NovelToon NovelToon
Dear, Husband

Dear, Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Nikahmuda / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 : Keisengan Rio!

Ketiganya sarapan bersama di meja makan. Beragam buah-buahan tersedia di atas meja. Sudah ada susu, roti panggang, juga omelet. Rio melihat kedua wanita itu sudah makan dengan santai, terkecuali dirinya yang malah kelihatan bingung.

"Kenapa belum dimakan Rio?" Tanya Dewi saat menyadari pemuda itu belum menyentuh makanannya.

"Mungkin dia gak terbiasa dengan makanan kayak gini," sambar Risa dengan sinis.

"Risa!" Dewi menatap Risa dengan gusar. "Ah, Rio jangan dengarkan dia, ayo dimakan, Mama sudah buatkan semuanya lho." Dewi tersenyum ke arah Rio.

"Gak apa-apa Tante, Rio cuma ingat adik sama Ibu Rio saja di rumah. Jam segini biasanya Rio yang masak," jawab Rio menegaskan. Jujur saja dia merasa aneh dengan suasana pagi yang kayak gini. Masih terasa asing.

"Oh, kamu bisa masak?" Dewi terkejut. Ia bertanya antusias dengan kedua mata yang membulat seketika.

"Iya Tante, Rio biasa masak di rumah." Rio hanya mengangguk dan mulai mengambil sepotong roti bakarnya dari meja.

"Bisa bikin apa saja? Kapan-kapan Tante mau dong cobain masakan kamu!" Ucap Dewi yang kayaknya seneng banget pas dia tahu kalau menantunya bisa masak.

"Boleh kok Tante, masakan Rio bisa diadu!" Rio menyanggupi, dia mengangguk dengan mantap, yakin banget dia sih kalau soal masakan.

"Wah, Tante seneng banget bisa punya temen masak, soalnya Risa payah dia gak bisa masa sama sekali!" Dewi melirik ke arah Risa yang langsung terbatuk.

"Mama, apaan sih? Risa 'kan sibuk, banyak kerjaan! Mana sempat belajar masak!" Risa melakukan pembelaan. Wajahnya agak memanas.

"Oh ya Tante, Rio pergi dulu ya." Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya.

"Lho, emangnya kamu masuk sekolah sepagi ini?" Dewi mengernyit dan melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 06:15 pagi.

"Buku pelajaran, seragam dan peralatan sekolah Rio di rumah semua. Mau Rio ambil dulu," jelasnya.

"Tapi nanti kamu kemari lagi 'kan?" Tanya Dewi berusaha memastikan.

"Iya, Tante, Rio balik lagi kemari, tapi Rio gak bisa bawa semua barang-barang Rio langsung kemari," balas Rio tanpa adanya keraguan atau rasa gugup saat menjawabnya. "Rio bakal mindahin semuanya setengah-setengah dulu sambil Rio kasih penjelasan ke orang di rumah," pungkasnya lugas.

"Hati-hati ya Rio." Wanita itu kayaknya puas dengan jawaban Rio. Meski masih sangat muda tapi dia sudah menyukai karakter dan pembawaan Rio yang bisa diandalkan.

"Risa, kamu gak antar suami kamu ke depan?" Dia kembali melirik Risa yang masih fokus makan.

Risa yang sedang mengunyah omelet-nya terdiam. Ada rasa ragu dalam benaknya.

"Ngapain juga gue anterin dia? Ogah banget!" Risa membatin gak sudi karena gak ngerasa itu kewajiban dia. Dia sama sekali gak anggap Rio sebagai suaminya.

"Risa?" Dewi menatap tajam anaknya yang masih tak bergeming.

"Gak apa-apa Tante, Bu Risa itu lagi capek karena semalam tadi," sambar Rio yang nyeletuk dengan kalimat ambigu.

Dewi terdiam, tapi kemudian dia tersenyum seperti mendapatkan sebuah ide yang muncul tiba-tiba di kepalanya.

"Ohhh, Mama ngerti hehehe...."

"Sialaaaaaan!" Risa mengumpat saat menyadari apa yang dipikirkan ibunya karena perkataan Rio barusan.

"Maaf ya Bu Risa yang semalem." Rio sengaja kembali menegaskan sambil menyeringai.

"Hahaha, rasain!" Jelas saja dia tertawa dalam hati saat melihat reaksi wanita yang baru saja resmi jadi istrinya pucat-pasi.

"Pergi dulu ya Tante, Bu Risa!" Ia pun melenggang keluar, puas habis mengerjai Risa sang kepala sekolah cantik yang emang terkenal galak.

