Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Gaun
“Aku sungguh tidak terbiasa. Tetapi aku bisa melihat bagaimana dia menilaiku: remeh dan temeh.” ~Luana Casavia.
.
.
.
Luana menyilang kedua tangan di depan dada.
“Jadi, apa kau tahu kalau kami akan sekamar, Mare?” Suara perempuan itu terdengar berat, dengan embusan napas yang tak kalah beratnya.
Mare yang berada di hadapan nyonya Lueic itu mengangguk samar, dengan kening yang berkerut.
“Apakah kalian harus tidur terpisah, Nyo—maksudku, Luana?” Mare menjawab dengan kalimat tanya pula. “Bukankah memang sudah seharusnya begitu?”
Luana terdiam. Benar juga kata Mare, pikirnya dalam hati. Tapi demi apa pun! Pernikahan ini masih tidak terasa nyata untuknya, sebab hingga pagi tadi dia masih seorang gadis yang bekerja di kediaman keluarga Collins.
Tetapi seketika semuanya kacau dan blash! Dia berubah menjadi seekor angsa dari bentuk awalnya yang merupakan itik buruk rupa.
Seketika ia mengenakan gaun pernikahan, berdiri di depan para saksi di samping pria yang baru dilihatnya dalam beberapa menit, kemudian menyandang status Nyonya Rey Lueic tidak lama kemudian.
Pergi dari gedung diiringi lambaian dan sorak sorai bahagai para tamu undangan, yang tidak mengetahui bahwa dia bukanlah pengantinnya yang asli.
Bahwa dia hanyalah seorang pengganti, yang mengharapkan Beatric Collins akan kembali secepat mungkin.
“Memang benar sih,” Luana memelorotkan bahunya. Suasana di kamar itu terasa mencekik, sebab dia tahu dia harus berbagi udara yang sama dengan Rey malam ini. Memikirkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
Ngomong-ngomong, keduanya kembali dari Kornmarkt setengah jam yang lalu. Rey benar-benar menghampiri gadis itu di coffee shop yang ditunjuknya, kemudian melanjutkan perjalanan sore hingga akhirnya keduanya berbelok untuk kembali ke hotel.
Luana langsung menuju kamarnya, saat Rey memilih untuk bergabung bersama Jovi yang sudah menunggunya di lobi. Tanpa kata-kata, sang bangsawan begitu saja melengos pergi. Seakan dia tidak menghabiskan waktu bersama Luana tadi, seakan Luana tidak ada di sana.
“Ayo, Luana. Kau harus bersiap.” Suara Mare membuyarkan lamunan Luana, saat kini gadis muda itu mengangkat kepala untuk membalas tatapan Mare.
“Aku tidak menyiapkan pakaian khusus untuk makan malam itu,” kata Luana jujur. “Apa aku harus menggunakan gaun ini saja?” tanyanya sembari menunduk melihat gaunnya yang melekat di tubuh.
Mare menggeleng cepat. Tentu saja tidak boleh begitu, sebab makan malam yang akan dihadiri Luana dan tuan mereka adalah salah satu agenda dari perjalanan bisnis Rey yang seharusnya sekaligus perjalanan bulan madu bersama Beatric.
“Kau tidak perlu khawatir, Luana,” seru Mare senang. “Aku sudah menyiapkannya tentu saja, mengikuti perintah dari tuan. Sekarang bangkitlah, mandi dan bersiap. Waktumu tidak lama lagi.”
Luana mengembuskan napas, lagi-lagi masih terdengar berat. Dia tidak tahu seperti apa makan malam yang akan dia hadiri nanti, sebab belum pernah dia berbaur dengan orang-orang penting sebelum ini.
Mare sudah bergeser dari posisinya tadi untuk membuka lemari, memilih sebuah gaun berwarna peach dengan brukat yang menjuntai. Tidak terlalu terbuka, alih-alih tampak elegan sekali untuk menyiratkan status tinggi keluarga Rey Lueic.
Luana bersiap seperti yang dikatakan Mare, membasuh tubuhnya dengan gerakan cepat. Keluar dari kamar mandi beberapa belas menit kemudian, manik gadis itu berbinar saat mendapati Mare sudah menunggunya dengan sebuah gaun yang terpampang nyata.
Itu indah sekali.
Dan entah mengapa gaun itu begitu pas melekat di tubuh Luana, menampilkan sisi feminin perempuan itu yang tidak bisa ditutup-tutupi.
Aksen bunga yang tersebar menambah keindahan, menampilkan bahu putih pualam Luana yang tampak sangat halus.
Nyonya palsu Lueic tampak begitu stunning sekarang.
Mare membantu Luana memoles wajahnya, menggulung rambut perempuan itu ke atas hingga menampilkan leher jenjang yang jelas terlihat. Mare yakin tuannya akan kesulitan menelan ludah saat mendapati istrinya nanti, dan itu membuat Mare tersenyum senang.
Luana masih memandangi pantulan dirinya di cermin, saat tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka. Rey menampakkan diri dari sebalik pintu, sempat menahan langkah saat maniknya bersitatap dengan manik Luana.
Memperhatikan bagaimana Luana tampak telah siap, Rey tiba-tiba saja merasa sesak. Luana mengalihkan pandangan itu lebih dulu, bangkit dari meja riasnya untuk menuju tempat duduk yang lain.
