NovelToon NovelToon
Tubuhku, Takhta Sang Dewa

Tubuhku, Takhta Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cencenz

Satu tubuh, dua jiwa. Satu manusia biasa… dan satu roh dewa yang terkurung selama ribuan tahun.

Saat Yanzhi hanya menjalankan tugas dari tetua klannya untuk mencari tanaman langka, ia tak sengaja memicu takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah segel kuno yang seharusnya tak pernah disentuh, terbuka di hadapannya. Dalam sekejap, roh seorang dewa yang telah tertidur selama berabad-abad memasuki tubuhnya. Hidupnya pun tak lagi sama.

Suara asing mulai bergema di pikirannya. Kekuatan yang bukan miliknya perlahan bangkit. Dan batas antara dirinya dan sang dewa mulai mengabur.

Di tengah konflik antar sekte, rahasia masa lalu, dan perasaan yang tumbuh antara manusia dan dewa… mampukah Yanzhi mempertahankan jiwanya sendiri?
Atau justru… ia akan menjadi bagian dari sang dewa selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cencenz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Titik Temu

Lorong belakang semakin sempit.

Dinding batu di kiri-kanan lembap, lampu gantung jarang. Mo Ran melangkah pelan, menjaga jarak dari bayangan sendiri.

Jejak kaki itu berakhir di sini.

Di depan, pintu gudang segel lama terbuka setengah.

Gudang itu seharusnya selalu terkunci.

Mo Ran menelan ludah.

Ia mendekat, sangat pelan.

Di dalam, rak-rak kayu tua berdiri rapat, dipenuhi gulungan segel usang dan alat ritual lama, tempat yang jarang disentuh siapa pun.

Debu menutupi lantai.

Kecuali satu bagian.

Bukan karena sesuatu diambil.

Melainkan karena… orang berdiri cukup lama di sana.

Mo Ran membeku.

"Ini tempat bertemu," pikirnya.

Suara langkah terdengar.

Mo Ran membeku sepenuhnya.

Bukan satu. Dua orang.

Ia mematikan lentera kecilnya dan bergerak cepat ke balik rak paling ujung, punggung menempel kayu.

Langkah itu berhenti tepat di depan pintu gudang.

"Jejaknya masih terlihat," suara pertama berbisik. Rendah. Tegas.

"Tenang," jawab suara lain. "Tidak ada murid yang berkeliaran di sini."

Mo Ran mengenali suara itu.

Jantungnya hampir berhenti.

Tetua Fan.

Cahaya lentera menyapu rak.

Mo Ran menahan napas sampai dadanya terasa nyeri.

Bayangan lentera mendekat.

Satu langkah lagi dan ia akan terlihat.

"Kita tidak bisa lama," kata Tetua Fan pelan.

"Menara akan bekerja dengan sendirinya. Setelah itu… semua akan selesai."

Suara kedua terdengar tenang. Terlalu tenang untuk pembicaraan semacam ini.

"Yanzhi tidak akan keluar," jawabnya singkat.

"Begitu prosesnya runtuh, tak akan ada yang mempertanyakan ke mana kau berada."

Wei Ren.

Mo Ran mengepalkan tangan, menahan napas.

> Jadi memang begitu.

Bukan penghilangan, melainkan penundaan.

Tetua Fan tidak pergi ke mana pun.

Ia hanya menunggu.

Menunggu sampai Yanzhi hancur di dalam menara.

Menunggu sampai semua kesalahan punya satu nama.

Dan saat itu tiba,

Tetua Fan akan muncul kembali—

bersih, sah, dan berada di sisi yang “benar”.

Mo Ran merasakan dingin merayap di punggungnya.

Bukan karena rahasia besar terbongkar.

Melainkan karena satu hal yang jauh lebih buruk.

Tidak ada siapa pun yang mencurigai mereka.

Wei Ren dan Tetua Fan berdiri terlalu rapi di tempatnya masing-masing.

Tidak ada rumor.

Tidak ada bisik-bisik.

Dan justru karena itulah,

yang Mo Ran lihat malam ini

adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lihat.

Tiba-tiba—

krek.

Ujung jubah Mo Ran menyangkut rak kayu tua.

Cahaya lentera berhenti.

"Siapa di sana?" suara Tetua Fan meninggi setingkat.

Mo Ran tahu—

satu detik lagi, dan semuanya berakhir.

Ia menendang sengaja satu gulungan segel tua di rak sebelah.

Bruuk.

Suara jatuh menggema dari sudut lain gudang.

"Di sana," kata Wei Ren cepat.

Cahaya lentera beralih.

Mo Ran tidak menunggu.

Ia bergerak rendah, menyelinap ke pintu samping sempit, jalur darurat gudang.

Pintu itu berdecit pelan saat dibuka.

Terlalu pelan untuk disadari atau setidaknya, itu harapannya.

Ia menghilang ke lorong sempit tepat saat lentera kembali menoleh.

"Tidak ada siapa-siapa," kata Tetua Fan ragu.

Wei Ren diam lebih lama.

"…Tetap waspada," katanya akhirnya. "Seseorang hampir melihat."

......................

Mo Ran berlari tanpa suara.

Ia tidak tertangkap.

Tapi ia tahu—

mulai sekarang, ia membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari benda apa pun.

Ia berbelok tajam di ujung lorong—

dan hampir menabrak seseorang.

Han Ye.

"—!"

Mo Ran tersentak mundur.

Yi refleks meraih lengannya sebelum ia terjatuh.

"Mo Ran?" Yi mengerutkan kening. "Kenapa kau—"

Mo Ran menarik lengannya, wajahnya pucat.

"Jangan di sini," katanya cepat. "Kalian harus dengar aku."

Han Ye menatapnya tajam.

"Apa yang kau lakukan di lorong belakang?"

Mo Ran melirik ke belakang sekilas, lalu menatap mereka lagi.

"Aku melihat seseorang," katanya lirih tapi tegas. “Bukan murid.”

"Siapa?" tanya Yi.

Mo Ran ragu sepersekian detik. Lalu—

"Tetua Fan."

Udara seakan membeku.

Han Ye mencengkeram pergelangan tangannya.

"Kau yakin?"

Mo Ran mengangguk keras.

"Dia tidak sendirian."

Yi menahan napas.

"Dengan siapa?"

Mo Ran menatap Han Ye lurus-lurus.

"Wei Ren."

Nama itu jatuh berat di antara mereka.

Han Ye melepaskan cengkeraman, wajahnya mengeras sepenuhnya.

"Di mana?"

"Gudang segel lama," jawab Mo Ran cepat. "Lorong belakang."

Han Ye langsung berbalik.

"Kita cek."

Mo Ran menarik lengannya.

"Tunggu—kalau mereka tahu—"

"Justru itu," potong Han Ye dingin. "Kita bisa buktikan Tetua Fan masih ada."

Yi menatap Mo Ran.

"Kau sudah cukup berani," katanya pelan. "Sekarang ikut kami."

Mo Ran mengangguk.

Dan saat mereka bergerak menuju lorong belakang, satu pemikiran sama terbentuk di benak mereka—

> Tetua Fan tidak menghilang.

Ia bersembunyi.

Dan Wei Ren ada di pusat semuanya.

Han Ye berbalik lebih dulu.

Langkahnya tidak cepat, tapi tegas, seolah arah sudah ditentukan sejak awal. Yi menyusul di sampingnya, dan Mo Ran berjalan sedikit di belakang, masih menyesuaikan napas.

Lorong belakang sekte jarang dilewati pagi hari.

Bukan karena terlarang, melainkan karena tidak perlu. Jalur ini menghubungkan gudang-gudang lama, ruang segel usang, dan pintu-pintu yang hanya dibuka saat ritual tertentu.

Tempat yang sempurna untuk tidak terlihat. Dan cukup dekat dengan aula tetua untuk tidak mencurigakan.

"Kalau mereka memang bertemu," kata Yi pelan sambil berjalan,

"itu tidak akan lama."

Han Ye mengangguk tipis.

"Dan mereka tidak akan meninggalkan jejak besar," balasnya. "Hanya cukup untuk orang yang tahu harus melihat ke mana."

Mo Ran menelan ludah.

Ia merasa, tanpa benar-benar bisa menjelaskan, bahwa ia baru saja melewati batas yang tidak bisa ditarik kembali.

......................

Pintu gudang segel lama tertutup.

Terkunci.

Tapi kuncinya tidak rapat.

Han Ye berhenti tepat di depannya. Ia tidak langsung menyentuh gagang pintu, hanya mengamati.

"Tidak dipaksa," gumamnya.

Yi berjongkok lebih dulu.

Debu di lantai tipis dan merata… kecuali satu jalur sempit di dekat ambang pintu. Bukan bekas sepatu, melainkan gesekan ringan, seperti jubah panjang yang diseret pelan.

"Ada yang masuk," kata Yi. "Dan keluar lagi. Tidak lama."

Mo Ran menatap sekeliling, gelisah.

"Waktu aku melihat mereka," katanya lirih, "mereka tidak bicara lama. Seperti… sudah sepakat sebelumnya."

Han Ye mendorong pintu perlahan.

Gudang itu kosong.

Rak-rak kayu tua berdiri rapi, segel-segel lama tersusun tanpa kekacauan berarti. Tidak ada benda hilang yang mencolok.