Suasana hening sesaat ketika pemuda itu sudah pergi keluar rumah. Risa mengunyah roti bakar miliknya dengan barbar dan rasa kesal.

"Gimana Rio semalam? Hebat 'kah?" Tanya Dewi, sang ibunda kepo.

"Mama!!" Risa mendelik, wajahnya merah-merona. Dia kehabisan kata untuk bicara.

"Gue bales lu nanti!" Ujar Risa bersumpah dalam hati.

...****************...

Sesuai janji Rio kembali lagi setelah membawa tas dan semua seragam sekolahnya. Dia memasukkan semua seragam itu ke dalam kantong plastik jadi ibunya gak curiga karena Rio mengatakan isinya sampah dari kamar.

Rio kembali hampir jam setengah delapan. Risa pun tampak sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.

"Rio, kamu bareng Risa ya, pakai mobil," ucap Dewi saat melihat pemuda itu kembali.

"Rio bawa motor aja Tante, gak biasa," jawabnya jujur. Lagian kalau sampai dilihat orang di sekolah, bisa heboh dan dia harus bilang apa?

"Risa kamu gak mau cium tangan suami kamu?" Dewi melongok ke arah Risa yang udah pengen jalan buru-buru.

"Arghh, emak gue ribet banget!" Risa nyaris meledak di tempat.

"Haha, iya lupa, Ma!" Risa berbalik, memutar tubuhnya kembali ke belakang sambil memasang senyum manis yang terpaksa.

"Rio berangkat dulu Tante!" Rio malah langsung mencium tangan Dewi dengan sopan.

"Hih dia pasti sengaja ngehindarin gue! Sok jual mahal!" Risa menggerutu saat melihat Rio yang langsung berbalik dan malah cium tangan ibunya.

"Duluan ya, Bu Risa."

Hal yang gak diduga oleh Risa sekarang pemuda itu malah meraih tangannya dan menciumnya pelan.

Degh!

Risa terkejut seperti ada aliran yang berdesir ketika pemuda itu mencium tangannya dengan lembut dan memberikan seringai kecil.

"Ketemu lagi di sekolah ya, Bu!" Rio bergegas pergi menuju pintu apartemen.

Risa masih bengong dan menatap ke arah pintu luar yang sudah kosong.

"Udah, jangan dilihat terus, orangnya sudah pergi, Risa!" Ujar sang Dewi dengan nada yang menggoda saat melihat putrinya terpaku di sana.

"Siapa juga yang ngelihatin?" Risa agak terkejut lalu mencari pembelaan.

"Tapi jarang Mama lihat ada suami yang mau mencium tangan istrinya di depan orang lain, biasanya mereka bakal gengsi," celetuk sang ibunda dengan gaya sok mikir.

"Alah! Gue yakin banget tadi itu dia cuma iseng ke gue!" Dalam hati Risa enggak percaya.

Tentu saja dia tahu kalau pemuda itu hanya sedang mengetes dan jahil. Apalagi pernyataan absurd-nya yang bikin ibu dia salah-paham. Ditambah tadi Rio sempat menyeringai kecil saat mencium tangannya. Ah, kenapa dia jadi terbayang sama wajah pemuda itu? Kalau dipikir-pikir, Rio itu enggak kalah tampan dari Dion. Dia juga punya banyak penggemar di sekolah, hanya saja, anak itu memang sangat fokus dengan pendidikan, dia ingin lulus dengan nilai bagus, makanya dia gak pernah pacaran di sekolah (sejauh yang dia tahu, karena Rio murid berprestasi yang memang dipantau banyak guru agar bisa mendapat beasiswa dan masuk universitas bagus).

"Kenapa gue malah jadi mikirin itu anak!" Wajah Risa kembali memanas saat menyadari otaknya malah mengingat Rio.

"Risa! Mau sampai kapan kamu bengong? Udah jam setengah delapan lewat loh!"

"Hah, apa?" Risa akhirnya tersadar dan langsung melihat jam. "Astaga, jam delapan kurang 15 menit? Risa jalan dulu, Ma!"

Risa buru-buru pamit kepada ibunya dan bergegas keluar apartemen.

"Semua gara-gara Rio!"

Gimana hubungan mereka selanjutnya dan apakah mereka bisa menyembunyikan semuanya di sekolah?

.

.

.

BERSAMBUNG....

1
✨♡vane♡✨
Ingin baca lagi!
Harry
Mantap jiwa!
Zamasu
Memukau dari awal hingga akhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!