“Kau bisa keluar, Mare,” perintah Rey dengan nada suara dingin, seiring dengan ayunan langkah Rey yang memasuki kamar.
Suasana begitu saja canggung, dan Mare buru-buru pamit undur diri dari sana. Menutup pintu, meninggalkan nyonya dan tuan Lueic di dalam kamar yang tertutup.
Rey mendekat. Sosok Luana masih menjadi objek pandangnya yang belum berubah, dan itu semakin membuat Luana salah tingkah akibat menerima tatapan tajam dari manik Rey.
Perempuan itu mengelus tangannya, mengurai rasa canggung dan malu yang timbul secara bersamaan. Pikirannya terus berputar, bertanya apakah dia pantas mengenakan gaun seindah ini di tubuhnya. Berulang kali bertanya apakah saat ini nyata, ketika dia duduk di depan meja rias terlihat begitu cantik luar biasa.
Rey berdesis pelan.
“Kau sudah siap?” tanyanya basa-basi. Belum sempat Luana menjawab, lelaki itu sudah kembali bersuara. “Kini kau tidak terlihat seperti pengganti, kau terlihat seperti pengantin sungguhan.”
Luana tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jelas sekali itu adalah cibiran telak untuknya. Refleks menaikkan kepala, perempuan itu membalas tatapan Rey yang sedari tadi berusaha ia hindari.
Nada suara lelaki itu terdengar dingin sekali, berbanding terbalik dengan bagaimana caranya berbicara saat mereka menyusuri Kornmarkt tadi.
Luana memilih untuk mengatupkan bibir rapat-rapat. Dia berdiri di ambang ranjang, masih meremas jemarinya di bawah sana.
“Aku tidak pernah ke perjamuan makan malam sebelum ini,” ujar Luana jujur. Dia tiba-tiba saja berpikir tidak ada gunanya berbohong dan menyembunyikan fakta itu dari Rey, sebab memang seperti itu kenyataan yang terjadi.
Rey memiringkan kepala, maniknya memicing seiring dengan seringai tipis yang muncul di bibirnya.
“Kau tidak pernah?” tanyanya tidak percaya. “Benarkah?”
Luana menganggukkan kepala ragu-ragu. Khawatir apakah kini Rey akan mulai menaruh curiga padanya, sebab bangsawan mana yang belum pernah menghadiri makan malam, sih? Menyesali kejujurannya yang terlampau jujur, Luana hanya bisa menggigit bibir.
Rey masih memperhatikan gadis muda itu dengan lekat, menelan ludah dengan susah payah. Darahnya berdesir tanpa bisa ia kendalikan, dengan luka yang lagi-lagi terasa menyayat hati.
Gaun itu, seharusnya milik Beatric.
Gaun itu, dirancang dan dipesan untuk digunakan oleh Beatric, tunangannya yang entah melarikan diri ke belahan dunia mana. Hingga sekarang Rey bahkan belum berhasil mengendus keberadaan Beatric, membuatnya setengah senewen setelah melihat bagaimana Luana tampil indah sekali di dalam balutan gaun itu.
Seakan lagi-lagi gaun itu diciptakan untuknya, untuk dia kenakan.
Rey berdehem, menarik kembali kesadarannya yang hampir menguap. Luana masih berdiri ragu-ragu di sana, dengan tangan yang masih terus terpilin.
“Kau tidak perlu melakukan apa pun,” kata Rey tegas. Tepat, dan tanpa keraguan. Ia memandang lekat-lekat pada Luana, mengambil jeda saat sepertinya sedang berpikir kata apa yang harus ia keluarkan kemudian.
“Kau hanya perlu berdiri di sampingku dan tersenyum,” ujar Rey lagi. “Tetaplah berpura-pura jadi pengantinku, seperti yang sudah kau lakukan sejak pagi tadi.”
Rey berbalik setelah ia menyelesaikan kalimatnya, melangkah untuk menuju kamar mandi guna gantian membersihkan diri. Ayunan langkah lelaki itu terkesan tegas namun terburu-buru, disebabkan oleh gemuruh yang menyelimuti di dalam hatinya.
Meninggalkan Luana yang masih terpaku di tempatnya, Rey membanting pintu kamar mandi hingga suara berdebum nyaring terdengar.
Luana bergidik. Memandang sosok Rey yang kini tidak lagi terlihat, gadis muda itu menarik napas dalam-dalam. Mengelus dadanya, seakan sedang memohon kekuatan.
“Sabar, Luana,” hiburnya pada diri sendiri. “Ini semua akan berakhir. Mari berdoa agar Madam Collins cepat menemukan Beatric, hingga kau bisa pergi dari sini dan kembali bebas. Sabar, kau hanya harus sabar.”
Luana berupaya untuk menenangkan diri, tetapi entah mengapa perkataan Rey tadi seakan menohoknya di tempat yang tepat. Semakin Luana mengulang kalimat itu di kepala, semakin terkuras habis tenaganya. Hingga tidak sadar ia telah terduduk di tepi ranjang, menatap lurus pada sprei yang lembut.
Rey sendiri menarik napas dalam-dalam, bersandar pada dinding kamar mandi yang terasa dingin. Kucuran air menerpa tubuhnya yang kini tidak lagi tertutupi, dan Rey memejamkan matanya untuk berkonsentrasi pada pikirannya sendiri.
Berpikir apakah dia terlalu kasar tadi, atau apakah perkataannya itu melukai hati perempuan itu—Luana Casavia.
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar