidak tahu bagaimana Anda melakukannya, tapi saya akan pastikan Anda tidak akan pernah lagi menampakkan diri di Komite ini."

Nadia tidak menunjukkan rasa takut. Ia membalas bisikan Kirana dengan suara yang setenang mungkin. "Saya hanya seorang ibu yang ingin mengamankan Gala Dinner, Bu Kirana. Dan saya hanya bekerja dengan fakta yang saya temukan."

Kirana berdiri tegak. "Baik. Anda mau fakta? Saya akan membuat Anda menjadi fakta yang bisa saya hancurkan. Anda akan dipecat dari Komite, dan semua ibu di sini akan tahu bahwa Anda adalah perempuan yang merusak acara amal. Itu adalah fakta yang akan saya branding."

Nadia tersenyum kecil. "Saya siap, Bu Kirana. Tapi, sebelum Anda melakukan itu, ada satu hal lagi yang harus saya selesaikan: Booklet Lelang Eksklusif Anda. Saya harus memastikan booklet itu sempurna sebelum dicetak."

Nadia tahu bahwa Kirana akan mencoba memecatnya sebelum Gala Dinner. Tetapi, sebelum itu terjadi, Nadia harus memastikan bom waktu terakhir tertanam di dalam Booklet Lelang—dokumen yang akan ditandatangani dan diserahkan Kirana kepada pemenang lelang.

Nadia telah berhasil mendorong Kirana ke batasnya, dan kini Kirana telah secara resmi menyatakan perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!