Terlalu rapi.

"Ini titik temu," kata Han Ye akhirnya.

Yi berdiri, matanya menyapu rak paling ujung.

"Dan seseorang membersihkan jejaknya," tambahnya. "Cepat. Tapi tidak sempurna."

Ia menunjuk sudut rak.

Tetes minyak lentera. Masih basah.

Mo Ran membeku.

"Lentera itu… bukan punyaku."

Han Ye menatap tetesan minyak itu lama.

"Pagi hari," katanya pelan. "Dan lentera ini masih dinyalakan."

Yi langsung mengerti.

"Bukan untuk penerangan," katanya lirih.

"Tapi untuk mengacaukan bayangan."

Han Ye baru saja akan melangkah mundur ketika—

Yi mengangkat tangan.

"Han."

Langkah kaki terdengar.

Bukan tergesa. Terukur.

Datang dari arah koridor utama.

Han Ye langsung menarik Mo Ran ke balik rak paling ujung. Gerakannya cepat, tanpa suara. Yi ikut bergeser, tubuhnya menyatu dengan bayangan pilar batu di dekat pintu.

Mereka diam.

Dan langkah itu semakin dekat.

...****************...

1
Talia
semangat ya!💖
Zhenzhen: Makasih banyak ya 💕 dukungannya berarti banget buat aku/Determined/
total 1 replies
Talia
Happy New Year Author,semoga sehat-sehat selalu.
Zhenzhen: Terima kasih yaa ✨ Happy New Year juga, semoga kita semua selalu sehat dan diberi kelancaran 🌸
total 1 replies
Talia
dari pagi sampai malam aku baca sampai gak kerasa sudah Bab 41
Zhenzhen: Makasih banyak ❤️ seneng banget bacanya bisa nemenin seharian. Semoga lanjutannya tetap berasa ya ✨
total 1 replies
Talia
awalnya aku lumayan suka tapi lama-lama makin menarik
Zhenzhen: Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini 🤍 pelan-pelan ceritanya memang baru kebuka. Senang kamu ngerasainnya.
total 1 replies
Talia
mau kasian tapi Yanzhi keras kepala😅
Zhenzhen: 😄 iya, dia tipe yang susah mundur walau udah capek. Justru itu yang bikin dia sering nyakitin diri sendiri.
total 1 replies
Zhenzhen
Cerita ini ditulis dengan alur yang mengalir dan penuh tekad baru di setiap bab. Terima kasih untuk setiap pembaca yang sudah meluangkan waktu mengikuti perjalanan kisah ini./Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Talia
aku baca terus sampai gak kerasa sudah sampai sini😅
Zhenzhen: Makasih banyak ya 🥹❤️ Seneng banget bacanya sampai nggak kerasa sudah sejauh ini. Semoga bab selanjutnya tetap seru ✨
total 1 replies
Talia
aku suka alur ceritanya❤,semangat Author!
Zhenzhen: Terima kasih banyak ❤️ Komentarnya bikin semangat nulis! Senang banget kalau kamu suka alur ceritanya ✨
total 1 replies
Kustri
maaf hnya mengingatkan kata 'nggak' sebaik'a diganti 'tudak' gmn? ✌😁
Zhenzhen: Siap, makasih ya sudah diingatkan 😄🙏
total 1 replies
Kustri
yakin bisa sendiri, dgn tenaga & kekuatan yg terbatasmu?
ya sdh, smoga berhasil, jgn bikin kecewa roh api yg mendiami tubuhmu
dewi roisah
rasanya ikut tegang dan masih penasaran sama alur cerita..
Ramun🍓😈: permisi kak, siapa tahu kakak minat mampir dikaryaku yang berjudul 'Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku'

terimakasih sebelumnya 🤗💐
total 2 replies
dewi roisah
masih penasaran
Zhenzhen: Makasih yaa 🙏 lanjutannya bakal dijelasin pelan-pelan di bab berikutnya ✨
total 1 replies
dewi roisah
lanjut lagi seru serunya..
Zhenzhen: Siap! Makasih banyak, senang banget kamu menikmati ceritanya /Heart//Heart/
total 1 replies
Nanik S
Lembah Angin
Nanik S
Kepala baru memang sangat bodoh
Nanik S
Pasti Yanzhi adalah sasaran Lu Ming
Nanik S
mereka seperti teman tapi yang sat keras kepala yg satu Usil 🤣🤣🤣
Nanik S
💪💪💪👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor
Zhenzhen: Lanjut terus dong! Makasih sudah ngikutin ceritanya/Joyful//Determined/
total 1 replies
Nanik S
Benar sekali untuk apa ramah pada merdeka yang merendahkan kita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!